
Karia mengelap keringat yang keluar dari dahinya. Tubuhnya gemetaran saat berjalan memasuki ruang BK.
" Duduk dulu Kar," kata Bu Ani sambil menatap Karia tajam.
" I...iya Bu."
Karia mendudukkan dirinya dengan gelisah. Tiba-tiba saja Bu Ani mengeluarkan sebuah benda yang langsung membuat Karia terkejut.
" Karia, tadi kami menemukan benda ini dan juga buku KIA ditas kamu. Bisa kamu jelaskan pada kami Kar?" tanya Bu Ani tegas.
" Sa....saya..., hiks...hiks...hiks..." Karia langsung menangis tak mampu melanjutkan ucapannya.
Bu Ani memberikan Karia waktu untuk menenangkan diri hingga ia melihat Karia yang sudah bisa menguasai emosinya.
" Kamu sudah tenang?" Tolong jelaskan semua ini pada Ibu?"
Karia menghapus sisa air mata yang masih menempel dipipinya. Dengan berat, Karia mulai mengeluarkan suaranya.
" Barang-barang ini punya saya semua Bu."
" Apa maksud kamu bahwa kamu mengakui kalau saat ini kamu hamil?"tanya Bu Ani tak percaya.
Karia menganggukkan kepalanya dan kembali menangis.
" Kami sangat kecewa pada kamu Karia padahal kamu adalah siswi berprestasi dan bintang disekolah ini. Bagaimana bisa kamu berbuat sejauh ini hingga menghancurkan masa depan kamu sendiri?"
" Saya diperkosa Bu...saya diperkosa waktu kemah bersama tiga teman saya."
__ADS_1
" Diperkosa? Apa kamu sudah melaporkan hal ini pada polisi?"
Karia menggeleng sambil memegang kepalanya yang saat ini terasa pusing.
" Jika benar kamu diperkosa kenapa kamu tidak melaporkannya?"
" Saya takut Bu lagi pula saya tidak tahu siapa pelakunya," ucap Karia sambil memegangi kepalanya.
Perasaan gelisah yang mendera Karia membuat gadis itu merasa pusing. Pandangannya mulai berkabur hingga ia tak bisa lagi merasakan tubuhnya.
Bau khas rumah sakit langsung terhirup Karia begitu ia membuka matanya. Pandangan pertama yang ia lihat adalah wajah khawatir ibunya .
" Mah." Panggil Karia pelan.
" Syukurlah kamu sudah sayang. Apa ada yang sakit? Bilang sama mama ya?"
" Tadi kamu pinsan disekolahan makanya mama langsung datang dan ternyata kamu udah dibawa kesini."
Tiba-tiba Karia teringat dengan kejadian disekolahan tadi yang membuatnya kembali gelisah.
" Mah."
" Iya sayang, ada apa?"
" Pihak guru udah tahu kalau Karia hamil Mah. Karia takut Mah, Karia nggak mau dikeluarin dari sekolahan."
Rina tidak begitu kaget karna tadi ia sempat berbicara dengan Bu Ani.
__ADS_1
" Kamu pikirin kesehatan kamu dulu sayang, jangan pikirkan yang lain. Mama yakin pihak sekolah nggak akan ngeluarin kamu karna semua kejadian yang menimpa kamu adalah murni kejahatan."
Karia mengusap perutnya dengan perlahan.
Sayang temani mamah ya. Mamah akan tetap mempertahankan kamu walau seluruh dunia ini akan membenci mama nantinya.
****
Rinno tampak bersender dimobil sambil memperhatikan para siswa yang keluar dari gerbang sekolahan.
Sesekali ia menatap jam ditangannya karna Karia tak kunjung keluar. Pandangan Rinno tiba-tiba tertuju kearah gerombolan para ibu-ibu yang membuat keributan.
Awalnya Rinno tak peduli namun perkataan mereka akhirnya membuat Rinno mendekat.
" Keluarkan Karia dari sekolah ini! Kami nggak sudi anak-anak kami berteman dengan gadis nakal !"
" Ya keluarkan Karia dari sekolah ini! Jangan sampai dia merusak nama baik sekolah ini!"
" Dasar gadis sundel! Dia tidak pantas jadi bintang sekolah ini! Cuma ngrusak reputasi saja!"
Rinno yang masih sedikit bingung pun bertanya pada salah seorang murid.
" Eh dek, ini ada apa ya? Kok para orang tua murid pada protes gini?"
" Itu kak, disekolah ini ada yang hamil padahal dia itu bintang disekolah ini. Gayanya aja jadi panutan tapi ternyata kelakuannya busuk. Bikin malu!"
Rinno mengepalkan tangannya. Ia segera masuk kedalam untuk mencari Karia.
__ADS_1
bersambung.....