
Rina langsung keluar dari rumahnya begitu ia mendengar suara keributan yang terdengar dari depan rumah.
Wajahnya langsung pias setelah mekihat ibu-ibu yang berkerumun dirumahnya sambil meneriakkan sesuatu.
" Ah itu dia orangnya! Akhirnya keluar juga!"
" Maaf ibu-ibu, ini sebenarnya ada apa ya? Kenapa ibu-ibu berteriak dan berkerumun dirumah saya?"
" Ibu Rina jangan berlagak bodoh ya! Kami semua minta Ibu Rina dan Karia pergi dari sini. Kami tidak sudi kampung kami dicemari oleh kelakuan bejat anak ibu!"
Hati Rina begitu sakit mendengar tuduhan para tetangganya yang menghina dan memojokkan putrinya.
" Ibu- ibu, anak saya adalah korban. Harusnya kalian semua mendukung mental anak saya bukan malah menjatuhkannya seperti ini."
" Alah alasan saja! Mana buktinya jika putri ibu diperkosa? Anda ibunya, jelas saja ibu Rina akan membela dan menutupi kesalahan putri ibu!"
Rina yang tidak tahan segera menutup pintu. Ia mendengar suara sorakan yang begitu nyaring ditelinganya. Rina segera menghampiri Karia yang berada dikamarnya.
Belum sempat membuka pintu kamar Karia, Rina sudah dikejutkan dengan suara telefon yang berdering.
" Halo, selamat siang. Ini dengan siapa ya?"
" Ini dari kantor. Saya minta sekarang kamu datang kekantor karna ada hal penting yang harus saya bicarakan."
" Tapi Pak, anak saya sedang sakit."
Tanpa menjawab lagi, pihak dari tempat Rina segera memutus sambungan telfonnya.
__ADS_1
Rina yang panik pun langsung mengambil tas untuk berangkat ke kantor. Sampai disana, Rina segera menemui atasannya.
" Selamat siang Pak. Saya kenapa dipanggil ya Pak?"
Tanpa kata, atasan Rina itu segera meletakkan amplop diaras meja.
" I...ini apa Pak?"
" Ini surat pemecatan kamu."
" Apa! Kenapa saya dipecat ?"
" Saya tidak tahu, tapi yang pasti ini perintah bos langsung."
Rina mengambil amplop itu sambil beranjak dari duduknya.
" Tidak perlu, karena bos sedang keluar negeri."
Rina pulang kerumahnya dengan berjalan kaki. Ia merasa pusing karna masalah belakangan ini datang tanpa henti.
Jika ia dipecat lalu bagaimana dengan Karia? Apalagi putrinya kini yang tengah berbadan dua , pasti butuh biaya lebih untuk periksa, membeli susu dan juga persiapan lahiran.
Berbagai pikiran datang keotak Rina hingga membuat ia linglung. Ia tak memperhatikan jika ada mobil yang tengah berjalan dengan kecepatan tinggi didepannya.
" Awas mbak!" Teriakan seseorang membuyarkan lamunan Rina namun terlambat.
" Aaawww..."
__ADS_1
Bugh
Tubuh Rina tertabrak hingga ia terpental cukup jauh. Rina masih bisa merasakan rasa sakit yang menjalar disemua tubuhnya.
" Karia." Lirih Rina sebelum pinsan.
Karia merasa terpukul melihat keadaan ibunya yang masih terbujur diranjang pasien. Sudah tiga hari ini Karia menemani ibunya yang terbaring dirumah sakit.
Tiba- tiba ia melihat jari ibunya yang bergerak pelan.
" Mama." Panggil Karia antusias karna bahagia.
Rina membuka matanya perlahan lalu tersenyum tipis melihat Karia ada bersamanya.
" Karia sayang."
" Mah, Mamah pasti sembuh. Mama harus kuat."
" Sayang, Mamah merasa umur mama sudah tidak lama lagi. Mama setuju jika kamu menikah dengan Rinno. "
" Tapi Mah...."
" Berikanlah Rinno kesempatan. Mama yakin dia bisa menjaga kamu dan mama ingin jika cucu mama ini punya ayah. Menikahlah nak dan raih kembali cita-citamu tanpa harus mengabaikan keluarga kecil kamu."
Karia memikirkan dalam-dalam nasehat mamanya yang baru saja sadar.
Bersambung.....
__ADS_1