
Karia begitu panik saat mendengar kabar jika ibunya mengalami drop. Ia langsung pergi kerumah sakit lagi padahal ia baru saja pulang untuk membersihkan diri.
Ceklek
Karia langsung menghampiri dokter yang baru saja keluar dari ruangan ibunya.
" Gimana mama saya dok?"
Dokter itu tak menjawab. Ia mengusap bahu Karia sebelum menjawab pertanyaan gadis remaja itu.
" Kami sudah berusaha semampu kami tapi sayang nyawa ibu anda tidak bisa tertolong. Kamu yang tabah ya."
Karia menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang dikatakan sang dokter barusan.
" Maksud dokter apa? Mama saya meninggal?"
Dokter itu menganggukkan kepalanya dan berusaha menenangkan Karia yang histeris.
Karia masuk kedalam kamar ibunya sambil menangis tergugu. Ia memeluk jenasah ibunya yang sudah ditutupi selimut.
" Mah, kenapa mamah tinggalin Karia? Karia harus gimana mah?" Tangis Karia yang menumpahkan kesedihannya karena kehilangan orang yang paling dicintai dan berharga dalam hidupnya.
***
Jenazah Rani sudah dibawa pulang dan tampak rumahnya yang sudah dipenuhi oleh para pelayat.
Karia terduduk lemas disamping jenazah ibunya sambil sesekali membuka kain penutup untuk melihat wajah ibunya yang terakhir kali.
__ADS_1
...Mah maafin Karia jika Karia belum bisa membahagiakan mama dan justru Karia harus memberikan aib disaat terakhir....
Tiba-tiba ada beberapa orang ibu-ibu yang berjalan mendekati Karia dengan tatapan sinis.
" Eh Karia! Pokoknya setelah pemakaman ibu kamu selesai kamu harus segera pergi dari kampung ini!"
" Iya, bener itu. Kita semua nggak mau ketimpa sial karna dosa yang kamu buat. Lihat ibu kamu aja sampai meninggal karna kamu. Dasar anak durhaka!"
" Awas ya kalau kamu nanti nggak pergi! Kita bakal usir kamu dengan kasar!"
Karia hanya menoleh namun tak memberikan reaksi apa pun. Ia tak menyangka jika para ibu-ibu tadi tega berteriak didepannya juga jenazah ibunya.
Tepat pukul sebelas siang, proses pemakaman sudah selesai. Karia kembali kerumahnya. Kini rumahnya tampak sepi dan tak akan ada lagi yang menyambut kepulangannya.
Karia merasa hidupnya semakin berat. Semua orang meninggalkannya bahkan teman-temannya tak ada satu pun yang datang kerumahnya untuk sekedar mengucapkan duka cita.
Karia yang kaget segera membuka pintu dan ternyata itu adalah Rinno yang datang dengan memakai kemeja hitam.
Karia berniat menutup pintu itu kembali namun segera dihalangi oleh Rinno dengan badannya.
" Biarin gue masuk dulu! "
Karia yang memang sudah capek akhirnya menyerah dan membiarkan Rinno masuk kedalam rumahnya.
" Mau apa loe kesini?"
" Gue mau melayat tapi ternyata gue udah terlambat."
__ADS_1
" Dari mana loe tahu kalau mama gue meninggal?"
" Tadi gue ke rumah sakit dan gue dapat kabar ini dari susternya."
" Terima kasih atas bela sungkawanya tapi gue rasa loe udah boleh pulang."
" Kar, kita harus bicara. Gue serius dengan niat gue buat nikahin loe," Rinno menggenggam tangan Karia untuk menyakinkan gadis cantik itu.
Karia berdiri lalu berbalik menghadap Rinno sambil tertawa tipis.
" Rinno Rinno, harus berapa kali gue bilang sama loe kalau gue nggak mau kita nikah. Lagi pula apa loe udah bilang sama orang tua loe soal kelakuan bejat loe ke gue?"
" Gue udah bilang sama ortu gue dan tiga hari lagi mereka bakal balik ke Indonesia dan gue harap loe nggak akan lagi menolak gue."
Karia teringat akan mamanya sebelum meninggal untuk mau menerima lamaran Rinno. Sang mama tidak ingin jika cucunya lahir kedunia tanpa seorang ayah.
Jujur Karia merasa masih berat jika harus menikah dengan lelaki yang telah merusak masa depannya itu. Bahkan laki-laki itu telah membuat dirinya dibenci banyak orang.
" Oke, gue mau nikah sama loe," jawab Karia lemah.
Rinno tersenyum dan langsung berdiri. Ia menggenggam kedua tangan Karia lalu menciumnya.
" Terima kasih Kar karna loe udah ngasih gue kesempatan. Asal loe tahu dari awal gue udah jatuh cinta banget sama loe."
Rinno dan Karia keluar dari rumah namun tiba-tiba Rinno harus melihat wajah seseorang yang sangat membuatnya muak.
Bersambung.....
__ADS_1