Karia loves

Karia loves
Rinno mengetahui kehamilan Karia.


__ADS_3

" Rinno, jangan injek obat gkue. Gue tajipdi beli itu pakai uang tabungan gue," ucap Karia dengan nada ngos-ngosan.


Rinno melepas cengkramannya didagu Karia. Ia mengambil obat yang terinjak oleh kakinya.


" Obat apa ini?" tanya Rinno sambil membolak-balikkan obat yang dipegangnya.


Karia tidak menjawab namun malah merebut obat itu dari tangan Rinno. Rinno yang tak suka pun kembali merebut obat dan juga tas yang dibawa Karia.


Rinno mengeluarkan seluruh isi tas Karia dan ia begitu kaget saat melihat susu ibu hamil dan buku KIA.


" Kenapa ada seperti ini ditas loe? Loe hamil?"


" Nngg....nggak,gue nggak hamil! Balikin tas gue!"


" Loe ikut gue sekarang."


Rinno yang penasaran pun membawa pergi Karia dari sana.


" Rinno, kita mau kemana? Lepasin tangan gue."


Rinno tak menjawab dan lebih memperkuat cengkraman tangannya hingga tangan Karia memerah.


Rinno memasukkan Karia ke mobil dan segera melajukan mobilnya hingga membuat Karia ketakutan.


" Rinno, loe mau bawa gue kemana. Gue mohon turunin gue."


Bughh


Rinno memukul stir mobilnya karena jengah dengan rengekan Karia.

__ADS_1


" Loe bisa diem nggak sih! Pusing gue dengar rengekan loe!"


Akhirnya Karia diam dan berharap Rinno tak melakukan hal gila padanya.


Tak lama mobil Rinno pun berhenti disebuah klinik khusus ibu hamil.


" Ayo turun."


Karia menuruti perkataan Rinno lalu mengikuti langkah Rinno hingga masuk kedalam.


Seorang resepsions terlihat cukup kaget saat melihat pasangan muda masuk kedalam klinik. Apalagi si wanita yang masih berseragam SMP.


" Selamat siang, ada yang bisa kami bantu?"


" Saya mau priksain pacar saya sus," ucap Rinno tanpa malu.


" Oh ya, silahkan tunggu sebentar. Nanti nomornya akan saya panggil."


Setelah mengantri tiga orang, akhirnya Karia dipanggil. Bidan tersebut pun juga kaget saat melihat Karia yang masih kecil.


" Silahkan duduk."


" Dok, tolong priksain pacar saya ini hamil atau tidak?" ucap Rinno frontal.


Dokter tersebut menyuruh Karia berbaring lalu menyuruh membuka kancing bajunya.


Dokter itu menanyai tentang apa yang dirasakan Karia hingga mereka keluar dari ruang pemeriksaan.


" Gimana dok?" tanya Rinno tak sabar.

__ADS_1


" Nona Karia hamil dan umurnya baru satu bulan. Ini sangat rentan sekali apalagi mengingat umur Nona Karia yang masih sangat muda. Tolong jangan melakukan aktivitas yang berat dan konsumsi makanan bergizi lebih dari biasanya."


" Ya sudah dok terima kasih. Kalau begitu kami pamit."


Rinno meninggalkan klinik tersebut.


" Jadi loe hamil Kar, nggak nyangka gue."


Karia menatap Rinno dengan nyalang karena merasa marah.


" Puas loe! Puas loe udah ngehancurin masa depan gue!"


" Gue nggak ngehancurin masa depan loe. Kalau loe mau, kita bisa nikah. Gimana?"


" Gue nggak mau nikah sama loe dan gue nggak akan biarin anak gue punya bapak sebejat loe!"


Plak


Sebuah tamparan mendarat dipipi Karia walau tak begitu keras.


" Jaga ucapan loe ya! Loe ingat, bayi dalam perut loe itu ada karna gue yang menanamnya!"


" Loe bangga banget udah merkosa gue! Gue akan menikah dan memberikan ayah yang baik buat calon bayi gue tapi yang jelas bukan loe!"


" Mimpi aja loe karna gue nggak akan membiarkan satu orang pun jadi bapak tiri dari anak gue."


Karia diam dan tak ingin melanjutkan lagi pertengkarannya dengan Rinno. Tubuhnya terasa lemas karena mengeluarkan tenaga yang membuat emosinya terkuras.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2