
Siang itu disekolah Karia tampak begitu antusias karna akan ada pertandingan persahatan basket antara sekolahnya melawan SMA Gantara.
Naya menghampiri Karia yang masih duduk sendirian dikelas.
" Kar ayo! Semua udah pada kumpul buat nonton pertandingan," ajak Naya.
" Loe ama yang lain aja Nay! Gue lagi males, gue disini aja." Tolak Karia.
" Loe kenapa sih Kar sebenarnya? Gue lihat semenjak kita pulang dari camping loe jadi aneh."
" Gue nggak apa-apa Nay. Ya udah loe duluan aja nanti gue nyusul."
" Beneran ya, jangan sampai nggak dateng. Nanti gue sisain tempat duduk buat loe."
Karia hanya menganggukkan kepalanya saja. Setelah beberapa saat, Karia beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju gedung olahraga.
Dari agak jauh, Karia melihat sosok lelaki yang berjalan menghampirinya.
" Hey Kar. Gue kirain loe nggak nonton pertandingan," tanya Chandra.
" Gue nonton kok. Gue doain semoga loe menang."
" Iya, makasih buat doanya. Gue akan berusaha buat sekolah kita yah walaupun gue tahu lawan sekolah kita kali ini anak SMA Gantara yang udah terkenal dengan koleksi juaranya."
" Nggak masalah mau menang atau kalah. Yang penting loe dan temen satu tim berusaha terus dan bisa nyari ilmu dari tim lawan."
" Makasih ya Kar, ternyata loe nggak senyebelin yang gue kira."
" Ihh loe aja tu yang suka nyari perkara ama gue."
" Ya udah gue breafing ama anak-anak dulu," ucap Chandra sambil melambaikan tangannya.
Karia duduk bersama teman-temannya. Suasana sudah begitu riuh dengan teriakan para siswa dari sekolahnya dan dari para pendukung dari tim lawan.
Tak lama para pemain pun memasuki area lapangan basket. Teriakan riuh langsung menggema digedung tersebut.
__ADS_1
" Eh lihat deh itu kan kapten tim basket Gantara! Wuih ganteng banget guys!" Teriak Alin heboh.
Sontak Naya dan Sinta langsung mengamati seseorang yang dimaksud oleh Alin sedangkan Karia tampak sibuk memperhatikan Chandra yang sedang berdoa dengan teman-temannya.
Alin yang melihat Karia hanya diam saja pun langsung menyenggol lengan temannya tersebut.
" Kar, loe lihat nggak sih?"
Karia tersentak dari lamunannya yang tengah memperhatikan Chandra.
" Sorry Lin, tadi gue nggak denger loe ngomong apa."
" Loe lihat tuh kapten tim Gantara! Ganteng habis kan?"
Karia langsung memperhatikan cowok yang ditunjuk Alin.
Deg
Mata Karia mengerjap memperhatikan orang itu dalam-dalam.
Bayangan pemerkosaan itu hadir lagi diotak Karia yang langsung membuat tubuhnya bergetar dan pucat. Karia terlihat takut dan ingin segera pergi dari tempat itu.
Karia mencoba bersikap biasa namun bayangan itu terus hadir diotak Karia hingga ia langsung pergi begitu saja tanpa berpamitan pada teman-temannya.
Karia berlari ketoilet dan langsung menumpahkan tangisannya disana. Karia memukul badannya sendiri dan terlihat begitu frustasi.
Setelah dapat menguasai dirinya sendiri, Karia pun keluar dari toilet. Ia berjalan dengan pandangan kosong.
Bugg
Karia terhuyung kebelakang saat tiba-tiba ia menabrak seseorang.
" Sorry," ucap Karia lalu mendongak keatas karna orang itu lebih tinggi dari dirinya.
Karia menganga begitu melihat orang ysng baru saja ditabraknya.
__ADS_1
" Hay cantik. Nggak nyangka ya kita bisa ketemu disini," ucap Rinno senang.
Karia melotot kearah Rinno dan tanpa menjawab ia langsung pergi meninggalkan Rinno namun langkahnya terhenti karne ditahan Rinno.
" Lepasin gue," ucap Karia pelan dengan nada menahan amarah.
" Kenapa? Loe nggak kangen ama gue?"
" Cuma orang gila yang bisa kangen sama loe!"
" Tapi gue kangen loe cantik. Mungkin kita berjodoh sampai kita bisa ketemu disini."
" Jodoh loe setan bukan gue!"
" Woii, ucapanmu loe tajem juga ya? "
Rinno mendekatkan bibirnya ketelinga Karia lalu berbisik pelan.
" Gue kangen banget sama itu loe, rasanya enak banget."
Karia menatap tajam kearah Rinno walau saat ini dirinya merasa takut. Rinno yang melihat suasana yang masih sepi langsung menyeret Karia ke toilet dan menguncinya.
" Gue mohon lepasin gue atau gue bakal laporin loe ke polisi!" Ancam Karia.
" Laporin aja! Emang loe punya bukti? Yang ada malah loe mempermalukan diri dan keluarga loe sendiri!"
Karia menggeleng pelan saat Rinno terus memepet dirinya kedinding.
Rinno memaksa mencium bibir Karia dan terus berusaha membuka bibir tersebut hingga akhirnya berhasil.
Rinno ******* bibir mungil itu walau tak ada balasan dari Karia. Setelah puas, Rinno melepaskan tautan bibirnya dan menatap remeh kearah Karia yang menangis.
" Untuk kali ini cukup bibir aja," ucap Rinno meninggalkan Karia begitu saja.
Bersambung.....
__ADS_1