
Keesokan harinya.
Aku berjalan santai menuju tempat pertemuan.
"Wah, dia sudah datang lebih dulu."
Dari kejauhan terlihat Asia sedang duduk di taman sambil membaca sesuatu, sepertinya status scrolls miliknya.
"Selamat pagi, As!"
"Oh, Kai. Selamat pagi juga!"
Dia membaca terlalu serius, sampai tidak sadar aku sudah duduk disampingnya.
"Kai, apa kau masih punya uang?"
"Tentu saja. Kau belum sarapan ya?"
"Tidak bukan itu. Aku punya sebuah rencana untuk kita."
Terakhir kali dia membahas soal keuangan, ujung-ujung hanya tentang makan dan wisata kuliner.
"Dan rencana apakah itu...?"
"Ayo kita ke hutan dan membantai monster. Di sana kita bisa naik level dengan cepat."
"Oi, kau sudah gila ya? Itu terlalu berbahaya, kemampuan kita belum seberapa."
Di dunia ini, ada dua cara menaikkan level. Pertama, kau bisa mengambil quest di Guild Petualang. Selain dapat exp dan uang, keselamatan juga terjamin, itu karena tingkat pekerjaan disesuaikan dengan kemampuan kita.
Yang kedua, kita bisa leveling sendiri di hutan. Kita bebas membunuh monster level berapapun, tergantung kemampuan yang dimiliki sebuah party ( Disini jarang ada yang leveling sendiri ). Itu sisi positifnya.
Sisi negatifnya kita hanya mendapat exp tanpa uang karena bukan sebuah quest. Dan resiko terburuknya adalah kematian.
"Puehehe... Karena itulah kemampuanmu dibutuhkan."
"...?"
Dia tertawa aneh, sementara aku hanya melihatnya dengan heran.
"Heeh. Maksudnya, kita bisa beli beberapa potion. Dengan begitu tingkat keselamatan kita bisa naik."
"Oh begitu ya. Aku punya kenalan penjual obat, sebaiknya kita segera berangkat."
"Baik."
Benar-benar sebuah kebetulan, aku sempat kerja di toko obat. Kalau aku beli potion di tempat Paman itu pasti dapat diskon. Lumayan biar hemat.
Akhirnya kami sampai.
"Hai, Paman. Sudah lama tidak bertemu, bagaimana kabarmu?"
Aku masuk ke dalam tokonya, diikuti Asia berjalan di belakangku.
"Woah Kai, kau terlihat sangat berbeda. Tak kusangka kau cocok juga jadi petualang."
"Heheh... Oh iya, kenalkan dia anggota partyku Asia."
"Selamat pagi, Aku Asia."
"Selamat pagi juga, Aku Berg... Jadi kalian butuh berapa berapa banyak potion?"
Pedagang di kerajaan ini cepat tanggap sekali.
Aku membeli sepuluh potion merah dengan tingkat penyembuhan 5%, tingkat paling rendah. Harganya juga murah, cuma 15 bronze untuk satu potion. Aku tidak minta diskon, aku tidak tega pada paman itu.
Persiapan sudah siap, kamipun pergi menuju hutan.
"Kau yakin tidak mau membawa satupun potion?"
"Iya. Aku yakin tidak akan terluka."
__ADS_1
Pada akhirnya aku membeli untuk diriku sendiri. Asia tidak mau membawa potion satupun, entah dia mau menyombongkan dirinya atau memang kemampuannya yang hebat tidak ada yang tau. Kita lihat saja nanti.
Kami keluar lewat gerbang barat. Sepanjang mata memandang hanya ada padang rumput yang luas.
Di perjalanan menuju hutan kami bertemu beberapa slime. "Slash... Sreet...!" Aku yang menghabisi mereka, satu slime setara satu exp lumayan untuk pemula sepertiku.
Asia terus berjalan tanpa melihat montser imut ini.
Dia masih kesal ternyata.
"Kita harus masuk lebih dalam ke hutan, mereka tidak akan muncul disini."
"Sebenarnya monster apa yang kau incar?"
"Goblin."
Ah sial, monster itu lagi. Jujur saja aku masih sedikit trauma melihat monster itu. Tapi wanita ini berbeda, dia pasti sangat yakin pada kemampuannya.
Padahal masih banyak monster lemah selain slime. Seperti monster tipe serangga, tipe reptil, dan masih banyak lagi.
Goblin memang masuk golongan yang lemah. Tapi, mereka memiliki tingkat kesulitan yang berbeda.
"Jadi, sekarang bagaimana? Kita tunggu di sini?"
"Iya."
Kami sekarang berada tepat di tengah hutan. Rimbunnya pepohonan membuat cahaya matahari sulit masuk ke tempat ini, menambah suasana semakin mencekam.
Aku tidak tahu latar belakang kehidupan Asia. Tapi yang pasti, dia sangat paham tentang menjadi seorang petualang.
Kurang lebih setengah jam kami menunggu.
Lalu sesuatu yang dinanti akhirnya muncul.
"Arrgg...!"
"As, mereka datang!"
Goblin-goblin itu mulai keluar dari rimbunnya semak belukar. Jumlah mereka sangat banyak, kuhitung-hitung lebih dari sepuluh.
"As, sebaiknya kita pancing mereka di tanah lapang. Sulit untuk kita bertarung di tengah hut..."
"Aku mulai...!"
"Woi, tunggu...!"
Belum selesai aku berbicara wanita itu maju sendirian, menyerang goblin yang berjumlah sangat banyak. Beberapa diantara mereka juga membawa senjata.
"Hyaaa!"
"Whoosh..."
Dia dengan cepat berlari menuju kelompok goblin. Lalu menghunuskan pedangnya dan mengarahkannya ke dada monster itu.
"Croot!"
"Ugh... "
Rapier miliknya menusuk monster itu tepat di jantungnya dan tembus sampai belakang, hingga mengenai goblin lainnya. Dalam sekali serang tiga goblin langsung mati.
"Argh!"
Melihat pemimpinnya dibunuh, goblin yang lain maju dan mengerubungi Asia.
"Huh!"
Dengan cepat Asia menarik pedangnya dan mundur beberapa langkah agar tidak terkepung.
"Apa aku perlu membantumu?"
"Tidak usah! Akan kuselesaikan ini dengan cepat!"
__ADS_1
"Suiiing..." ( sfx : pedang milik Asia mengeluarkan cahaya samar-samar ).
Itu yang disebut mengalirkan Mana pada senjata. Aku juga bisa, akan tetapi tidak sekuat dia.
Asia mulai serius.
Dia petualang yang sangat terlatih. Tidak ada keraguan di matanya, seolah dia bisa menebas apapun dan siapapun yang berani menghalanginya.
Sekilas membuatku sadar, betapa lemahnya aku.
"Maju kalian semua!"
"Arghh... "
Setelah teriakkannya yang keras dia maju. Melompat langsung tepat beradapan dengan monster, lalu menusuk tepat di bagian organ vital musuh.
Kali ini tanpa mencabut pedangnya, dia melanjutkan serangannya. Mengayunkan pedang ke kanan dua goblin tewas dengan kepala terpenggal.
Melihat musuh lebih kuat dari mereka, goblin yang lain lari berhaburan. Beberapa menuju ke arahku.
"Sring... Sring... Sring"
Tiga goblin mati ditanganku.
Kali ini aku memakai senjata sihir jenis dagger. Walaupun tidak sekali serang, tapi aku bisa membunuh mereka dengan lebih efisien.
"Hei, jangan kabur!"
Asia mengejar goblin-goblin itu lalu menghabisi mereka. Gaya bertarungnya sangat unik.
Langkah kaki, lompatan, ayunan lengan dan gerakkannya terlihat lembut dan halus. Tapi, serangan yang dia lancarkan sangat mematikan, tepat, dan akurat.
"Huah, Indah sekali. Seperti melihat pertunjukkan tari dari seorang penari yang berbakat."
"Eh!? Apa ini yang dia maksud kemarin?"
Aku menduga-duga beberapa hal, tapi itu hanya buang-buang waktu. Mungkin akan ku tanyakan padanya lain waktu.
"Haaaah! Bagaimana, seru kan?" tanya Asia.
"Ahaha, iya."
Kami berjalan pulang menuju kota karena hari sudah sore.
Total kami menghabisi 20 goblin tanpa terluka sedikitpun. Asia sangat agresif, dia mengalahkan 14 goblin dan aku sisanya.
Leveling hari pertama berjalan lancar. Aku naik level dua, sementara Asia sudah level tiga.
Walaupun kami satu tim, tapi exp yang di dapat tidak selalu seimbang.
Tidak seperti quest yang expnya dibagi rata tiap anggota. Dalam "solo leveling", kontribusilah yang menentukan besar kecilnya exp yang kau dapatkan.
Walaupun hanya diam dan menonton juga dapat sedikit exp sih, selama kau terdaftar sebagai anggota party.
Kami melihat status scrolls satu sama lain.
"Kai, besok kita leveling lagi yuk?"
"Iya, tapi sedikit kurangilah semangatmu itu."
Setelah melihat statusku, Asia sadar kalau tadi dia terlalu dominan.
"Hehehe... Baiklah. Besok kau yang menyerang, aku akan membantumu dari belakang, okey!"
"Nah, gitu dong. Bagi-bagi exp, jangan mukil!"
"Puehehe... "
Sore itu kami pulang dari hutan dengan selamat sentosa.
( Note : Mukil\=Sebutan untuk pemain yang terlalu bernafsu untuk membunuh/kill. Bodo amat sama teman )
__ADS_1