Ke Dunia Lain Dengan Kitab Suci

Ke Dunia Lain Dengan Kitab Suci
Chapter 6 - Tetap Tidak Berguna


__ADS_3

"Itu buku novelku!!!"


Benda aneh yang mengambang di depanku ternyata novel fiksi yang hilang saat aku terpanggil di dunia ini.


"Itu Buku Sihir, dan energinya terasa sangat besar, mungkin inilah senjata legendarismu!" seru orang berjubah yang ada di depanku.


"Dengan kekuatan itu, kita pasti bisa mengakhiri perang di dunia!" kata raja dari singgasana.


Setelah mendengar ucapan penuh optimisme dari raja, semua orang di aula bersorak penuh semangat, tapi tak ada orang lain yang datang lagi, sepertinya pintu masuk ditutup dengan rapat. Yah, ini bagus, aku memang tak suka keributan.


"Hei, kalian pasti bercanda? Inikan cuma buku novel seharga lima puluh ribu." ucapku dalam hati.


Tapi jika dilihat baik-baik memang ada yang yang berbeda, mulai dari judul yang semula White Magic and Black Magic berganti menjadi Legendary Magic Book, biar apa coba? Walaupun begitu aku tetap yakin ini bukuku. Terlihat dari samping namaku terbaca dengan jelas. Ini memang kebiasaan dari kecil, menuliskan nama di barang pribadi agar tak hilang atau tertukar.


"Akhirnya keberuntungan berpihak padaku."


Energi sihir yang luar biasa, dengan kekuatan ini perang akan aku menangkan dan setelah itu kehidupanku di dunia ini pasti akan sempurna.


"Hehehe... Entah kenapa aku menjadi semakin bersemangat." ucapku terlalu senang.


Setelah semua orang di aula larut dalam kegembiraan hal yang mengejutkan datang...


"Tunggu sebentar Yang Mulia..." ucap orang berjubah/pendeta yang ada di belakangku.


"Ada apa?" tanya Raja.


"Hamba sebenarnya takut mengatakan ini, tapi orang ini tidak akan bisa menggunakan Buku Sihir itu!"


"APA!? KENAPA?"


Aku, Raja, dan semua orang yang ada di aula istana kaget luar biasa. Aku sendiri sampai membuka mulut sangat lebar, dan beberapa yang lain terlihat memasang ekspresi konyol.


"Yah, walaupun dia memiliki Buku Sihir yang hebat, tapi orang ini sebaliknya, dia tidak mempunyai mana sama sekali, aku tak bisa merasakannya." jawab pendeta di belakangku.

__ADS_1


( Note : Mana\=Energi sihir )


"Bisa kau jelaskan lebih detail, bisa jadi cuma kesalahan kan?" Aku bertanya sambil cemas.


"Jadi begini, setiap orang punya jumlah mana yang berbeda-beda. Pertumbuhan mana itu dimulai saat kau lahir, dan saat kau di baptis di umur 10 tahun, jumlah energi sihir/mana milikmu akan menentukan masa depan yang akan kau jalani. Semakin banyak mana milikmu, semakin banyak pula pekerjaan yang bisa kau ambil. Sebagai contoh kau bisa menjadi ksatria, petualang, bahkan pengawal bangsawan." jawab pendeta di depanku.


Sepertinya menjadi petualang, ksatria, dan semacamnya adalah hal yang terhormat di negeri ini atau mungkin di dunia ini.


"Lalu kenapa aku tak punya mana? Apakah aku perlu di baptis?"


"Dasar bodoh, yang kita lakukan sekarang adalah Pembaptisan. Kami tadi menyebut Pembangkitan karena kau sudah diatas 10 tahun. Kami mencoba membangkitkan energi sihir dalam dirimu."


"Memangnya berapa jumlah mana yang diperlukan untuk berkerja di bidang yang kau katakan tadi? Dan sebenarnya manaku berapa?"


"Biasanya anak 10 tahun dengan mana minimal 50, karena jika dibawah itu mereka akan kesulitan berkembang dan pada akhirnya cuma buang-buang waktu, lebih baik mereka membantu orang tuanya berdagang, beternak, atau bertani. Dan untukmu, kau tak punya mana sama sekali, seperti bayi baru lahir.


Aku baru dipanggil di dunia ini, apakah karena itu aku tak punya mana? seperti bayi. Dan sepertinya aku masuk di golongan orang dengan mana dibawah 50 mungkin lebih buruk. Bahkan setelah dibaptis/dibangkitkan lagi manaku tetap tak muncul, itu berarti pertumbuhan manaku akan lama dan sia-sia.


"Itu semua akan menjadi percuma jika kau bertarung melawan orang yang bisa menggunakan sihir, belum lagi jika harus melawan monster tingkat tinggi, pedang biasa tak akan bisa melukainya, kau harus mengalirinya dengan energi sihir."


"Lalu, apa yang harus aku lakukan sekarang? Bisakah kalian melatihku?"


"Mungkin aku...."


Salah seorang pendeta ingin mengajukan diri, tapi dengan cepat jawabannya dipotong oleh Sang Raja.


"Tidak perlu, itu hanya akan buang-buang waktu dan tenaga. Sekalipun mananya muncul pasti hanya sedikit dan nggak ada gunanya!" jawab Raja


Memang benar aku tak berguna dan tak berbakat, tapi kata-katanya sangat kejam


"Woi, kalau kau tak mau bertanggung jawab setidaknya jangan melakukan pemanggilan lagi, dasar sampah." balasku dengan kasar.


Setelah kataku barusan para ksatria dengan kompak mencabut pedangnya dan mengarahkannya padaku. "Ah sial, aku terbawa emosi." menyesali omonganku.

__ADS_1


Sang Raja berdiri dan mengangkat tangannya, tanda untuk menahan serangan dan berbaris kembali. Dan berbicara dengan lantang.


"Tadi kau bicara apa? Tanggung jawab? Aku sudah melakukannya, kau sekarang sudah menjadi warga yang sah di negeri ini. Mungkin aku bisa memberikan yang lebih, tapi kau sangat mengecewakan. Pergilah dan jangan pernah berbicara soal tanggung jawab atau apalah itu lagi."


Kemudian Sang Raja, Putri, para ksatria serta para pendeta pergi. Di aula hanya ada aku dan buku sihir yang tak bisa kupakai. Setelah itu aku juga keluar dengan diantar pelayan. Sesampainya di gerbang istana seorang wanita memanggilku.


"Hei, tunggu sebentar!"


"Eh, dia kan anak orang itu."


Dia anak dari Sang Raja. Seorang wanita cantik nan anggun. Kelihatannya seumuran denganku, rambutnya panjang sepinggang berwarna pirang.


"Ada apa, kau juga mau menghinaku?"


"Ah, tidak, aku hanya ingin memberimu ini, gunakanlah dengan bijak."


Dia tersenyum sambil menyerahkan kantong kecil dari kulit, sepertinya uang receh, terdengar bergemericik. Kemarahanku yang tadi mulai mereda, aku lega masih ada orang baik seperti dia.


"Ya, terima kasih."


"Baiklah, aku juga harus pergi. Dah, semoga beruntung Tuan Pahlawan."


Dia pergi tetap dengan senyuman diwajahnya. "Yah, aku beruntung, dia berbaik hati memberiku uang, jadi ada berapa ya?"


Aku membuka kantong itu, lalu mulai menghitung uang tersebut...


"Apa, cuma 1 koin emas dan 200 koin perak!"


Sudahlah, yang penting aku punya uang.


Dan akhirnya kehidupanku sebagai Solo Player di dunia ini dimulai.


"Ahhhh, tidak di bumi atau di sini aku tetap saja sendiri..."

__ADS_1


__ADS_2