
"Takdir! Maksudmu kita harus menikah?"
"Dasar bodoh! Tidak semua takdir itu tentang hubungan perkawinan atau semacamnya!"
"Apa kau tidak menyadari sesuatu?"
"Haah? Tunggu sebentar, bicaranya nanti saja."
"Hyaaa... Rasakan ini!"
Menggunakan teknik seperti ini benar-benar merepotkan dan tidak efisien. Tapi, jika aku bisa menghabisi monster ini tanpa harus membuat tubuhnya hancur, aku tidak perlu lagi repot-repot mengalihkan mana dari senjata ke seluruh tubuh atau sebaliknya, hanya untuk menghilangkan efek negatif akibat cairan asam monster ini.
"Ahh. Datang lagi, sekarang ada tiga!"
Serangan dari monster-monster serangga ini sangat monoton, tidak ada variasi sama sekali. Mereka menyerang hanya menggunakan dua lengan tajam yang berbentuk seperti sabit, dan sesekali mengigit jika targetnya berada dalam jangkauan. Cukup mudah untuk dihindari.
"Eits... Ea... Ea!"
Aku menunggu monster serangga itu menyerang dengan lengan tajamnya, lalu dengan momentum yang tepat dan cepat, aku mencari celah, kemudian menyerang balik dengan satu serangan yang mematikan. Memutus kepala monster ini adalah cara paling tepat, agar cairan asamnya tidak muncrat kemana-mana.
"Huh... Huh... Capek banget. Istirahat bentar, ah!"
Termasuk yang ini, total aku sudah menghabisi tujuh belas bayi-bayi monster.
Walaupun staminaku sudah hampir habis, akan tetapi mana milikku masih penuh. Itu semua karena Energi Sihir atau Mana berbeda dengan stamina.
Aku dan Asia adalah petualang pemula yang belum memiliki job atau spesialisasi. Karena itulah mana milik kami tetap penuh, walaupun sudah melawan monster yang begitu banyak.
Saat kami para petualang pemula mengalirkan mana tersebut ke tubuh dan senjata, mana itu hanya akan mengisi dan memperkuat. Tidak bisa keluar dari wadahnya. Seperti air yang dimasukan ke dalam botol, semula sebelum ada air, botol itu terasa rapuh dan ringan, tapi setelah diisi air, botol itu baru terasa berat dan semakin kuat.
Seperti itulah kira-kira para pemula memanfaatkan mana, hanya bisa mengisi, melapisi, memperkuat, dan tidak bisa mengeluarkan mana itu dari wadah atau tubuh fisiknya.
Akan tetapi, saat kau berhasil memenuhi syarat dan bisa mengeluarkan mana itu dari wadahnya, kau akan mendapatkan kekuatan berupa serangan ataupun pertahanan yang sangat luar biasa. Dan kekuatan itu yang disebut SKILL.
Syarat mendapatkan skill sangatlah sulit, butuh perjuangan dan beberapa tahapan yang harus dilewati secara urut. Aku sendiri sudah hampir melewati semua tahapan, tepat setelah menghabisi ketiga monster tadi, tahapan paling sulit sudah berhasil tercapai. Yaitu, naik menjadi petualang level sepuluh.
--- Status Scrolls ---
Nama : Kai
Kelas : Petualang Level 10
Job : -
Equipment :
- Normal Dagger : Rarity D attack +5
- Normal Armor : Rarity D defense +5
- Legendary Magic book : Rarity?
- Potion Merah : 5 buah Heal 5%
Mana : 50
"I-Iyey... Ahaha! Akhirnya aku level sepuluh!"
__ADS_1
Setelah berjuang mati-matian memenuhi syarat seperti, menjadi petualang dengan biaya yang mahal, membeli perlengkapan yang juga tidak kalah mahal, lalu menyelesaikan quest, membantai monster, dan hal sulit lainnya. Akhirnya Aku dan Asia bisa mengambil job dan mendapatkan sebuah skill. 'Mantap! Bentar lagi punya skill. Ini nih, hal yang sudah aku tunggu-tunggu sejak dikirim ke dunia sialan ini.'
Sekarang tinggal tahapan terakhir, yaitu mengambil job di Guild Petualang. 'Hmm. Semoga nggak bayar... '
"Woi! Udah menyadari sesuatu belum?"
"Sadar apa?"
"Mmm... !!!"
Dari suaranya, Dewi itu terdengar kesal. Aku penasaran seperti apa wajahnya saat kesal. 'Ehehehe... '
"Maaf. Karena terlalu lelah, aku tidak bisa memikirkan apapun lagi. Hehe... "
"Hhh... Akan aku jelaskan kebetulan yang aneh ini. Kau dengarkan dengan baik!"
"Oke!"
Aku bangkit dari duduk dan segera mencari tempat yang aman, sepertinya pembicaraan ini akan memakan waktu agak lama.
"Baiklah. Pertama-tama, aku mulai dengan kedatanganmu ke dunia ini."
"Beberapa waktu yang lalu, kau sempat berpikir bahwa orang-orang di Kerajaan salah melakukan pemanggilan, kan?"
"Benar!"
Ternyata Dewi ini juga sependapat denganku. Sepertinya memang ada yang salah dengan ritual pemanggilannya.
"Tapi menurutku, itu bukanlah kesalahan. Melainkan sebuah takdir dari alam atau semacamnya!"
"... Haah?"
Apa-apaan ini, hanya karena sebuah obrolan yang belum tentu penting, suasana menjadi semakin tegang?
"Aku adalah sosok Maha Kuat yang tiba-tiba bisa ke dunia manusia. Akan tetapi, mungkin karena kekuatanku yang terlalu besar, aku tidak diberi bentuk fisik dan tidak bisa menggunakan kekuatan seenaknya."
"Oh. Mungkin, itu yang disebut Hukum Alam. Mereka (Alam) punya caranya sendiri untuk mempertahankan keseimbangan."
"Benar sekali!"
Siapa sangka, ternyata obrolan ini menjadi semakin serius.
"Jadi, satu-satunya cara agar aku bisa menggunakan kekuatan Dewiku adalah dengan mendapatkan bentuk fisik yang berbanding terbalik denganku."
"Dan bentuk fisikku itu KAU! Orang menyedihkan yang hampir mati sama goblin, tidak punya banyak stamina, energi sihir apalagi, lalu... "
"AHHHH! Cukup, cukup, aku tidak tahan mendengarnya!"
"Aku kira kau suka kejujuran!"
Baru kali ini aku tidak suka kejujuran, rasanya pahit sekali. 'Hihihi, pengen nangis kalau diinget-inget.'
"Lalu, kekuatan macam apa yang akan kau berikan?"
"Enhancement (Peningkatan)!"
"Cuma itu. Bukankah kekuatanmu itu mirip item jenis Potion? Memangnya kau Dewi Potion?"
__ADS_1
"Berisik! Ayo kita coba melakukan Fusion (Penyatuan)!"
"... Haah. Sekarang. Itu apaan?"
"Cepat persiapkan dirimu! Penjelasannya nanti saja."
"Baik."
Aku mengikuti instruksi Sang Dewi Langit. Dengan posisi berdiri sambil menutup mata, aku memusatkan pikiranku, mencari sebuah ketenangan dan kedamaian.
Aku tidak ingat sudah berapa menit memejamkan mata, aku sekarang merasa jatuh ke suatu tempat yang dalam dan gelap. Rasanya seperti melayang-layang atau mengambang, aku juga tidak begitu yakin. 'Mungkinkah ini alam bawah sadar?'
Dimana ini...
Ditengah-tengah kegelapan yang dingin nan mencekam ini, sesuatu yang bercahaya muncul. Sebuah Buku Sihir raksasa mengambang di depanku, kemudian terbuka dan bersinar sangat terang, menyapu habis semua kegelapan yang menyelimuti tempat ini, lalu menggantinya dengan kehangatan dan sesuatu yang tidak bisa diungkapkan melalui kata-kata. 'Apa ini? Rasanya aku bisa menangis karena bahagia... '
"Kai. kau memang orang yang terpilih!"
"Benarkah!"
"Ya. Buktinya kau bisa sampai di tempat ini."
"Eh. Sesulit itukah datang ke tempat ini?"
"Bukan sulit, melainkan mustahil. Ini adalah tempat para Makhluk Tingkat Tinggi bertemu dan berkomunikasi."
" .... "
Aku tidak bisa berkata-kata lagi, tempat ini memang sangat menakjubkan. Walaupun sudah berada di sini, aku tetap belum bisa melihat wujud Dewi Lala. Dari penglihatanku, dia terlihat seperti cahaya sangat terang yang keluar dari Buku Sihir.
"Sekarang terimalah kekuatan milikku! Kekuatan Dewi Lala, Sang Penguasa Langit!"
"... Huhh. Tunggu dulu, aku belum tentu bisa menguasainya, Dewi!"
"Tidak apa... Huehehehe!"
Sesaat setelah Dewi itu berhenti tertawa tempat ini begetar kencang, sangat sangat kencang. Dibarengi dengan meledaknya dan keluarnya cahaya super terang dari Buku Sihir. Energi Sihir yang luar biasa banyak dan terasa kuat tumpah memenuhi tempat ini, kemudian mengarah ke padaku, seolah ingin menyerangku dengan brutal.
"AAAARRRGHH!!!"
Entah itu Energi Sihir, Mana, atau apapun itu namanya, semua yang memenuhi tempat ini mulai masuk ke seluruh tubuhku. Semua kekuatan itu masuk melalui setiap inci dalam tubuhku, terkadang terasa panas, dingin, sakit, perih, bahkan ada sensasi tersetrum dan tercabik-cabik, semua menjadi satu.
" .... "
" ..... "
" .... "
'Apakah sudah berakhir... ?'
Aku tidak bisa merasakan apapun. Mataku, mulutku, hidungku, telingaku, tanganku, tubuhku, semuanya mati. Rasanya aku sudah tidak mempunyai tubuh lagi.
Sunyi... Tenang sekali.
Gelap... Sangat hitam, tidak ada cahaya setitikpun.
Apa aku tidak kuat dan akhirnya malah mati?
__ADS_1
'Konyol sekali... '