Ke Dunia Lain Dengan Kitab Suci

Ke Dunia Lain Dengan Kitab Suci
Chapter 14 - Desa Mine


__ADS_3

Persiapan sudah selesai.


Aku dan Asia berjalan menuju gerbang selatan kerajaan membawa beberapa tas ukuran sedang dan kecil. Tentu saja dengan senjata lengkap yang selalu menggantung di tubuh kami. Dagger atau belati kecil untukku dan pedang panjang jenis Rapier untuk Asia.


Melewati jalanan yang terbuat dari batu dan beberapa rumah milik penduduk, aku melihat ke atas. Terlihat matahari sudah tergelincir ke arah barat, tanda hari mulai sore. Udara yang semula panas dan lembab perlahan mulai berubah, sekarang dominan sejuk dan agak dingin.


"Desa Mine. Sepertinya tempat yang cukup mencurigakan."


"Hmm...!?"


Asia yang mendengar aku berbicara sendiri sekarang melihat ke arahku. Sedikit memiringkan kepalanya, dia menatapku dengan ekspresi bingung.


"Ah, maaf. Aku hanya heran, desa kecil di tengah lembah sanggup menyewa puluhan petualang level tinggi. Bukankah itu cukup aneh?"


"Kaulah yang aneh! Itu adalah tempat yang sangat terkenal, setelah sampai di sana kau akan mengerti."


"Eh?"


Asia yang selama hidupnya hanya berada di sekitar kerajaan tau tempat itu. Aku jadi semakin penasaran, tempat seperti apa Desa Mine itu.


"Bahkan kau yang dari luar kerajaan tidak tau tempat itu? ... Terkadang aku merasa kau bukan dari dunia ini."


"... Hah? Tadi kau bilang apa?"


"Bukan apa-apa... Ayo berjalan lebih cepat! Lihat, mereka sudah berkumpul."


Gerbang selatan sudah terlihat, banyak petualang yang berkumpul, kurang lebih ada delapan belas orang. Aku dan Asia segera mempercepat gerak kaki kami.


Sembari berjalan, aku masih coba mengingat kata-kata Asia yang barusan. Tadi aku sedang memikirkan Desa Mine, jadi ucapannya tidak bisa kutangkap dengan jelas.


"Bagus. Kalian datang tepat waktu!"


"Tentu saja!"


Seorang pria bertubuh besar dan kekar menyambut kami. Dia adalah Wall, Tanker sekaligus pemimpin di quest kali ini.


Oh iya, Tanker adalah salah satu jenis job. Walaupun job yang satu ini tidak sepopuler job lainnya, seperti : Assassin, Warrior, Mage, dan sebagainya, tapi jangan anggap remeh seorang Tanker. Karena dalam sebuah tim, dia bisa jadi penentu kemenangan. Tugasnya sebagai tameng sekaligus pengalih perhatian musuh membuat job ini sangat penting.


"Kenalkan. Namanya Kai dan Asia, mereka adalah pemula yang menghabisi semua monster di hutan barat"


"Hallo. Aku Kai."


"Aku Asia. Salam kenal, semoga kita bisa bekerja sama dengan baik."


Wall memperkenalkan kami pada anggota party yang lain. Tapi, yang kami dapat hanya tatapan sinis dan beberapa ucapan cemooh dari mereka.


Yah, itu hal yang wajar. Bagi petualang di sini, kami hanya dua orang pemula lemah yang kebetulan kenal dengan pemimpin mereka. Lalu dengan gampang diajak bergabung di quest yang menjanjikan ini.


Level petualang di party ini yang paling rendah 15, Aku dan Asia tidak dihitung. Sementara yang tertinggi level 30, dia adalah Recca dan tentu saja pemimpinnya, Wall.


"Baiklah! Kenalannya sudah cukup, mari kita berangkat menuju Desa Mine."


"Siap!"


"Baik!"


Sore ini kami berangkat menuju Desa Mine. Dengan berjalan kaki butuh waktu kurang lebih dua hari untuk sampai di sana. Kami akan bergerak saat terang dan istirahat saat matahari terbenam.

__ADS_1


Wall dan Recca memimpin tim ini, mereka berada di barisan terdepan. Sementara Aku dan Asia berada di rombongan terakhir, berada tepat di belakang orang-orang yang paling membenci kami.


Sambil menahan emosi karena hinaan yang selalu mereka ucapkan. Aku dan Asia tetap melanjutkan perjalanan tanpa memperdulikan mereka.


Melewati hutan, menyeberangi sungai, naik maupun turun gunung kami lalui dengan cepat.


"Kita hampir sampai di Desa Mine!"


"Okee!"


Teriak orang di barisan paling depan dengan keras. Lalu dijawab beberapa pasukan di belakangnya dengan suara penuh semangat.


"Huh? Apa itu?"


"Itu gerbang masuk ke Desa Mine." jawab Asia dari sebelahku.


"APA! INI YANG KALIAN SEBUT DESA KECIL!?"


Aku hanya menganga tanpa bisa berkata-kata lagi, melihat desa kecil bernama Mine itu.


Dari luar saja sudah terlihat sangat menakjubkan. Dengan gerbang besar dan papan nama yang tak kalah besar di atasnya bertuliskan, Selamat Datang Di Desa Mine, Surga Yang Hilang. Membuat bayanganku tentang desa yang kumuh dan miskin hilang sudah.


Setelah memasuki desa itu aku semakin tercengang dengan apa yang kulihat. Berbagai macam toko dan tempat hiburan semua ada di sini, mulai dari stand makanan, pertunjukkan jalanan, bar, restoran, hingga penginapan super mewah ada disini, bahkan tempat judi juga ada.


Kami terus berjalan hingga sampai di salah satu rumah besar dipusat desa. Sepertinya milik kepala desa ini.


"Tok... Tok... Tok!"


"Tuan Muda, para petualang sudah tiba."


Setelah melihat kami, pelayan itu segera melapor ke Tuannya. Terdengar dari luar samar-samar mereka bicara.


Lalu pintu rumah itu dibuka dan kami dipersilahkan masuk. Terlihat di ujung ruangan seorang pemuda duduk dengan memangku kepalanya. 'Dia masih sangat muda, mungkin anak dari kepala desa sebelumnya.'


"Hujan akan turun nanti malam, jadi kami prediksi bayi-bayi monster itu akan datang pada pagi harinya."


"Malam ini beristirahatlah dengan cukup. Aku tak mau ada satupun monster serangga yang masuk ke desa."


"Baik. Akan kami kerjakan sebaik mungkin, Tuan Muda Arys."


Wall berbicara dengan pemimpin desa itu. Namanya Arys, dia menggantikan Ayahnya sebagai Kepala Desa Mine. Ayahnya sendiri wafat dua bulan yang lalu karena mabuk, lebih tepatnya dia jatuh terperosok ke saluran air dan tidak ada yang tau, hingga akhirnya ditemukan meninggal keesokkan harinya. "Sumpah, kocak banget!" perutku aja sampai sakit karena menahan tawa saat diceritakan.


Diskusi untuk pertempuran besok sudah selesai.


Party kita memiliki jumlah anggota sebanyak 20 orang.


Dan rencananya adalah membagi kelompok menjadi tiga tim. Tim garis depan ada enam orang dipimpin Wall, lalu tim kedua yang ada dibelakangnya dipimpin Recca, dan tim selanjutnya berisikan Mage dan Archer, mereka ada digaris ketiga.


Sementara Aku dan Asia sebagai kelompok terakhir berada tepat di gerbang desa. Seperti dugaanku, mereka tidak akan memberi banyak exp untuk kami. Melihat pembagian tim saja sudah bisa ditebak, kalau kami hanya diberi beberapa monster saja.


"As. Bagaimana menurutmu?"


"Mmm... Aku punya firasat mereka akan kewalahan, lalu membiarkan banyak monster lolos dan saat itulah kita mulai beraksi."


"Firasatmu selalu buruk, aku jadi takut dekat-dekat denganmu!"


"Hehehe... "

__ADS_1


Asia hanya melirikku manja sambil tertawa dengan suara pelan.


Karena sifat barbarnya ini, aku sampai punya slogan khusus untuknya. Seperti ini...


Dimana ada bahaya, disitu ada Asia. Hahaha...


Hari sudah malam.


Malam ini aku tidur dengan Asia, maksudku satu ruangan. Kami tidur di kasur masing-masing.


"Haaa... Fuuu... "


"Haaa... Fuuu... "


Asia tidur dengan lelap, dengan rambut tergerai panjang berantakan dia masih terlihat anggun.


Seperti biasa, kalau sedang diam cantiknya, imutnya, semuanya nambah.


"Lalu kau mau apa? Mendekatinya dan melakukan hal mesum padanya, hah!"


"... Eh!"


Dewi bersuara loli yang tersegel di Buku Sihir tiba-tiba bicara padaku.


"Tidak mungkin aku melakukan itu, aku hanya mengaguminya."


"Cih. Bilang saja kau takut dibantai Asia."


"Hehehe... "


Kami berkomunikasi lewat telepati, jadi tidak ada satupun orang yang bisa mendengar pembicaraan kami.


"Apa kau ingin membicarakan sesuatu?"


"Oh iya, Dewi sudah tidak marah padaku kan?"


"Aku hanya ingin memperingatkan sesuatu padamu. Walapun monster ini tipe serangga dan masih bayi, jangan pernah lengah ataupun menganggap remeh."


"Aku rasa firasat Asia benar. Sesuatu yang buruk akan terjadi. Tetap waspada dan hati-hati."


"Hanya ini yang ingin aku katakan. Dah, berjuanglah!"


"Tunggu Dewi... !"


"Satu lagi, aku masih kesal padamu. Bye!"


"Sialan... "


Dewi bersuara loli itu langsung hilang, tak terdengar suara apapun lagi setelahnya.


Akan terjadi hal buruk?


Mungkin kalau cuma firasat Asia, aku masih bisa tenang. Tapi, kali ini Dewi sendiri yang memperingatkannya, aku jadi agak gusar.


Karena terlalu banyak memikirkannya, aku tambah susah tidur.


"Sial...!"

__ADS_1


__ADS_2