
"Tap... Tap... Tap!"
Aku dan Asia berlari dengan cepat menuju Balai Desa Mine.
"Apakah makhluk berwarna putih itu bayi monsternya?" Aku bertanya pada Asia.
"Benar!"
Dari jauh, sekilas monster-monster itu terlihat seperti kroto atau anakan semut yang biasa digunakan untuk pakan burung. Tapi, yang ini ukurannya sangat besar, kira-kira sebesar sepeda motor jenis matic. Dengan tubuh putih berlendir dan capit di mulutnya berwarna merah, monster itu benar-benar mimpi buruk.
"Kai. Aku akan menghabisi yang di depan! Kau periksa sekeliling, pastikan tidak ada yang menuju kemari!"
"Siap!"
Asia melawan monster yang bergerombol di depan pagar Balai Desa, sementara aku berpatroli dan mencegat monster di sekitarnya agar tidak menumpuk disatu tempat.
"Srooot... Sring!"
"Ceplak... Ceplek...!" 2x
Asia memusatkan mana di pedangnya, lalu menusuk monster yang berada paling dekat tepat di tubuhnya. Dengan sekuat tenaga, dia mendorong monster itu sampai beberapa meter ke depan, membuat monster yang lain tertarik dan mengerubungi Asia. Tanpa mencabut pedangnya, Asia melanjutkan serangan. Mengayunkan pedang berserta dirinya ke kanan, dia berputar tiga ratus enam puluh derajat, sekejab monster yang tadi mengerubunginya mati berceceran di tanah.
"Ssssttt...!"
Beberapa monster di dekat Asia mulai berdesis. Antena yang ada di kepala mereka bergetar, disertai munculnya suara aneh dari mulut monster serangga, yang bentuknya menyerupai semut itu.
"As. Habisi monster yang bertingkah aneh itu! Dia sedang berkomunikasi dengan temannya!"
"Baik!"
"Rasakan ini!"
Asia melanjutkan serangan. Kali ini dia mengincar monster yang berdesis. Walaupun monster-monster itu bergerombol dan berlendir, tidak akan ada gunanya jika yang dilawan seorang Asia. Ya, dia seorang Penari dan juga calon Assassin yang sangat berbakat, seseorang yang mungkin memang dilahirkan untuk menjadi pembantai monster.
"Hyaaa!"
Dengan tubuh lentur dan gerakan yang lembut khas seorang penari, Asia mampu melewati barikade serangga itu secepat kilat. Lalu menebas dan menusuk monster-monster itu dengan sangat mudah, seolah tubuh mereka hanya terbuat dari agar-agar.
Akhirnya Asia sampai di depan pagar yang terbuat dari besi. Pagar itu sengaja dibuat untuk menghalangi monster, agar tidak masuk lebih dalam ke rumah Kepala Desa.
"Huff... "
Sambil menghela napas, Asia mengacungkan pedang miliknya ke arah depan, seolah ingin menantang monster serangga yang jumlahnya lebih dari sepuluh itu.
"Woosshh!"
Asia mengeluarkan energi sihir atau mana lebih banyak dari sebelumnya, membuat udara di sekitarnya bergeser atau bergetar. Mirip saat kau melihat api dari jauh, seakan ada sesuatu yang bergetar di dekat kobaran api tersebut, seperti itulah yang kulihat sekarang. 'Luar biasa. Bahkan lendir yang yang berceceran di tubuh Asia sudah tidak ada, sepertinya menguap.'
"Sayang sekali. Padahal Asia dengan tubuh penuh lendir terlihat cukup menarik."
__ADS_1
"Woi, otak mesum!"
"Apa kau hanya ingin menonton saja. Kau pasti lupa tugasmu kan?"
"Oh iya!"
Aku yang tadi terdiam, segera bergerak untuk berpatroli.
Karena melihat Asia bertarung dengan elegan, aku mendadak lupa pada tugasku dan malah terdiam, lalu larut dalam pertunjukkannya.
Untung ada Dewi Lala. Dari pada dibilang suatu berkah, dia lebih terasa seperti Google Assistant, tugasnya hanya mengingatkan dan memperingatkan.
"Oh, Dewi ya! Tumben sekali muncul disaat seperti ini. Apa ada sesuatu?"
"Mulai sekarang, aku akan mengamati perkembanganmu. Cepat cari musuh dan mulai bertarung!"
"Hmm... Kau terdengar seperti guru atau semacamnya. Apa aku salah?"
"Tidak. Kau benar. Aku akan segera melatihmu."
"... Baiklah!?"
Mendadak sekali, pasti dia punya firasat buruk atau sebuah pertanda. Hal serupa juga terjadi semalam, saat dia tiba-tiba berbicara denganku.
Ditengah-tengah obrolan yang mulai serius, muncul suara berdesis.
"Sssstt... Sssttt... !"
Monster-monster ini seperti sudah tau harus bergerak dan pergi menuju kemana. Pasti karena panggilan dari temannya yang berada di depan Balai Desa.
"Hyaaa!"
Aku segera menghalangi jalan mereka, lalu menebas kepala monster itu dengan sekuat tenaga. Tapi seranganku hanya menimbulkan luka gores, sepertinya lendir mereka yang lengket dan kental membuat seranganku melambat.
Lendir mereka berfungsi sebagai sistem pertahanan diri, sampai akhirnya digantikan dengan rangka keras bernama eksoskeleton seiring bertambahnya usia.
"Tidak ada pilihan lain. Akan kucoba dengan cara itu!"
Aku mengalihkan seluruh mana di tubuhku, lalu memusatkannya pada kedua daggerku.
Untuk petualang dengan jumlah mana yang sedikit sepertiku, hal dasar seperti ini terkadang menjadi semakin rumit dan menjengkelkan.
"Yhaaa... !"
Aku menghindari gigitan dan sabetan mereka yang berbahaya, sembari mencari celah untuk menyerang balik. 'Sekarang. Rasakan ini!' Dengan kekuatan penuh terpusat di senjataku, aku menebas mereka. Kali ini, seranganku berhasil.
Monster pertama berhasil kuhabisi dengan memutus kepalanya.
"Hyaaa!"
__ADS_1
"Slash... Slash!" 2x
Memanfaatkan tubuh monster pertama sebagai tameng, aku menghindari serangannya dan berguling ke bawah. Kemudian, dengan kedua dagger milikku, aku menebas perut monster itu berkali-kali sampai terbelah menjadi dua.
"Srooshh!"
Cairan berwarna hijau mirip darah tumpah dari monster itu dan membasahi seluruh tubuhku.
"Aaargghh!"
Cairan yang keluar dari monster ini pasti bersifat asam. Karena sesaat setelah mengenai kulitku, rasanya panas dan sedikit perih di mata.
"Ahh. Huff... "
Sambil menenangkan diri dan mencari titik fokus, aku kembali mengalihkan mana yang terpusat di senjata dan menyalurkannya ke seluruh tubuhku.
"Nyesss...!"
Cairan dari monster serangga itu mulai menguap dan mengering. Sekarang tubuhku sudah berangsur membaik, tidak sesakit yang tadi.
"Ahhh, sial."
Sambil mengumpat pada diri sendiri, aku mengingat ucapan para pendeta tentang syarat dan takdir seorang petualang.
Dan sepertinya ucapan mereka dan beberapa orang yang sudah aku temui ada benarnya. Aku terlalu memaksakan diri menjadi petualang, padahal musuh yang kulawan baru bayi-bayi serangga, tetapi aku sudah kesulitan dengan mana miliku yang jumlahnya sangat sedikit.
Apapun yang kulakukan, semuanya serba salah.
Saat seranganku kurang kuat, aku harus memperkuatnya dengan memusatkan semua mana ke senjata, dan pada akhirnya pertahanan di tubuhku terbuka. Begitupun sebaliknya, saat aku menyamaratakan manaku, yang terjadi malah seranganku melemah. 'Dasar payah!'
Mana atau Energi Sihir yang di salurkan ke seluruh tubuh, juga bisa berfungsi sebagai tameng atau pertahanan diri seorang petualang.
Sebagai contoh Asia. Saat melawan segerombolan monster tadi, dia tidak terkena efek negatif apapun dari cairan monster yang mengenainya. Itu semua berkat mana yang menutupi seluruh tubuhnya, termasuk pakaian dan lainnya.
"Oh. Jadi begitu."
"... ?"
Aku tidak tau apa yang dia maksud. Tapi dari suaranya, Dewi itu terdengar seperti mengerti akan sesuatu.
"Apa kau tau sesuatu, Dewi?"
"Tentu saja!"
"Soal apa?"
"Mmm... "
Sambil berbicara dengan Dewi bersuara loli itu, aku melanjutkan tugas. Berkeliling di sekitar Balai Desa dan menghabisi monster yang aku temui, tentu saja dengan teknik yang merepotkan tadi.
__ADS_1
"Tentang takdir kita berdua!"
"APA!!!"