
"Syuurrp... Ahh... "
"Bagaimana rasanya, enak?"
"Iyaa hehe... "
Aku dan Asia berjalan sambil minum jus buah menuju perkebunan.
"Mmm... Kai."
Tidak seperti tadi, kali ini dia memanggil dengan menyebut namaku.
"Ya... "
"Maaf, statusmu dibawah rata-rata tapi kenapa kau ingin jadi petualang, apakah kau punya dendam atau semacamnya?"
Asia bertanya dengan suara yang lirih.
"Tidak ada... Mungkin menjadi petualang akan membuatku terlihat keren hehe."
"Hhh... Dasar pria, selalu sok kuat dan aneh."
Sebenarnya aku hanya ingin hidup tenang dan nyaman di dunia ini. Tapi sebelum itu, aku harus memastikan dunia tempatku tinggal damai dan menguak rahasia Buku Sihir ini. Mau pulang ke bumi pun juga pasti mustahil.
"Lalu kau sendiri kenapa ingin jadi petualang, padahal kau, ehm... Ya, lumayan cantik lah. Bukannya sayang kalau tubuhmu terluka."
Yah, aku tak bisa membohongi diriku sendiri, Asia memang wanita yang sangat cantik.
Dia hanya melihatku sambil tersenyum tipis. Sok imut banget nih cewek... Emang imut sih sebenernya.
Untuk informasi saja, di dunia ini menjadi patualang/ksatria bukanlah kewajiban. Walaupun kau punya Energi Sihir/Mana luar biasa, tidak akan ada yang memaksa dirimu.
"Oi, kau belum menjawab pertanyaanku lo!"
"Hehe... Entahlah, aku hanya ingin menari di medan perang."
"Apa tadi kau bilang... Menari?"
"Iya, hanya menari."
Aku tak tahu apa yang dia maksud dengan "menari" di medan perang, tapi bisa kupastikan, dia punya suatu rahasia dibalik ucapannya.
"Dasar cewek aneh!"
"Kau sama saja!"
"Ahahah... " kami berdua tertawa.
Aku dan Asia berbincang banyak hal diperjalanan.
Kami berjalan melewati jalanan yang terbuat dari batu, rumah penduduk dan tokonya pun banyak yang terbuat dari kayu dan batu. Berjajar dengan rapi dan bersih, tidak kalah dari negara maju di bumi.
Kami keluar lewat gerbang kerajaan, menjauhi gerbang dan dinding yang kokoh menuju perkebunan di dekat hutan.
"Kita hampir sampai, sebaiknya kita bersiap."
"Baik."
Kami membuka status scrolls dan melihat perlengkapan yang kami gunakan.
Nama : Kai
Kelas : Petualang Level 1
Job : -
Equipment :
- Normal Dagger : Rarity D attack +5
- Normal Armor : Rarity D defense +5
__ADS_1
- Legendary Magic Book : Rarity?
Mana : 5
***
Nama : Asia
Kelas : Petualang Level 1
Job : -
Equipment :
- Normal Rapier : Rarity C attack +10
- Normal Armor : Rarity D defense +5
Mana : 250
*Aku menyuruh Lucy mengganti nama di statusku karena terlalu aneh di dunia ini*
Di dekat perkebunan terlihat beberapa orang sedang berkumpul di pondok kecil sambil menikmati makan siang, mereka adalah pemilik kebun ini. Padahal sedang ada monster, tapi mereka terlihat sangat tenang.
Aku ingat, bahkan di bumi ketenangan adalah kunci jika berhadapan dengan makhluk buas/semacamnya. Tunggu dulu, bukankah mereka terlalu santai?
"Selamat siang, kami dari guild dan kami yang mengambil quest kalian."
"Akhirnya kalian datang, monster-monster itu ada di ujung kebun dekat hutan, cepat usir mereka!"
"Baik, serahkan pada kami."
Setelah mendapat informasi dari salah satu orang, kami langsung mengeluarkan senjata yang kami bawa. Aku menggunakan dua dagger, sementara Asia memakai pedang jenis rapier.
"Kai, ayo kita habisi semua monster itu!"
"Tentu saja!"
Baru beberapa meter kami melangkah, Pak tua pemilik kebun berteriak dan membuat kami berhenti.
"Woi, kalian berdua mau menghancurkan kebunku?"
"Eh?"
Aku dan Asia hanya bisa terdiam heran.
"Kami akan menghabisi monsternya dan membuang bangkainya, anda tidak perlu khawatir."
Aku menjelaskan rencana kami pada orang itu. Dan dia hanya mengerutkan dahi sambil menggelengkan kepala, tanda kalau kami bermasalah.
"Apakah pihak guild tidak memberitahu tentang monster yang akan kalian lawan dan cara menanganinya?"
"Tidak."
Kami menjawab secara bersamaan.
Sebenarnya waktu itu kami masih belum seakrab sekarang. Jadi setelah membentuk party dan mendapat quest kami langsung pergi tanpa bertanya apapun tentang pekerjaan ini pada Lucy.
"Sekarang sarungkan senjata kalian dan ambil karung besar itu, masing-masing satu. Akan aku jelaskan tugas kalian saat sampai disana."
Kami membawa karung besar yang terbuat dari kain, sekarang kami terlihat seperti buruh panen. Berjalan melewati kebun akhirnya kami sampai.
"Sekarang lihatlah kesana, monster itulah yang akan kalian lawan."
Pak Tua itu menujuk kearah monster yang membuat kami terkejut bukan main.
"Hah... SLIME!!!"
Ya, itu adalah slime. Monster lemah yang berwujud lendir, tidak punya panca indra, kaki ataupun tangan. Mereka berwarna-warni tergantung tempat dan apa yang mereka makan. Cara mereka makan dengan memasukan benda organik ke tubuhnya dan menghacurkannya.
"Nah, tugas kalian sekarang mengambil slime itu dan memasukkannya ke karung, lalu buang/habisi mereka di dalam hutan, Oke."
__ADS_1
"Ah, Baiklah."
"Ehm, iya."
Kami kehilangan semangat.
Slime tidak berbahaya untuk manusia atau ternak, tapi akan menjadi hama bagi sayuran/tanaman kebun. Lendir mereka yang kental dan lengket akan menempel di batang dan daun, lalu menyebabkan pembusukkan dan akhirnya tanaman itu mati.
Karena itulah menebas meraka malah akan membuat lendirnya muncrat kemana-mana dan memperburuk situasi.
"As, kau ambil sebelah sana, disini biar aku yang urus."
"Ehm... "
Untukku pekerjaan ini tak begitu buruk, mengingat kemampuan bertarungku yang minim. Tapi berbeda dengan Asia, dia terlihat sangat kesal dan kecewa.
Setelah itu kami menuju hutan untuk menghabisi monster ini.
Aku membunuh slime itu dengan santai. Sebaliknya Asia, dia membunuh monster imut itu dengan ganas dan sadis.
"Hyaa!"
"Rasakan ini, mati kau... mati kau... "
Dia melempar slime kecil itu ke udara lalu menusuknya bertubi-tubi sampai benyek dan tercerai-berai.
"Akhirnya selesai juga."
Dari quest hari ini kami hanya mendapat Exp masing-masing sebanyak 20 point, kurang 80 point lagi untuk naik level 2 dan 40 bronze, yang artinya 20 bronze untuk satu orang.
( Note : Exp/Experience Point \= Unit pengukuran yang digunakan dalam game RPG )
"Hei, kenapa kau masih kesal begitu, bukankah ini memang cocok untuk pemula seperti kita."
Asia berjalan pulang dengan muka kesal. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya dia inginkan.
"Memang benar, tapi aku juga ingin memperlihatkan kemampuanku padamu. Seperti halnya kau yang menunjukkan kehebantanmu tadi siang."
Maksudnya adalah saat aku mentraktir dia makan makanan yang enak. "Oh... Intinya dia ingin unjuk gigi ya, haha so sweat banget sih." batinku.
"Sudahlah, kan masih ada esok hari."
"Hhh... "
Dia memalingkan wajah sambil mengembungkan mulutnya. Uh... Imutnya nambah, anjay.
"Sebelum pulang makan dulu yuk, di restoran yang tadi."
"Gak bisa, uangku gak cukup."
Aku mengajak Asia makan di restoran yang tadi, berharap bisa melihat dia tersenyum bahagia sebelum berpisah.
"Memangnya siapa yang suruh bayar sendiri, ayo aku yang traktir lagi."
"Huh! Beneran?"
Ekspresinya berubah dengan cepat.
"Tentu sajaaaa... "
Aku mengiyakan sambil mencubit pipinya yang chubby.
"Kalau begitu ayo cepat kesana, nanti keburu tutup!"
"Iya."
Seperti tadi dia menarik tanganku dan berlari dengan wajah yang sumringah.
Hahaha ini terasa seperti Deja vu.
Tidak apa-apalah keluar uang sedikit, yang penting dia bisa tersenyum lagi.
__ADS_1
Hhh... Nanti malam pasti mimpi indah.