Ke Dunia Lain Dengan Kitab Suci

Ke Dunia Lain Dengan Kitab Suci
Chapter 8 - Equipment, Quest, dan Partner


__ADS_3

Di sebuah toko senjata dipusat perbelanjaan Scocery Kingdom.


Aku masuk di toko tersebut.


Kulihat berbagai senjata menggantung di tembok dengan rapi, ada pedang, tombak, dagger, busur, dan yang lainnya.


Di ujung ruangan itu, ada seorang pria besar dengan tubuh berotot sedang melayani pembeli. "Toko senjata dan pria besar, benar-benar mirip sebuah game." pikirku.


Dia sepertinya orang yang ramah. Terlihat dari caranya berbicara dan melayani pembeli itu, hmm... Apa karna dia wanita ya? Setelah selesai dengannya dia memanggilku...


"Woi, bocah. Kau butuh perlengkapan harga murah tapi berkualitas kan?"


Wow, dia bisa membaca pikiran orang lain.


"Benar, bagaimana kau tau?"


"Tentu saja aku tau, kau satu dari sekian banyak pemula yang datang kemari. Pasti rekomendasi dari Lucy."


Sekarang aku paham, dia bekerja sama dengan wanita penjaga loket. Oh iya, itu nama penjaga loket cantik yang ada di Guild Petualang.


"Jika kau sudah tau, berapa koin yang harus kubayar untuk satu set perlengkapan?"


Aku bertanya langsung ke intinya.


"Hmm.. Sebelum itu boleh kulihat Status Scrolls milikmu?"


( Note : Status Scrolls \= Gulungan status )


"Huh? Untuk apa?"


Aku takut memberikannya bukan karna informasi pribadiku akan diketahui, tapi aku tak mau dihina lagi, jujur itu menjengkelkan.


"Tenang saja, aku hanya ingin tau statusmu agar nanti sesuai dengan senjata yang kau pakai."


Dia melihat statusku dengan seksama, lalu berkata...


"Tidak ada yang mencolok padamu... Kekuatan, kecepatan, stamina, dan kecerdasaanmu, semua biasa saja. Dan apa-apaan manamu itu, kau pasti sudah gila ingin jadi petualang. Sekarang pulang dan jadilah pedagang sepertiku, kau lumayan pintar, kau pasti bisa sukses dengan mudah."


Wah sialan, baru beberapa jam jadi petualang aku langsung kena serangan telak.


"Aku tetap ingin jadi petualang."


Aku menatapnya sambil mengerutkan wajahku.


"Yah, apa boleh buat, itu keputusanmu aku hanya memberi nasihat. Kalau begitu kusarankan kau memakai dagger saja, kalau panah belum tentu kau bisa mengenai musuhmu, kalau pedang kau pasti sulit mengayunkannya, bukannya musuh yang kena malah temanmu yang mungkin akan tertebas..."


"Iya... Iya... Aku paham, yang penting aku sudah mempunyai senjata dan perlengkapan. Jadi berapa harganya?"


Aku memotong penjelasannya dan ingin cepat-cepat pulang, semangatku yang semula membara langsung padam, gelap, sepi, sunyi, kayak lagi mati lampu.


"Ini, ada dagger, pakaian, celana, jubah, dan sepatu. Karena kau orang yang unik jadi kuberi harga pertemanan, cukup 30 koin perak saja, bagaimana?"


"Baiklah... Terima kasih... Dan sampai jumpa."


Aku mengambil barangku dan menaruh uang di meja dengan sedikit hentakan. Lalu keluar dari toko itu dan pulang ke penginapan, aku ingin mengisi semangat dan energi lagi. Padahal masih sore, tapi aku sudah malas beraktivitas.


*****


Matahari mulai merangkak naik dan hari kedua aku menjadi petualang di mulai...


Sudah cukup lama aku berjalan dari penginapan sampai akhirnya aku sampai di depan Guild Petualang. Seperti biasa tempat itu ramai di penuhi petualang.


"Hmm..."

__ADS_1


Aku masuk langsung menuju tempat Lucy untuk meminta quest. Tapi ada yang aneh, disitu ada seorang gadis, aku merasa pernah bertemu dengannya, tapi lupa dimana.


Gadis itu cantik. Dia mungkin seumuran denganku, matanya dengan pupil berwarna merah terang terlihat indah, rambutnya yang putih bersih menjuntai sampai ke punggung. Dia sedikit lebih tinggi dari bahuku.


Dengan baju petualang berwarna hitam terlihat cocok dipakainya. Dia membawa pedang jenis Rapier yang lumayan panjang.


"Selamat pagi, Kai... Sekarang kau sudah terlihat seperti petualang."


"Ah, iya... Selamat pagi juga Lucy, jadi apa questnya sudah ad..."


Belum sempat kuselesaikan, gadis itu memotong omonganku.


"Oh, jadi petualang lemah ini yang akan jadi partnerku?"


"Oii, apa aku punya salah denganmu, kenapa bicaramu seperti itu?"


Dia terlihat cantik ketika diam, tapi jadi mengesalkan saat berbicara. Lupakan pujianku yang tadi, anggap saja aku tak pernah memujinya.


"Oh iya, aku lupa mengenalkannya padamu. Gadis ini bernama Asia, sama sepertimu dia petualang pemula. Kalian akan menjadi sebuah tim."


Cuih... Padahal sesama pemula, tapi bicara seenaknya sendiri.


"Aku tak mau satu party dengan dia!"


"Aku juga tak mau!" kata Asia dengan jelas.


"Heh kalian berdua, jangan bersikap seperti bocah! Kalian akan saling membutuhkan satu sama lain. Jika sikap kalian seperti ini lebih baik pulang dan lupakan tentang menjadi petualang."


Lucy menjadi sangat marah, dia terlihat seperti orang tua yang menasihati dua anak muda bodoh dan egois.


"Hhh... Baiklah, kami akan mencoba bekerja sama. Iya kan Asia... Woi!?"


"Ehm... Iyaa..."


Aku dan Asia saling memperlihatkan Status Scrolls. Status gadis ini luar biasa, kekuatan dan kecepatannya berada jauh di atasku, mana miliknya sampai di angka 250, berbanding terbalik dengan statusku.


Mungkin ini yang dimaksud saling membutuhkan. Aku butuh dia untuk bertahan hidup sebagai petualang, tapi dia butuh apa ya dari diriku? Tidak mungkin kan dia butuh hal-hal seperti itu hmm... "Sadar woi... aku mah cuma apa atuh."


Kemudian kami melakukan suatu ritual pembentukan party. Memang sedikit lama dan agak rumit, untuk mengatisipasi penghianatan atau semacamnya. Yah, walaupun hal itu jarang terjadi disini.


Singkat cerita akhirnya kami berhasil membuat party dan mendapatkan quest. Sebagai pemula kami mendapat quest tingkat D, tingkat paling rendah untuk sebuah permintaan/pekerjaan. Di dunia ini, kesulitan dalam quest dibedakan menjadi lima, yang paling rendah D, lalu naik menjadi C, B, A, dan untuk yang paling sulit dan berbahaya adalah tingkat S/SS/SSS, biasanya quest itu muncul saat darurat perang.


"Jadi, apa tugas pertama kita?"


Aku bertanya pada Asia, dia yang membawa kertas questnya.


"Mengusir monster di perkebunan."


"Wah, sepertinya akan menyenangkan!"


"Benar, ayo segera kesana."


"Okay..."


Kami bergegas ke perkebunan, walaupun datang agak siang juga tidak masalah.


Gruu... Gruruurug...


"Oi, apa itu suara perutmu?"


Aku berhenti dan bertanya padanya.


"Tidak, bukan apa-apa, ayo kita lanjutkan."

__ADS_1


Dia menjawab tanpa melihat mataku.


"Kau lapar kan? Ayo makan dulu, kita tidak perlu terburu-buru."


"Ahhh... Ayo cepat pergi, selesaikan misi, dan dapatkan uang."


"Baiklah... "


Padahal makan itu penting untuk energi, tapi dia benar-benar menghindari hal itu, aneh...


Gruu... Grururu... Grururgrg..


"Nah... Perutmu mengaung lagi tuh."


"Hhh..."


Dia merangkul perutnya sambil menundukkan wajahnya. Kalau sedang malu dia imut juga hehe.


"Kenapa kau tidak mau makan? Sedang diet?"


Menggelengkan kepalanya.


"Sakit perut?"


Menggelengkan kepalanya.


"Tidak punya uang?"


Dia hanya diam masih merangkul perutnya.


Lucy sialan, jadi ini yang di maksud saling membutuhkan. Aku disatukan dengan cewek cantik galak yang tak punya uang. "Hhh... Gini amat ya hidup." Untuk lu cantik Neng.


"Hei, kalau lapar jangan diam saja. Kita kan satu party jadi tak perlu sungkan, ayo makan aku yang akan mentraktirmu."


"Hah! Benarkah?"


Apa-apaan ekspresinya itu, mudah sekali berubah. Hmm... Tapi, ini lebih baik dari pada ekspresi dinginnya yang tadi.


"Iya..."


"Boleh aku yang memilih tempat?"


"Iya..."


"Setelah makan kita mampir ke toko jus ya!"


"Iya... "


"Sudah diputuskan, ayo cepat kesana sebelum ramai."


"Iya..."


Asia menarik tanganku dan berlari menuju tempat makan dengan senyum lebar di wajahnya.


Kami berlari sepanjang jalan sambil bergandengan tangan kayak orang pacaran. Orang-orang hanya bisa melihat kami dengan heran.


Bodo amatlah sama orang lain.


Sisi positifnya aku bisa lebih akrab sama nih cewek aneh.


Dan akhirnya kami makan sebelum ke tempat quest.


Hhhh... Masalah makan kok bisa jadi panjang.

__ADS_1


"Wanita memang BEDA...!"


__ADS_2