
Setelah hari yang panjang dan melelahkan, malam ini aku pulang dari leveling dengan penuh beban pikiran dan emosi yang tidak stabil.
Aku terbawa suasana? Ya, itu benar!
Cerita masa lalu Asia yang kelam, sekali lagi menyadarkanku. Aku disini, terpanggil ke dunia ini secara acak dari milyaran manusia di bumi pasti punya tujuan tertentu.
Aku harus mulai serius menghadapi masalah di sini. Ini bukan dunia game yang selama ini aku bayangkan. Banyak penderitaan dan kesedihan yang terjadi, bahkan hal itu menimpa orang terdekatku.
Ya, Asia. Gadis yang selama ini selalu bersemangat dan penuh senyum di wajahnya, ternyata memiliki masa lalu yang pilu.
"Sial. Krrkk..." mengumpat sambil menggeretakkan gigi.
Malam ini seperti biasa aku pulang menuju penginapan melewati pusat perbelanjaan, di tepi jalan terlihat banyak toko yang masih buka.
Sedikit menunduk aku melamun sambil berjalan dengan pikiran yang entah sedang ada dimana. Melewati jalanan yang terbuat dari batu, dan sesekali menyenggol orang lain aku benar-benar tidak peduli.
Lewat sebuah gang kecil aku hampir sampai di penginapan.
"Wah... Wah! Akhirnya kau pulang, sudah lama kami menunggu."
"Ya, benar. Sekarang berikan uangmu, kami ingin segera minum-minum di bar."
Tidak di sini atau di bumi, sampah masyarakat seperti mereka selalu saja ada. Orang yang kerjanya cuma memalak dan berbuat onar.
Aku biasanya memberi mereka sedikit uang receh. Bukannya takut, aku hanya tidak suka keributan. Tapi kali ini berbeda, moodku sedang buruk, aku bisa saja menjadi lebih nekat.
"Pergilah. Jangan buat masalah, aku hanya ingin pulang."
"Apa! Hanya karena seorang petualang, jangan kau pikir kami takut padamu!"
"Benar!"
Setelah aku menolak permintaannya mereka menjadi sangat marah, lalu salah satu diantara mereka menarik kerah bajuku sambil mengepalkan tangan seolah ingin memulai perkelahian.
"Kau membuang-buang waktu kami, sekarang berikan semua uangmu, cepat!"
"Atau kau ingin kami hajar?"
"Hah. Menghajarku? Jangan bercanda! APA KALIAN INGIN MATI!!!"
Tanpa sadar aku mengeluarkan dagger, kemudian balik mengancam mereka dengan seluruh manaku terpusat di senjataku.
"Huh!?"
Dia melepas kerah bajuku lalu mundur dengan gemetar.
"Apa-apaan orang ini? Aura membunuhnya sangat kuat."
"Benar. Aura apa itu? Sesaat tadi aku merasa tercekik, dadaku juga sesak."
"Ayo cepat pergi! Dia serius ingin membunuh.
Sebaiknya kita cari orang lain."
"Baik."
Mereka mulai menjauh dan pergi dengan sedikit berlari.
"Haah. Itu tadi apa ya? Apakah sebuah skill atau semacamnya?"
"Hmm... "
Aku berbaring di kasur menatap langit-langit yang terbuat dari kayu sambil memikirkan kejadian barusan. Tentu saja aku sudah mandi dan membersihkan diri.
"Itu namanya Aura Intimidasi. Tidak semua petualang memilikinya, hanya beberapa saja."
"Kau salah satu yang beruntung, Aura Intimidasi milikmu sangat kuat walaupun kau masih level rendah."
__ADS_1
"Aku yakin, seiring bertambahnya level, Aura Intimidasimu juga akan semakin kuat. Bahkan mampu membuat orang biasa pingsan hanya dengan berdekatan atau bertatap mata denganmu."
"Oh, begitu ya. Hebat juga!"
"...!?"
"Tunggu sebentar. Itu tadi siapa yang berbicara?"
Aku yang sedang berbaring seketika bangun dan mengecek kamar kecil ini. Mulai dari kolong tempat tidur, jendela, sampai pintu masuk aku periksa semua tapi tak ada siapapun.
"Huh! Kok aku jadi merinding ya?"
"... Jangan-jangan, tempat ini ada hantunya!"
Karena panik dan sedikit takut aku langsung melompat ke tempat tidur.
Aku memang petualang tapi aku juga tetap manusia biasa, masih bisa takut pada hal-hal seperti itu.
"BRUUUKK!!!"
Lalu menutupi seluruh tubuh dengan selimut dari ujung kaki sampai ujung rambut.
"Woi! Jangan berisik, ini sudah malam!" teriak tamu di kamar sebelah.
"Ah iya, maafkan aku."
"Lebih baik aku langsung tidur aja deh."
Tidak sampai satu menit menutup mata, suara itu muncul lagi di kepalaku.
Dan dia membisikkan sesuatu...
"Hei. Aku bukan hantu... Bodoh!"
Kali ini dia berbicara dengan agak kasar. Rasanya seperti menggunakan headset.
Menurutku suara ini cukup lucu, suara gadis kecil yang terdengar mirip karakter animasi jepang. Yah, itu suara loli.
Eh? Dia bisa mengumpat, mana ada hantu seperti itu. Aku memberanikan diri berbicara padanya.
"Jadi kau ini siapa dan bagaimana bisa bicara dalam kepalaku?"
"Sebelumnya maafkan aku karena tidak sopan. Aku hanya kaget saja."
"Heeh. Untuk seorang petualang yang pengecut kau cukup sopan. Oh iya, cara komunikasi kita ini disebut telepati."
"Jadi tidak usah teriak-teriak kayak orang bodoh."
Sialan, kenapa malah kau yang kurang ajar. "Sabar Kai, sabar." bicara dalam hati.
Aku harus bicara baik-baik padanya, sepertinya dia makhluk yang cukup istimewa. Akan ku coba bertanya sesuatu tentang dirinya dan dunia ini.
"Pertama-tama, bisa kau kenalkan dirimu terlebih dahulu?"
"Aku Dewi Langit. Namaku Lala."
Hmm... Seorang Dewi ya. Aku tidak bisa membantahnya, saat kami mulai bicara aku merasakan suatu energi besar di sekelilingku.
"Lalu apa tujuanmu?"
"Aku ingin membantu dunia ini yang sedang dalam bahaya karena perang."
Syukurlah, dia berada disisi kami.
Tunggu sebentar...
"Bukannya kau seorang Dewi, kenapa tidak langsung saja menyerang musuh."
__ADS_1
"Tidak semudah itu, kami para Dewa dan Dewi memiliki batasan untuk membantu manusia."
"Ada semacam dinding tebal yang membuat kami terisolasi di tempat masing-masing. Sebagai contoh aku yang ada di langit."
"Tapi sebulan yang lalu doaku terkabul, akhirnya aku bisa ke dunia manusia."
"Benarkah. Bagaimana caranya?"
Aku punya firasat hal yang dia bicarakan itu berhubungan dengan diriku.
"Aku yang sedang berada di langit tiba-tiba melihat sebuah gerbang sihir antar dimensi terbuka."
"Gerbang antar dimensi itu merobek dinding tebal yang mengisolasiku dari dunia manusia. Tanpa pikir panjang aku langsung memasukinya."
"Ternyata benar, aku bisa ke dunia manusia. Tapi tidak sesuai harapanku, aku tidak bisa bebas berkeliaran sesukaku. Mungkin ini semacam takdir."
"Sesaat setelah memasuki dunia manusia aku langsung tersedot dan tersegel di sebuah benda."
Hmm...
Aku datang ke dunia ini sebulan yang lalu.
Aku punya benda dengan sihir kuat berwujud buku.
Perbincangan ini mulai mengerucut.
"Biar aku tebak. Benda itu Buku Sihir yang ada di dalam diriku kan?"
"Yaa, kau benar. Dengan buku itu sebagai perantara, aku bisa memberimu kekuatan untuk membuatmu lebih kuat."
Sepertinya semacam berkah Tuhan atau kekuatan instan.
"Dasar payah, kenapa baru sekarang kau muncul!"
"Apa kau tidak ingat, aku hampir mati karena goblin. Lalu dihina habis-habisan oleh para bangsawan. Bukankah jika kau muncul saat itu hidupku tidak akan sesulit sekarang!"
Tanpa sadar aku mencurahkan kekesalanku pada Dewi bersuara loli itu.
"IHHH! KENAPA KAU MARAH PADAKU!"
"Saat melawan goblin dan kau hampir mati itu salahmu sendiri. Kau terlalu tergesa-gesa melawannya, disana kan banyak batu dan kayu. *Kau kan bisa gunakan itu sebagai SENJATA***!"
"Oh iya ya... "
Aku mengingat-ngingat kejadian waktu itu, dan baru sadar betapa bodohnya diriku.
"Lalu saat di kerajaan. Aku sudah menampakkan wujudku sebagai Buku Sihir Legendaris. Tapi kau malah diam saja, setidaknya buka kek, coba komunikasi kek, atau apapun itulah."
"Jadi waktu itu kau memang sengaja keluar? Bukan karena ritual para pendeta?"
"Cuih! Kau pikir Dewi sehebat aku bisa dipaksa keluar oleh para pendeta rendahan dengan ritual murahan seperti itu, hah!"
Gawat aku malah membuat dia menjadi musuh. "Aduh duh, kok aku jadi tambah bodoh gini!" keringat mulai bercucuran, aku luar biasa panik.
"Dewi Lala. Maafkan aku."
"Mmm... Kau membuatku sangat kesal."
"Dasar bodoh, payah, pengecut, hampir mati sama goblin, cengeng pula!"
Auwhh.... Serangan telak.
"Aku mau istirahat, jangan ganggu aku!"
"Tunggu sebentar... !"
"Dewi... ?"
__ADS_1
"Dewi Lala... ?"
Yah, dia marah.