
"Tolong... Tolong!"
Terdengar suara perempuan berteriak, aku yang sedang tertidur di pinggir sungai sontak terbangun. Kenapa aku bisa bangun dengan mudah? Entahlah, sepertinya indera pendengaranku lebih sensitif dari pada yang lain.
Lalu aku duduk, mengumpulkan kesadaran yang belum pulih sepenuhnya dan memastikan suara itu sekali lagi. Sepertinya berasal dari arah hilir sungai.
Itu sudah jelas suara manusia, apa aku harus menolongnya? Bagaimana dengan keselamatanku? Aku tidak pernah berkelahi, bahkan dengan adikku, mengalah adalah jurus andalanku.
Tapi rasa penasaranku lebih besar dari pada rasa takutku. Aku berdiri, lalu berlari kecil menuju sumber suara.
"Sreegg... Sreegg."
Setelah melewati rumput dan semak belukar, aku sampai ke sumber suara.
Dari jauh terlihat dua orang perempuan sedang berlari, satu dewasa satu anak kecil, sepertinya ibu dan anak. Tapi apa yang mengejar mereka? b4bi hutan, macan, tak terlihat begitu jelas.
Setelah keluar dari padang rumput yang tumbuh agak tinggi, baru terlihat jelas sosok makhluk hijau bertubuh kecil yang biasa ada di game RPG.
( Note : Role playing game ( RPG ) )
"... Goblin?" terguncang dengan apa yang kulihat.
Monster itu berlari kencang, semakin cepat mendekati mereka.
"Aaaaah... Terobos ajalah anjing!" teriakku sangat keras, coba mengumpulkan keberanian.
Tak tahu apa yang merasuki tubuhku, aku langsung berlari menuju mereka, jantungku berdetak sangat cepat mungkin ini yang namanya adrenalin meningkat.
Melewati tengah-tengah mereka, aku langsung berhadapan satu lawan satu dengan goblin itu. Tanpa peringatan goblin itu melompat menarget kepalaku, dengan sigap dan sekuat tenaga kupukul goblin itu tepat di mulutnya hingga terpental beberapa meter ke belakang, tanganku berdarah tergores gigi tajam goblin itu.
"Hah... Hhh... Terima kasih tuan!"
Dengan wajah letih dan napas terengah-engah mereka berhenti dan berterima kasih. Kelihatannya sudah berlari cukup lama.
"Berterima kasihnya nanti saja! Cepat lari dan cari bantuan, goblin biasanya berkelompok!" ucapku sedikit membentak yang sebenarnya juga sedang ketakutan.
Mereka langsung berlari mencari bantuan, meninggalkanku yang coba melawan monster ini sendirian.
"Aaarrggh!"
Bergerak dengan cepat lalu menyabetkan cakarnya yang tajam ke perutku.
__ADS_1
"Huh... Hampir saja mengenaiku." refleks bergerak ke belakang.
Tanah yang kupijak tidak begitu rata, akupun kehilangan keseimbangan dan terjatuh dengan posisi terlentang, kaki menganga, dan kedua lengan kugunakan sebagai tumpuan.
Goblin melanjutkan serangan dengan brutal, membuka mulutnya dengan lebar ingin menggigit sesuatu. Dengan cepat menyerang bagian bawah tubuhku, belum sempat menggigit, kugunakan lutut untuk menghantam kepalanya.
"Huh!... Hampir saja dia mengigit masa depanku ( pasti udah taulah itu apa )."
Kepalanya oleng dan jatuh tepat di paha kiriku, dengan gigi setajam pisau pahaku digigit. Rasa sakit, nyeri, perih menjadi satu, disusul dengan keluarnya cairan berwarna merah terang sangat banyak.
"Huaaaa...!!! Sakit sekali, dasar monster kurang ajar."
Mataku mulai berkaca-kaca, dengan tangan kiri kutahan kepalanya agar tak menggigit terlalu dalam, sementara tangan kananku terus memukul wajah monster itu, tidak terlalu kuat karena sudah terluka parah diserangan pertama tadi.
Bukannya dilepas malah gigitannya tambah kuat dan semakin dalam, tak bisa dicabut dengan paksa, dagingku mungkin bisa ikut terkoyak.
"Harus menggunakan cara lain." ucapku sambil menahan rasa sakit.
Mungkin mencekik bisa membuatnya sedikit membuka mulut, dengan tangan penuh luka kucoba meraih lehernya, kecil sekali, tapi terasa sangat kuat.
Ada sesuatu yang menggantung di lehernya. Sebuah kalung dengan tulang sebagai hiasannya, tidak terlalu panjang mungkin sekitar sepuluh sentimeter. Terasa kuat dan cukup tajam bisa digunakan untuk senjata.
"Croot!" tepat mengenai matanya.
"Aaargg...!" goblin itu kesakitan dengan mata tertusuk dan darah yang mengalir deras.
Akhirnya dia melepaskan gigitannya, sambil berjalan mundur, goblin itu memegang matanya.
"Ini kesempatan untuk menyerang."
Dengan sisa tenaga yang ada aku menghajar monster itu. Karena tidak tahu cara bertarung yang benar aku memukul, menendang, dan menginjaknya dengan brutal. Mungkin sudah tiga puluh lebih serangan kulancarkan.
Goblin kecil itu ambruk dan jatuh ke tanah dengan luka lebam di sekujur tubuhnya. Sepertinya sudah mati.
"Hahaha... Aku menang."
"Bruuk!?"
Duduk di dekat mayat goblin sambil beristirahat.
"Sreekk!?"
__ADS_1
Merobek kaos, lalu mengikat kaki kiriku untuk menghentikan pendarahan.
Sekarang aku terlihat seperti korban perang, wajahku kotor, tubuh penuh luka dan berlumuran darah serta pakaian yang sudah compang-camping.
"Mereka sudah aman atau belum ya?"
"Semoga mereka tidak lupa kalo aku masih disini menunggu bantuan."
"Tak kusangka, ternyata aku hebat juga ya... haha, bisa mengalahkan goblin bodoh itu."
Sambil menyombongkan diri aku menutup mata, masih berbicara sendiri.
"Dasar bodoh."
"Dasar goblin bodoh."
"Eh...? Goblin?" teringat akan sesuatu.
Membuka mata dan sekarang sudah posisi duduk. Memangku kepalanya dengan tangan, dia mencoba mengingat sesuatu. "Ehm?"
"Hoh iya, aku harus segera pergi dari sini!"
Goblin adalah makhluk yang suka berkelompok, biasanya lebih dari sepuluh anggota dengan satu pemimpin.
"Yang kuhabisi itu sepertinya goblin pemburu, cepat atau lambat goblin lain pasti akan datang."
Aku berdiri dan mencoba berjalan dengan kaki pincang, tanpa alat bantu seperti tongkat aku tidak bisa bergerak dengan cepat, lukaku bisa terbuka lagi.
Baru berjalan beberapa meter terdengar suara yang sudah tidak asing lagi.
"Arrggh... Arrggh...!"
"Grr...!"
"Haah... Sial aku terlambat." ucapku terdengar putus asa.
Dibelakangku terlihat sekelompok goblin keluar dari semak-semak, jumlahnya lebih dari lima, ukuran mereka bervariasi ada yang besar dan yang kecil. Mereka terlihat sangat marah, mereka berlari langsung ke arahku.
Karena panik aku terjatuh, sulit sekali untukku bangun dengan kondisi seperti ini.
Yang bisa kulakukan hanya berdoa sambil menunggu keajaiban datang...
__ADS_1