
"Baiklah, kerja yang bagus. Ini upahmu untuk hari ini."
"Ya, terima kasih banyak... Besok aku akan mendaftar jadi petualang."
"Oh... Kalau butuh sesuatu kemarilah jangan sungkan."
"Oke."
Sudah tiga hari semenjak aku dibuang dari istana. Sekarang aku bekerja di sebuah toko obat di dekat gerbang barat kerajaan ini.
Toko ini milik lelaki paruh baya yang baik, dia suami sekaligus ayah dari dua wanita yang dikejar goblin beberapa hari yang lalu. Aku bertemu anak dari lelaki ini di kota dan dia mengenalkanku padanya, hingga akhirnya aku bekerja paruh waktu di tokonya.
Aku sudah sampai di penginapan, setelah mandi dan makan aku langsung berbaring di tempat tidur.
Oh iya, berbicara soal penginapan, tempat ini tidak terlalu buruk. Hanya dengan 30 bronze aku bisa dapat kamar yang cukup nyaman dan untuk makan 5 bronze sudah termasuk minum, sangat murah. Untuk keperluan penginapan aku hanya memakai uang hasil kerjaku saja, uangku dari Putri masih utuh haha.
Aku merasa bersalah pada Putri Raja itu. Aku sempat berpikir dia orang yang pelit karena hanya memberiku uang receh, tapi sebenarnya itu uang yang sangat banyak.
Sebagai perbandingan :
1 koin emas \= 100 koin perak
1 koin perak \= 100 koin bronze
Waktu itu aku sedang marah besar, aku bahkan sampai lupa bertanya siapa namanya. "Ahh! Bodoh sekali aku."
"Flip... Flip!" (sfx : membalik halaman)
"Cih! Buku apa sih ini?"
Setiap malam selama tiga hari aku sudah membuka Buku Sihir ini. Tapi tak ada apapun di dalamnya, entah itu tulisan/gambar. Aku membolak-balik per halaman, yang ada hanya energi sihir yang bisa kurasakan, terasa sangat kuat tanpa tahu harus aku apakan kekuatan ini.
"Sliing!"
Buku itu menghilang masuk ke dalam tubuhku entah berada dimana. Yang bisa kulakukan hanya seperti ini saja, mengeluarkan dan menghilangkan Buku Sihir.
"Besok aku akan mendaftar apapun yang terjadi."
Aku harus mencari informasi lagi, pasti ada seseorang di luar sana yang mengetahui tentang Buku Sihir ini.
Akhirnya, matahari terbit.
Setelah sarapan dan membayar sewa penginapan untuk hari ini, aku bergegas pergi menuju Guild Petualang. Tempat itu berada di selatan kerajaan tak terlalu jauh dari penginapan.
__ADS_1
Berjalan beberapa menit akhirnya aku sampai di Guild Petualang. Aku sengaja pergi pagi-pagi agar tidak ramai, tapi yang terjadi malah sebaliknya, tempat itu sudah dipenuhi para petualang yang ingin mengambil misi/quest.
Beberapa petualang melihatku dengan tatapan tajam, mungkin karena aku orang asing yang jarang terlihat di sekitar sini. Tapi aku pura-pura tidak tahu dan langsung menuju loket pendaftaran.
Tempat ini kosong tidak ada antrian pendaftaran. Sepertinya ini hari keberuntunganku.
"Selamat pagi, ada yang bisa aku bantu?"
Dia sangat cantik. Dengan tubuh ramping dan rambut yang lurus panjang dia terlihat sempurna.
"Aku ingin menjadi petualang."
"Hmm, apakah kau dari luar kota? Aku tak pernah melihatmu sebelumnya."
"Ah, iya, aku dari selatan dan baru sah jadi warga kerajaan ini seminggu yang lalu..."
Penjaga loket itu sangat teliti. Aku tak mungkin bilang dari dunia lain, pasti akan terjadi keributan.
"Baiklah, untuk biaya pendaftaran sebesar 50 koin perak."
Apa? mahal sekali. Untungnya aku tidak terlalu boros akhir-akhir ini.
Setelah aku memberikan uang, wanita penjaga loket itu langsung mengeluarkan sebuah kertas gulungan. Kertas itu dibuka hanya sebesar buku tulis, masih bersih belum ada tulisan apapun.
Aku menyodorkan tanganku dan dia mengarahkannya tepat diatas kertas tersebut. Tanpa aba-aba dia menyayat telapak tanganku, "Awww!" darah keluar cukup banyak membasahi kertas itu, woi tadi kau bilang cuma sedikit. Lalu...
Sinkkk...
Kertas itu menyala mirip lampu, darahku mulai menyebar dan membentuk sebuah tulisan. Ada namaku disitu, aku mulai membaca...
Nama : Kaysa Soesanto
Kelas : Petualang Level 1
Job : -
Equipment :
- Buku Sihir Legendaris (tipe : tidak diketahui)
-
-
__ADS_1
Mana : 5
"Woaahh, jadi ini statusku, mirip sebuah game!"
Yang tertulis hanya sedikit, yah aku bisa menduganya, karena aku seorang pemula.
"Eh, buku itu muncul di statusku, legendaris? wah, pasti terjadi keributan."
"Ehmm...?"
Wanita itu melihat gulungan statusku dengan seksama. Aku tak bisa menebak apa yang dia pikirkan.
"Apakah kau yakin ingin menjadi petualang dengan status seperti ini?"
"Eh!?"
Dia tidak bertanya tentang Buku Sihir. Apa hanya aku saja yang bisa melihatnya? Kalau itu benar berarti buku ini memang spesial.
"Ah, iya, apa ada masalah?"
"Tentu saja, dengan mana dibawah rata-rata kau pasti kesulitan bertarung melawan monster, dan keselamatanmu juga semakin terancam. Apakah kau yakin?"
Wanita itu berbicara dengan sedikit marah, tapi aku malah merasa senang. Dia sepertinya khawatir denganku hehe.
"Aku sangat yakin, aku ingin mengakhiri perang di dunia ini!"
Jujur saja itu cuma bercanda, aku hanya ingin terlihat keren.
"Heeh, baiklah kalau itu maumu. Tapi sebelum itu lengkapilah dirimu dengan perlengkapan yang layak, oke!"
Nada bicaranya mulai santai, sepertinya dia mulai mendukungku.
"Baik, aku tak akan membuatmu kecewa." anjay.
Dia membalas jawabanku dengan senyuman yang manis.
"Ini, ada beberapa toko senjata rekomendasi dariku. Perlengkapan disana murah dan berkualitas."
"Hari ini, kau lanjutkan saja membeli perlengkapan dan senjata. Besok datanglah lagi kemari, aku akan mencarikan quest yang cocok untukmu."
Aku tak tahu ini tuntutan pekerjaan atau sikapnya yang asli. Tapi, entah kenapa aku merasa sangat diperhatikan dan senyumnya itu lho manis banget, ditambah wajahnya yang cantik natural dia luar biasa.
"Hehe... Terima kasih banyak, kau benar-benar wanita yang cantik, ehh maksudku baik..."
__ADS_1
"...^_^..."