
Hari berikutnya...
Seperti biasa, aku bertemu dengan Asia di taman dekat pusat perbelanjaan Scocery Kingdom.
Tidak seperti hari-hari sebelumnya, pagi ini aku menjalani rutinitas dengan sedikit berbeda. Aku melakukan latihan fisik ringan sebagai bentuk keseriusanku menjadi petualang.
Setelah bertemu Asia dan sedikit berbasa-basi, kami langsung pergi menuju Guild Petualang. Kali ini kami tidak akan leveling di hutan. Dengan level yang sekarang, Aku dan Asia berencana untuk mengambil quest dengan kesulitan yang agak tinggi.
--- Status Scrolls ---
Nama : Kai
Kelas : Petualang Level 8
Job : -
Equipment :
- Normal Dagger : Rarity D attack +5
- Normal Armor : Rarity D defense +5
- Legendary Magic Book : Rarity?
- Potion Merah : 10 buah Heal 5%
Mana : 40
***
Nama : Asia
Kelas : Petualang Level 9
Job : -
Equipment :
- Normal Rapier : Rarity C attack +10
-Normal Armor : Rarity D defense +5
Mana : 650
Perjalanan dari taman kota ke guild petualang cukup jauh, lebih dari cukup untuk kami berbincang banyak hal.
"As... "
"Maaf, sudah membuatmu sedih kemarin"
"... Ugh!"
Asia menyikutku tepat mengenai ulu hati.
Gila, padahal sudah pakai baju petualang def +5 tapi masih terasa ampek/sesak. Mungkin naik beberapa level lagi tulang rusukku bisa patah hanya dengan sikutan Asia.
"Tak perlu mengasihaniku. Yang lalu biarlah berlalu."
"Aku malah lebih khawatir padamu. Yang mengalami tragedi aku, tapi malah kau yang lebih lama menangis... Cengeng!"
"Oii... Aku hanya berempati padamu, harusnya kau senang ada orang lain yang memahami dirimu."
"Ahh, bodo amat... "
Sebagai laki-laki, punya perasaan yang sensitif sangat menyebalkan. Banyak orang yang salah paham padaku dan air mata suciku ini, anjay. Sebagai contoh yang diatas.
Sesampainya di guild petualang kami segera ke papan pengumuman. Baru membaca beberapa quest yang dipasang, Lucy memanggil kami dari kejauhan.
"Kai. Asia. Kemarilah, aku punya pekerjaan untuk kalian."
"Sekarang level kami sudah meningkat, jangan beri kami quest tingkat rendah lagi."
__ADS_1
Asia dengan cepat menjelaskan peningkatan level kami pada wanita penjaga loket itu.
Lucy yang mendengar penjelasan Asia hanya tertawa kecil.
"Tenang saja, quest kali ini tingkat B."
"Woaah! Baiklah, kami ambil quest itu."
"Tunggu dulu, As. Bukankah itu terlalu tinggi, sebaiknya kita coba quest tingkat C dulu."
Nekat dan pemberani itu beda tipis, mungkin itu gambaran kasar sifat Asia. Di balik wajah cantik nan imutnya itu, sebenarnya tersimpan jiwa barbar yang mengerikan.
"Uahahaha. Tenang saja bocah, quest ini tidak sesulit tingkat yang tercantum."
"Iya. Jika kalian bisa bekerja sama dengan baik."
Dua orang lelaki tiba-tiba ikut dalam obrolan kami.
Yang pertama, pria berkepala botak dengan tubuh tinggi kekar, dan dia membawa perisai besar yang digendong di punggungnya.
Lalu disampingnya, berdiri pria muda tanpa ekspresi dengan rambut agak berantakan dan wajah lumayan tampan. Kalau di komik dia pasti jadi pemeran utamanya.
"Akhirnya kalian datang. Kenalkan, mereka petualang pemula yang aku ceritakan."
Lucy menyambut mereka sambil mengarahkan pandangannya pada kami.
"Oh. Jadi kalian ya, pemula yang menghabisi semua monster di hutan barat?"
"Iya. Aku Kai, dan dia Asia, anggota partyku. Salam kenal."
"Aku Wall. Tanker sekaligus pemimpin di misi kali ini. Lalu dia Recca, wakilku. Salam kenal."
Berita tentang pembasmian monster di hutan barat pasti menyebar dengan cepat. Buktinya, para petualang kuat ini ingin bekerja sama denganku dan Asia.
Dilihat dari manapun mereka pasti petualang level tinggi. Bahkan ada pemimpin dan wakil, sepertinya quest kali ini melibatkan banyak orang.
"Jadi Lucy, quest seperti apa kali ini."
"Tugasku disini sudah selesai, untuk selanjutnya biar Wall yang menjelaskan pada kalian."
"Uahahaha. Benar sekali!"
Lucy meninggalkan kami dan pergi menuju meja tempat dia bekerja.
"... Eh?"
Pria botak itu menyelesaikan quest ini lebih dari satu kali, apa maksudnya?
"Jadi, Tuan Wall. Bisa anda jelaskan tentang quest ini?"
"Tentu. Tapi, sebaiknya kita bicara di luar. Bisa mengganggu petualang yang lain jika di sini."
"Baik."
Setelah keluar dari gedung guild, kami berempat akhirnya pergi ke salah satu bar di dekat situ dan mulai berdiskusi.
Tentu saja sambil makan dan minum. Lalu siapa yang membayar, kalian sudah taulah orangnya.
"Baiklah. Tuan Wall, kita mulai diskusi ini dengan informasi tentang quest ini."
"Oke."
Aku memulai percakapan dengan mereka. Sementara itu, Asia disebelahku hanya mendengarkan sambil makan kodok goreng. Ya, dia makan dengan lahap "Yum... Yum... "
"Ini adalah quest perlindungan tingkat B."
"Perlindungan?"
"Benar."
Melindungi sesuatu mungkin terasa lebih sulit jika dibandingkan dengan menyerang sesuatu. Tapi, sisi baiknya resiko kita terluka atau terbunuh akan lebih kecil.
__ADS_1
"Lalu, apa yang harus kita lindungi sampai butuh banyak petualang?"
"Sebuah desa kecil di Lembah Besi. Tempat itu berada di selatan, diantara Kerajaan ini dan Kerajaan Blacksteel."
"Bukankah itu Desa Mine! Desa yang setiap awal musim hujan selalu diserang monster."
"... ?"
Celetuk Asia dari sebelahku dengan kedua tangan masih memegang daging kodok goreng.
"Benar sekali, Nona Cantik." jawab Rec dengan cepat.
"Wah, nih cowok ngajak berantem kayaknya!" hanya bicara dalam hati.
Sekarang ganti Recca yang mulai menjelaskan keadaan di desa itu. Hhh, nih cowok pasti ingin cari perhatian.
"Seperti yang dikatakan Tuan Wall tadi, ini adalah quest tingkat B dan ini adalah Quest Tahunan."
"Tiap tahun saat awal musim hujan tiba atau beberapa hari dari sekarang. Telur-telur monster yang ada di sekitar lembah atau pegunungan akan menetas."
"Sebenarnya induk mereka sudah menyiapkan makanan saat bayi-bayi itu menetas. Tapi karena perkembangan desa yang pesat dan hilangnya hewan sumber makanan, membuat banyak dari mereka tidak kebagian."
"Sebagai ganti, bayi-bayi itu keluar dari sarang dan berburu secara berkelompok. Sebagian besar monster itu menuju ke Desa Mine. Mereka memakan apapun yang dilihatnya, entah ternak atau bahkan manusia, mereka memakan segalanya."
Sama seperti di bumi, kejadian hewan liar menyerang penduduk juga ada disini. Sepertinya setiap ada manusia, disitu pasti terjadi masalah. Manusia memang perusak alam.
"Ya. Aku paham, pasti tugas kita berjaga di luar desa dan menghalau monster-monster itu agar tidak masuk ke pemukiman."
"Benar sekali. Kau ternyata cukup pintar." ucap Rec di depanku.
Ya iyalah. Aku aja dapat beasiswa penuh waktu SMA. Oke kita lanjutkan...
Informasi sudah cukup, sekarang tinggal negosiasi untuk pembagian upah dari quest ini.
"Informasi tentang quest ini sepertinya sudah cukup. Bagaimana kalau kita lanjut bicarakan soal bayarannya?"
"Hmm, soal itu lebih baik kita bicarakan saat quest ini sudah selesai. Karena monster yang dilawan banyak, itu berarti banyak pula jarahan yang bisa kita jual. Setelah semua uang didapat baru kita mulai pembagian upah, bagamana menurutmu?"
"Mmm... Baiklah, aku percaya padamu. Lagi pula Aku dan Asia mungkin tak akan banyak membantu, mengingat ini quest tingkat B pertama bagi kami."
Kami menyelesaikan diskusi ini lebih cepat dari dugaanku.
"Baiklah. Kita akan berkumpul di gerbang selatan dan berangkat sore ini, kalian bisa bersiap-siap dahulu."
"Baik."
"Oh iya, terima kasih untuk minumannya!"
"Okeee!"
"Nona Cantik. Aku pergi dulu, dah!"
"Yum... Yum... !"
Kasihan nggak ditanggepin. Hahaha...
Mereka keluar, pergi meninggalkan bar. Untuk orang asing yang baru kami kenal mereka cukup pengertian, buktinya mereka hanya pesan bir yang harganya murah. Selamet... Selamet...
Aku memanggil pelayan untuk membayar.
"Tuan, ini tagihan anda."
"HAAAAH!!! Satu koin perak, mahal sekali!"
"Ehmm... Sepertinya teman wanita anda sangat menyukai masakan kami."
Aku seketika melihat Asia, di sampingnya terlihat setumpuk piring berjumlah lima tersusun dengan rapi.
"Oii, apa-apaan nafsu makanmu itu. Kau seperti monster di cerita tadi."
"Karena tidak diajak bicara aku pilih makan aja, tak terasa udah habis lima piring. Puehehe... maaf!"
__ADS_1
"Hhhh... "
Sekarang aku tau kenapa Tuan Wall dan Rec tidak pesan makanan. Sepertinya mereka udah kenyang melihat nafsu makan Asia yang barbar.