
...Happy Reading ...
Sherlyn tidur menghadap langit-langit dan memejamkan matanya, sama sekali tidak berniat untuk mengganti pakaiannya atau sekedar membersihkan tubuhnya. Karena ia berniat tidak mandi untuk malam ini. Walaupun itu sedikit menjijikan, tapi merupakan salah satu kebiasaannya. Kebiasaan buruknya.
Sherlyn kini kembali membuka matanya, terlepas dari bagaimana kedua sahabatnya yang selalu ada untuknya, ia sebenarnya begitu kesepian. Ia bohong jika keadaannya selalu baik-baik saja. Melihat kedua sahabatnya yang bahkan masih memiliki keluarga lengkap, ia begitu iri. Ia sangat iri dengan itu semua.
Sherlyn kini merasakan matanya mulai berkaca-kaca, rasa kesepian itu terus menyerangnya. Dan kesendirian ini selalu menemaninya. Itukah yang menciptakan delusi mengenai seorang pria bernama Chris? Tapi apa benar Chris hanya sebuah khayalannya? Bahkan ia nyaris tidak bisa membedakan yang nyata dengan tidak.
Deringan ponsel miliknya dengan cepat membuat Sherlyn tersadar dan meraih ponselnya yang tidak jauh dari posisinya. Ia sangat berharap jika Angle maupun Kate yang menghubunginya sekarang. Sherlyn tahu, mereka baru beberapa jam tidak bertemu, tapi entah mengapa untuk kali ini ia sangat rindu dengan kedua sahabatnya itu. Sherlyn menghembuskan napas berat kala melihat siapa yang menghubunginya. Dilayarnya tertera nama ’Orang Gila’ dan itu berarti Tyron yang menghubunginya. Dengan berat hati, Sherlyn mengangkatnya.
“Ada ap-"
“Kau dimana sekarang? Cepat katakan! Jangan coba-coba berbohong padaku Sherlyn!”
Sherlyn mengkerutkan keningnya saat mendengar nada tajam dari Tyron dan napas yang menggebu-gebu. Sebenarnya ada apa dengan pria ini? Ia seorang pria dan menghubungi seorang wanita saat malam seperti ini dengan marah-marah. Sherlyn tidak meragukannya lagi kali ini, Tyron sudah gila.
“Aku dirumah, ada ap-”
“Jangan berbohong padaku!”
__ADS_1
Sherlyn tersentak saat mendengar teriakan dari Tyron diseberang. Namun beberapa detik kemudian, tangan Sherlyn mengepal. Ia memang cukup takut jika Tyron sedang marah, namun ia akan jauh lebih marah jika ada seseorang yang memarahinya tanpa alasan seperti ini.
“Apa untungnya untukku berbohong padamu?!”
Sherlyn membalasnya dengan teriakan yang lebih kencang. Tyron merasakan jika telinganya berdengung dan napas Sherlyn yang menggebu-gebu karena amarah. Dan satu lagi, tidak ada suara apapun dibalik suara Sherlyn, yang ada hanya keheningan malam dalam sebuah kamar yang sunyi.
“Aku melihat Angle dan Kate bersama seorang pria, dan kukira kau juga bersama mereka.”
Sherlyn menggerutkan keningnya. Ada suara lega yang sangat, dalam suara Tyron, namun bukan itu yang menjadi perhatiannya kali ini. Sherlyn terdiam beberapa saat. Apakah Angle dan Kate membohonginya setelah ia sangat percaya kepada keduanya. Sherlyn tersenyum tipis, senyuman yang menggabarkan rasa kekecewaannya.
......................
“Bagaimana jika kita Triple Date?”
“Restoran La Vautte? Jam delapan malam?” Tanya Angle dengan semangat membara.
“Baiklah, kita bertemu dirumah Sherlyn jam tujuh malam.” Jawab Kate dengan senyuman lembutnya.
Sherlyn hanya dapat melongo melihat kedua sahabatnya itu. Bagaimana mereka telah menentukan waktu dan juga tempat disaat dia masih bingung dengan siapa ia akan pergi. Sebenarnya Sherlyn merencanakan Triple Date karena ia hanya ingin tahu bagaimana penampilan para kekasih sahabatnya itu, karena Sherlyn akan menolak keras jika itu tidak sesuai dengan dugaannya.
__ADS_1
“Kau pikir aku pergi dengan siapa, ha? Mr Philip? Aku tidak mempunyai teman kencan.”
Sherlyn dapat melihat Angle dan Kate menahan tawa, dan beberapa menit kemudian Angle meraih ponselnya, mengetik sesuatu dan menelpon seseorang. Sherlyn memicing menatap Angle yang sedang berbicara dengan seseorang diseberang. Entah mengapa, Sherlyn memiliki firasat tidak enak kali ini.
“Kau sudah membaca pesanku?”
“.....”
“Aku serius, jika kau tidak mau. Ia bisa-”
“.....”
“Restoran La Vautte, jam delapan malam. Jangan telat!”
Angle meletakkan ponsel miliknya diatas meja kantin, dan ia menampilkan senyuman manis yang tidak henti-hentinya luntur dari bibir tipisnya. Sherlyn menelan salivanya dan pandangannya beralih kepada Kate dan gadis itu juga menampilkan senyuman manisnya.
“Tyron sangat bisa menjadi partner kencanmu, Sherlyn.”
Sherlyn membulatkan matanya dan menatap horror kearah Angle. Padahal ia tadi memikirkan Andrew untuk menjadi partner kencannya atau mungkin Chris. Walaupun Chris bertingkah seperti itu, Sherlyn sangat yakin jika didepan orang banyak, Chris dapat menjaga sikap. Bagaimana jika Tyron memanggilnya Princess saat didepan kekasih para sahabatnya itu? Mau diletakkan dimana wajahnya ini? Ia butuh wajah tebal.
__ADS_1
“Aku tidak punya pilihan.” Sherlyn menghela napas berat.
To be continue...