
...Happy Reading...
"Angle, Angle didepan. Kau harus, kau harus..”
Sherlyn kini tampak panik dan menggigiti kuku jarinya. Bagaimana jika Angle melihat Chris berada di rumahnya? Tidak, tidak, ia tidak boleh mengecewakan sahabatnya lagi kali ini.
“Sshh tenang Lady. Sekarang kau bukakan pintu untuk mereka, kau tahu kan aku bukan manusia biasa.”
Chris melepaskan tangannya lembut, ia mengedipkan sebelah matanya pada Sherlyn. Sherlyn menatap Chris khawatir, seharusnya Chris benar, dan ia mempercayai perkataan pria itu.
Sebelum membukakan pintu Sherlyn menatap dirinya di cermin ruang tamu, wajahnya terlihat begitu menyedihkan sekarang. Pipi kanannya membengkak, sudut bibirnya terlihat robek dan wajahnya nampak begitu pucat. Sherlyn menghela napas, apa yang akan dijawabnya jika ia ditanya oleh kedua sahabatnya itu? Sherlyn menarik napas dalam sebelum tangannya kini mengenggam knop pintu.
“Astaga ada apa dengan wajahmu Sherlyn?!”
Sherlyn memekakan telinganya mendengar teriakan Angle, sedangkan Kate hanya memandang dirinya tidak percaya, seolah ia baru saja melihatnya membunuh seseorang. Sherlyn menghela napas setelah Angle menarik masuk kedalam rumahnya. Sherlyn menjadi gugup ketika Angle kini menariknya menuju kamarnya. Memang, jika mereka disini, kamarnya adalah tempat ternyaman untuk mereka bertiga. Tapi sekarang, Chris, Chris...
“Tu.. Tu.. Tunggu, kamarku sangat berantakan. Sebaiknya kita diruang tamu saja okay? Ah, ya. Balkon, aku sudah membersihkan balkon.”
Mereka berhenti, kini Angle dan Kate malah memandangnya dengan pandangan curiga. Terakhir kali Sherlyn merasa gugup ketika dikantin sekolah sebelum mereka pergi ke Mall, dan beberapa jam kemudian Sherlyn mendapat musibah seperti ini. Tapi kali ini, tidak ada privasi apapun, Sherlyn harus terbuka pada mereka, mereka harus tahu mengapa Sherlyn menjadi seperti ini.
“Ya, ya terserah dirimu.”
Sherlyn menghela napas lega setelah Angle melepaskan tangannya. Namun dengan cepat Angle berlari menuju kamarnya dan membuka pintunya. Sherlyn panik, ia berusaha menahan Angle, namun dengan cepat gadis itu masuk kedalam kamarnya. Sherlyn menatap sekeliling, kamarnya kosong, tidak ada siapapun disini. Dan ia dapat melihat jendela kamarnya telah terbuka, Sherlyn kembali menghela napas lega. Chris sudah pergi.
“Yak Sherlyn! Apa kau benar-benar menyembunyikan sesuatu dariku dan Kate?”
“A..Apa?”
“Kau berkata kamarmu berantakan, tapi kini begitu rapi. Apa aku perlu menggeledah semua barangmu untuk membuatmu mengatakan yang sejujurnya?!”
Sherlyn menatap sekeliling kamarnya, ia bernapas lega melihat kamarnya telah kosong. Chris sudah pergi. Pandangan Sherlyn beralih, ia terkekeh melihat wajah kesal Angle. Kini ia menarik tangan Kate dan Angle menuju kasurnya. Memang, ia terlalu menyembunyikan sesuatu dari keduanya dan membuat mereka khawatir. Karena jika ia berada diposisi keduanya, ia akan melakukan hal yang sama sampai kedua sahabatnya berkata jujur padanya.
“Apa kau dirampok Sherlyn? Aku sudah memperingatkanmu dari awal, seharusnya aku atau Kate mengantarmu pulang malam itu! Jika terjadi seperti ini, aku yang akan menyalahkan diriku sendiri."
__ADS_1
Sherlyn merasa tersentuh dengan ucapan Angle, mereka memang bukan tipe sahabat yang terbuka dalam menyalurkan perasaan. Dan ini mungkin pertama kalinya Angle terlihat begitu mengkhawatirkannya dan ia mengungkapkannya.
"Aku baik-baik saja. Aku gadis kuat, kau tahu itu kan?"
Rasa khawatir Angle kini dibalas candaan oleh Sherlyn membuatnya memandang sahabatnya itu dengan jengkel. Angle maupun Kate kini menatap wajah Sherlyn dengan dalam. Pasti kemarin malam adalah malam terburuk bagi sahabatnya itu. Sudah terlihat dari bagaimana wajah Sherlyn yang terluka cukup parah.
Angle dapat merasakan matanya mulai berlinang. Ia sungguh menyesal karena tidak mengantar Sherlyn sampai rumahnya kemarin malam. Jika ia memutuskan mengantar Sherlyn, sahabatnya itu tidak akan sampai terluka seperti ini.
“Apa kalian percaya jika aku bilang ada seseorang yang ingin membunuhku?”
Kate dan Angle terdiam mendengar pertanyaan yang terlontar dari sahabatnya itu, mereka hanya menatap Sherlyn dengan pandangan tidak percaya. Mereka memang sangat tahu jika akhir-akhir ini Sherlyn terlihat begitu tertekan, tapi mereka tidak tahu masalahnya sampai separah itu. Kemarin Sherlyn terlihat sakit dan sekarang wajahnya memar, mereka rasa Sherlyn tidak bercanda kali ini.
“Seseorang menyerangku di rooftop kampus beberapa hari lalu, dan kemarin malam dua pria juga menyerangku dan berkata mereka telah dibayar oleh seseorang...." Sherlyn terdiam sesaat, memberi jeda dalam kalimatnya.
"Kurasa, ada yang tidak beres disini." Ujar Sherlyn tampak frustasi.
Kate dan Angle menyimak, sungguh mereka tidak tahu jika Sherlyn punya masalah seberat itu. Mereka tahu, jika Sherlyn hidup sendirian setelah kedua orang tuanya meninggal. Dan sebenarnya mereka telah menawarkan Sherlyn untuk pindah dari rumahnya dan tinggal di apartemen atau di dekat rumah dengan mereka namun Sherlyn selalu menolak, ia berkata bahwa ia harus menjaga rumah kedua orang tuanya.
Kate kali ini mengeluarkan suara. Ia sebenarnya hanya ingin menyangkal semua fakta itu. Ia hanya ingin, bahwa Sherlyn bercanda dan tidak ada yang benar-benar ingin membunuhnya dan ia akan langsung pulang kerumahnya dan tidur dengan tenang. Bahkan ia dan Angle membolos jam kuliah karena begitu khawatir dengan keadaan Sherlyn.
“Aku serius, apa menurutmu luka diwajahku ini hanya sebuah lelucon?”
Angle berusaha menahan tawanya, ia tahu memang ini bukan situasi yang tepat untuk tertawa. Tapi melihat wajah dan ucapan Sherlyn yang begitu ngotot membuatnya geli. Sedangkan Sherlyn yang melihat Angle yang terlihat berusaha keras menahan tawa hanya menatapnya bad mood. Memang, jika dengan sahabatnya, ia tidak akan bisa serius.
“Baiklah, baiklah. Aku percaya.” Kate berucap, dan menghela napas berat.
“Tapi tadi kau bilang, kau diserang di rooftop?” Kali ini Angle bertanya, Sherlyn hanya menatapnya datar. Angle tersenyum tipis, terlihat sekali jika Sherlyn menjadi bad mood karenanya.
“He’em.”
“Apa mungkin seseorang yang ingin membunuhmu adalah orang yang sama dengan pembunuh di kampus kita?”
Mereka semua terdiam. Ketiga gadis itu menelan salivanya, terakhir yang Angle ceritakan mengenai pembunuhan di kampus mereka adalah sang pelaku yang mengkoyak leher sang korban dan perutnya yang terbuka membuat beberapa organ dalam sang korban mencuat keluar. Angle dan Kate tidak bisa membayangkan jika itu terjadi kepada Sherlyn. Sedangkan Sherlyn kini telah pucat.
__ADS_1
“A..Aku mungkin akan lapor polisi.” Angle dan Kate mengangguk setuju.
“Tyron memberikan kami ini, ia tidak bisa datang karena ada beberapa hal yang harus ia urus.”
Angle mengeluarkan sebuah gantungan bintang. Sherlyn tersentak, itu adalah gantungan dari case ponselnya. Bagaimana itu bisa ada di Tyron? Ia masih mengingat jelas kemarin saat ia diserang, gantungannya masih ada di case ponselnya, namun tadi pagi ia sudah tidak menemukan gantungan bintang itu. Mungkin gantungan itu terjatuh ketika ia menjatuhkan ponselnya di tengah-tengah penyerangan.
“Tyron juga yang memberitahu kami mengenai kejadian ini Sherlyn, aku cemburu kau ternyata lebih memilih memberitahu Tyron dari pada aku dan Kate.”
Angle terlihat cemberut, Sherlyn masih terdiam. Ia ingat, kemarin ia menghubungi Tyron dan berusaha meminta tolong padanya, tapi ia ingat juga kalau panggilannya langsung dimatikan dan beberapa menit kemudian serigala itu datang. Atau mungkinkah serigala itu..
“Apa.. Apa kalian percaya manusia serigala?”
Sherlyn terdiam sejenak seakan terkejut oleh sesuatu. Sedangkan kedua sahabatnya memandangnya seolah ia sudah gila. Sherlyn mengigit bibir bawahnya kuat. Ia rasa, mungkin ia memang sudah gila.
“Kurasa kau sudah terlalu banyak menonton film dan membaca novel fiksi Sherlyn, lebih baik kau kurangkan mulai hari ini.”
Sherlyn terdiam, ingatannya kembali kekejadian kemarin malam. Ia ingat, ketika mata serigala itu berubah dan bulunya pun berubah. Dan juga ringkihan serigala itu yang begitu memilukan seolah ia merasa bersalah dan meminta maaf, mungkin saja karena ia sedikit terlambat datang dan meminta maaf padanya.
Sherlyn menelan saliva, seharusnya kejadian itu tidak terlalu mengguncangnya. Setelah Chris yang ia yakini bukan manusia dan entah mahluk seperti apa ia, tapi kini manusia serigala? Ia pasti akan benar-benar gila sebentar lagi.
Angle dan Kate yang melihat Sherlyn terlihat gelisah hanya mengangkat bahu seolah tidak mengerti dengan pikiran Sherlyn. Manusia serigala? Itu terdengar gila bagi mereka. Tapi yang mereka tidak tahu, semua kegilaan itu adalah nyata.
To be continue...
My Note :
Mohon maaf banget kalau author ngilang mendadak.
Author harap masih ada yang menunggu Novel ini yaa, karena ini udah masuk ******* cerita. Dan terimakasih banyak bagi yang setia sama Novel Kekasih Vampir satu ini.
So, see you next Chapter~
Bye~
__ADS_1