
...Happy Reading...
“S..Sherlyn Villegas!”
Sherlyn menoleh kearah sumber suara kala mendengar seseorang memanggil namanya. Ia menatap bingung kearah seorang laki-laki yang tengah berlari kearahnya. Sherlyn memperhatikan dengan detail laki-laki dihadapannya. Memiliki tubuh yang terbilang sangat tinggi, kulit putih pucat, bibir merekah, mata sipit dengan bola mata berwarna biru menyala. Ia seperti pernah melihat pria ini sebelumnya.
“Sherlyn Villegas?”
“Ah! Iya?”
Lamunan Sherlyn tentang pria itu lenyap seketika, namun Sherlyn masih menduga-duga pria itu. Sampai ia mengingatnya, pria ini adalah pria yang ditemukannya saat ia mengantri milkshake kemarin, pria yang dapat membuat jantungnya berdetak kencang. Dengan cepat Sherlyn menunduk, terlalu takut untuk menatap matanya dan jantungnya kembali berdetak kencang seperti kemarin. Jika itu kembali terulang, Chris akan kembali menghukumnya.
“Ini buku milikmu?”
Mata Sherlyn berbinar saat pria itu menyodorkan buku dengan cover hitam itu, ia sudah seharian ini mencari buku itu dan dan secara tiba-tiba sekarang berada ditangan laki-laki dihadapannya. Senyuman Sherlyn mengembang, ia sangat sangat senang.
Dengan cepat ia menyambar buku tersebut dan memeluknya erat. Pria yang dihadapannnya memandang Sherlyn dengan lembut. Ia sangat menyukai bagaimana bibir gadis mungil itu tersenyum, terlihat manis dan lucu secara bersamaan.
“Terima kasih banyak.”
Sherlyn memandang mata biru cerah pria itu. Gadis dengan surai cokelat panjangnya itu dapat melihat tatapan dan senyuman lembut pria itu yang diberikan kepadanya. Dan entah mengapa, Sherlyn sangat senang dengan semua itu.
“Aku Sherlyn Villegas, dan kau?”
Sherlyn menyodorkan lengannya bermaksud untuk berjabat tangan. Pria itu hanya memandang lengan Sherlyn dengan kosong dan membuat Sherlyn menatapnya dengan bingung. Apa pria ini tidak mau berjabat tangan dengannya? Apa tangannya terlihat buruk? Namun saat Sherlyn akan menurunkannya, dengan cepat tangan pria itu mengenggamnya. Sherlyn menatap wajah pria itu, dan kembali mendapat tatapan dan senyuman lembut darinya.
“Aku Andrew Preston.”
__ADS_1
“A..Andrew Preston?”
“Ini untuk Lyn.”
Anak kecil laki-laki dengan mata sipit itu terlihat berbinar memandang gadis kecil dihadapannya. Sedangkan gadis kecil itu yang merasakan ada sesuatu yang tersampir pada telinga kanannya berusaha untuk meliriknya, namun hasilnya tentu saja tidak bisa. Anak laki-laki itu menahan lengan gadis kecil saat lengannya ingin mengambil bunga cantik yang tersampir ditelinganya.
“Biarkan saja, Lyn terlihat cantik dengan bunga."
Senyuman gadis kecil itu mengembang, ia menatap dengan senang anak laki-laki dengan mata sipit dihadapannya. Lengan kecil anak laki-laki itu mengelus lembut rambut cokelat sebahu gadis kecil dihadapannya.
“Lyn, apa kau mau menikah dengan Drew suatu hari nanti?"
Gadis kecil hanya dapat menatap anak laki-laki dihadapannya dengan bingung. Ia tidak tahu menahu mengenai apa yang dibicarakan anak laki-laki itu. Namun yang jelas ia dapat melihat tatapan berharap anak laki-laki itu padanya.
“Apa menikah seru?”
Anak laki-laki yang dipanggil Drew itu tampak tertawa keras, sedangkan gadis dihadapannya hanya memandang Drew dengan bingung. Namun entah mengapa, gadis dengan nama Lyn itu selalu senang jika melihat siapapun tertawa.
“Berhentilah.” Ujaran datar Drew membuat Lyn berhenti tertawa seketika.
“Kapan kita akan menikah?”
Pertanyaan Lyn sontak membuat Drew tampak terkejut. Ia tidak tahu jika Lyn akan se excited itu dengan pernikahan. Drew terlihat berpikir keras dan Lyn sangat tahu. Terlihat bagaimana Drew mengkerutkan keningnya dan jari anak laki-laki itu mengetuk-ngetuk keningnya. Ini bagaikan pertanyaan matematika tersulit untuknya.
“Sepuluh atau lima belas tahun lagi.”
Ujar Drew dengan senyumannya mengembang, Lyn yang mendengarnya menjadi murung. Dan Drew tidak tahu penyebab gadis mungil itu murung, apa Lyn tidak ingin menikah dengannya? Drew berusaha menduga-duga penyebab gadis mungil cantik itu murung namun ia tidak dapat menemukan jawabannya.
__ADS_1
“Ada apa?” Tanya Drew dan menatap Lyn dengan intens.
“Tidak bisakah kita menikah besok saja? Itu terlalu lama.”
Glek! Sedetik kemudian Drew terlihat tertawa keras. Apa menurut gadis itu menikah adalah suatu permainan kuda-kudaan atau masak-masakan? Melihat Lyn yang seperti ini ia sangat ingin mencubit gemas pipi tembamnya itu. Lyn yang melihat Drew kembali tertawa hanya menatapnya dengan bingung, apa ia salah bicara lagi?
Chu!
Lyn tersentak saat Drew kini mencium tepat dibibirnya. Ia melihat Drew yang tersenyum senang menatapnya, sedangkan Lyn hanya dapat menyentuh bibirnya. Drew berusaha untuk tidak menatap Lyn, namun semburat merah dikedua pipinya menghancurkan itu semua. Sebenarnya ia tidak tahu dapat keberanian dari mana dapat melakukan hal seperti itu, saat melihat wajah Lyn yang sedang bingung, itu terlihat sangat lucu baginya.
“Drew menciumku?”
Drew menatap kearah Lyn yang juga sedang menatapnya dengan pandangan tidak percaya. Drew merasa jantungnya berdetak kencang, apa Lyn akan marah padanya? Ia cukup menyesal melakukan hal itu jika berakibat Lyn akan marah padanya.
“Apa menikah harus seperti itu?”
Drew kembali dibuat melongo oleh perkataan gadis mungil ini, namun sedetik kemudian senyuman Drew mengembang. Dengan cepat Drew mengangguk semangat sebagai jawaban dari pertanyaan Lyn, sedangkan Lyn hanya mengangguk mengerti. Drew menatap dengan saksama wajah cantik Lyn, ia memang sangat menyukai Lyn sejak pertama kali bertemu, lebih tepatnya tiga tahun yang lalu. Saat kedua orang tua mereka bertemu dan ia melihat seorang gadis mungil dengan memakai dress berwarna kuning cerah sebatas lutut kala itu. Dan ia langsung jatuh hati, bahkan pada saat itu ia baru berusia tujuh tahun.
“Sekarang Lyn harus menciumku!”
Perintah Drew, Lyn menatap Drew dan kemudian mengangguk. Ia dapat melihat Lyn mendekatkan wajahnya perlahan. Drew menutup kedua matanya erat, ia sangat malu. Drew merasakan sesuatu yang lembut menyentuh pipi kanannya, ia membuka mata dan harus kecewa. Ia berharap Lyn mencium bibirnya sama seperti ia tadi mencium bibir Lyn. Lyn menatapnya dengan senyuman mengembang.
“A..Andrew Preston?” Tanya Sherlyn dan menatap pria dihadapannya dengan ragu.
Andrew menatap gadis itu dengan berharap. Mungkinkah Sherlyn mengingatnya? Ia dapat melihat dengan jelas gadis mungil yang cantik itu kini telah berubah menjadi gadis remaja, namun kecantikannya jauh melebihi saat ia masih kecil. Sherlyn masih tetap sama dimata Andrew, ia adalah gadis mungil cantik yang sangat polos.
“Nama yang bagus.” Ujar Sherlyn dan tersenyum lebar.
__ADS_1
'Lyn, kau bahkan tidak mengingatku?'
To be continue...