
...Happy Reading...
Sherlyn kini membuka pintu menuju rooftop kampusnya. Namun beberapa detik kemudian ia terpaku, tepat dihadapannya kini pemandangan di bawah sana terlihat dengan jelas, terlihat gunung kebiruan tegak, dan beberapa rumah penduduk mempercantik pemandangan itu. Jangan lupa sepoi – sepoi angin yang begitu menyegarkan wajahnya.
Senyuman Sherlyn mengembang, hampir lima semester ia berada di kampus ini tapi untuk pertama kalinya ia melihat pemandangan seindah ini berada di kampusnya. Sherlyn mulai berjalan kearah pagar pembatas dan menopang dagunya. Kedua sahabatnya juga harus merasakan keindahan seperti ini, ia yakin Kate dan Angle begitu menyukainya.
Sherlyn memejamkan matanya, beban di punggungnya entah mengapa akhir-akhir ini semakin berat. Saat perasaan bersalah pada kedua sahabatnya semakin memuncak. Sejak makan malam yang secara ajaib mempertemukannya dengan Andrew maupun Chris. Dan sejak saat itu, tatapan kedua sahabatnya begitu penuh luka yang disembunyikan.
Sherlyn kini merasakan matanya mulai memanas. Ia hanya ingin hidupnya berjalan dengan baik. Sudah begitu menyakitkan kehilangan kedua orang tuanya, ia tidak ingin kehilangan kedua sahabatnya juga.
Sherlyn tersentak ketika matanya tiba-tiba menjadi gelap, seseorang sudah menutupnya dengan telapak tangan miliknya. Sherlyn tersenyum tipis, Andrew memang begitu penuh kejutan. Setelah selesai kelas ia langsung buru – buru pergi ke rooftop setelah pesan yang disampaikan pria itu di lokernya.
“Drew, Ayolah! Jangan bercanda.”
Ujar Sherlyn dengan tawa kecil, ia tidak cukup bodoh jika tidak mengetahui siapa yang menutup matanya. Selama beberapa detik, Andrew tetap tidak bergeming. Sherlyn merasa bingung, apa pria itu baik-baik saja?
“Drew?”
Ulang Sherlyn masih dengan mata tertutup, selanjutnya pria itu melepaskan telapak tangannya. Sherlyn tersenyum dan mulai berbalik. Andrew memang selalu menganggapnya seperti anak kecil.
“Aku tidak terkejut dengan-“
Senyuman Sherlyn seketika luntur, tubuhnya menegang. Tepat dihadapannya ada sesosok pria bertopeng karet yang tidak ia kenali, pria itu menutupi hampir seluruh wajahnya. Sherlyn menelan salivanya.
“D.. Drew, jangan bercanda.”
Ujar Sherlyn masih dengan tawa kecil. Pria dihadapannya adalah Andrew, kan? Pria yang sama, yang mengirim pesan padanya, kan? Andrew hanya ingin bermain-main dengannya saja, kan? Sherlyn merasakan jantungnya berdetak kencang, mata gadis itu menatap pria bertopeng dengan seksama.
“Si.. Siapa kau?”
Melihat wajah ketakutan Sherlyn, pria itu tampak tersenyum lebar. Pria itu terlihat begitu menyeramkan. Pria bertopeng kini merogoh sesuatu di balik jaket miliknya. Sherlyn dapat melihat dengan jelas sebuah pisau lipat kini keluar dari genggaman tangannya. Sherlyn memundurkan langkahnya. Tidak, ia tidak bisa, ia sudah berada di ujung gedung. Sherlyn mengenggam teralis besi itu dengan kuat.
“Ja.. Jangan mendekat.”
__ADS_1
Ujar Sherlyn pelan, bahkan ia nyaris tidak mengeluarkan suara. Ketakutan membuatnya tidak bisa mengontrol tubuhnya sendiri. Pria itu kini kembali berjalan semakin dekat dengan mengacungkan sebuah pisau lipat.
Sherlyn melirik sekilas kearah pintu keluar, ia tidak bisa jika hanya berdiam diri seperti ini. Pria itu pasti ingin menyakitinya, ia harus kabur. Melihat sedikit celah, dengan cepat Sherlyn mulai berlari kearah pintu keluar, namun dengan kuat pria itu langsung menarik kerah kemejanya dan menghantamkannya dengan kuat kearah teralis besi, membuat Sherlyn kini jatuh terduduk.
“Akh!”
Sherlyn kini meringis, ia mulai panik, sekarang kaki kirinya terkilir karena tarikan pria itu yang tiba-tiba. Sherlyn menelan salivanya, ia menatap pria bertopeng itu dengan intens. Berusaha menerka identitas pria itu, setidaknya ia bisa mengenali seseorang yang ingin menyakitinya ini. Namun hasilnya nihil, ia tidak bisa menebaknya.
“Jangan mendekat!”
Suara Sherlyn mulai meninggi. Ia masih berharap seseorang akan menyelamatkannya kali ini. Sherlyn merasakan jantungnya telah berpacu cepat, ia sudah tidak dapat berpikir jernih sekarang. Pria itu semakin melebarkan senyumnya dan mulai berjongkok, menyamakan tubuhnya dengan Sherlyn.
“Kubilang jangan mendekat!”
Sherlyn mulai berteriak histeris, sekarang ia tidak bisa melakukan apapun, pria itu kini semakin dekat dan mulai berbisik pelan tepat di telinganya.
“Masih ingat dengan pembunuhan yang kau lakukan, Sherlyn? Tujuh tahun lalu."
Sherlyn kini merasakan seluruh tubuhnya mati rasa, ia tidak dapat bergerak. Ketakutan itu membuatnya mematung. Ingatannya kembali ke kejadian tujuh tahun lalu, Sherlyn menelan salivanya. Tidak, itu bukan kesalahannya. Seseorang telah menjebaknya saat itu.
Pria itu kini mulai tertawa. Air mata Sherlyn mulai menetes. Melihat Sherlyn yang semakin ketakutan membuatnya begitu senang. Pria itu kini mengenggam telapak tangan Sherlyn dan mengelusnya dengan lembut.
Slashh!
Darah segar kini keluar dari telapak tangan Sherlyn, pria itu menggoreskannya cukup dalam. Bodoh, bodoh, mengapa ia tidak bisa bergerak seperti ini? Bahkan untuk berteriak ia sama sekali tidak sanggup.
"Tanganmu yang bermandi darah, kau pasti mengingatnya kan?"
Buk!
Sherlyn tersentak saat tiba – tiba pria bertopeng itu kini tersungkur di sampingnya. Sherlyn masih mencerna dengan apa yang terjadi, ia mendongak. Tepat dihadapannya ia dapat melihat Chris yang kini memandangnya dengan tatapan khawatir.
“Kau.. Kau tidak apa-apa, Lady?"
Chris kini berjongkok dan menatap Sherlyn dengan seksama. Sherlyn menatapnya dengan penuh ketakutan. Dengan jelas Chris dapat melihat tangan Sherlyn yang kini sudah mengeluarkan liquid merah. Ia terlambat, Chris kini mengeluarkan kain dari saku celananya dan mulai melilitkannya pada telapak tangan Sherlyn.
__ADS_1
Beberapa menit lalu ia dapat merasakan detakan jantung Sherlyn yang tidak biasa. Dan ternyata benar, gadisnya sedang berada dalam bahaya. Dan ia sangat terlambat dengan melihat Sherlyn yang sudah terluka.
“Chris, belakangmu!”
Jleb!
Tepat saat Chris menghadap belakang, pria bertopeng itu kini mengunuskan pisau lipat dan menancap tepat di perut Chris. Bukannya merintih kesakitan, Chris kini mulai berdiri dan dengan sekali dorongan. Pria bertopeng itu kini terpental tepat di depan pintu keluar.
Pria bertopeng maupun Sherlyn kini begitu tersentak dengan kekuatan dahsyat itu. Melihat Chris yang bukan lawan yang sepadan, pria itu dengan cepat meninggalkan rooftop, menyisakan Sherlyn dengan begitu panik. Sherlyn kini meraih tubuh Chris yang sudah terjatuh.
"Chris, Chris bertahanlah!"
......................
Dengan dibantu penjaga Kampus Sherlyn kini memapah Chris menuju mobil miliknya. Peluh kini membanjiri seluruh tubuh Sherlyn, walaupun mereka menaiki lift namun postur tubuh Chris yang jauh lebih besar membuatnya kewalahan.
“Bertahan Chris! Kita akan ke rumah sakit.”
Ujar Sherlyn khawatir, tidak henti-hentinya ia berdoa dan menangis. Melihat keadaan Chris yang begitu memilukan membuatnya hatinya sakit, terlebih ini semua karena dirinya. Andai saja Chris tidak menyelamatkannya, pria itu tidak akan menderita seperti ini. Sherlyn kini mulai memasukkan tubuh Chris pada mobil milik pria itu dan mulai berlari menuju kemudi.
“Sherlyn!”
Sherlyn tersentak, tepat beberapa meter darinya kini telah berdiri Andrew dengan peluh sudah membanjiri tubuhnya. Sherlyn kini mundur selangkah, pria ini yang berusaha menyakitinya, kan?
“Lyn?”
Melihat Sherlyn yang menatapnya dengan penuh ketakutan kini membuat Andrew bingung. Apa ia sudah melakukan kesalahan?
“Aku.. Aku harus pergi.” Ujar Sherlyn dan berlalu, namun sebelum ia kembali melangkah. Andrew kini menahan tangannya, membuat Sherlyn kini kembali menatapnya.
“Bagaimana dengan kencan kita?”
“Persetan dengan kencan, Drew!”
Teriak Sherlyn dan menghentakkan genggaman Andrew padanya. Sherlyn kini mulai mengemudi kearah rumah sakit, meninggalkan kampus. Andrew kini menatap laju mobil itu yang semakin menjauh, selanjutnya pria itu tersenyum sinis dan mulai berjalan meninggalkan kampus.
__ADS_1
To be continue...