Kekasih Vampir

Kekasih Vampir
BAB 24 : LUKA


__ADS_3

MENGANDUNG ADEGAN DEWASA‼️


...Happy Reading...


“A..Aku harus apa? A..Aku.. A..Apa yang harus kulakukan?”


Sherlyn berjalan mondar-mandir tepat disebelah Chris yang terlihat meringis kesakitan. Hampir lima belas menit ia melakukan hal yang sama. Chris memarahinya saat ia ingin membawanya kerumah sakit. Ia bilang ia akan baik - baik saja, sedangkan pisau lipat itu masih tertancap diperut Chris.


“Ch..Chris kumohon, kita ke rumah sakit. Kumohon.”


Chris menggelengkan kepalanya. Ia berbeda, jika ia kerumah sakit dan para dokter itu memeriksanya. Sudah dipastikan ia tidak akan pernah lagi keluar dari rumah sakit. Sherlyn masih panik, ia sebenarnya begitu bingung. Apartment Chris begitu luas, tapi ia tidak menemukan kasur untuk tidur. Hanya ada beberapa sofa panjang, dan begitu banyak buku disini.


“Akh!”


“Apa yang kau lakukan?! Apa kau sudah gila?!”


Sherlyn berteriak histeris saat Chris dengan seenaknya mencabut pisau yang tertancap pada perutnya itu. Sherlyn memejamkan matanya, bayangan darah yang merebak dan mengalir berada dibenaknya dan itu membuatnya mual. Sherlyn tetap memejamkan mata sampai seseorang menariknya.


Kini Sherlyn dapat melihat wajah Chris yang hanya beberapa senti didepan wajahnya. Sherlyn menelan saliva.


“C..Chris aku-“


“Tetaplah seperti ini!”


Sherlyn terdiam, tubuhnya berusaha untuk tidak menolak Chris yang secara tiba-tiba menariknya dalam pelukan pria itu. Sherlyn sudah membayangkan, pasti kemejanya ini begitu penuh dengan darah, dan itu kembali membuatnya mual.


“Chris tapi-“


“Kumohon.” Suara lirih Chris terdengar.


“Kumohon tetap seperti ini untuk sesaat.”


Ujaran memilukan Chris membuat Sherlyn terdiam. Dari jarak sedekat ini, Sherlyn dapat melihat dengan jelas setiap detail wajah Chris. Kali ini Sherlyn kembali menemukan hal baru pada pria itu. Wajah sedih Chris menjadi sorotannya. Sherlyn tersenyum tipis dan membalas pelukan Chris. Entah Chris mahluk apa, atau sifatnya seperti apa. Tapi pria dihadapannya ini sudah menolongnya, bahkan sudah menolongnya dari kematian.


“Terimakasih.”

__ADS_1


Sherlyn berujar lirih. Rasa sedih, bahagia, teharu dipadukan menjadi satu. Untuk pertama kalinya seolah hidupnya begitu berarti, begitu berarti bagi orang lain.


Saat semua orang meninggalkannya. Kedua orang tuanya yang tewas karena kecelakaan. Saudaranya, teman-temannya, bahkan Andrew cinta pertamanya. Dan ia hanya memiliki Kate dan juga Angle setelah beberapa bulan kejadian itu berlalu, tapi kini seorang pria menyelamatkan nyawanya, menyelamatkan hidupnya.


Sherlyn mengenang masanya dengan Chris. Chris sebenarnya pria yang begitu aneh, ia dulu bertemu dengannya saat ia menginjak usia 16 tahun. Saat itu pria itu terus mengikutinya kemanapun ia berada. Sampai tiba-tiba Chris muncul dikamarnya tengah malam. Dulu awalnya ia mengira Chris adalah maling, atau psikopat gila. Tapi yang pria itu lakukan adalah jalan mendekat kekasurnya memperkenalkan diri, dan berkata bahwa dirinya adalah Mate Chris. Bahkan saat itu, ia tidak mengerti arti kata Mate yang dimaksud pria itu.


Pada awalnya ia begitu tidak nyaman dengan keadaan Chris yang tiba-tiba datang kekamarnya, bahkan ia sudah sempat melaporkan itu ke polisi. Tapi keanehannya saat polisi berjaga dirumahnya, Chris tidak pernah muncul. Dan ia berpikiran akan merekamnya dengan memasang kamera cctv dikamarnya untuk bukti kepada polisi. Tapi secara tiba-tiba memorinya sudah hilang entah kemana. Padahal ia sangat yakin Chris tidak mengambilnya saat ia berada dikamar. Tapi karena keanehan itu, polisi menganggapnya remaja yang kurang waras. Dan karena itu ia berhenti untuk melaporkan Chris. Selama Chris tidak terlalu kurang ajar dengannya, seharusnya itu tidak terlalu mempermasalahkannya.


“Terimakasih sudah memilihku menjadi matemu, terimakasih, terimakasih banyak.”


Sherlyn sudah tidak bisa membendungkan kesedihannya. Setelah sekian lama, ia hanya bisa menangis ditempat tidur sendirian, kini ia menangis didepan seseorang, yang bahkan seseorang yang pernah ia benci. Sikap tegas, ceria, cuek yang selama ini ia bangun seolah hancur begitu saja dihadapan Chris. Kenangan-kenangan buruk seolah akhir-akhir ini selalu menghantuinya, dan sudah saatnya ia membutuhkan sandaran. Seolah semakin lama, hidupnya semakin rapuh, semakin hancur.


“Shhh.. Lady.”


Chris melepaskan pelukan mereka, ia menatap Sherlyn tulus. Sebenarnya tanpa disadari Sherlyn, ia sudah memantaunya saat usia gadis itu enam tahun. Saat ia tidak sengaja melihat gadis kecil yang bermain ditaman dengan sang ibu. Tapi ia baru memunculkan wujudnya setelah sepuluh tahun berlalu. Setelah ia berpikir, mungkin Sherlyn menganggap bahwa usianya sama seperti dirinya.


Sherlyn adalah seseorang yang sudah ia pilih sejak gadis itu masih kecil. Hampir ratusan tahun ia hidup, untuk pertama kalinya ia tertarik dengan seorang gadis.


“Kau tidak perlu berterima kasih, aku yang seharusnya minta maaf karena tidak ada untukmu saat hari terburukmu."


“Hari-hari buruk? Hari-hari bu-“


“Kau milikku Sherlyn.”


Chris menatapnya dalam, seolah menyampaikan apa yang ada dihatinya. Sherlyn adalah miliknya dan hanya miliknya. Sherlyn sudah menjadi takdirnya, bahkan sejak saat ia dilahirkan.


“Terimakasih sudah menjadi bagian hidupku Chris.”


Sherlyn tersenyum, sebenarnya ia sudah mengenal Chris hampir lima tahun lamanya. Tapi sejak lima tahun itu pula, ia tidak pernah tahu mengenai asal usul pria itu. Dimana ia tinggal, berapa usianya, bahkan nama lengkapnya pun ia tidak pernah menanyakan itu. Baginya Chris adalah pria pengganggu dan posesif. Setiap ia bertemu dengan pria lain, seolah Chris menjauhkan pria itu padanya.


"Dan terimakasih sudah menyelamatkanku."


Chris tersentak saat tiba-tiba Sherlyn mengecup bibirnya singkat. Gadis itu terlihat menunduk dengan wajah memerah. Chris masih melongo dengan tingkah mendadak Sherlyn. Selanjutnya Chris tersenyum lebar dan menarik tengkuk Sherlyn.


Ciuman itu tidak dapat dihindari, sebenarnya Chris sudah menahan sedari tadi untuk mencium Sherlyn sejak gadis itu menangis. Tapi Sherlyn seolah-olah memancingnya, memancing singa tidur untuk bermain. Chris mencium bibir Sherlyn dengan lembut, ia hanya mengulum dan memasukkan lidahnya pada mulut Sherlyn. Salah satu ia begitu menyukai bibir Sherlyn, bibir gadis itu begitu manis, bahkan sangat manis untuknya.

__ADS_1


“C..Chris”


Dengan sekuat tenaga, Sherlyn kini mendorong dada Chris, ia butuh pasokan oksigen. Namun dengan cepat Chris menempelkan bibirnya lagi, kini pria itu ********** kasar. Seolah akan memakan bibir Sherlyn begitu saja.


Ciuman kasar itu kini beralih pada leher putih Sherlyn, Chris seolah kesetanan. Tangannya memeluk Sherlyn kuat sedangkan bibir serta lidahnya aktif pada leher Sherlyn. Ia menjilatnya dan sesekali menggigitnya kecil. Ia sudah tidak bisa menahan lagi apa yang sudah ia tahan sejauh ini. Sherlyn seharusnya sudah menjadi miliknya saat ia menyatakan pada gadis itu bahwa ia adalah matenya, pasangan hidupnya.


Tapi ia menahan itu semua sejauh ini, seorang mahluk sepertinya harus berkali-kali lipat lebih kuat menahan hasratnya yang bergejolak.


“Ahh.. Chris.”


******* kecil dari Sherlyn, kini membuat Chris semakin menggila. Ia mencium, menjilat, bahkan membuat tanda yang begitu banyak dileher Sherlyn, dengan penuh nafsu. Toh, Sherlyn adalah miliknya.


Semuanya akan mudah jika Sherlyn juga mencintainya dan mereka menikah selayaknya jenisnya, selayaknya kaumnya. Pada kaumnya, menyatakan gadis itu adalah 'Matemu' sama seperti melamar sang gadis, dan pernikahan resminya ada pada bercinta.


Bercinta adalah pernikahan, dan itu begitu suci. Tapi pernikahan dalam kaumnya itu tidak akan berjalan dengan sempurna jika sang gadis tidak mencintai sang pria, jika sang pria memaksakan menikahi sang gadis yang tidak mencintainya, skinship akan menimbulkan rasa terbakar pada sang gadis, dan bahkan lebih buruknya dapat menyebabkan kematian si gadis. Terlebih Sherlyn bukanlah bagian dari kaumnya, Sherlyn hanya kaum manusia yang lemah baginya.


Tapi diam-diam Chris tersenyum, kali ini Sherlyn tidak merasakan rasa terbakar itu dilehernya. Itu pertanda jika Sherlyn sudah semakin membuka hati untuknya. Dan juga, ia bisa melakukan lebih dari pada ini.


“Ahh.. Chris!”


Secara tiba-tiba Sherlyn berteriak saat Chris mengigit cukup keras pada lehernya. Chris memandangnya dengan rasa bersalah, ia sudah berlebihan menjamah leher putih itu. Nafsunya sudah tidak bisa dikendalikan.


Sherlyn kini mendorong tubuh Chris kuat. Apa yang sudah ia lakukan? Sherlyn kini menggeleng. Tidak, tidak, ia sudah melewati batas.


“A..Aku harus pulang Chris, Ma..Maaf.”


Tanpa sepatah katapun Sherlyn merapikan kemeja dan rambutnya yang sedikit berantakan, meraih tasnya dan meninggalkan apartment Chris begitu saja.


Sedangkan Chris yang melihat gadis itu sudah menjauh hanya menatapnya dengan kecewa. Kecewa dengan dirinya sendiri. Mata hijau berkilau milik Chris mulai beralih pada perutnya yang tadi tertusuk pisau itu.


Chris menarik napas, luka diperutnya masih sedikit terbuka, ya walaupun tidak separah tadi. Tapi ia membutuhkan dua atau tiga hari untuk menutup lukanya ini menjadi sempurna. Mata Chris kini kembali menatap kearah pintu keluar, rasa bersalah itu semakin menjadi - jadi.


"Maaf Lady."


To be continue...

__ADS_1


__ADS_2