
...Happy Reading...
Untuk kesekian kalinya Sherlyn harus menutup mulutnya yang terbuka karena menguap. Mata kecilnya menatap bosan kearah Angle dan juga Kate yang duduk dihadapannya yang sedang memainkan ponsel mereka masing - masing.
Entah mengapa, kelas kosong seperti ini jauh lebih membosankan dari pada saat kelas dimulai. Memang, beberapa hari ini Angle dan Kate jauh lebih sibuk dengan ponselnya masing-masing dari pada bicara dengannya. Pasti selalu Sherlyn yang membuka percakapan terlebih dahulu, namun sayangnya hari ini ia tidak mempunyai percakapan menarik apapun.
“Sherlyn!”
Sherlyn menoleh kearah sumber suara setelah mendengar ada yang memanggilnya. Dan ia mendapati Andrew yang tengah berjalan cepat kearahnya. Sherlyn menatap kedua sahabat dihadapannya, dan mereka berdua terlihat melirik kearah Andrew diam-diam. Walaupun berusaha terlihat tidak peduli dengan kedatangannya.
“Bagaimana?”
Sherlyn menatap Andrew dengan sangat ragu. Beberapa menit yang lalu memang Andrew kembali mengajaknya untuk jalan dan ia sangat ragu setelah pengalaman kemarin yang ia rasakan. Saat dimana Andrew maupun Chris lebih mementingkan menatap satu sama lain dari pada mengejarnya yang pergi. Sherlyn hanya takut timbul perasaan antar keduanya.
“Entahlah, Drew.”
“Kumohon, Lyn. Kali ini tidak akan ada peganggu.”
Sherlyn masih menatap Andrew yang kali ini dengan wajah memohon. Bibir yang dicemberutkan, mata yang menatapnya memohon. Sejujurnya Sherlyn cukup geli melihat wajah Andrew seperti itu. Bagaimana wajah keren milik Andrew menjadi wajah anak laki-laki berumur sepuluh tahun. Memang lucu, namun sedikit menggelikan.
Sherlyn menatap kedua sahabatnya. Dan ia dapat melihat kedua sahabatnya menatapnya dengan senyuman mengembang. Sherlyn menatap Andrew dengan ragu, ia sebenarnya sangat takut jika senyuman tulus dari kedua sahabatnya bukan sebuah senyuman dukungan.
“Baiklah.”
Sherlyn menghela napas dan membuat Andrew tersenyum senang. Bahkan ia meloncat cukup tinggi dan membuat Sherlyn menampilkan senyumannya. Sherlyn dapat melihat kedua sahabatnya itu masih terlihat tersenyum, namun kali ini menatap tingkah Andrew.
“Aku tunggu setelah selesai kelas di lapangan basket, Bye Queen!”
Sherlyn membulatkan matanya setelah mendengar kalimat terakhir Andrew. Dengan takut-takut ia menatap kedua sahabatnya, khususnya ia cukup takut menatap Kate. Ia merasa seperti pengkhianat, ia merasa telah menusuk kedua sahabatnya dari belakang.
Sherlyn dapat melihat Kate yang memandangnya dengan senyuman, namun sedetik kemudian kembali menatap ponselnya. Sherlyn tahu, ia hanya berusaha menyibukkan diri.
__ADS_1
“Aku ada kelas beberapa menit lagi, aku duluan.”
Dengan cepat Sherlyn pergi dari posisinya tanpa menoleh pada kedua sahabatnya. Ia sangat tidak enak jika harus lebih lama disana, ia sangat takut.
Dengan lesu, Sherlyn mulai melangkah kearah ruangannya. Namun beberapa meter dari ruang kelasnya, ia dapat melihat seorang pria yang terlihat membuka lokernya yang terletak tepat didepan kelasnya. Sherlyn memicingkan penglihatannya, dengan langkah yang cepat Sherlyn berjalan menuju lokernya.
Namun terlambat, pria itu sudah lebih dahulu menjauhi lokernya dengan berlari. Sherlyn kembali memfokuskan penglihatannya pada punggung pria yang beberapa menit lalu berada didepan lokernya. Bukankah itu Andrew? Sherlyn mengedikkan bahunya dan membuka lokernya. Dan ia mendapat selembar kertas.
‘Aku tunggu di Rooftop setelah selesai kelas, My Queen’
Sherlyn cukup geli melihat selembar kertas tersebut. My Queen? Siapa lagi jika bukan Andrew? Apa Andrew berusaha menjadi penggemar rahasianya? Bahkan ia bisa mengirim pesan padanya secara langsung, tanpa harus menjadi seperti pencuri yang membuka lokernya secara diam-diam.
“Kau ada-ada saja, Andrew.”
......................
Kate terlihat menompangkan lengannya menggunakan telapak tangan, ia terlalu bosan untuk mendengar ocehan dosen bahasa didepan kelas.
Namun kali ini matanya tidak berhenti untuk memandang dengan berbinar dan bibir tipisnya tidak sanggup untuk tidak tersenyum. Tepat dihadapan mejanya terdapat Andrew yang terlihat sangat fokus memandang depan, dengan kepalanya sedikit mengangguk. Mungkin tanda ia sedikit memahami pembahasan kali ini.
Dosen bahasa itu mulai berjalan menuju kursinya. Dengan terburu-buru Kate memasukkan beberapa buku yang berada dimejanya. Dan ia kembali memandang Andrew. Pria itu juga terlihat sangat buru-buru. Pandangan Kate beralih menatap depan, ia dapat melihat Mrs. Dana yang juga terlihat merapikan beberapa bukunya.
“Sekian untuk hari ini, Selamat siang.”
“Selamat siang, Mrs.”
Kate menjawab seadanya, karena matanya fokus memperhatikan Andrew. Dengan cepat Kate memakai tasnya dan sedikit berlari mengejar Andrew yang sudah di pintu ruangan. Apa Sherlyn sebegitu penting untuknya sampai ia sangat terburu-buru seperti itu? Toh, Sherlyn juga tidak akan pergi kemanapun bukan?
“Andrew!”
Andrew terlihat menoleh, dan ia mendapati Kate yang berdiri tepat didepannya. Kate terdiam, tiba-tiba ia menjadi sangat gugup. Mengapa ia menjadi seperti ini dihadapan Andrew? Dan itu cukup memalukan untuknya. Mereka bertatapan selama beberapa detik.
__ADS_1
“Iya, Ada apa?”
Kate seketika blank, ia tidak dapat menemukan kata-kata apapun. Bahkan ia lupa mengapa ia memanggil Andrew. Kate menunduk, berusaha mencari jawaban, atau lebih tepatnya kata-kata yang tepat. Namun yang dilihat Andrew hanya seorang gadis yang terlihat tidak tahu jalan pulang.
“Kau ada acara hari ini?”
“Memangnya ada apa?”
Skak mat! Entah mengapa Kate tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dan mengapa Andrew malah balik bertanya kepadanya dan bukan menjawab pertanyaannya? Apa itu jika urusan dengannya lebih penting, ia ingin membatalkan janjinya dengan Sherlyn? Kate mengembangkan senyumannya.
“Kita belum mengerjakan tugas Mr. Morgan."
Andrew terlihat mengerutkan keningnya, yang dalam bahasa mungkin kerutannya itu berarti ‘Mr. Morgan? Apa benar?’ sedangkan Kate menunduk dalam, ia terlalu malu untuk melihat Andrew yang terlihat fouks memandangnya.
“Oh kau benar, kapan dikumpulkan?”
“Lu..Lusa besok.”
Kate dapat melihat Andrew mengangguk mengerti. Kate mengigit bibir bawahnya, ia berharap Andrew mengiyakan permintannya. Sebenarnya ia tidak bermaksud untuk menghancurkan kencan atau apapun itu antara Sherlyn dengan Andrew. Ia hanya ingin Andrew seperti dulu lagi, saat mereka masih bisa berdua. Bahkan hanya untuk membaca buku diperpustakaan.
“Baiklah, besok kita mengerjakannya. Tidak apa bukan?”
“Oh...”
Kate hanya dapat melihat Andrew dengan mulut yang terbuka. Namun saat melihat kerutan diwajah Andrew, Kate tersadar dan seketika tersenyum. Mungkin Sherlyn memang lebih penting dari apapun dan siapapun bagi Andrew. Bahkan ia menunda mengerjakan tugas hanya untuk kencan dengan Sherlyn. Kate hanya dapat tersenyum pahit.
“Baiklah, kau ingin kemana setelah ini?”
Pertanyaan Kate mampu membuat Andrew gugup. Kate mengerutkan keningnya, ia dapat melihat Andrew yang menatap kearah lain, seolah tidak dapat melihat matanya. Bahkan Andrew terlihat berkeringat pada keningnya. Apa sangat sulit jika berkata ingin berkencan dengan Sherlyn? Apa pria itu berusaha menjaga perasaannya?
“Aku harus pergi Kate, aku duluan.”
__ADS_1
Kate masih dengan kerutan dikeningnya. Sebenarnya ada apa dengan Andrew? Mengapa ia terlihat sangat gugup? Kate hanya dapat memandang punggung Andrew yang berlari menjauh. Kate mengangkat bahunya dan pergi meninggalkan kelasnya yang sudah kosong.
To be continue...