
...Happy Reading...
Jessica Lim, gadis cantik itu kini terlihat berlari disepanjang koridor, lehernya sudah tertancap sebuah pisau sepanjang 15 senti. Ia menyesal, ia begitu menyesal tidak pulang bersama temannya beberapa menit yang lalu.
Jam 10 malam tadi ia baru selesai les vokal dengan beberapa temannya yang lain di kampus dan setelah mengobrol selama setengah jam, temannya memutuskan untuk menyudahi malam itu dan pulang.
Sedangkan ia bermaksud untuk mengambil beberapa buku di lokernya di lantai tiga yang tidak sempat ia ambil tadi siang, malah bertemu dengan seorang pria bertopeng karet dan langsung menusuk lehernya dengan pisau dapur begitu saja. Dan sekarang disinilah ia, berlari kepanikan dengan belati masih menancap di lehernya.
Jessica terus berlari menuju ujung lorong, seharusnya beberapa temannya masih berada di sekitar kampus, seharusnya mereka bisa menyelamatkan hidupnya. Tapi sungguh, pisau dilehernya membuatnya tidak bisa mengeluarkan suara, ia tidak peduli jika pita suaranya yang biasa ia gunakan untuk bernyanyi tidak berfungsi lagi. Kini, nyawanya yang sedang terancam.
‘Sial! Tuhan, kumohon selamatkan aku!'
Jessica kini terjebak, gerbang diujung lorong ternyata terkunci. Gadis itu hanya bisa menangis, ia menoleh kearah belakang. Pria dengan topeng itu berjalan mendekat kearahnya, Jessica terduduk di lantai, tidak ada yang bisa ia lakukan lagi. Ia merangkak dan meraih kaki sang pria. Ia menangis sesegukan namun suaranya tidak dapat keluar.
“Kumohon, jangan bunuh aku. Aku mohon.”
Dengan sekuat tenaga ia mengeluarkan suara dan hanya terdengar bisikan. Ia menangis sesegukan, pikirannya telah dipenuhi semua anggota keluarganya yang begitu ia cintai, teman-temannya dan kekasihnya, Bob. Jika ia tahu hari ini adalah hari terakhirnya, ia akan memeluk kedua orang tuanya sekuat mungkin, dan ia mungkin tidak akan bertengkar dengan kekasihnya itu.
Melihat korbannya tengah menangis tanpa suara, pria itu tersenyum dibalik topeng. Melihat seorang gadis begitu tersiksa merupakan hal menyenangkan baginya. Dan ingatannya kembali ke kejadian tujuh tahun lalu. Seketika ia mengepalkan tangannya, ingatan paling buruk dihidupnya. Tepat ulang tahun yang ke-15 dan tepat hari kedua orang tuanya tewas secara mengenaskan. Beginikah Sherlyn membunuh kedua orang tuanya? Begitu ada perasaan puas dan menyenangkan. Pria itu tersenyum menyeringai.
“Cukup! Biar kupercepat menuju kematianmu!”
Pria bertopeng itu berteriak, Jessica berdiri dan melangkah mundur. Ia tersentak ketika mendengar deringan sebuah ponsel. Mungkinkah itu ponselnya? Ia mulai meraba-raba lantai karena penerangan yang begitu minim. Ia masih berdoa, ia benar-benar tidak ingin mati dengan cara seperti ini.
Pria bertopeng itu menarik kerah kemeja Jessica, ia menatap gadis itu dengan saksama. Ia tersenyum miring, dan dengan kuat pisau dileher Jessica ia cabut, membuat darah dengan cepat keluar dari luka itu. Pria dibalik topengnya itu tersenyum lebar saat luka goresan sepanjang 5 senti berada di kiri leher Jessica.
Dan dengan kuat ia kembali menancapkan pisau itu pada leher Jessica dan kembali mencabutnya secara berulang-ulang. Darah gadis itu kini menyembur dan mengenai jaket miliknya.
“Ah, Sial!”
__ADS_1
Pria bertopeng itu merenggut kesal, selain jaketnya yang mengenai cipratan darah, Jessica dengan begitu cepat tewas. Tadinya ia mau sedikit bermain-main dengan korbannya itu, tapi kini ia urungkan. Bermain dengan mayat tidak menyenangkan, ia membuang jasad Jessica dan membuka kunci gerbang koridor kampus. Pria itu membuka topengnya dan mengeluarkan ponsel dari saku celananya, sial! Ia terlalu sore untuk membunuh.
Pria itu kini berbalik dan menatap mayat Jessica yang sudah tergeletak begitu saja, ia membuang napas kesal. Membunuh orang lain terasa begitu mudah, namun membunuh gadis yang sudah ia incar dari dulu selalu gagal. Beberapa orang selalu menggagalkan rencananya.
Pria itu kini tersentak saat mendengar sebuah ponsel kembali berdering, ia mulai mengeluarkan ponsel pada saku celananya dan tersenyum menyeringai kala melihat nama yang tertera disana sebelum ia mengangkat panggilan mendesak itu.
......................
Sherlyn mengerjapkan matanya pelan saat sinar mentari menusuk matanya, ia menatap keseliling ruangan. Sherlyn kini menghela napas, terlebih kini seluruh badannya terasa begitu menyakitkan. Ingatannya kembali ke kejadian kemarin malam, kejadian di luar nalar yang baru pertama kali ia rasakan seumur hidupnya.
"Hai, Sherlyn."
Sherlyn menatap kearah kiri dan ia tersentak saat melihat Andrew kini tidur tepat disebelahnya. Sherlyn menatap wajah pria itu yang hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya. Mungkinkah Andrew yang membawanya hingga kesini? Ia ingat saat ia diserang dan seekor serigala menolongnya. Mungkinkah Andrew yang menemuinya? Sherlyn sama sekali tidak mengingat apapun.
Sherlyn merasa gugup saat melihat Andrew mengerjapkan matanya, pria itu menatap Sherlyn dan tersenyum menyeringai. Sherlyn menelan salivanya, perasaannya mengapa jadi tidak enak seperti ini?
“Selamat pagi, Queen. Dan... "
“Selamat tinggal.” Andrew menghunuskan pisaunya.
Sherlyn terbangun dari mimpinya, ia merasakan jantungnya berdetak kencang. Mimpi yang begitu buruk, ia menatap sekeliling. Kini ia berada dikamarnya, ia menatap sebelahnya. Dan ia cukup lega saat tidak menemukan siapapun disana.
“Sherlyn.”
Sherlyn mematung, suara baritone pria kini tepat disebelah kanannya. Sherlyn memejamkan matanya, rasanya ia memang ingin mati saja dari pada diteror seperti ini secara terus menerus.
“Kau baik-baik saja Lady?”
Dengan cepat Sherlyn menatap kearah kanan, dan ia melihat Chris yang terlihat memandangnya dengan khawatir.
Namim Chris tersentak saat tiba-tiba Sherlyn memeluknya erat, Sherlyn mulai terisak. Chris membalas pelukan gadisnya itu erat. Ia merasa bersalah, ia tidak dapat melindungi Sherlyn sebagaimana mestinya, ia selalu berkata kepada Sherlyn jika ia adalah miliknya, ia adalah gadisnya. Tapi ia sendiri tidak bisa melindungi Sherlyn, bahkan saat gadis itu begitu membutuhkannya.
__ADS_1
“Maaf, maafkan aku, aku terlambat. Apa kau begitu takut?”
Tanya Chris lembut, Sherlyn mengangguk di sela-sela isakannya. Chris merasakan dadanya bergemuruh mendengar isakan Sherlyn, dadanya bergetar. Ia merasa gagal, ia merasa begitu gagal menjaga Sherlyn. Jika tidak ada pria itu yang menolong Sherlyn, sudah dipastikan Sherlyn akan tewas, dan ia tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika sampai hal itu terjadi.
“Tidak, tidak. Aku yang seharusnya berterima kasih padamu Chris. Kau kembali menyelamatkan nyawaku, kembali menyelamatkan hidupku."
Sherlyn menatapnya dengan pandangan sedih, Chris hanya terdiam. Sherlyn mengira jika ini semua karenanya? Chris tidak berkata apapun. Ia hanya memandang Sherlyn dengan pandangan sedih.
“Aku mencintaimu, Chris.”
Chris membulatkan matanya, ia benar-benar terkejut. Sherlyn hanya menatapnya dengan sebuah senyuman tipis. Sherlyn tahu, ia sudah dewasa dan sudah seharusnya ia membuka hatinya. Salah satu mengapa ia menutup rapat hatinya untuk seorang pria adalah karena ia begitu takut jika orang yang disayanginya akan meninggalkannya LAGI. Tapi melihat Chris yang selalu menyelamatkan hidupnya, itu membuatnya merasa begitu berarti.
“Tu... Tunggu apa aku tidak salah dengar?”
Sherlyn terkekeh melihat wajah terkejut Chris. Kembali ia menemukan hal baru dari pria yang biasanya memiliki wajah datar ini.
“Kukira kau memang salah dengar, aku akan menarik-“
“Kau milikku Sherlyn. Kau dari dulu adalah milikku, aku hanya menunggu kau mengakuinya.”
Chris memotong ucapannya dan mendekatkan wajah mereka. Sherlyn memejamkan matanya saat Chris semakin mendekatkan wajahnya. Dan bibir Chris kini mendarat dikeningnya. Sherlyn tersenyum, dengan tingkah Chris. Setelah ia mengenal Chris cukup lama mengapa ia baru sadar. Chris tidak pernah berkata mencintainya, pria itu hanya selalu mengatakan ia adalah milik pria itu. Dan itu membuatnya bahagia.
Ciuman dikening Sherlyn harus dihentikan oleh suara bel rumahnya yang ditekan dengan tidak sabaran. Chris menghela napas kesal, ia selalu kesal jika ada yang menganggu momen kebersamaannya dengan Sherlyn. Kali ini suara berisik itu kembali terdengar, kali ini dari deringan ponsel yang berada diatas meja belajar. Sherlyn melepaskan pelukannya pada tubuh Chris dan berjalan tertatih menuju meja belajarnya dan menatap layar ponselnya.
8 Panggilan tidak terjawab dari Angle dan 12 pesan dari Angle
5 Panggilan tidak terjawab dari Kate dan 5 Pesan dari Kate.
Atau jangan-jangan? Sherlyn menatap horor kearah Chris. Ia sangat tahu siapa yang menekan bel rumahnya tidak sabaran itu. Sherlyn kelabakan, ia menarik tangan Chris kemanapun ia mau.
“Angle, Angle didepan. Kau harus, kau harus..”
__ADS_1
To be continue...