
...Happy Reading ...
Sherlyn menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Kini, ia sudah berada didepan cermin kamar mandi miliknya. Niat awalnya ia berada disini adalah untuk menyikat giginya dan pergi tidur, tapi selama hampir lima belas menit lamanya ia hanya menatap cermin. Terlebih menatap lehernya yang begitu banyak tanda bulatan kecil dengan warna keunguan, dengan apa ia menutup tanda ini esok? Kenapa Chris malah membuatkan Pekerjaan Rumah untuknya seperti ini?
Bayangan kejadian tadi siang kembali terngiang dikepalanya, bagaimana bisa-bisanya ia berinisiatif mencium Chris lebih dulu. Sherlyn mengacak rambutnya, itu begitu memalukan baginya. Dimana letak harga dirinya? Sherlyn kembali memasuki kamarnya, niatnya untuk menggosok gigi jadi ia urungkan. Ia menjadi tidak mood karena kejadian itu.
Deringan ponsel secara tiba-tiba membuat Sherlyn terlonjak. Dengan merenggut kesal ia mengambil ponsel yang berada di atas meja belajarnya. Ia dapat melihat nama Andrew kini memenuhi layar ponselnya.
Bayang-bayangan pria bertopeng misterius kini menghantui Sherlyn. Dimana sedari awal memang Andrew yang meletekkan sepucuk kertas pada lokernya untuk bertemu di rooftop dan juga Andrew yang begitu berkeringat setelah kejadian penusukan itu terjadi, kini membuat Sherlyn merasa tidak nyaman.
Jika memang, Andrew yang melakukannya. Ia begitu ingin tahu mengapa Andrew ingin melakukan hal semacam itu? Itu bukan hanya lelucon, Chris sudah terluka karenanya. Dengan sangat ragu Sherlyn kini mengangkat panggilan itu.
“Ha..Halo?”
“Hai Sherlyn, sedang apa?”
Sherlyn terdiam, ia menatap sekeliling kamarnya. Ia begitu takut jika secara tiba-tiba pria bertopeng itu berada di kamarnya dan menghunuskan sebuah pisau padanya.
“A..Aku? memangnya ada apa?” Sherlyn kini balik bertanya.
“Apa kau dirumah? Bisa kau menemuiku sebentar? Aku berada di depan rumahmu.”
Sherlyn tersentak, ia menatap kearah jam dinding dikamarnya. Waktu telah menunjukkan hampir pukul 12 malam. Mau apa Andrew menemuinya malam-malam seperti ini?
Dengan langkah pelan dan hati-hati Sherlyn berjalan menuju jendela kamarnya. Dan membuka sedikit gorden bunga berwarna biru laut miliknya, beberapa meter dari rumahnya ia dapat melihat Andrew yang tengah bersandar pada pohon depan rumahnya. Saat Andrew akan melihat kearahnya, dengan cepat ia menutup kembali gorden miliknya.
“A..Aku sedang berada di luar sekarang, ke..kemungkinan akan menginap dirumah Kate.” Ujar Sherlyn gugup.
__ADS_1
“Oh, benarkah? Apa kau baik-baik saja Lyn? Kau terdengar tidak sehat.”
“Aku baik, aku tutup Drew. Selamat tinggal.”
Tanpa menunggu jawaban lagi, Sherlyn menutup panggilannya. Sherlyn menghela napas lega. Dan ia kembali mengintip dari jendela dan kini tidak menemukan siapapun di depan rumahnya. Ia berharap, Andrew sudah pergi.
“Sherlyn!”
Sebuah suara baritone pria kini memasuki gendang telinganya. Sherlyn terdiam mematung, ia menahan napasnya, sedangkan jantungnya disana telah berdetak kencang. Sudah, mungkin memang kematiannya hari ini. Dan memang tidak seharusnya ia menghindari kematian itu.
“Sherlyn, kau baik-baik saja?”
Dengan cepat Sherlyn berbalik, sungguh ia bernapas lega saat Chris kini berada dipintu kamarnya yang terbuka. Biasanya Chris masuk kerumahnya melalui jendela kamarnya, tapi jelas-jelas kini ia berada tepat di jendela kamarnya.
“Ka..Kau masuk dari mana?”
Sherlyn melihat Chris berbicara seperti biasa dengan wajah datarnya. Biasanya mau dikunci atau tidak jendelanya, Chris pasti akan tetap masuk dan ia tidak tahu bagaimana caranya. Bahkan pintu kamarnya itu sudah jelas-jelas ia kunci. Tapi dengan mudahnya Chris masuk tanpa mendobraknya. Atau ternyata selama ini Chris mempunyai duplikat kunci seluruh rumahnya?
“Kau baik-baik saja Lady? Wajahmu terlihat pucat.”
“A..Aku baik.”
Suara bel rumah Sherlyn membuat mereka berdua terdiam sesaat. Mereka berdua menerka-nerka siapa yang datang pada tengah malam seperti ini. Sedangkan, tanpa ia sadari Chris sebenarnya selalu datang kerumah Sherlyn hampir setiap tengah malam.
“Aku akan membukanya.” Ujar Chris dan mulai melangkah kearah pintu depan.
“Ti..Tidak, aku yang akan membukanya."
__ADS_1
Dengan cepat Sherlyn menahan Chris. Apa Chris sudah gila ingin menerima tamu ditengah malam seperti ini? Bagaimana jika itu adalah salah satu tetangganya? Bisa-bisa ia menjadi buah bibir para tetangganya itu karena membawa seorang pria kerumahnya tengah malam seperti ini. Sherlyn menghembuskan napas pelan, entah mengapa karena kejadian penusukan tadi siang membuatnya begitu takut, nyalinya menjadi begitu menciut.
Sherlyn kini melangkah kearah pintu depan dan dengan mengumpulkan sedikit keberanian, ia membukanya. Dan tepat di depan pintu ia dapat melihat Andrew yang kini menatapnya. Sherlyn melirik sekilas kearah Chris yang berada beberapa meter disebelah kanannya. Seharusnya, jika Andrew menyakitinya, Chris akan membantunya, kan? Setidaknya pria itu bisa membawanya kerumah sakit terdekat, kan? Perasaan was - was begitu menyelimutinya.
“A..Ada apa Drew?” Tanya Sherlyn gugup.
“Kau baik-baik saja Lyn? Kau terlihat begitu pucat.” Sherlyn menelan salivanya, berada hanya beberapa meter dengan Andrew mampu membuatnya panas dingin.
“A..Aku baik.”
“Kukira kau dirumah Kate, aku tadi melihat seorang pria memasuki jendela depanmu. Kukira maling atau orang jahat lainnya. Dan kini melihatmu dirumah semakin membuatku khawatir.”
Sherlyn dapat melihat tatapan yang begitu khawatir dari Andrew. Apa Andrew berkata jujur? Karena ia sangat yakin yang Andrew lihat adalah Chris. Melihat ketulusan Andrew membuatnya sedikit tenang.
“Maaf telah membohongimu, aku hanya sedang lelah untuk menemui siapapun.” Ujar Sherlyn dan tersenyum canggung.
“Tidak apa, aku mengerti.”
Andrew menatapnya dengan senyuman lembut. Tapi senyuman itu hanya bertahan beberapa detik setelah matanya kini beralih ke sesuatu yang berada dibelakang Sherlyn.
“Untuk apa pria itu disini?”
Sherlyn menatap kearah belakangnya, disana terlihat Chris yang juga menatap tajam tepat kearah Andrew. Sherlyn mendumel kesal, mengapa Chris malah menampakkan diri? Namun Sherlyn kini berdehem dan dengan cepat menarik Chris dan juga mendorongnya keluar pintu tepat disebelah Andrew.
“Aku lelah, aku harus tidur. Kalian bisa pulang, sampai besok di kampus.”
Tanpa mengucapan sepatah katapun lagi Sherlyn kini menutup pintunya dan menguncinya. Sherlyn menyenderkan pungunggnya pada pintu di belakangnya. Hari ini benar-benar begitu berat baginya.
__ADS_1
To be continue...