
...Happy Reading...
Sherlyn menatap arloji cokelat yang bertengger rapi di tangan kanannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Hangout bersama Angle dan Kate selalu membuatnya lupa waktu.
Sherlyn tersenyum senang dengan membawa dua tas belanja yang berisikan hoodie dan beberapa buku favoritnya. Ia mengira perkataan Angle yang bilang akan berbelanja hanya sebuah bualan saja. Namun nyatanya kedua sahabatnya itu membelikan ia ini semua untuk permohonan maaf karena pernah berbohong padanya. Diam - diam Sherlyn terkikik geli, jika seperti ini hadiahnya. Sepertinya ia akan rela dibohongi setiap hari oleh kedua sahabatnya itu.
Sherlyn kini tersenyum senang dengan berjalan dari terminal menuju rumahnya, kurang lebih sejauh 500 meter. Sebenarnya Kate dan Angle begitu memaksa untuk mengantarnya pulang, tapi ia tahu ini sudah hampir tengah malam. Sedangkan jarak rumah Angle dan Kate lebih jauh dari pada rumahnya. Mereka juga beda arah. Dan ia tidak ingin merepotkan kedua sahabatnya itu.
Sherlyn mengambil napas dalam, ia menjadi gugup karena semakin ia berjalan, lampu dijalan semakin remang-remang. Sejujurnya ia sedikit menyesal tidak mengiyakan permintaan Angle dan juga Kate yang ingin mengantarnya pulang.
Sherlyn terus berjalan, dari kejauhan ia dapat melihat dua orang pria yang tengah bersandar pada dinding disana. Sherlyn sedikit bernapas lega, setidaknya ia seharusnya lebih aman jika ada orang yang akan menemaninya.
Namun senyuman Sherlyn harus luntur saat semakin mendekat kearah dua orang pria itu, mereka kini terlihat berbisik dengan senyuman menyeringai tepat kearahnya. Sherlyn diam - diam melirik kearah dua pria itu, ia merasakan ada yang tidak beres dengan mereka. Ingin rasanya ia berbalik arah, namun itu tidak mungkin. Sisa 200 meter lagi ia sudah sampai di depan rumahnya.
Saat jarak Sherlyn dengan mereka semakin dekat, dengan cepat ia mengeluarkan ponsel dari kemejanya, berusaha terlihat sibuk dan mengabaikan kedua pria itu.
Di beberapa buku atau film yang pernah dilihatnya, seorang penjahat akan lebih senang jika korbannya merasa ketakutan. Dan ia berusaha sebisa mungkin menepis ketakutan itu. Jarak 20 meter dengan kedua pria itu, Sherlyn mencari kontak seseorang diponselnya. Dan nama Tyron adalah nama tetatas didaftar panggilannya. Tanpa pikir panjang, ia memanggil pria itu.
Prak!
Sherlyn terkejut, ia menjatuhkan ponselnya saat salah seorang pria kini menarik tas belanjanya dan dengan keras mendorong tubuhnya ke dinding. Sherlyn menatap wajah kedua pria dihadapannya. Kedua pria yang memiliki umur sekitar kepala tiga. Salah satu pria itu berambut pirang dengan tinggi sekitar 175cm, dan satunya lebih pendek namun memiliki badan yang cukup kekar. Kedua pria ini mungkin saja ingin merampoknya.
Sherlyn melirik sekilas kearah ponselnya yang terjatuh, ponselnya masih menyala dan Tyron terlihat mengangkat panggilannya. Seharusnya jika ia berteriak, Tyron akan melacak dirinya dengan ponselnya, kan? Setidaknya jika kedua pria ini menyakitinya Tyron akan membawa bantuan untuknya, kan?
__ADS_1
“Tyron tolong! Tolong aku!”
Sherlyn berteriak sekuat tenaga, namun dengan cepat pria berbadan kekar itu memukulnya di pipi dengan begitu keras dan membuatnya terjatuh. Sherlyn kini merakan begitu nyeri pada pipi kanannya, ia merasakan beberapa giginya patah, mulutnya telah mengeluarkan darah. Padahal itu baru satu pukulan yang ia terima.
“Gadis bodoh! Berteriak sekali lagi, akan kurobek mulutmu!"
Sherlyn masih meringis kesakitan kala pria yang tadi memukulnya mengeluarkan suara. Kedua pria ini tidak ingin merampoknya, mereka ingin membunuhnya. Sherlyn kembali melirik ponselnya, dan ia cukup terkejut melihat panggilannya telah diakhiri oleh Tyron. Mungkin saja Tyron sudah melacak ponselnya, mungkin saja ia sudah mengarah kesini.
“Apa mau kalian?”
Darah segar terus keluar dari mulut Sherlyn, bahkan ia berusaha keras menahan nyeri ketika berbicara. Ia bersumpah tidak mengenali kedua pria ini, tapi mengapa mereka ingin membunuhnya? Begitu banyak kah musuh yang selama ini ia miliki?
“Mau dirimu cantik, Reg kau benar-benar mematahkan rahangnya.”
“Ayolah! Kita hanya akan membunuhnya dan langsung mengambil uang yang dijanjikan. Aku lelah bermain-main.”
Pria bertubuh kekar yang dipanggil dengan sebuatan 'Reg' itu kembali berbicara. Sherlyn mengerti, seseorang telah membayar mereka.
“Bermain - main tidak ada salahnya bukan?”
Pria berambut pirang itu tersenyum lebar kepadanya. Tidak, seharusnya ia tidak mati disini. Chris sudah berkorban untuk ia tidak mati kemarin. Dan kini ia menyerah begitu saja? Toh, jika ia harus mati hari ini seharusnya ia melakukan sedikit perlawanan.
Melihat kedua pria itu lengah, dengan sekuat tenaga Sherlyn mendorong pria berambut pirang itu. Dan dengan cepat ia berdiri dan mulai berlari menjauh dari keduanya.
__ADS_1
“Tolong...Tolong aku..”
Ia sudah tidak bisa berteriak, mulutnya terasa begitu menyakitkan. Sherlyn merasakan kedua pria dibelakangnya terus mengejarnya. Sherlyn menangis sambil berlari, kini mulutnya sudah bercampur menjadi satu antara darah, air mata dan saliva miliknya.
Settt!
Buk!
Pria berambut pirang itu berhasil meraih rambutnya dan kembali membantingnya kearah dinding dengan keras. Sherlyn merasakan pening yang luar biasa ketika kepalanya dengan keras membentur dinding. Pandangannya mulai buram, inikah akhirnya? Ia bahkan sudah tidak sanggup untuk berdiri, pandangannya sudah terbatas.
“Dasar gadis bodoh!”
Pria berambut pirang itu berjongkok dan menjambaknya, ia tersenyum lebar. Ia salut dengan gadis seperti dihadapannya ini. Selama hampir dua tahun ia menjadi pembunuh bayaran, gadis seperti inilah yang membuatnya terkesan. Mereka seolah tetap meminta kehidupan walaupun ia tahu kematian akan tetap diterimanya cepat atau lambat.
“Sudahlah cepat! Kita tidak punya banyak waktu.”
Pria berbadan kekar itu mengeluarkan sebuah pisau lipat dari sakunya, ia akan memutuskan urat leher gadis yang sudah tidak berdaya ini dan langsung meminta bayaran. Sebenarnya ia bukan pria yang suka bertele-tele tapi temannya ini begitu berlainan dengannya, ia lebih suka mempermainkan korbannya.
“Maaf sayang, waktumu sudah berakhir. Seharusnya jika kau tidak melawan, setidaknya kau akan hidup selama beberapa menit kedepan.”
Pria berbadan kekar itu kini mengambil tempat, sedangkan pria yang satunya hanya menghembuskan napas kesal.
Sherlyn memejamkan matanya, air matanya semakin deras. Kini ia sudah pasrah, toh jika ia melawan ia tetap tidak bisa menghindari kematiannya, ia hanya dapat menundanya. Sherlyn memejamkan matanya. Mungkinkah ini adalah akhir hidupnya? Airmata Sherlyn semakin mengalir deras.
__ADS_1
To be continue...