
Dion dan Mia keluar dari kantor itu dengan posisi Mia masih menarik-narik lengan Dion.
"Ya ampun Mia,,, kau ini kenapa sih?" tanya Dion.
Mia membalikkan tubuhnya menatatap wajah Dion.
"Dasar otak mesum!!" ucap Mia dengan ketus.
Dion tertawa terbahak bahak mendengar ucapan Mia, bisa-bisanya Mia berfikir jika dirinya adalah laki-laki seperti itu.
"Aq suka melihat mu seperti ini, kau terlihat sangat lucu dan menggemaskan" ucap Dion sambil terus mentertawai mia.
"Ih kau ini!!!" ucap Mia sambil menjewer telinga Dion karena kelakuan Dion.
"i,,i,,i,,iya,,, ampun,,ampun ,,," teriak Dion memohon di lepaskan.
Mia pun melapaskan cengkraman tangan nya.
"Kau ini galak sekali Aku tidak bisa membayangkan bagai mana nasib Andre nanti jika kalian sudah menikah, mungkin ia akan jadi sangat kurus karna terlalu sering kau siksa" ucap Dion sambil merogoh kantong celananya mencari kunci motornya.
"Apa kau bilang?" ucap Mia.
"Aku bilang ayo kita pulang" ucap Dion beralasan.
Mia tersenyum melihat Dion yang begitu sabar menghadapinya, ia sangat bersyukur karena memiliki orang-orang yang begitu baik dan menyayanginya.
__ADS_1
Mereka tiba di rumah Mia hari sudah hampir gelap, ,,
"Mau mampir dulu" tanya Mia.
"Tidak perlu, aku harus segera pulang pasti ibu sudah menungguku sedari tadi. Kau masuklah, sepertinya mama dan papa mu sudah kembali dari luar kota" ucap Dion.
"Hmm,,, " jawab Mia sambil menganggukkan kepalanya.
"Hati-hati" ucap Mia sambil melambaikan tangannya kepada Dion.
Dion pun berlalu meninggalkan kediaman Mia.
Mia memasuki rumah Dan di sambut oleh Harun dan Silvi.
"Baru pulang sayang" ucap Silvi.
"Kenapa tidak mengabari ku jika mama dan papa pulang hari ini, aku kan bisa memasakkan sesuatu yang spesial" ucap Mia.
"Tidak perlu,,, memangnya kau bisa memasak, terakhir kali kau memasak itu sangat mengerikan" ucap Silvi mencandai Mia.
Mia tersenyum mengingat kejadian terakhir kali ia memasak. Ia mencampur semua bumbu-bumbu rempah yang ada di dapur hanya untuk memasak sebuah telur dadar.
Jiwa eksperimen nya meronta-ronta ingin mencoba dan mencampurkan segala bumbu yang ada hingga jadilah telur dadar dengan rasa yang aneh dan sungguh tidak layak disebut dengan makanan.
"Ya,,, mungkin aku memang tidak berbakat di bidang itu" ucap Mia dengan lesu.
__ADS_1
"Sudah la,, kau tak perlu melakukan itu. Yang terpenting saat ini kau belajar dengan baik itu saja sudah lebih dari cukup untuk kami" ucap Silvi menenangkan.
✏️✏️✏️
Ke esokan harinya seperti biasa Mia bersiap hendak berangkat kesekolah,,,
"Ma,, mulai hari ini akan ada yang mengantar dan menjemput ku untuk berangkat ke sekolah, jadi mama tak perlu repot-repot lagi mengantarku" ucap Mia sambil melanjutkan sarapannya.
"Andre,," jawab Silvi.
"Bukan,,, akan ada supir yang bertugas mengantar dan menjemput ku selama Andre pergi. Ia tidak ingin aku kenapa-kenapa" ucap Mia.
"Hmm,,, so sweet sekali ya pa" ucap Silvi menatap Harun.
Harun pun terbatuk-batuk karna tersedak mendengar ucapan istrinya. Entah apa maksud perkataan dan tatapan istrinya itu, yang jelas ia merasa malu dan tak nyaman jika di perlakukan seperti itu di depan anaknya.
"Ya sudah ayo kita berangkat " ucap Harun mengalihkan pembicaraan.
Mereka berangkat menuju tujuannya masing-masing.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Hai semua mari dukung author agar tetap semangat up nya ya,,,,😍😍🤩😍
Jangan lupa like dan komen yang membangun agar menjadi lebih baik lagi🤗🤗
__ADS_1
Mohon maaf jika alur cerita nya kurang nyambung atau berantakan karna ini adalah karya perdana author 🙏🙏
Happy reading 😘😘😘