Kemelut Cinta Deandra

Kemelut Cinta Deandra
KCD-10 [Buket dan perasaan Fajar]


__ADS_3

Hari-hari berlalu begitu cepat, kejadian malam kelam itu tak terulang, Andra dan Dea bahkan mencoba namun nihil tak ada hasil benda pusaka Andra tak merespon sedikit pun.


Malam ini sengaja Dea memilih lingerie tipis warna putih gading, ia berjalan mendekati sang suami yang duduk di ranjang dengan memainkan ponselnya, mungkin kah perusahaan bermasalah, karena sedari siang Andra sibuk dengan gawai tipis itu.


Sengaja Dea menerobos masuk diantara celah kedua tangan Andra, semakin naik istri CEO tampan itu berlanjut mengecup singkat bibir Andra.


"Mulai nakal ya?" senyum Andra terlihat bahagia, namun kemudian redup seketika.


"Mas, kita coba lagi ya?" Dea membelai pipi suaminya, bahkan tubuh bagian bawahnya sedikit bergerak menggesek, niat hati Dea agar suaminya mudah terangsang.


"Mas nggak yakin Sayang," bisik Andra dengan mengelus surai panjang istri cantiknya.


Dea menarik tengkuk Andra, ia labuhkan ciuman lembut pada bibir merah suaminya, terus menerus ciuman lembut itu semakin menjadi, kini tangan Andra mulai meremas pinggang ramping itu, bahkan ponsel yang dari tadi menyita perhatian kini diletakkan di nakas, beralih tangan dengan jemari kekar itu meremas pantat bulat yang menggemaskan.


"Emh..." lenguh manja mulai terdengar di sela napas Dea, terlepas dua pagutan bibir itu, kini Andra menatap dalam kedua netra yang mulai terlihat sayu menggoda.


Andra membelai wajah istrinya mulai merespon benda dibawah sana mulai mengeras dengan elusan manja dari jemari lentik Dea, baru saja Andra anak melabuhkan ciuman di leher Dea tiba-tiba...


Drrrrrrttzzzz...


...Drrrrrtttzzz......


Terhenti kegiatan panas itu, Andra melihat layar ponselnya dan kemudian menggeser tombol merah dan berhentilah dering ponsel itu.


"Kok di matikan Mas?" tanya Dea dengan bisik manjanya.


"Biar saja," sahut Andra yang segera menerkam tubuh seksi istrinya, terlentang Dea dibawah kungkungan suaminya.


"Kau cantik sekali," pujian itu membuat Dea tersipu bahkan pipinya sedikit memerah.


Perlahan Andra memangkas jarak dua wajah itu, belum sampai Andra mengecup bibir ranum Dea dering ponsel kembali mengganggu. Dan kembali Andra membaca nama Desta di sana, "Apa sih Desta ini?" gumamnya dengan menggeser tombol merah lagi.


"Mas, kok dimatiin lagi sih? Siapa tau penting," Dea bertanya dengan memiringkan tubuhnya menghadap kearah Andra.


"Dah biarkan saja Yank!" sahut Andra yang kambali memeluk tubuh istrinya, namun belum sampai Andra melakukan lebih, gawai tipis itu kembali berdering.


"Astagah!" sedikit merasa jengkel akhirnya Andra menggeser tombol hijau, dan...


📞"Halo Bos?" terdengar suara Desta dari balik sambungan telepon.


"Hem? Ada apa?" sungguh suara tak bersahabat terlontar dari mulut Andra yang mungkin sudah merasa jengkel.

__ADS_1


📞"Perusahaan mengalami masalah, tender besar incaran kita ada saingan, dan itu CEO Serena Group tidak mau mengalah kecuali bertemu dengan anda," nada panik yang Desta gunakan.


Helaan napas kasar terdengar kala Andra mengusap wajahnya, seolah frustasi Andra bahkan tak menghiraukan Dea yang masih duduk di sampingnya.


"Ada apa Mas?" tanya Dea yang mendapati raut tidak baik-baik saja pada wajah suaminya.


"Atur pertemuan dengan CEO Serena Group, besok siang!" cetus Andra sebelum ia mengakhiri panggilan itu.


"Mas, kita balik ke Jakarta?" tanya Dea dengan menepuk pelan pundak suaminya.


"Iya, maaf ya Sayang, ada tender penting yang harus Mas pertahanankan," Andra mengusap pelan pucuk kepala istri kecilnya, kemudian ia lanjut membereskan barang-barangnya.


Karena tidak membawa satupun asisten mau tak mau Dea membantu suaminya.


Terlihat Andra menghubungi seseorang, sepertinya ia mencari tiket pesawat untuk besok pagi, namun wajahnya terlihat frustasi, "Ada apa Mas?" tanya Dea.


Hanya hembusan napas kasar yang Dea dapati, "Kalo tiket untuk besok pagi nggak ada, gimana kalo kita menghubungi..."


"Diamlah dulu!" ketus Andra, Dea terdian kembali ia berusaha mengerti kondisi suaminya.


📞"Halo Bos? Bagaimana mana?" terdengar suara Desta dari seberang telepon sana.


"Jemput kami sekarang! Tidak ada tiket pesawat untuk besok!" cetus Andra.


"Kita bersiap-siap sekarang, biar nanti para pengawal saja yang membereskan semuanya!" ucap Andra, tak ada bantahan dari Dea.


tak sampai tiga jam jet pribadi milik Andra sudah tiba di landasan yang tersedia. Mereka segera kembali menuju ibu kota tercinta.


...°°°°°...


Pagi ini seperti pagi-pagi kemarin, Dea telah aktif kembali dengan kegiatan kampus juga kerja part time nya.


Mau bagaimana lagi memangnya? Suaminya terlalu sibuk untuk mengajaknya jalan-jalan atau pun sekedar bercengkerama.


Berjalan dengan penuh semangat pagi ini Dea dengan seragam susternya menuju ruangan pribadinya, Ceklek...


Tercengang wanita bersuami CEO itu, terkejut kala kedua netra nya mendapati satu ikat buket mawar merah dengan paduan bunga edelweis di sekitarnya.


"Buket siapa ini?" gumam Dea dengan mengangkat buket bunga itu.


"Dari ku yang selalu mengagumimu? Siapa?" bertanya-tanya Dea setelah ia membaca kartu yang terselip diantara para bunga.

__ADS_1


"Dari ku yang selalu mengagumimu, Suster cantik ku, partner hebat ku!" suara khas laki-laki terdengar saat kedua lengan memeluk pinggang ramping Dea.


Terkejut Dea, ia sedikit menoleh dan mendapati wajah tampan berkacamata itu tersenyum seperti biasanya, "Dokter Fajar?" gumamnya.


"Yes Baby, kamu memang selalu mengenali ku, kau suka bunganya?" Fajar membalikkan posisi Dea agar menghadap kearahnya.


"Maaf Dokter, ini tidak benar," Dea dengan buket bunga yang masih ia pegang melepas pelukan tangan Fajar di pinggangnya.


"Jangan selalu menutupi rasa sedih mu, kau butuh pelampiasan? Aku siap, kau butuh sandaran? Aku siap,"


"Maksud Dokter?" bingung Dea dengan ucapan Fajar barusan.


"Aku tau laki-laki bodoh itu sudah meninggalkan mu," cetus Fajar.


"Maksud Dokter Fajar apa sih, Dea nggak ngerti deh," semakin dibuat bingung Dea oleh Fajar.


"Kamu udah putus kan sama cowok mu?"


"Iya, terus?"


"Sudah lama aku mengagumimu, dan dengan buket mawar merah ini, terimalah cinta tulus ku, Dea Zoraya!" ucap Fajar dengan berlutut di hadapan Dea.


"Maaf Dokter, tapi Dea sudah menikah, bahkan aku sama Gara putus karena perjodohan, bukan karena apa-apa," jawaban Dea membuat Fajar tercengang, terkejut bukan main Fajar merasa malu.


"Ekhem... Ok syukurlah kalau memang begitu, aku kira kau sedang bersedih makanya aku menghadiahkan buket ini, ku pikir aku bisa menghibur mu," ucap Fajar yang kembali berdiri.


"Dan... Selamat atas pernikahan mu, siapa suami mu?" tanya Fajar dengan berusaha menutupi rasa malunya.


"Andra Bristama..."


"Loh? Pak Andra? Pasien kita yang mengidap disfungsi ereksi?" terkejut lagi Fajar kala mendengar nama suami Dea.


"Shhhhtttt!!! Dokter bisa jaga privasi orang tidak sih?" Dea berucap dengan menekan jari telunjuknya pada bibirnya sendiri.


"Oh maaf-maaf, aku hanya sedikit terkejut saja," ucap Fajar yang segera menutup mulutnya.


"Emm... ya sudah aku akan kembali ke ruangan ku, ada jadwal pasien yang akan segera berkonsultasi, kau cepat bersiaplah, nanti segera kita berkerja!" titah Fajar sebelum ia meninggalkan ruangan Dea.


"Siap Dok!" ucap Dea dengan satu tangan yang membentuk posisi hormat.


"Dokter Fajar, tunggu!" ucap Dea saat Fajar hendak keluar dari pintu.

__ADS_1


"Iya?" tanya Fajar dengan menoleh kearah Dea.


"Ekhm, terimakasih untuk bunga dan hiburannya, semoga Dokter segera menemukan pendamping yang sama baiknya dengan dokter," ucap Dea, Fajar hanya tersenyum dengan menganggukkan kepalanya...


__ADS_2