
"Bukan bulan madunya, pasal bayinya bagaimana? Mau dapat bayi merah dari mana kita?" kali ini Andra geram dengan keputusan ibundanya.
"Bagaimana kalo kita adopsi saja?"
Pembahasan pasal Momongan memang selalu menjadi momok yang mengerikan bagi keluarga yang belum dikaruniai keturunan.
Pagi ini Dea masih berkutat dengan perkakas dapur bersama beberapa pelayanannya, memang istri CEO kaya, tapi pasal makanan, Dea tidak mau lepas tanggung jawab, ya memang, ada sebagian pelayan yang membantu tapi tetap Dea otak dari sarapan pagi juga menu makan-makan selanjutnya.
Tak bersemangat seperti biasa Dea melamun kala ia memotong daun bawang, dan...
Cressss!!!
"Ah, aduh!!" keluhannya setengah berteriak, "Astaga Nyonya!" teriak Santi pelayan paling muda yang saat itu berdiri di samping Dea.
"Shhhh..." hanya mendesis menahan rasa sakit Dea menggenggam jari telunjuknya yang terluka.
Andra yang baru saja menuruni anak tangga mendengar suara gaduh dari arah dapur segera mempercepat langkah kakinya, "Ada apa ini?" teriaknya sembari mendekati sang istri tercinta.
"Nonya terkena pisau Tuan," Santi mengadu dengan sedikit menunduk sopan.
"Coba sini Mas lihat!" darah memenuhi kedua tangan Dea, entah luka goresan pisau itu sedalam apa tapi darah yang keluar sampai menetes kelantai dapur.
Andra menarik tangan Dea dan dibawanya jemari yang terluka itu untuk dibersihkan di wastafel terdekat.
Sangat telaten Andra membersihkan juga mengobati serta membalut bekas luka goresan pisau itu.
"Lain kali hati-hati! Apa sih yang kau pikirkan sampai jari mu mau kau potong?" cecar Andra, tapi Dea tak bersuara ia hanya diam dengan pandangan kosong.
Dipeluknya tubuh Dea, "Kau masih memikirkan yang semalam?" dengan membelai pucuk kepala Dea Andra bertanya.
"Dea masih memikirkan ucapan mama, kita menikah baru satu bulan lebih tapi mama udah kayak kita nikah bertahun-tahun aja, Mas ngerasa nggak sih kalo ucapan mama semalam itu kayak ada yang aneh," cetus Dea.
"Apa pun itu, siang ini kita berangkat ke Bali, maaf Mas nggak bisa ajak kamu ke luar negeri karena kamu tau sendiri pekerjaan Mas belum bisa ditinggal jauh-jauh," cetus Andra.
Dea menghala napas, "Em... Nggak papa, yang penting kita berangkat dulu saja," Dea setuju dengan usulan Andra.
Siang hari Andra dan Dea sudah sampai di bandara, tentu saja dengan diantar oleh Desta, "Masalah perusahaan, aku percayakan dulu ke kamu Des," ucap Andra.
__ADS_1
"Siap!" hanya itu yang Desta ucapkan karena ia melihat sesuatu yang aneh.
"Loh, Nyonya muda mana?" tanya Desta saat ia tak melihat Dea di samping Andra.
Sesaat sebelum Andra dan Desta berbincang pasar perusaan...
Dea berjalan dengan menggandeng tengan suaminya, namun tiba-tiba ponselnya berdering, mengerut halus kening Dea, ia melihat nomor tak dikenal menelfon dirinya.
Baru saja tombol hijau ia geser tangan kirinya diraih oleh seseorang yang tiba-tiba mendekatinya.
"Aw..." rintih Dea karena jari telunjuknya digenggam erat oleh orang tersebut.
"De, gue perlu ngomong sama lo!" ucapnya tanpa perduli kondisi jari Dea yang lukanya kembali terbuka.
"Shhh... Ga lepasin, ini sakit, tangan gue sakit Ga!" memohon Dea sembari menahan rasa sakitnya.
"Nggak! Gue nggak mau kehilangan lo, kali ini gue bakal bawa lo! Ok kemarin dokter dan sekarang pengusaha, saingan gue emang berat tapi niat gue kuat, Dea!" Gara terus berusaha menarik Dea.
"Nggak Ga, kita udah berakhir, lo sendiri yang bilang waktu itu, dan gue nggak pernah ya, anggap kata-kata putus itu sebagai mainan, kalo lo mau bermain, cari cewek lain, gue bukan bahan candaan!" cetus Dea yang dengan sekuat tenaga menarik lengan kirinya, dan...
Srat!!!
"BANGSAT!!" dengan berlari, Andra segera melayangkan bogem mentahnya kearah wajah tampan Gara.
"Mas! Stop!" Dea segera mendekati suaminya, dipegangnya pundak Andra, namun Andra tak mau ia menepis kasar tangan Dea.
"Mas udah, sebentar lagi pesawat kita take off!" masih terus menghajar Gara, Andra berucap.
"Kau masih membelanya? Lihat, bahkan dia tak berdaya di hadapanku!" cecar Andra.
"Stop Mas!" kali ini Dea menggunakan kedua tangannya dan lagi-lagi Andra menepis dan...
"Sshhh aw..." teriak Dea yang jatuh tersungkur kelantai, namun segera Desta membantunya.
"Jangan bantu aku! Lebih baik hentikan tuan mu!" titah Dea, segera Desta menahan kedua lengan Andra.
"Lepaskan aku Desta, dia berusaha membawa istri ku, dia melukai istri ku! Bajingan itu..."
__ADS_1
"Tapi istri anda butuh bantuan anda Bos!" sela Desta, tak lama kemudian security datang dan menenangkan keadaan.
"De..." lirih Gara dengan wajah yang babak belur.
"Lo yakin dengan keputusan lo?" Dea mengalihkan pandangan, enggan ia menatap mantan kekasihnya.
"Sorry Ga, kita emang harus udahan, semoga lo bisa bahagia dengan gadis lain," setelahnya Dea berjalan meninggalkan Gara yang terduduk dilantai, hancur sudah harapannya, entah mengapa penolakan beberapa waktu lalu tak sesakit hari ini, seolah hari ini Dea benar-benar lepas dari Gara, seketika kenangan canda tawa bersama membuat hati semakin perih jika di ingat. Namun apa boleh buat, takdir tak mengijinkan keduanya bersama.
...°°°°°...
Diam benar-benar diam, Andra memang mengurus luka Dea, sudah rapi berbalut perban jari telunjuk Dea, namun ia lupa membalut luka hati sang suami, bukankah berkat kejadian di bandara Andra menjadi tau jika Dea sebelumnya memiliki kekasih?
Andra bungkam, bahkan yang biasanya Andra manja, Andra curhat, Andra membahas masalah kesehatannya, Andra menunjukkan kemajuan indra perasa alat vitalnya.
Tidak untuk saat ini, kini Andra diam ia hanya makan, tidur dan melakukan aktivitas sesuai dengan kegiatan manusia hidup pada umumnya.
"Mas?" sengaja Dea mendekati suaminya, malam ini malam ketiga keduanya berada di pulau dewata, yang katanya bulan madu kini malah terasa seperti bulan tanggal satu kata orang jawa, yah... tipis sangat tipis keduanya tak ada erat-eratnya.
"Hem," cuek juga dingin yang Dea rasakan dari suami tampannya, sengaja Dea mengenakan lingerie tipis berwarna merah dengan paduan renda hitam di beberapa sisi.
"Sudah tiga malam kita di sini, Mas mau diam saja?" tangan nakal Dea mulai menelusup masuk ke dalam sela-sela kancing baju Andra.
Bukannya tergoda, Andra malah teringat tentang Gara yang sepertinya memiliki hubungan begitu dekat dengan Dea sebelum mereka menikah.
"Kau juga melakukan ini bersamanya?" tersentak Dea, kembali ia menarik tangan nakalnya.
"Maksud Mas?"
"Kau juga menyentuhnya seperti ini? Hem? Kau juga bermain liar bersamanya?" Andra geram ia mencengkeram kedua tangan Dea dan membalikkan posisi hingga...
Brugh...
Terkejut Dea sampai-sampai ia terdiam melihat keagresifan suaminya, saat ini Andra mengungkung tubuhnya sangat terasa dibawah sana ada yang keras, bercampur aduk Dea bingung harus bagaimana menyikapi suaminya saat ini.
Ingin rasanya ia membalas namun ia tau Andra saat ini tengah marah, "Mas, bukan begini caranya!"
"Ini cara ku! Kau mau menunjukkan bagaimana caramu atau cara dia bermain? Kalian pernah bermain? Hem? Berarti akan mudah bagiku memasuki mu bukan?" mengetes air mata Dea saat dengan kasar Andra merobek gaun tidurnya, bahkan Andra menjamah tubuh sensitif itu dengan kasar, sesekali suara desah terdengar namun acap kali Dea berteriak kesakitan juga.
__ADS_1
Isak tangis terdengar tak henti-hentinya, tubuh Dea rasanya remuk redam, ia meringkuk dengan memeluk selimut yang menutupi tubuh polosnya, "Maaf...