Kemelut Cinta Deandra

Kemelut Cinta Deandra
KCP-14 [Nge-Drop]


__ADS_3

Dinginnya udara pagi tak berpengaruh untuk sepasang kekasih yang tengah memadu cinta di dalam sana, bahkan embun pagi sudah terlihat bak berlian terkena semburat keemasan sinar sang surya, kesejukannya tak menghentikan kegiatan panas Dea dan Andra.


Berpindah-pindah tempat layaknya pasangan muda pada umumnya, dari yang di atas ranjang, berpindah ke meja rias, ambang jendela, sofa, bahkan kamar mandi sepertinya akan menjadi tempat terakhir untuk keduanya saling memberikan kenikmatan.


Dibawah guyuran air shower keduanya terus berpacu, kini posisi Dea menghadap ke dinding dengan Andra yang terus bergerak di belakangnya, lenguh desah terus bergema di dalam ruangan yang berisi 85% nya air itu, setiap peluh tak terasa mengalir walau napas terus saja memburu seolah terus menginginkan yang lebih, dinginnya angin pagi bertambah dengan hujaman air shower tak dapat mengalahkan panasnya api gairah yang sudah membara.


Andra memeluk erat tubuh Dea dari belakang, urat-urat nya mulai menegang bersamaan dengan itu diremasnya dua gundukan yang sedari tadi terus berayun setiap kali goncangan, satu kali hentakan hingga terbenam begitu dalam dibersamai dengan teriakan manja keduanya.


"Haahh... Haaahh... Haaaahhh..." napas keduanya saling bersautan.


Andra meraih dagu Dea agar istrinya menoleh kearahnya, dan kembali ia memagut bibir seksi istrinya itu.


"Mas... emp..." kewalahan Dea kali ini, ia berusaha melepaskan diri dari suaminya, "Kenapa?" bisik Andra yang baru saja melepaskan ciumannya.


"Kaki ku gemetar," lirih Dea dengan memegangi lututnya.


"Kita mandi setelah ini sarapan ya," ucap Andra, Dea hanya mengangguk setuju.


Pagi itu semua terasa manis, bahkan pahitnya sayur pare saja tak ada apa-apanya dengan perlakuan Andra kepada istrinya, setelah malam panjang yang mereka lalui dengan pacuan gairah panas, kini Andra berubah 180%, dari dirinya yang jarang di rumah, kini Andra lebih sering mengerjakan pekerjaannya dari rumah, apa lagi jika Dea tidak ada kelas, dari Andra yang posesif kini Andra mulai percaya dengan istrinya ia memperbolehkan Dea bekerja part time jika memang hari itu Andra sedang ada meeting penting yang harus ia hadiri.


Tapi...


Ya begitu, setelah berpisah kurang lebih sepuluh jam, sudah pasti Andra selalu bermanja-manja dengan Dea dan berakhir dengan permainan panas.


Seperti sore ini, Dea tengah bersantai di pinggiran kolam renang, ia baru saja pulang dari kampus, tanpa aba-aba dan dengan tiba-tiba...


BYURRRR!!!


Tubuh seksi yang hanya mengenakkan mini dress berwarna putih itu tercebur kedalam kolam.


Segera mengusap wajah yang dihiasi bulir-bulir air Dea menatap sosok yang berdiri tersenyum di pinggiran kolam.


"Mas! Untung Dea bisa renang! Kalo Dea tenggelam gimana coba?" gerutunya dengan tangan yang sesekali mengusap wajah cantiknya.


"Kita belum pernah mencoba di sini Yank," ucap Andra dengan melepas kancing kemeja putihnya.


Melotot Dea saat ia melihat suaminya mulai mengotak-atik kepala gesper yang sudah pasti itu akan dilepaskan nya.


"Mas! Jangan aneh-aneh deh, pinggang Dea masih pegel gara-gara semalam," Andra tak memperdulikan rengekan Dea, ia kini sudah bertelanjang dada dengan celana yang masih melekat langsung menceburkan tubuhnya kedalam kolam.


Andra berenang mendekati Dea sedangkan Dea berusaha menjauh, terjadi kejar mengejar di dalam kolam, hingga sesekali kepala Andra muncul kepermukaan.


"Ayolah Yank, Mas janji cuma sebentar, sekali aja, kayaknya enak di sini," ucap Andra yang melihat istrinya masih terus menjauh.


"Nggak! Nggak! Nggak! Ini tidak bisa dipercaya!" menggeleng kuat Dea menyahut.


"Tapi kamu suka, kan?" mendengar itu Dea melotot, ia melihat ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada yang mendengar perbincangan keduanya.


"Mas?" Dea memanggil Andra, pasalnya setelah ia menoleh ke kanan dan ke kiri, suaminya tak lagi nampak.


"Mas Andra! Jangan becanda deh!" tetap waspada Dea berusaha meraih tepi kolam. Berusaha tubuh seksi itu naik ke permukaan namun...


BYURRRR!!!


Dea kembali tercebur karena Andra menarik kaki Dea, hingga istri CEO tampan itu tenggelam, didalam air Dea berusaha naik kepermukaan, namun Andra memeluknya, sebelah tangan Andra menahan pinggang yang mulai berisi dan tangan lainnya menarik tengkuk Dea.


Lembut dan penuh penghayatan Andra mencium bibir yang akhir-akhir ini menjadi candunya itu.


Terbawa suasana, Dea mengalungkan kedua tangannya di leher Andra, bahkan kedua kakinya melingkar di pinggang kekar suami tampannya.

__ADS_1


Mulai kehabisan napas keduanya, Andra segera membawa Dea naik ke permukaan, melepas sejenak tautan bibir keduanya saling menyatukan kening, napas memburu menandakan api gairah mulai tersulut.


Fokus Andra masih pada bibir seksi itu, perlahan Andra hendak mendekatkan bibirnya dengan bibir merah Dea, namun...


"Hacim!!!"


Seperti jaelangkung bersin itu datang tak di undang, sehingga merusak momen yang mulai memanas itu.


"Baby sakit?" bukan marah Andra malah mengkhawatirkan kondisi Dea.


Menggeleng pelan Dea mengeratkan pelukannya, "Sedikit tidak enak badan saja," ucapnya.


Segera Andra membawa Dea keluar dari dalam kolam, keduanya kini sudah memakai handuk yang tersedia.


Sungguh perubahan drastis raut wajah Dea yang tadinya terlihat bersemu merah kini bibir seksi itu mulai membiru, permukaan kulitnya pun semakin mendingin dengan kening yang sedikit panas.


"Kita ke kamar!" ajak Andra yang segera menggendong istrinya, terlihat raut khawatir menghiasi wajah tampan CEO Brista Group itu.


"Mas, aku nggak papa!" ucap Dea, namun Andra tak menghiraukan nya, terus saja langkah besar itu terayun menuju kamar.


"Gantilah baju mu! Aku keluar sebentar!" ucap Andra dengan meraih T-shirt untuk dikenakannya kemudian segera ia menghilang dibalik pintu keluar.


Dea sudah mengenakkan baju gantinya, kini ia mengenakan stelan piyama panjang, entah mengapa Dea merasakan hawa dingin yang semakin menusuk tulang belulangnya.


Sudah sekitar setengah jam suaminya tak muncul-muncul lagi, Dea yang meringkuk di balik selimut tebal di atas ranjang mulai gelisah, tapi masih enggan tubuh nya untuk meninggalkan selimut hangatnya.


"Di dalam sana,"


"Apa sebelumnya istri mu flu?"


"Tidak, dia baik-baik saja, hanya tiba-tiba dia bersin dan suhu tubuhnya mulai naik,"


Seorang perempuan?


Wanita mana yang suaminya bawa malam-malam begini?


Bahkan terdengar Andra mengatakan kalau kondisi Dea tidak baik-baik saja, apa Andra akan mencari wanita lain untuk memuaskan hasratnya? Bukankah tadi Andra sangat bernafsu namun tiba-tiba Dea bersin.


Sungguh pikiran Dea melayang kemana-mana, hingga menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang membuat sesak otak kecilnya.


CEKLEK!!!


Pintu terbuka, dan bodohnya Dea malam berpura-pura tidur, ia memejamkan matanya, "Kita lihat siapa yang dibawanya, dan..." batin Dea terhenti kala Andra menyentuh keningnya.


"Suhu tubuhnya semakin naik Wi," terdengar suara Andra bernada khawatir.


"Biar aku periksa terlebih dahulu," ucap perempuan yang saat ini mendekati Dea.


"Periksa? Tunggu! Jadi Mas Andra panggil dokter ke rumah? Astaga Dea, lo OVT banget sih sama suami lo," batin Dea dengan mulai menggeliatkan tubuhnya.


"Engh... Mas?" actingnya, supaya ia dikira baru terbangun dari tidur.


"Iya Sayang, Mas di sini," ucap Andra dengan duduk di pinggiran ranjang, sedang kedua tangannya menggenggam sebelah tangan Dea.


"Mas, dia..." Dea beralih menatap gadis berjubah putih yang berdiri di belakang Andra.


"Dia dokter Dewi, tadi Mas khawatir dan memanggilnya kemari," Dea tersenyum tipis setelah Andra mengenalkan gadis yang bernama Dewi itu.


"Hai, aku Dewi, dulu teman kuliah Andra, dan sekarang jadi dokter keluarganya," tersenyum ramah Dewi memperkenalkan statusnya.

__ADS_1


Dea hanya tersenyum, tapi senyum itu terlihat aneh, "Dokter ya dokter aja sih, kenapa harus pake temen kuliah segala," batin Dea dengan terus memasang senyum aneh itu.


"Dokter keluarga apanya? Kemarin aku kecelakaan, bukan kamu yang tangani," cetus Andra yang berusaha mencairkan suasana, karena ia melihat pemandangan aneh di wajah istrinya.


"Ya maaf, pas kamu masuk UGD pas bukan jadwal aku, juga bukan dimana rumah sakit aku bekerja," cetus Dewi enteng.


"Hehe... Iya juga sih," Andra menggaruk tengkuknya, merasa salah merangkai kata-kata.


"Apa dia bilang? Jadi kalo dibawa ke RS dimana dia bekerja, Mas Andra pengen dirawat sama dia?" semakin aneh saja raut wajah Dea, ditambah dengan lirikan tak suka kearah suaminya.


"Ish, suami kamu ini, lama-lama bikin emosi jiwa tau," ucap Dewi dengan berjalan mendekati Dea, lagi-lagi hanya senyum tipis yang Dea perlihatkan dan semakin terlihat aneh saja wajah istri Andra itu.


"Awas minggir! Aku mau memeriksa kondisi istri mu dulu!" ucap Dewi dengan sengaja sedikit mendorong bahu Andra.


"Sabar bu Dokter!" ucap Andra yang segera beralih dari tempatnya.


Selesai memeriksa kondisi tubuh Dea, Dewi segera pamit, ia di antar Andra keluar dari ruangan itu.


"Segera sembuh Dea cantik, kalo Andra bikin pusing, jangan kasih dia jatah, ok!" goda Dewi dengan senyum ramah kepada Dea kemudian lirikan tajam kearah Andra.


"Iya Dok," sahut Dea singkat, sungguh ia tak berminat untuk bersenda gurau dengan gadis yang bergelar dokter keluarga Brista itu.


"Enak aja! Kamu jangan ngajarin istri ku yang begituan ya! Nanti ku potong waktu kencan mu, baru tau rasa kamu!" ucap Andra dengan menyentil kening Dewi.


"Heh! Main potong waktu kencan lagi! Jangan dong! Ntar kalo aku kangen gimana!" ucap Dewi dengan wajah menghiba.


"Bodo amat! Sudah sana pulang!" Andra segera mendorong tubuh Dewi agar segera keluar dari dalam kamarnya.


"Kencan? Apa lagi ini? Aku belum tuli, kan?" batin Dea dengan terus menatap dua insan yang telah menghilang dibalik pintu kamarnya.


"Lihat saja mereka! Sudah seperti sepasang kekasih saja!" gumam Dea yang segera membenamkan tubuhnya kedalam selimut.


.


.


.


.


Malam berlalu, kini pagi hari mulai menyapa, sang mentari sudah siap dengan tugasnya, pagi sejuk dengan sinar hangat sang mentari di sambut dengan kepanikan diraut wajah Andra, pasalnya sejak subuh tadi istrinya tak henti-hentinya mengeluarkan isi dalam perutnya.


Dea muntah-muntah sejak subuh menjelang, "Sayang, minum dulu," lembut Andra mengurus istrinya, diusapnya lembut tengkuk Dea.


"Hemp... Huegh... Huegh... Uhuk-uhuk!!!" lemas tubuh Dea, bahkan berdiri saja Andra yang menopangnya.


"Mas," lirihnya, "Iya sayang," sahut Andra dengan mengelap dagu Dea menggunakan tisu yang tersedia.


"Kalo Dea mati, Mas bakal cepet kawin lagi nggak?" terkejut Andra mendengar pertanyaan itu hingga ia terdiam cukup lama, dan kediaman Andra membuat Dea semakin sebal saja.


"Mas, antar Dea ke rumah mama, Dea mau tinggal di sana saja!" lirihnya.


"Kondisi kamu sedang drop Sayang, nanti ya, biar sembuh dulu, baru nanti kita ke rumah mama," bujuk Andra.


"Nggak! Dea mau sekarang, Dea mau mama!" ucapnya merengek.


"Kalo panggil mama ke sini saja gimana?" ucap Andra.


Mengerucut bibir yang sedikit memucat itu, "Terserah!" sudah malas Dea berdebat, hati dan pikirannya lelah dengan semua terkaan-terkaan yang ada...

__ADS_1


*Yuhu masih ada kah kalian? Komentar dong biar othor tau, kalo kalian masih bertahan...


__ADS_2