
Rencana memang bisa manusia tata, tapi kalau takdir telah berkata kita bisa apa memangnya?
Seperti pagi ini, dekorasi pernikahan dadakan sudah tertata rapi, bahkan nama inisial pengantin sudah terpasang rapi pada kain backdrop yang berwarna silver.
Waktu pengucapan ijab qobul telah tiba, Andra tampan dengan stelan jas hitam lengkap dengan peci warna senada yang melekat di atas kepalanya.
Diatur oleh beberapa orang berpengalaman, Andra duduk di depan seorang penghulu, di tengah-tengah mereka ada meja kecil yang berwarna putih dan ada sedikit ukiran berwarna gold.
"Nak Andra sudah siap?" tanya pak Penghulu, sedang Andra dengan pasrah dan raut wajah yang tak senang hanya menganggukkan kepala.
Acara pengucapan ijab qobul pun dimulai, dari dalam sebuah ruangan, seorang gadis yang sudah cantik nan rapi dengan kebaya putihnya mendengar samar suara yang menyebut namanya...
"Saya terima nikah dan kawinnya, Dea Zoraya binti Zain Julio Zora..."
Tak sanggup Dea mendengar ikrar yang terucap, gadis itu menutup kedua telinganya kuat-kuat, bahkan kedua matanya terpejam.
Seperti tak percaya gadis itu kini telah sah menjadi seorang istri dari laki-laki yang bahkan ia tak tau bagaimana bentuknya.
"Carikan aku kain tile!" titahnya kepada seorang pelayan.
"Tapi untuk apa Nona?" bukan pelayan yang bertanya namun seorang MUA yang sudah bekerja keras merias wajah ayu itu menjadi semakin cantik mempesona.
"Aku ingin menutupi wajah ku, aku tak mau mama sama papa melihat air mata ku," cetusnya.
"Tapi foundation saya aman Nona, tidak longsor,"
"Kau tidak mengerti, diam lah!" ketus Dea berucap.
"SAH?"
"SAAAAAAAAHHH!!!"
Begitu ramai suara SAH diucapkan oleh tamu undangan yang menyaksikan, "Panggilkan mempelai wanitanya!"
"Sudah siap Pak Penghulu," teriak seseorang MUA dari lantai atas, sontak semua mata tertuju pada sumber suara.
Tak terkecuali Andra, ia seperti menyatukan teka-teki yang ada didalam otaknya, tadi nama yang ia baca, nama Dea tak asing menurutnya, lalu saat ini, postur tubuh berbalut kebaya putih yang tengah menapaki anak tangga itu, sungguh tak asing, seperti...
"Bos ingat suster bohay yang di RS nggak?" di tengah-tengah lamunan Andra suara bisikan Desta semakin menyakinkan Andra.
__ADS_1
"Kau berpikir, wanita itu suster Dea?" balik berbisik Andra menanggapi ucapan Desta.
"Ya saat saya melihat cara dia berjalan, mirip sih," cetus Desta.
Terhenti acara bisik-bisik antara bos dan sekretaris nya, karena saat ini mempelai wanita yang tengah menjadi pusat perhatian itu sudah duduk di sisi Andra.
Seolah penasaran, Andra terpaku dengan istrinya yang baru beberapa menit lalu SAH dipinangnya.
Kain tile halus itu sempurna menutupi wajah cantiknya, Andra perlahan meraih kain tile putih itu, toh bagaimana pun dia sudah sah untuk melakukannya.
Berdebar dada keduanya kala Andra perlahan membuka kain yang menutupi wajah mempelai wanitanya, terbuka sempurna, kini wajah cantik itu terlihat jelas di mata Andra...
"Dea?" terkejut bukan main, bahagia rasanya, ternyata gadis yang dijodohkan dengan dirinya adalah gadis yang selama ini di incarnya.
Mendengar namanya disebut, Dea mengangkat pandangannya, yang semula ia melihat bawah kini Dea menatap wajah tampan yang ada dihadapannya.
"Pak Andra?" tak sadar Dea mengucapkan nama Andra, senyum bahagia terlihat di wajah tampan itu, namun dibalas dengan senyum kecut oleh Dea Zoraya, namun segera ia memalingkan wajahnya.
"Gila! Gue nikah sama laki-laki disfungsi ereksi, yang benar saja?!" batin Dea dengan mempertahankan ekspresi senyum terpaksanya.
Kedua mempelai kini saling berjabatan tangan, dengan nurut Dea mencium punggung tangan Andra, bahkan Andra balas mencium kening Dea.
Selesai acara Andra dan Dea duduk di sofa, dekat kolam renang, diam keduanya tak ada suara sedikitpun, bahkan Dea terlihat sibuk dengan ponselnya.
"Hah? Nggak," singkat dan terlihat acuh Dea saat menjawab.
"Kau sudah makan? Kita makan dulu," sekali lagi Andra berbasa-basi menawarkan makanan.
Dea sekilas menatap wajah suaminya, tampan dan tak kurang sedikitpun, tapi sayang dia cacat, begitulah isi dalam otak Dea.
Dari kejauhan Dea melihat mama Kaira mengawasinya, "Em... Boleh," tersenyum Dea, bahkan ia memeluk lengan Andra.
Berdebar lagi dada Andra, sudah lama ia tak merasakan getaran ini, bahkan saat bersama Sonya ia tak sedikitpun merasakan jantungnya deg-degan seperti musik DJ.
"Em... kamu tunggu di sini, aku ambilkan makna dulu ya?" untuk menetralisir rasa gugupnya, Andra meninggalkan Dea dengan alasan mengambil makanan, namun istri cantiknya itu hanya tersenyum manis dan mengangguk.
Andra segera berjalan menuju meja yang tersaji beberapa makanan, "Ekhem... Bos... Cie-cie yang lagi bahagia," Desta berdiri di samping Andra, sengaja ia menggoda bosnya.
"Apa? Ngiri? Gih buruan nikah sama Ayank!" cetus Andra.
__ADS_1
"Hah? Apa sih? Nanti kalo Desta nikah, Desta pastikan..."
"Kamu gagal malam pertama!" sela Andra setelahnya ia ngeluyur dengan tangan yang membawa nampan yang berisi makanan.
"Astaga Do'a nya," Desta menepuk keningnya dengan melihat punggung si Bos semakin menjauh.
Drrrtttzzz...
...Drrrtttzzz......
^^^Drrrtttzzz...^^^
Getar ponsel Dea menandakan ada panggilan masuk, gadis itu melihat layar ponselnya, dan...
"Gara?" terbuka lebar kedua matanya kala melihat tulisan dilayar ponselnya.
Melihat kanan dan kiri, Dea memastikan tidak ada siapa pun di sampingnya, barulah jemarinya menggeser tombol hijau yang tertera dilayar ponselnya.
"Halo?"
📞"De! Bisa ketemu sekarang!" terdengar nada yang penuh amarah dari balik sambungan telepon itu.
"Nggak bisa gue sibuk!" ketus Dea berucap.
📞"Sibuk apa? Sibuk persiapan malam pertama sama laki lo?!" terdengar nada cibiran dari suara Gara.
"Bukan urusan lo! Kan lo sendiri yang bilang kalo kita udah putus, lo lupa?!"
📞"Ya ampun Dea, gue bercanda kali, sorry deh gue waktu itu emosi, ya elo sih milih pulang sama tu dokter dari pada gue,"
"Ya kan gue udah bilang kalo ada urusan!"
📞"De, gue minta maaf, gue nggak bisa tidur berhari-hari loh setelah hari itu, ntar kalo lo bisa keluar, hubungi gue ya!"
"Mau apa sih!" tak mendapatkan jawaban dari Gara, sambungan telepon itu sudah terputus, Dea tak lagi terkejut, Gara memang begitu perangai nya, sekali ada kemauan harus dituruti dan jika Dea tidak menurutinya sudah pasti Gara marah, hubungan toxic kedua remaja itu sudah berlangsung selama satu tahun lebih.
"Siapa?" terkejut Dea saat suara Andra tiba-tiba bertanya, "Hah?" Dea menatap suami tampannya yang masih berdiri dengan nampan yang berisi makanan.
"Aku tanya siapa yang telfon, kok kayaknya kamu tertekan gitu?" bernada santai Andra bertanya, perlahan ia duduk di samping Dea.
__ADS_1
"Bukan siapa-siapa," sahut Dea acuh.
"Oh berati itu siapa-siapa, atau mungkin itu pacar mu?...