Kemelut Cinta Deandra

Kemelut Cinta Deandra
KCD-11 [Campur Aduk]


__ADS_3

Andra yang berada ditengah perjalanan menuju kantor tiba-tiba berpikir untuk mengajak istrinya makan siang, menyuruh Desta agar segera memutar balik arah mobil, Andra kembali menuju rumah sakit dimana istrinya kerja part time.


Baru saja Andra turun dari mobil ia dikejutkan oleh sosok Sonya yang keluar dari rumah sakit, "Andra? Kamu... ke rumah sakit ngapain?" tanya Sonya dengan lagak yang tidak tau apa-apa.


"Bukan urusan mu!" ketus Andra ia segera melewati sosok seksi mantan kekasihnya itu, namun tak tinggal diam Sonya terus saja membuntuti CEO Bristama itu.


"Yes Baby, kamu memang selalu mengenali ku, kau suka bunganya?"


Tepat di depan pintu masuk sebuah ruangan, Andra mendengar suara laki-laki yang begitu dikenalinya.


Tersenyum CEO tampan itu, "Ternyata Dokter Fajar bisa romantis juga," gumamnya dengan terus melangkah mendekati ruangan yang akan ditujunya, namun berdebar hati Andra saat ia mengingat ruangan siapa yang kini menjadi sumber suara yang dia kata romantis barusan.


"Ini kan ruangan Dea, buat apa Dokter Fajar kencan di ruangan istri ku?" gumamnya. Bergegas langkah panjang Andra ayun untuk lebih dekat ke ambang pintu namun...


"Tunggu Ndra! Jangan gegabah, kau bisa melihatnya lebih dulu dari celah pintu yang sedikit terbuka ini," ucap Sonya yang menahan pundak Andra.


"Kau!"


"Jangan marah dulu, kau pikir aku ikhlas kau disakiti oleh anak bau kencur itu?! Tidak Ndra!" jelas Sonya, entah mengapa Andra menurut ia berdiam diri di samping pintu dan dari celah yang sedikit terbuka itu jelas kedua tangan Fajar dengan sangat romantis memeluk pinggang ramping istrinya.


Mengepal kedua tangan Andra seolah ia menahan rasa amarah yang siap membuncah.


"Kau lihat, kelakuan dia dibelakang mu, aku beberapa kali cek up ke rumah sakit ini Ndra, sering aku melihat suster itu berdua dengan dokter itu," cecar Sonya.


"Cukup Sonya! Aku nggak butuh penjelasan dari mu!" Andra segera berbalik dan meninggalkan rumah sakit, kembali kedalam mobil Andra dengan wajah yang memerah menahan marah.


"Sudah selesai Bos?" tanya Desta yang masih stay duduk di kursi kemudi, mengerut kedua alis Desta kala ia melihat raut wajah Bos tampannya yang tidak terlihat baik-baik saja.


"Kenapa lagi ini? Perasaan setelah menikah dengan Nyonya muda Bos Andra sering marah-marah tidak jelas, udah kayak anak ABG yang lagi cemburu aja," batin Desta dengan melihat Bos nya dari kaca spion.


"Masih menunggu apa lagi?! Cepat jalan!" titah Andra dengan nada ketus, "I... iya Bos," patuh Desta segera menginjak pedal gas dan mobil itu segera melaju menuju kantor perusahaan.


Sementara mobil Andra semakin menjauh dari rumah sakit, senyum Sonya semakin merekah, sengaja dia keluar akhiran karena ia mendapatkan sesuatu yang akan membuatnya beruntung, dilihatnya layar ponsel Sonya sebelum ia kembali menyimpan gawai canggih yang dapat diandalkan itu.


"Akhirnya gue mendapatkan celah itu, heh... mau merebut Andra dari ku? Mimpi saja!" gumamnya dengan melirik ke arah bangunan medis itu.


Di kantor Andra terus saja uring-uringan, bahkan meeting hari ini yang membahas tentang kelanjutan tender besar yang sukses didapatkannya tempo hari, terus saja membuatnya marah, bahkan tak banyak staf kantor yang lolos dari omelan-omelan pedas CEO tampan itu.


Sengaja Andra pulang awal, yang biasanya ia semangat lembur untuk segera menyelesaikan pekerjaannya, beda untuk hari ini, ia ingin segera pulang saja, rasanya semangat kerja nya menurun.


Baru jam empat sore, bahkan sunset belum terlihat jingga tapi Andra sudah tiba di kediamannya, sudah bersantai di dekat kolam renang pribadinya, dengan kopi hitam dan seputung rokok yang menyala di salah satu ujungnya.

__ADS_1


"Mbok! Mbok!" teriak Andra dengan posisi masih duduk di tempatnya.


"Iya Tuan?" terdengar suara yang berbeda dengan suara yang dipanggilnya.


"Aku memanggil Simbok, bukan kamu!" ketus Andra karena bukan Mbok Diah namun Santi anak perempuannya yang mendekat.


"Maaf simbok sedang tidak enak badan Tuan, jadi saya yang menggantikannya," masih menunduk sopan Santi berucap.


"Nyonya mu belum pulang?" tanya Andra tanpa memandang kearah Santi.


"Belum Tuan, sepertinya Nyonya anak pulang larut karena begitu kebiasaannya setiap malam selasa.


Hanya dengusan napas kasar yang Santi dapati, "Kalau sudah tidak ada yang Tuan perlukan, saya permisi Tuan," Andra hanya mengibas tangan kanannya, dan Santi segera undur diri.


...°°°°°...


^^^Di rumah sakit... ^^^


Baru saja Dea keluar dari ruangannya, bahkan bajunya sudah berganti mengenakkan baju kesehariannya, jeans biru dengan T-shirt pres body berwarna hitam.


"Dea, belum pulang?" tanya Fajar yang saat itu melewati lorong yang sama dengan Dea, segera Dea mengenakan hoodie over size nya untuk menutupi lekuk tubuhnya yang terlihat begitu jelas.


"Eh Dokter Fajar, iya ini baru pulang soalnya tadi suster Maya bilang datang terlambat dan saya disuruh untuk menggantikan nya, hehe..." tawa canggung itu Dea gunakan untuk menutup perbincangannya.


"Hahaha... yang CEO kan suami saya Dok, bukan saya, bagaimana pun saya harus siap dengan kemungkinan terburuk yang akan menimpa saya nanti, kata orang roda kehidupan terus berputar, nggak mungkin kan saya hidup enak terus? hehe... toh saya mengambil jurusan kesehatan jadi biar ada sedikit pembelajaran lah kalo nanti saya sudah lulus," cetus Dea, dan itu semakin membuat Fajar merasa salah dalam bertanya.


"Em... Soal tadi pagi, saya minta maaf ya Dea, jujur saya nggak ada maksud apa-apa, hanya saya tidak mau partner kerja saya jadi galau dan salah meracik obat," cetus Fajar dengan menggaruk tengkuknya.


"Ah sudahlah Dok, tidak apa," sahut Dea.


"Em... kalo begitu, sebagai tanda permintaan maaf boleh saya antar kamu pulang?" tanya Fajar.


"Hah?"


"Pulang ke rumah suami mu, dulu saya mengantar mu pulang ke rumah orang tua mu, kan?" jelas Fajar.


"Em... Ok deh boleh, asal tidak merepotkan Dokter saja," sahut Dea.


Keduanya kini berjalan menuju basement, dan segera melaju menuju kediaman Dea dan suaminya.


Sekitar lima jam Andra menunggu kedatangan istrinya, dan akhirnya terdengar deru mesin mobil yang berhenti di depan rumahnya.

__ADS_1


Dari balkon Andra melihat sosok seksi istrinya keluar dari dalam mobil itu, dan ya... sosok Fajar juga terlihat dari balik kaca mobil yang sengaja di turunkannya, semakin naik turun dada Andra melihat semua itu.


"Dokter tidak mau mampir dulu? Suami saya pasti suka loh ada Dokter yang menanganinya mau mampir," terdengar basa-basi itu membuat Andra merasa panas telinga.


terlihat juga Dea tersenyum dan melambaikan tangannya saat mobil Fajar melaju meninggalkan gerbang besar kediaman Andra.


Dea berjalan memasuki rumah besar itu, baru saja ia memasuki pintu utama ia mendapati Santi berdiri menghadangnya, "Nyonya," lirihnya.


"Iya Santi ada apa?" tanya Dea dengan melepas hoodie over size nya.


"Nyonya dari mana saja, Tuan sepertinya marah besar," ucap Santi dengan lirih, bahkan ia menundukkan kepala.


"Apa? Tuan marah?" terhenti langkah kaki Dea, ia melihat wajah Santi yang sepertinya sangat serius.


"Iya Nyonya, Tuan sepertinya sedang ada masalah," jelas gadis itu dengan menunduk.


"Ok baiklah, biar aku yang urus, kamu cepat istirahat saja!" ucap Dea dengan menepuk pundak Santi.


"Hati-hati ya Nyah!" ucap Santi sebelum Dea menaiki anak tangga.


Tersenyum Dea, ia mengangguk memastikan kepada Santi kalau dirinya akan baik-baik saja, dengan kaki yang terus melangkah Dea bergumam, "Santi ada-ada aja deh, pake nyuruh hati-hati segala, emangnya gue bakal diterkam serigala apa ya?"


Ceklek!!!


Dea membuka pintu kamarnya dan...


Set...


...Brugh... ...


Terkejut Dea karena memang secepat itu Andra menerkam tubuhnya, bahkan kini Dea sudah terlentang di atas sofa panjang yang teronggok di samping pintu kamar.


"Mas?" sedikit terkejut namun Dea segera tersenyum, ia lega itu adalah suaminya.


"Berapa laki-laki yang dekat dengan mu?" pertanyaan dengan nada tak bersahabat itu membuat Dea terdiam.


"Kenapa terdiam? Banyak ya? Selain pecundang di bandara itu, dan dokter psikolog itu ada siapa lagi? Sepopuler itukah istri ku, atau memang sangat murah?"


"Mas, aku bisa jelaskan semuanya!" ucap Dea dengan berusaha tenang.


"Jelaskan apa? Jelaskan kalo suamimu ini tidak bisa memuaskan mu? Dan kau mencari kepuasan diluar sana?" ucap Andra yang segera menahan kedua tangan Dea, lagi dan lagi Dea selalu menitikkan air mata atas kelakuan kasar suaminya.

__ADS_1


Ada rasa sakit yang ia tahan namun ada rasa bahagia yang sulit terungkap, simpati Dea berubah menjadi rasa peduli yang terus tumbuh menjadi rasa sayang, bahkan kasarnya Andra malam ini masih membuat Dea mengambil sisi baiknya, bercampur aduk memang rasa yang Dea rasakan, ia memilih untuk menjelaskan saat suaminya mulai tenang esok hari, biarlah malam ini ia sendiri yang menahan rasa sakit karena hujaman kasar yang Andra lakukan.


Perih dan pedih yang Dea tahan, ia selalu berharap agar suaminya dapat mengerti dengan penjelasannya esok hari...


__ADS_2