Kemelut Cinta Deandra

Kemelut Cinta Deandra
KCD-16 [Undangan Syukuran]


__ADS_3

"Kamu hamil sayang," ucap Andra dengan tangan yang merentang ingin memeluk sang istri tapi...


"Stop! Mas belum mandi ya? Bau!" segera tangan Dea menahan dada Andra yang siap mendekap istri cantiknya, hingga membuat suasana kian menjadi canggung.


Mengerut kecewa wajah Andra, tapi tak apa kabar bahagia kehamilan Dea pun sudah mengobati kekecewaannya, Dea pun merasa perih hatinya saat ia melihat raut kecewa itu, tapi bagaimanapun rasa cemburu nya masih menguasai hatinya sampai...


"Loh Yank? Kamu di sini?" suara Desta memecahkan suasana canggung itu, semua mata tertuju pada laki-laki tampan yang baru saja masuk kedalam ruangan itu.


"Oh..." setelah kata Oh yang terucap seketika Dewi terdiam sejenak, mungkin kalo kata ABG jaman now otaknya ngelag sejenak, mungkin saja bukan cuma Dewi tapi juga Dea.


Bumil muda itu menyerap kata 'Yank' yang di ucapkan Desta barusan, "Sudah selesai pekerjaan mu?" tanya Andra.


Mantap Desta mengangguk, "Sudah Bos," girang Dewi mendengar berita selesai itu, "Berati kita bisa jalan dong?" dokter muda itu merangkul tangan kanan Desta dengan gaya manjanya.


"Iya tentu bisa dong, apa sih yang nggak buat ayank," sahut Desta dengan mengelus kepala Dewi.


"Bos, kita pamit ya?" ucap Desta kemudian, Andra hanya mengangguk setuju, tak lupa ia mengucapkan terimakasih kepada mereka.


.


.


.


.


Malam menjelang, kini Dea sudah duduk di atas ranjangnya, ia sengaja menunggu sang suami yang sejak sore tadi sibuk di ruang kerjanya, ya... Ada beberapa pekerjaan yang tidak bisa di-handel sekretaris nya.


Ceklek!!!


Pintu terbuka, dari sana terlihat Andra memasuki kamar, perlahan Dea turun dari ranjang, setelah ia mengerti semuanya dan ia menyadari kesalahpahaman nya, ingin rasanya ia meminta maaf kepada sang suami.


Dea mendekati Andra, tangannya terulur akan memeluk pinggang suaminya, namun...


"Sebentar Sayang, Mas mau mandi dulu!" tolak Andra, kecewa Dea saat ia di tolak oleh suaminya, tapi memang begitu kebiasaan mereka, sudah beberapa malam ini Andra selalu ditolak oleh istrinya dengan alasan bau dan belum mandi.


Intinya Andra mengantisipasi tolakan kedua fi hari ini, "Mas!" Dea menahan lengan suaminya.


Mau tak mau Andra menghentikan langkah kakinya, ditatapnya wajah Dea yang sepertinya ingin mengutarakan sesuatu.


"Ada apa Sayang?" tanya Andra dengan berbalik menghadap Dea.


Brugh!!!


Tiba-tiba Dea menghambur kedalam pelukan suaminya, di dekap nya tubuh kekar itu, isak tangis dapat Andra dengar, bahkan bahu ramping Dea terlihat naik turun sesenggukan.


"Hey, hey, hey Sayang? Are you ok?" tanya Andra sembari memegang kedua pundak Dea, berusaha Andra melepas peluk erat itu agar ia dapat melihat wajah sang istri.

__ADS_1


"Hiks... Hiks... Maaf in Dea ya Mas?" dengan sesenggukan Dea berucap, bahkan wajah penuh air mata itu ia perlihatkan kepada sang suami.


"Maaf untuk apa Sayang?" lembut Andra berucap, kedua tangannya mengusap wajah cantik yang penuh air mata di hadapannya itu.


"Selama ini Dea salah paham, Dea kira dokter Dewi ada apa-apa sama Mas, tapi ternyata, haaaaaa... hiks... hiks..." tangis Dea kembali pecah, saat itu Andra mulai mengerti mengapa sang istri sedikit dingin dan jutek tanpa alasan, ternyata bukannya tak beralasan, alasannya ternyata rasa cemburu yang terpendam dan lagi-lagi Andra yang tak paham juga tak peka terhadap perasaan sang istri.


Direngkuhnya tubuh Dea, Andra membenamkan kepala sang istri ditengah belahan dada bidangnya, "Ssshhhhh... Sudah-sudah, jangan menangis, di sini Dea nggak salah, Mas yang salah, Mas kurang mengerti perasaan kamu Sayang,"


Dea memeluk erat pinggang suaminya, kepalanya masih asik mengusak di dada bidang yang sudah hampir satu bulan ini tidak dipeluk nya.


"Sekarang Sayang diam dulu, Mas mandi dulu ok, takutnya nanti kamu mual lagi," perlahan Andra melepaskan pelukannya.


Dea mendongak menatap suaminya, "Mas tadi sore kan sudah mandi," ucap Dea.


"Jadi nggak papa nih Mas nggak mandi?" Andra mulai mengikis jarak antara wajahnya dengan wajah Dea, bersemu merah wajah Dea, terlihat jelas senyum malu-malu diwajahnya walau matanya masih sembab karena air mata.


"Hey, lihat Mas Sayang!" bisik Andra dengan mencubit kecil dagu Dea, agar ia mendongak menatap wajah Andra.


Perlahan Dea mengangkat pandangannya, menatap wajah tampan sang suami yang begitu dekat membuat jantung Dea berdebar.


Semakin terkikis jarak antara kedua wajah itu dan kini kedua benda kenyal nan manis itu saling bertautan satu sama lain, setelah kata maaf terucap dan saling mengerti keduanya sudah kembali seperti sedia kala, sebagai pasangan yang saling mencintai, karena cinta butuh keterbukaan bukannya terka menerka.


.


.


.


.


Perut Dea yang semula rata kini mulai terlihat membuncit, memasuki trimester kedua kehamilan Dea, ya... Akan memasuki bulan ke empat, saat ini Dea tengah melihat-lihat contoh kartu undangan yang di dapatnya dari sang mama mertua juga dari mama kandungnya.


Akan mengadakan acara syukuran empat bulanan keluarga Zora dan Brista itu berkumpul di kediaman Andra dan Dea.


Terlihat jelas raut bahagia dari kedua mertuanya, mereka bahagia akan segera menimang seorang cucu juga bahagia karena Andra sembuh dari penyakitnya yang sempat membuat galau gundah gulana Tama dan Sania.


Setelah deal dengan pilihan Dea, undangan segera dicetak oleh percetakan pilihan keluarga Brista, sungguh bahagia kedua orang tua Andra dengan kabar kehamilan ini sampai-sampai acara syukuran saja mereka mengundang segenap kolega-kolega bisnisnya, bahkan Dea diberi kesempatan untuk mengundang teman-teman kampusnya.


Berita bahagia ini sudah cepat sekali menyebar apalagi dengan undangan yang sudah disebar luaskan.


Di gedung tempat menimba ilmu dimana lagi kalau bukan di kampus tempat Dea belajar, Dea hari ini memaksakan diri untuk datang ke kampus dengan alasan ia ingin memberikan undangan kepada teman-teman dekatnya.


Terpaksa Andra menyetujuinya, karena memang susah Andra menolak keinginan sang istri.


"Aku temani ya?" Andra menawarkan untuk menemani sang istri masuk kedalam gedung yang penuh dengan mahasiswa juga mahasiswi itu.


"Nggak usah Mas, Dea bisa sendiri kok! Mas tunggu di sini aja!" ucap Dea yakin.

__ADS_1


"Tapi janji, jangan lama-lama!" ke-posesifan Andra mulai terlihat.


"Iya Sayang!"


CUP!!!


Dea mencium sekilas pipi Andra sebelum ia keluar dari dalam mobil suaminya, Andra hanya tersenyum dengan menatap tubuh Dea yang semakin menjauh.


Langkah kecil kaki jenjang itu terus melangkah mengayun menuju tempat dimana biasa ia dan teman-temannya berkumpul, dan di sana, dipojokan kantin ia melihat Jennie tengah bersama dengan Kevin.


Belum sampai Dea menyapa, Jennie sudah lebih dulu berdiri dan berteriak juga merentangkan kedua lengannya.


"Hay bestie? Astaga lo makin gemoy bin seksoy aja nih, denger-denger lo udah..." dengan isyarat tangan Jennie membentuk gerakan melambung didepan perutnya.


"Apaan sih lo Jen! Iya nih, gue udah mau jadi orang tua, lo kapan dong?" canda Dea dengan menggoda teman kampusnya yang kebetulan saat ini duduk bersama pasangannya.


"Tau nih Kevin, belum ada kejelasan!" sungut Jennie dengan melirik kearah Kevin yang spontan langsung merangkul pundak Jennie.


"Bukan begitu sayang, menikah itu nggak cuma soal tanam tancap aja! Tapi ekonomi juga harus tertata, biarkan kekasihmu ini sukses dulu baru kita menikah ok!" bujuknya yang membuat Dea tersenyum melihatnya.


"Langgeng-langgeng deh kalian, ini gue nitip ya, ntar sebar ke teman-teman, jangan lupa kalian juga datang!" ucap Dea yang merasakan tidak nyaman di area perutnya.


"Kok nitip sih? Lo nggak mau kasih ke dia?" ucap Jennie dengan melirik salah satu pemuda yang sedang duduk sendiri, siapa lagi memangnya kalau bukan Gara, si mantan kekasih Dea.


Menghela napas Dea saat melihat Gara, dan tak sengaja saat itu Gara juga melihat kearahnya.


"Tuh dia ngilatin lo! Gih sana kasih undangan nya, kalo emang fix udah nggak ada apa-apa, harusnya biasa aja," ucap Jennie.


"Ok, emang nggak ada apa-apa kok!" ucap Dea dengan menarik satu lembar undangan dari tumpukan nya.


Berjalan Dea mendekati Gara, "Hai Ga, apa kabar?" ucap Dea dengan mengulurkan tangan.


Gara terdiam, ia menatap tangan halus yang dulu dengan bebas sering digenggamnya itu, tak mendapat balasan jabat tangan, Dea segera menarik kembali uluran tangannya.


"Gue ke sini nggak mau ngajak berantem, karena gue masih anggap lo temen gue, nih, gue kasih lo undangan, lo dateng ya!" senyum ramah Dea tunjukkan seolah dia tidak apa-apa.


"Undangan?" lirih Gara setelah Dea berbalik, hingga membuat istri CEO itu kembali menatapnya.


"Iya undangan," sahut Dea.


"Syukuran empat bulanan? Lo hamil?" tanya Gara dengan menatap perut Dea yang memang terlihat lebih berisi.


"Iya," sahut Dea, Gara terdiam bahkan ia membuang pandangannya ke samping, merasa tak lagi ada pembahasan, Dea segera pergi, karena ia berjanji kepada Andra untuk tidak berlama-lama.


Terlihat Gara mengepal kedua tangannya erat, bahkan kertas undangan itu kusut dibuatnya, "Bukannya suami Dea mengalami disfungsi ereksi? Terus Dea hamil anak siapa? Atau mungkin ini ada kebohongan di dalamnya? Nggak bisa dibiarin, gue harus cari tau! Gue nggak mau Dea diperalat!" batin Gara dengan segala kekhawatiran nya terhadap Dea...


Hayuk likenya mana 🥰🥰🥰 Karya ini butuh dukungan dari kalian🤧

__ADS_1


__ADS_2