
Kecemburuan memang sangat mudah merusak mood seorang wanita, apa lagi ia pas lagi cinta-cintanya, bayang-bayang canda tawa Andra bersama dengan dokter cantik bernama Dewi itu masih terus saja terngiang-ngiang di benak Dea.
Istri cantik CEO Brista group itu masih saja sebal saat mengingat nya, dan jangan lupa wanita satu kali kesalahan yang kau lakukan maka wanita itu akan terus mengingatnya apa lagi itu termasuk menyakiti perasaannya.
Bahkan sudah hampir seminggu setelah malam Dewi memeriksa kondisi Dea, wanita cantik itu masih enggan memberikan senyum manis kepada suaminya, bahkan setelah kedatangan mama Kaira, Dea lebih sering bermanja-manja kepada sang mama yang ia paksa untuk tidur di kediaman suaminya itu.
Jangankan bersenda gurau atau tersenyum kepada sang suami, mencium aroma Andra saja Dea merasa muak, mual dan ingin sekali marah.
Masih untung Andra di sibukkan oleh kegiatan meeting yang akhir-akhir ini sangat padat, jadi tidak jarang Andra meninggalkan istrinya juga mengurangi pertengkaran yang pasti Dea adalah penyebabnya banyak alasan yang Dea ucap ketika Andra mendekati dirinya...
Yang katanya Andra bau...
Yang katanya Andra belum sikat gigi...
Yang katanya Andra tidak cocok dengan baju itu, dan ini dan itu dan masih banyak lagi...
Sungguh rewel istri CEO tampan itu akhir-akhir ini, "Kau tidak jenuh di rumah terus De?" tanya mama Kaira dengan duduk di samping Dea, wanita paruh baya itu mengupas buah apel untuk putrinya yang semakin hari terlihat semakin rapuh dan rewel.
"Em..." bergumam Dea dengan menggelengkan kepalanya, "Ya sudah ini, makan dulu buahnya," Kaira menyodorkan buah yang baru saja dia potong.
.
.
.
.
^^^Di Kantor...^^^
Berbeda dengan Dea yang di rumah tengah bermanja-manja ria, di kantor Andra terlihat tengah memasang tampang kusutnya. Setelah berhari-hari digempur dengan pekerjaan yang sungguh melelahkan juga memusingkan, kini Andra sudah duduk di atas permukaan kursi kebesarannya.
"Bos, kau baik-baik saja?" Desta dengan beberapa map tebal di tangannya berjalan mendekati bosnya.
"Kamu nggak bakal ngerti!" cetus Andra ketus.
Desta menahan tawa, tapi tetap terlihat bibir yang tertahan itu sudah pasti sedang menahan tawa yang ingin sekali meledak.
"Kau mentertawakan ku? Awas saja, akan ku tambah lagi pekerjaan mu!" melotot kedua mata Desta, karena baru saja ia mengabari kekasihnya untuk kencan malam ini.
"Wa... Wa... Wa...waaaahhh... Jangan dong Bos! Saya sudah terlanjur janjian sama ayang!" cetus Desta.
"Bodo amat!" sadis nada yang Andra ucap, CEO tampan itu segera bangkit dari duduknya, langkah besarnya tertuju pada pintu keluar.
Alamat lembur untuk Desta, karena jika sudah begitu Andra susah untuk diajak kompromi, "Siapa yang galau siapa yang pusing," gumam Desta dengan menatap Andra yang sudah menghilang dibalik daun pintu. Setelahnya Desta terlihat merogoh saku celananya, terlihat benda pipih keluar dari dalamnya, tertulis pesan singkat dilayar ponsel itu yang siap untuk dikirim nya. Sepertinya Desta membatalkan kencannya malam ini.
.
.
__ADS_1
.
Andra berjalan keluar dari lift, jika biasanya Desta yang membawa mobilnya kali ini Andra sendiri yang mengemudi, baru saja ia keluar dari gedung besar seorang gadis yang tak asing terlihat turun dari taksi.
"Hey Ndra, udah pulang?" sapa nya dengan ramah, sembari gadis itu berjalan mendekat.
"Hem," sahut Andra jutek, "Astaga, kenapa lagi ini? Dah lah, bukan urusan ku," gumam gadis itu dengan menggeleng pelan kepalanya, langkah kecilnya melewati Andra.
"Mau kemana kamu?" tanya Andra dengan lirikan sinis nya.
"Ketemu ayank lah, apa lagi memangnya?" sahut gadis itu acuh.
Segera Andra menahan lengan gadis itu, "Dia sedang banyak pekerjaan, lebih baik sekarang kamu ikut aku, periksa istriku!" tegas Andra dengan menarik tangan gadis itu.
"Memangnya kenapa dengan istri mu?" tanya nya.
"Dia akhir-akhir ini tidak selera makan, dan aneh," ucap Andra yang tentu saja membuat gadis yang tak lain adalah Dewi itu prihatin dan mengikuti langkah Andra.
Keduanya kini telah masuk kedalam mobil Andra, "Aku chat Desta dulu deh Ndra, takutnya dia bakal nungguin aku," ucap Dewi dengan mengeluarkan gawai canggih dari dalam tas jinjing nya.
Hanya anggukan kepala yang Andra berikan, karena ia fokus dengan jalanan, baru saja Dewi membuka ponselnya, satu pesan singkat masuk, "Eh panjang umur sekali si ayank beb ini, baru aja mau di chat, udah nge-chat duluan," gumamnya sebelum akhirnya ia merasa kecewa.
📥 [Yank, maaf kita nggak jadi keluar, aku ada banyak pekerjaan hari ini,]
Terdiam cukup lama Dewi menatap layar ponselnya, "Kenapa? Dia batalin kencan kalian?" pertanyaan bernada nyinyir itu membuat Dewi menebak.
"Oh jadi gara-gara kamu Ndra! Kencan kita gagal? Kelewatan emang kamu ya Ndra!" cepat sekali Dewi mengambil kesimpulan atas kegagalan kencannya hari ini.
"Kamu punya masalah apa?" mulai penasaran Dewi bertanya.
"Istri ku, semakin hari dia aneh, yang marah-marah nggak jelas, di suruh makan susah, dipaksa makan balik muntah, nah lebih parahnya lagi setiap dekat dengan ku dia buru-buru kabur katanya aku bau," curhatnya dengan mata yang terus fokus dengan jalanan.
Dewi mengerutkan kening, ia berusaha mengolah setiap kata yang Andra ucapkan menjadi datu kesimpulan, "Jangan-jangan istri kamu..." belum sampai Dewi selesai berucap ia melihat apotek di pinggir jalan.
"Stop Ndra! Berhenti!" teriaknya dengan tangan yang menekan pundak Andra sedangkan matanya masih menatap bangunan yang penuh obat-obatan itu.
Spontan Andra memberhentikan mobilnya, namun segera CEO tampan itu menepikan mobilnya, "Ada apa sih? Bikin jantungan aja!" keluh Andra.
"Diam kamu!" cetus Dewi dengan turun dari mobil, Andra hanya menunggu di tempatnya tanpa perduli dengan gadis bergelar dokter itu.
.
.
.
.
^^^Di dalam hunian mewah... ^^^
__ADS_1
Duduk di atas kursi teras depan dengan wajah pucat nya Dea masih enggan menyentuh karbohidrat berbentuk biji-bijian putih empuk itu.
Mama Kaira tak henti-hentinya membujuk putri sulungnya untuk makan, selain buah segar Dea masih belum makan apapun sedari pagi tadi, "Mah, Dea kok kangen Mas Andra ya?" cetusnya.
"Dea mau kita ke kantor?" mengangguk Dea mendengar usulan sang Mama.
Tin... Tin... Tin...
Baru saja keduanya membicarakan Andra, panjang umur sekali mobil Andra saat ini sudah tiba di halaman depan rumah mereka.
"Itu mobil Mas Andra Mah," ucap Dea dengan berdiri dari duduknya, bahagia rasanya saat rasa rindu akan segera terobati.
Namun baru tiga langkah Dea berjalan ia melihat seorang gadis keluar dari mobil yang sama dengan suaminya, terhenti langkah kaki Dea, bahkan senyum yang mengembang itu kembali meredup, langkah yang awalnya menyambut kini berbalik ingin meninggalkan.
Terlihat Andra setengah berlari saat melihat istrinya hendak menjauh, "Sayang, kamu diluar?" tanyanya dengan memeluk tubuh Dea dari belakang, belum sempat Dea menjawab, pertanyaan lain terdengar, "Hai Dea, apa kabar?" ya Dewi bertanya.
"Kenapa harus ada dia lagi sih? Nggak ada dokter lain apa?!" batin Dea kesal.
"Hem... Baik!" sahut Dea dengan melepas pelukan Andra dan berjalan masuk kedalam.
Sejenak Andra dan Dewi saling tatap satu sama lain, terlihat Dewi menghela napas.
Tak lupa Andra memberi salam kepada ibu mertuanya juga sebelum mereka masuk bersama mengikuti langkah kaki Dea.
"De, kata tante Kai kamu belum makan nasi sejak pagi?" basa-basi Dewi bertanya.
"He'em," hanya itu jawaban Dea.
"Kenapa? Apa mual?" lagi Dewi bertanya.
"Iya," singkat jawaban Dea walau keduanya kini hanya berdua di sofa ruang tengah.
"De, ini ada alat tes, kamu coba tes urine kamu deh, siapa tau ada hasil," Dewi menyodorkan alat tes kehamilan kepada Dea, melongo Dea, ia tak mengerti cara kerjanya, bagaimana pakainya.
Dewi dengan sabar menjelaskan, walau dengan kondisi hati yang dongkol Dea tetap mendengarkan dan melakukan setiap arahan.
lebih dari lima belas menit Dea di dalam toilet, saat ini Andra bersama dengan Kaira dan Dewi menunggu Dea di depan pintu toilet.
Ceklek!!!
Pintu terbuka dan...
"Bagaimana?" tanya ketiganya serempak, Dea menyodorkan alat tes itu dan berucap, "Garis dua,"
Terbelalak Andra bahkan Kaira menganga tak menyangka, berbeda dengan Dewi yang sudah mengira, ia hanya tersenyum dan mengelus pundak Dea, "Selamat sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ibu," ucapnya.
"Apa?"
"Kamu hamil sayang," ucap Andra dengan tangan yang merentang ingin memeluk sang istri tapi...
__ADS_1
"Stop! Mas belum mandi ya? Bau!...