
Ngaca diri memang perlu, tak baik jika kita hanya memandang kesalahan dan juga kekurangan orang lain, perlu juga kita memandang diri sendiri, layaknya mengaca diri, bagaimana kita, layakkah kita, baikkah kita, salah kah kita...
Semua memang perlu dilakukan, bahkan saking banyaknya terkadang kita paling suka lupa untuk mengaca atau mengoreksi kesalahan kita sendiri, seperti halnya saat ini Dea yang tengah termenung di bawah hamparan sinar rembulan malam, di taman belakang rumahnya, wanita berstatus istri CEO Brista Group itu melamun sejak sore tadi, bahkan makan malam pun tak ia sentuh sedikitpun, memangnya kemana suaminya?
Ya... Andra langsung menghadiri meeting penting setelah mereka pulang dari cek up pagi tadi, hingga malam menjelang Andra belum sedikitpun menampakkan batang hidungnya.
Hingga kelopak mata terasa berat, penantian Dea sama sekali belum berbuah hasil, hingga dengkuran halus terdengar dan ya... Dea masih di atas kursi taman belakang bahkan jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
Malam semakin larut, Andra yang baru saja berdiri dari meja pertemuannya malam ini...
"Desta, kau ke basement saja dulu! Aku ingin ke sana sebentar," ucap Andra sembari menunjuk kearah sebuah butik.
"Siap Bos, beli yang warna hitam merah biar lebih menggoda," bisik Desta setelah ekor matanya melirik kearah yang di tunjuk si bos tampan.
"Kau membayangkan istri ku mengenakannya?" lirikan tajam langsung tertuju pada Desta.
"Astaga Bos! Ya kali begitu,"
"Buktinya kau bilang begitu, tanpa membayangkan memangnya bisa menyarankan?" tanya Andra yang masih tak terima.
Desta menepuk keningnya, "Salah lagi," lirihnya.
"Ya sudah saya ke basement dulu, nanti saya tunggu di depan," akhirnya Desta mengalah dan mengakhiri pertengkaran tak di inginkan itu.
"Sana, sana, sana!" dengan mengibaskan tangannya Andra mengusir si sekretaris tampan itu.
Tak lama setelah Desta meninggalkan meja dimana Andra berada, Andra segera beranjak dari tempat duduknya menuju butik yang tadi ditunjuknya.
Berdiri di depan kaca transparan, Andra melihat manekin yang tengah mengenakkan lingerie berwarna gold dengan renda hitam di bagian-bagian tertentu.
"Ndra? Kamu di sini?" terkejut Andra saat ia mendengar suara yang menyapa dirinya, menoleh dengan tatapan tak suka Andra menatap wanita seksi dengan dress berwarna hitam itu.
"Jangan galak gitulah Ndra, kenapa? Istri mu tidak bisa memanjakan mu? Sampai-sampai kau berdiri melihat gaun tidur itu sejak tadi?"
Dikejutkan oleh seorang wanita yang tiba-tiba memeluknya dari belakang Andra urung untuk membeli gaun tidur yang masih melekat pada manekin dibalik kaca, tanpa sepatah kata pun Andra segera melangkahkan kakinya meninggalkan wanita yang tak lain adalah sang mantan kekasihnya.
Masih dengan hati yang dongkol dan mood yang sedikit berantakan, Andra turun dari mobil, seperti biasa ia mempercayakan mobilnya kepada Desta.
Langkah kaki panjang itu terus terayun menuju bangunan mewah tempat ia singgah.
Sudah lelah dengan pekerjaan kantor, ingin rasanya Andra bermanja di dalam pelukan istrinya, namun...
Ceklek!!!
Pintu kamar terbuka, pandangan CEO tampan itu menyapu ke seluruh ruangan, dimana istrinya? Begitulah isi dalam otak Andra.
"Sayang? Baby? Kau di kamar mandi?" di bukanya pintu kamar mandi tapi Andra tak menemukan siapa pun di sana, "Astaga kemana dia?" pikiran-pikiran negatif mulai memenuhi otak Andra.
"Jangan-jangan dia masih kerja part time? Atau diam-diam dia ketemuan sama si pecundang itu? Astaga, nggak bisa dibiarin!" gumamnya yang segera berjalan keluar dari kamar, niat hati ingin segera menuju dimana mobilnya berada namun...
__ADS_1
"Tuan? Anda sudah pulang?" suara seorang gadis terdengar dan berhasil menghentikan langkah panjang kaki Andra.
"Hem..." singkat jawaban Andra saat melihat anak pelayanannya itu.
"Anu Tuan, Nyonya..."
"Kau tau dimana Nyonya mu Sinta?"
"Maaf Tuan nama saya Santi," membenarkan sebutan namanya Santi sedikit menunduk.
Andra menepuk keningnya, "Astaga, terserah mau Santi, Sinta, Shamanta, di mana Nyonya mu?"
"Em... Di taman belakang Tuan, Nyonya..." belum selesai Santi berucap Andra sudah lebih dulu berlari meninggalkannya.
"Astaga, punya Bos gini banget sih, tapi kalo nggak ngomong ya kasihan Nyonya Dea, dari tadi nungguin sampe ketiduran," cerocos gadis yang masih duduk di bangku SMA itu.
^^^Di taman belakang...^^^
Andra yang berlari dari dalam rumah dengan segenap kekhawatiran nya terbayar sudah dengan kelegaan hati, saat ia melihat sosok sang istri yang tengah meringkuk di kursi taman.
Perlahan langkah kaki Andra mendekati sosok cantik dengan lingerie berwarna putih gading itu, dingin permukaan kulit tubuh Dea yang Andra sentuh, segera ia menggendong tubuh istrinya dan dibawanya untuk masuk kedalam.
Saat Andra hendak menapaki anak tangga ia melihat Santi masih duduk di sofa ruang tengah dengan beberapa tumpuk buku-buku pelajaran, ternyata gadis itu belajar dan tadi menyempatkan waktu untuk memberitahukan keberadaan sang nyonya.
"Santi," panggil Andra, segera gadis itu berdiri, "Iya Tuan?"
"Terimakasih," ucap Andra sebelum ia melanjutkan langkah kakinya, "Sama-sama Tuan," mengangguk gadis kecil itu.
"Engh..." Dea menggeliat, hingga tak sengaja tersibak lingerie seksi itu dan menampakkan mulusnya paha dari kaki jenjangnya.
Kali ini ada rasa aneh yang Andra rasakan, melihat tampilan sang istri dari ujung kaki mulai ke atas, terlihat paha mulus kemudian lekukan pinggang ramping dan tonjolan-tonjolan yang sepertinya empuk dan menggemaskan.
Napas berat beberapa kali Andra hembus, terasa ada yang sesak dibawah sana, kemudian kembali Andra mengingat betapa kasarnya dia semalam, terbayang air mata yang Dea keluarkan, kemudian senyum manis yang pagi tadi Dea suguhkan, "Maaf," lirihnya dengan mengelus pucuk kepala Dea, kemudian Andra mengecup kening istrinya.
Terlihat bibir merah merona yang terlihat manis, ibu jari Andra mengusap bibir merah itu, "Sedikit saja, apakah akan menyakitimu?" gumamnya berbisik.
Dilihatnya mata Dea yang masih terpejam rapat, perlahan Andra memiringkan wajahnya, kecupan singkat Andra berikan, melihat sang istri masih terlelap dalam tidurnya, Andra kembali memagut bibir merah merona itu.
Manis, dingin dan kenyal begitu yang Andra rasakan hingga ia tak kunjung melepaskan si merah merona itu.
Tak sadar tangan nakal Andra mulai menggerayangi lekuk demi lekuk tubuh sang istri, "Emh..." lenguh manja terdengar kala tangan kekar itu meremas gundukan kenyal di depan nya.
Terhenti sejenak Andra saat mendengar suara istrinya, "Apakah sakit?" tanyanya, namun ternyata Dea masih terpejam, terhembus napas halus seolah itu menandakan rasa lega di hati Andra.
Beralih jemari Andra menarik tali simpul yang ada di pundak istrinya, teringat betapa nikmat malam-malam kemarin jika rasa itu tak di dampingi dengan amarah yang membuncah, entah sejak kapan Andra mendamba dan mencandu tubuh mulus yang kini tengah dibawah kungkungan nya.
Mungkin benar kata Dokter Sena jika Andra terlalu sibuk dan terlalu memikirkan soal pekerjaan hingga ia acuh dengan rasa aneh yang sering kali hadir saat istrinya menyentuh tubuhnya.
Kini menyembul dua gundukan kembar yang terlihat bulat penuh, semakin terlihat menggoda saat dilihat tanpa rasa benci.
__ADS_1
Halus, kenyal, dan wangi, tak terasa Andra menggigit bibir bawahnya saat kedua mata melihat keindahan yang hakiki itu...
Grep!!!
Seketika gelap semua pandangan Andra, "Yey aku dapat! Ini bola ku..." terdengar oleh Andra suara Dea bergumam.
Lembut dan kenyal, ya saat ini kepala Andra tengah di peluk oleh Dea, mepet tak berjarak wajahnya terbenam di tengah-tengah gundukan kembar itu.
"Apa dia mengigau?" gumam Andra dalam hati, untuk mengetahui istrinya benar mengigau atau tidak, Andra menyesap kulit halus itu, dan sedikit di gigitnya.
"Sshhh Aw!!!" teriak Dea dengan mendorong kepala Andra, Dea terduduk dengan tali lingerie yang sudah terlepas.
Istri CEO itu seperti orang bingung, "Ada apa Sayang?" tanya Andra pelan, ia tau istrinya baru saja tersadar dari tidurnya.
"Aku di gigit bola, em... aku..." Dea mengusap kedua matanya dan melihat sekelilingnya, "Ini di kamar?" gumamnya bingung, "Ada apa?" Andra mendekati Dea yang masih terlihat bingung.
"Tadi, ada bola..."
Andra menahan tawa, ia mengangkat kedua alisnya, "Bola?"
"Iya, tapi bolanya tiba-tiba..." terdiam Dea, ia melihat ekspresi suaminya yang seolah ingin mentertawakan dirinya, "Oh iya itu mungkin hanya mimpi, buat apa aku menceritakan pada nya, bukan menenangkan ku, yang ada dia nanti malah mentertawakan ku," batin Dea dengan menunduk.
"Sudah lupakan, ini juga sudah malam," ucap Dea dengan menarik selimut, namun belum sampai selimut itu menutupi tubuhnya ia baru sadar jika...
"Akh astaga!" Dea menutup dadanya dengan kedua tangannya, baru sadar ia jika aset kembar nya terekspos bebas dan terlihat oleh kedua mata suaminya.
"Kenapa tadi bolanya?" pelan Andra membelai punggung halus itu, meremang Dea, sampai ia kesusahan untuk menelan ludah.
"Emh... Mas,"
"Iya Sayang? Bolanya kenapah?" berbisik di dekat telinga Dea, Andra sukses membuat istrinya mengatur napas hingga naik turun tak karuan.
"Mas..."
"Iyah?" masih berlanjut Andra mengecup cuping telinga dan bermain di ceruk leher istrinya, "Emh... Mas..." tanpa sadar Dea mengalungkan kedua lengannya di leher kokoh sang suami.
Puas menghirup juga menyesap leher istrinya, kini Andra beralih menatap bibir merah yang sedari tadi memanggilnya.
"Sayang, Mas menginginkan mu malam ini, bolehkan?" mendengarnya saja Dea merasa salah tingkah, haruskah ia menjawab ya atau bagaimana?
Biasanya Andra langsung menghajarnya habis-habisan, tapi malam ini apa? CEO tampan itu meminta ijin terlebih dahulu.
Sungguh memerah kedua pipi Dea, ia mengangguk pelan dengan sedikit menyungging senyum di bibir.
Dengan lembut Andra mulai merapatkan kedua bibir itu, terasa debaran di hati menggetarkan tubuh keduanya, bahkan untuk sejenak menghirup udara saja susah bagi keduanya, namun nikmat yang terasa membuat mereka tenggelam semakin dalam...
Hai, hai, hai, masih setia kah kalian? maaf ya Agustus ini othor lg sibuk banget dengan dunia real, jadi jarang up, maaf ya, tapi othor bakal lanjut ceritanya kok...
🥰🥰🥰
__ADS_1
Kalian para reader yang semangat dan sehat selalu ya 🥰