
Berpamitan dengan sopan, Dea keluar dari mobil milik suaminya, masih seperti gadis lajang pada umumnya, padahal baru kemarin dia diperistri, Dea berjalan santai memasuki area kampus, namun baru beberapa langkah dua lengan kekar melingkar di pinggangnya.
"Pagi Baby," satu kecupan mendarat di pipi Dea.
"Gara!" terkejut Dea, kedua matanya membulat, sontak ia segera melepaskan kedua tangan Gara dan melihat kearah jalan dimana mobil suaminya berhenti.
"Lepas Ga! Ada suami gue!" peringatan itu terlontar dari bibir Dea. Senyum kecut terlihat di wajah tampan Gara, pemuda itu melepaskan pelukannya dan sedikit menoleh kearah jalan, dan kebetulan mobil Andra sudah melaju.
Senyum miring kembali Gara ulas di bibirnya, "Jadi kalo ada suami lo gue harus sopan? Jadi kalo dia udah pergi..." terdiam Gara kembali kedua tangannya merambat di pinggang ramping Dea.
Membulat kedua mata Dea mendapati itu, "Gara stop!" Dea mencekal kedua tangan Gara, dihempaskan nya lengan pemuda itu, kemudian Dea kembali melangkah kan kakinya memasuki area gedung kampus, dan Gara terus saja mengekor dibelakangnya.
"De, please, lo jangan gini lah, lo nggak serius kan sama pernikahan lo?" cecar Gara dengan langkah kaki yang terus mengejar Dea.
"Awalnya nggak! Tapi setelah tau lo pembohong, buat apa gue buang laki-laki sempurna macam suami gue?!" ketus nada yang Dea gunakan, seolah ia membanggakan suaminya.
"Gue? Pembohong?" Gara meraih pundak Dea dan dihempaskan gadis itu ke dinding di sampingnya, "Bukannya lo yang berkhianat? Lo yang merusak hubungan kita De!"
Di lorong sepi itu tubuh Dea dihimpit oleh tubuh atletis Gara, tak mau diam saja Dea mendorong dada Gara sekuat tenaganya, "Gue bukan pengkhianat! Lo sendiri yang bilang kalo kita udah putus!" dorongan tangan Dea membuat Gara mundur dua langkah kebelakang.
Ditunjuk nya wajah tampan pemuda yang pernah singgah dihatinya itu, "Lo pagi-pagi telfon gue terus lo nyuruh Jennie buat bilang kalo lo kecelakaan, dan sekarang lo di depan gue, lo pikir ini apa kalo bukan kebohongan?"
Nada tinggi yang Dea ucap juga suara Gara yang tak kalah kerasnya membuat beberapa mahasiswa dan mahasiswi berkerumun.
"Dea dengerin gue, gue waktu itu cuma bercanda..."
"Tapi gue nggak! Gue anggap, hubungan kita sudah berakhir sejak saat itu Ga, sorry!" Dea segera meninggalkan tempat yang mulai ramai dikerumuni banyak orang itu.
Hari terus berlalu, Dea tetap menjalani kehidupannya dengan biasa, berusaha menjadi istri setia yang masih dikejar-kejar mantan kekasihnya, itu tidak mudah bagi Dea.
Siang ini jadwal Andra cek Up, biasanya Dea yang dijemput Andra ke ke kampus, tapi siang ini Dea jam kuliah Dea selesai lebih awal, ia berinisiatif untuk menjemput suami tampannya.
Di dalam kantor perusahaan besar, tepatnya didalam ruangan pribadi CEO utama, terlihat Andra sibuk dengan berkas-berkas hasil meeting satu jam yang lalu.
"Maaf Nona, anda jangan masuk!" terdengar suara Desta melarang seseorang, Andra mendongakkan kepalanya menatap pintu yang masih tertutup rapat, pendengarannya ia pertajam.
"Gue nggak ada urusan sama lo ya! Awas minggir!
"Tapi bos berpesan agar tidak ada yang boleh mengganggunya..."
"Apa sih, awas minggir!"
__ADS_1
Geram dengan kegaduhan itu Andra berjalan menuju pintu dan...
Ceklek!!!
Pintu terbuka, terlihat Desta tengah berdebat dengan gadis cantik body bak gitar Spanyol, "Sonya?..." terkejut Andra, namun segera ia menguasai hati dan pikirannya, "Mau apa kamu?!" ketus Andra bertanya.
"Andra, sayang, akhirnya kamu..."
"Desta! Bawa wanita kotor ini keluar!" sela Andra dengan suara yang gemetar menahan amarah.
"Baik Bos!" baru saja Desta memegang lengan Sonya, wanita itu segera menghempas tangan Desta dan malah mendorong Andra masuk kedalam ruangan, Sonya memeluk erat tubuh Andra sedang Desta masuk mengejar keduanya, hingga tak sengaja kaki Desta menyentuh daun pintu dan pintu tertutup.
"Nona Sonya jaga sikap anda!" cetus Desta.
"Andra please, dengerin aku, aku bisa jelasin semuanya, aku dijebak!" jelas Sonya dengan terus memeluk tubuh Andra.
"Aku nggak perduli, yang aku tau kita sudah berakhir!" Andra terus berusaha melepaskan pelukan mantan kekasihnya itu.
^^^Diluar ruangan... ^^^
Berjalan dengan riang istri CEO Brista Group itu keluar dari dalam lift dan menuju sebuah ruangan yang tak lain milik suaminya.
Tangan kanannya terangkat memegang handel pintu, tanpa permisi Dea membuka ruangan milik suaminya, dan...
"Mas makan si..." terdiam Dea kala ia melihat pemandangan dimana sang suami tengah memegang kedua lengan wanita lain, dan wanita asing itu menempel pada tubuh suaminya.
Terdiam semuanya, seolah mematung terkejut melihat kehadiran Dea, namun Dea tak mau ambil pusing.
"Mungkin ini kesalahan mungkin ini hanya seperti yang ada di sinetron, jaga hati Dea jaga hati, memangnya kenapa kalo dia deket sama cewek lain, toh hubungan kita bukan berdasarkan cinta," batin Dea didalam diamnya.
"Oh maaf salah masuk!" kembali Dea keluar dari ruangan itu, namun baru saja Dea berbalik, Andra segera mengejar dan juga meraih tangannya.
"Tidak, Sayang nggak salah masuk, itu tadi Mas bisa jelaskan," ucap Andra kali ini ia membelai pipi kiri Dea.
"Sayang mau dengerin Mas, kan?" Andra dengan halus berucap pada Dea, sedang Sonya melotot melihat kemesraan itu.
"Ndra! Aku mau ngomong sama kamu!" teriak Sonya yang masih berdiri di belakang Andra yang saat ini menghadap kearah Dea.
"Sonya kenal kan, ini istri ku, dan seperti yang kau tau, aku sangat menyayanginya," ucap Andra dengan terus menatap wajah cantik sang istri.
"Sayang jangan salah paham dengan apa yang kau lihat barusan, ini Sonya, dia hanya masa lalu, dan Mas mau masa depan Mas ada pada mu," kali ini Dea merasa tersentuh, baru pertama kalinya ia dibela dihadapan wanita lain.
__ADS_1
Senyum dengan rona merah di pipi itu membuat Dea semakin terlihat cantik saja, "Kau bilang kita makan siang bersama? Ayo kita berangkat!" Dea hanya mengangguk.
Keduanya pergi untuk makan siang sedangkan Sonya menatap dua punggung yang semakin menjauh itu dengan gumpalan dendam didalam dadanya, kedua tangan wanita itu mengepal erat seolah ada rasa yang teramat pedih ditahannya.
Satu bulan telah berlalu, Dea masih dengan setia menemani Andra cek Up, jika saat itu pas jam kerjanya seperti pagi ini.
Kedua suami istri itu berpisah untuk masing-masing bekerja, lalu siang harinya Andra datang ke rumah sakit tempat dimana Dea kerja part time, "Hai," bisik Andra saat melihat Dea rapi dengan seragam susternya.
Terkejut Dea saat melihat suaminya sudah datang, "Jadwal mu masih setengah jam lagi Mas, buat apa datang awal? Memangnya tidak sibuk di kantor?" tanya Dea yang menghampiri Andra.
"Mas pengen makan siang bareng kamu,"
"Tapi Dea masih sibuk barusan ada korban kecelakaan," jelasnya, terlihat tidak berbohong karena memang Dea membawa beberapa alat yang digunakan untuk operasi.
"Ya sudah sana, Mas tunggu di kantin seberang jalan ya!"
"Owkay!" sahut Dea dengan mengedipkan sebelah matanya sebelum ia pergi meninggalkan Andra.
^^^Sampai di dalam kantin...^^^
Andra duduk sendiri dengan memesan satu kopi cappucino, dinikmatinya kopi hangat itu dengan menunggu kedatangan istrinya.
Tiba-tiba...
TAP!!!
Gelap pandangan Andra karena kedua matanya ditutup oleh kedua telapak tangan lembut.
"Sayang, jangan main-main deh!" ucap Andra dengan memegang sepasang tangan halus itu dan ditariknya hingga si empu terjatuh di atas pangkuan Andra.
"Sonya!" terkejut Andra melihatnya, Sonya dengan santainya mengalungkan kedua tangannya di leher CEO tampan itu.
"Ayolah Ndra, kau masih mencintai ku, kan?" tanya Sonya.
Brak!!!.
"Aduh!" keluh Sonya saat pantat bulatnya membentur lantai.
"Jangan Gila kamu!" ketus nada yang Andra gunakan, ia segera berdiri bahkan meninggalkan Sonya yang terjatuh dilantai.
"Andraaaaaa!!!...
__ADS_1