
Malam kelam telah berlalu dengkuran halus masih terdengar dari balik selimut tebal itu, padahal hari mulai menunjukkan cahaya sang mentari, namun Dea masih enggan meninggalkan posisi ternyaman nya, bukan karena hangat, bukan karena empuk juga bukan karena malas, gadis yang baru saja melepaskan mahkota kebanggaannya itu masih merasakan sakit dibeberapa bagian tubuhnya.
Bahkan bekas air mata masih terlihat menghiasi wajah ayu nan putih itu.
Kata maaf yang Andra ucap semalam hanya Dea dengar namun tak sedikitpun ia membalas, gadis yang telah bergelar wanita itu memilih untuk menenangkan hati dan perasaannya.
"Sayang..." suara serak terdengar memanggilnya, ya Andra baru saja selesai menyiapkan sarapan pagi untuk istri tercintanya, "Bagun dulu, kita makan," terus Andra berucap halus, bahkan ada rasa sesal didalam dadanya.
Menyesal telah berbuat kasar, menyesal karena ia kalah dengan rasa cemburunya, "Baby, maaf in Mas, ayo makan dulu, kalo Baby nggak makan nanti sakit," cetus Andra yang terus membujuk Dea.
Karena terus diganggu oleh suaminya, Dea bangun dari posisi tidurnya, dengan tatapan kosong, wanita cantik itu bangkit dari ranjang, menyibak selimut yang menutupi tubuh polosnya.
Body bak gitar Spanyol itu terpampang nyata didepan Andra, namun tak lagi gairah ingin menyentuh yang Andra rasa saat melihatnya, tetapi rasa trenyuh dan sesal yang menggumpal memenuhi hati dan perasaan.
Tanda-tanda merah, juga beberapa bekas lebam terlihat di beberapa titik, memangnya sebrutal itukah perbuatan Andra semalam?
Tapi jujur saja, rasanya memang tiada tara, begitu lah isi didalam otak Andra, segera ia menyusul istrinya sebelum pintu kamar mandi tertutup.
"Sayang, tunggu!" berhenti Dea saat mendengar titah sang suami.
"Kau marah?" hanya menggeleng kepala yang Dea lakukan, bukan marah Dea hanya merasa sakit dan berat pada setiap sendi di tubuhnya.
"Yang benar saja kau tidak marah? Tubuhmu hancur seperti ini..." cecar Andra dengan memegangi kedua pundak Dea.
Trenyuh hati Andra remuk redam sungguh ia menyesal atas kekasarannya semalam, ia menyesal karena kalah dengan rasa cemburunya.
"Maaf , maaf, maaf, maaf, maaf..." kata itu terus terucap dengan Andra menarik tubuh polos istrinya untuk masuk kedalam belahan dada bidangnya, dipeluknya lembut tubuh Dea.
Sungguh seperti pribadi yang berbeda Andra pagi ini, "Aku tak apa Mas, biarkan aku mandi dulu, nanti kita bicara," ucap Dea dengan perlahan melepas pelukan yang tanpa tuntutan itu.
__ADS_1
Andra mengangguk, ia segera keluar dari ruangan yang didominasi air itu.
Sengaja Andra menyiapkan sarapan pagi itu sebagai tanda permintaan maafnya, sungguh CEO Brista Group itu sangat menyesal dan merasa bersalah.
Andra sudah merapikan meja makan, terdengar langkah kaki ringan yang semakin mendekat, menoleh Andra dan ia mendapati sang istri sudah cantik dengan dress putih yang panjangnya di atas lutut.
"Silakan duduk," Andra menyiapkan satu kursi khusus untuk Dea duduk, tersenyum manis Dea seolah ia tak pernah terluka dan itu semakin membuat Andra sakit.
"Terimakasih," ucap Dea kemudian ia melabuhkan satu kecupan singkat di pipi Andra.
Terkejut Andra bahkan ia terdiam untuk sesaat, seolah cinta mereka nyata, seolah cinta mereka layaknya remaja yang jatuh cinta pada pandangan pertama, seolah pernikahan ini adalah rencana jauh-jauh hari yang bukan perjodohan atau pun dadakan.
"Ayo Mas di makan! Ini sandwich nya sangat sempurna, Mas pandai membuatnya," suara lembut Dea membuyarkan lamunan Andra, CEO tampan itu segera menempatkan diri di kursi yang tersedia, di samping kanan Dea tepatnya.
"Baby nggak marah sama Mas?" setelah menyicipi satu gigitan sandwich buatannya Andra membuka suara.
"Tapi, semalam..."
"Iya Dea tau, Mas pasti marah karena Dea membela laki-laki lain kan?" sela Dea dengan menyodorkan roti isi selai yang baru saja ia oles kearah piring suaminya.
Andra menunduk malu, "Jangan kan kita yang manusia biasa, Sayyidina Ali Bin Abi Thalib saja bisa merasakan cemburu padahal Sayyidah Fatimah Az Zahra wanita paling taat agama," cecarnya dengan menatap wajah sang suami.
"Maaf, sungguh semalam Mas tidak bisa berpikir jernih," ucap Andra dengan mengecup kening Dea. Dea mengangguk pelan dengan membelai pipi suami tampannya.
Sementara Dea berdamai dengan suaminya berbeda dengan Gara yang tengah duduk termenung di cafetaria tempat anak muda menikmati indahnya suasana senja.
"Hey, sendirian aja, kemana pacarmu?" suara tak asing itu membuat Gara tersadar dari lamunannya.
Menoleh Gara kearah sumber suara, "Eh Dokter, pacar yang mana?" senyum kecut Gara tampilkan.
__ADS_1
"Loh memangnya ada berapa pacar mu?" tanpa permisi dokter itu duduk di samping Gara.
"Bukan ada berapa, malah tak ada satu pun yang tersisa," sahut Gara yang kemudian dilanjut dengan menyeruput kopi hangat yang masih mengepul didalam cangkirnya.
"Kau sudah berakhir dengan suster Dea?" sedikit tawa ejekan terdengar sumbang ditelinga Gara.
"Ya, dan itu semua gara-gara Dokter!" tudingnya dengan melirik dokter tampan itu.
"Eh, tanda apa ini? Lampu hijau untuk ku kah?" batin Fajar dengan sudut bibir yang sedikit terangkat.
"Loh kok gara-gara saya? Bukannya kamu sendiri yang memberikan pilihan itu, dan suster Dea memilih mengikuti saya," cecarnya dengan membenarkan kacamata bening yang bertengger di atas hidung bangirnya.
"Dokter tau gertakan tidak? Saya hanya berusaha menggertak saja, eh ternyata saya salah dalam memberikan pilihan," lesu Gara menceritakan nya.
"Sudah-sudah semua telah berlalu, kembali bersemangat saja, kau tampan, gagah, masih banyak gadis lain diluar sana yang pasti mau menjalin hubungan dengan mu," nasihat itu membuat Gara menatap lawan bicaranya.
"Dokter..."
"Fajar, panggil saja saya Fajar," senyum ramah Fajar tampilkan, tapi tak ada yang tau dibalik wajahnya yang ramah itu tersimpan apa.
"Kau masih muda, masa depan mu masih panjang, tak perlulah kau mengejar-ngejar satu gadis yang bahkan tidak perduli pada mu," imbuhnya.
"Maka sih Dok, eh Kak Fajar," ucap Gara.
"Sama-sama, putus cinta memang sakit dan hanya kita yang dapat mengobatinya, tak ada satupun manusia yang dapat mengobati kecuali kita membuka hati," cetus Fajar.
Keduanya berbincang hingga sunset semakin menghilang dan lampu cafetaria mulai menyala.
Lampu hijau telah menyala bagi Fajar, ia pun segera merancang untuk kelancaran rencananya hari esok, "Kalo mereka sudah berakhir, berati sah-sah saja jika aku mengutarakan perasaan ku, toh mereka sudah berakhir, jadi aku bisa leluasa menyatakan perasaanku, bahkan kita bisa menjalin hubungan yang sehat suster Dea," batin Fajar dengan menikmati secangkir kopi torabika pesanannya.
__ADS_1