
Masih dengan segala kegelisahannya, Gara mematut diri di depan cermin kamarnya, "Jauh-jauh hari gue menata hati buat move on, eh malah ini dibuat penasaran lagi, Dea-Dea, lo tu susah banget sih diusir dari hati?" gumamnya dengan memasang kancing-kancing kemejanya.
"Ga? Sudah selesai belum Nak? Ini kamu di cari om Sena, katanya ada janji," ditengah-tengah lamunannya, Gara mendengar suara seorang wanita yang tak lain adalah ibundanya, ya... Farah atau ibunda dari Gara berteriak dari luar kamar demi memanggil sang putra.
"Iya bunda sebentar!" Gara menyahuti dengan menatap mantap pantulan dirinya didalam cermin sebelum dengan pasti ia meninggalkan kamarnya, sore tadi ia ada janji dengan om nya untuk menghadiri undangan syukuran di kediaman utama keluarga Brista.
.
.
.
.
Di dalam kediaman keluarga besar Brista, sudah tentu rumah besar bak kastil kerajaan itu dipenuhi dengan tamu undangan yang memang sengaja di undang.
Raut bahagia terpancar di wajah para anggota keluarga, dua keluarga besar itu berkumpul di sofa yang terletak di pojok ruangan, di sana mereka berbincang ria dengan suasana yang amat bahagia, namun tidak dengan satu pemuda, ia gelisah dengan sesekali melihat kearah jam tangan yang melekat pada pergelangan tangannya.
"Ken permisi dulu!" pamit pemuda yang tak lain adalah Kenzi adik dari Dea, putra bungsu Kaira.
"Mau kemana Ken?" tanya Dea dengan menahan lengan sang adik.
"Cari angin!" singkatnya, "Bukan mau kabur dari acara kakak, kan?" tanya Dea dengan tatapan penuh selidik.
"Dih ni kenapa tau aja sih, huh..." batin Kenzi dengan menghindari tatapan Dea.
Berdiri Dea yang sudah cantik dengan dress merah hatinya, "Ken, ini acara kakak loh, lo mau pergi?" terdiam Kenzi saat melihat sang kakak mulai berbicara dengan tangan yang sudah dilipat di depan dada.
"Ok, pergi aja sana! Tapi jangan harap nanti pas kamu lulus atau suatu saat nanti pas kamu nikah kakak bakal dateng, jangan harap!" bukan nada tinggi tapi hanya bisikan penuh penekanan yang Dea ucapkan dan itu sudah berhasil membuat Kenzi berpikir ulang untuk meninggalkan acara syukuran itu.
Dea kembali duduk setelah ia selesai dengan wejangannya barusan, sedang Kenzi ngeluyur pergi, ia berjalan menuju pintu keluar dan...
Brugh!!!
Tubuh tegap pemuda tampan itu menabrak tubuh seksi seorang tamu cantik yang kini sedang mengenakan gaun hitam yang melekat seksi dan memperlihatkan lekuk tubuh langsing itu.
Dari ujung kaki sampai ujung kepala Kenzi menatap kagum gadis di depannya, "Maaf Tuan, saya tidak sengaja," sopan dan elegan gaya bicara gadis itu, ditambah dengan rambut lurus sepinggang yang sedikit di kibas nya kearah belakang pundak.
"Ah, tidak apa-apa," mematung dengan menjawab sekenanya Kenzi terlihat linglung seolah ia tersihir.
"Permisi," senyum manis juga elegan itu membuat Kenzi terus menatapnya, bahkan gadis itu sudah jauh melangkah meninggalkan dirinya, sampai-sampai...
"Tuan Ken, Nyonya Dea mencari anda," seorang gadis berbisik setelah mentoel lengan Kenzi.
"Apaan sih lo?!" berangnya yang merasa terganggu, "Maaf, nyonya mencari anda," sekali lagi gadis itu berucap dengan menunduk, Kenzi hanya menghela napas, ia pun segera berjalan dengan gadis yang baru saja memanggilnya.
"Ada apa?!" ketus nada bicara Kenzi ditambah juga dengan raut wajah malasnya, bukan menjawab pertanyaan Kenzi, Dea malah menatap Santi yang masih menundukkan kepalanya dibelakang Kenzi.
"Lo apa in Santi?" tanya Dea.
"Santi?" mengerut kening Kenzi saat ditanyai soal Santi yang dia sendiri tidak tau siapa itu.
Dea mengangguk dengan melipat kedua tangannya di depan dada, sedangkan Kenzi mengikuti arah mata Dea memandang sampai menoleh pemuda tampan itu kebelakang.
"Oh dia?" dengan ibu jarinya Kenzi menunjuk gadis yang tengah berdiri di belakangnya, "Nggak gue apa-apa in, kenapa sih? Bukannya dia cuma anak pembantu? Kek yang penting banget," memutar matanya malas, Kenzi menjatuhkan diri keatas permukaan sofa.
"Astaga anak ini! Nggak ada sopan-sopannya, siapa pun dia, dia juga punya perasaan Ken!" teriak Dea dengan menarik salah satu telinga Kenzi.
"Aduh!! Aw... Aw!!! Sakit Kak!" meringis kesakitan Kenzi memegangi tangan Dea yang masih stay di telinganya.
__ADS_1
"Kakak nggak suka ya kalo lo memandang rendah orang lain, siapapun itu!" gertaknya.
Sekilas Kenzi menatap Santi yang saat itu tertangkap basah tengah menatap dirinya, terlihat jelas gadis itu segera mengalihkan pandangannya.
"Iya, iya Ken minta maaf!" mengerucut bibir Kenzi seperti kelinci kecil yang terciduk mencuri wortel.
"Sekarang temani kakak duduk di sini!" ucap Dea.
"Hah? Yang benar saja? Memangnya bang Andra kemana?" nada penuh penolakan itu terdengar dari Kenzi.
"Oh jadi lo nggak mau?"
"Tunggu Kak!" sela Kenzi dengan tatapan mata terfokus pada seseorang.
"Itu... Bukannya kak Andra? Kok sama cewek pegangan tangan gitu sih?" kompor mulai menyala, pertanyaan Kenzi seolah menyulut api cemburu Dea yang semakin hari semakin besar saja.
Teralihkan atensi Dea, ia menatap kemana jari Kenzi menunjuk, dan ya terlihat di sana Andra seperti berdebat dengan seorang wanita yang mana raut wajahnya tak asing di penglihatan Dea, "Nggak bisa dibiarin!" gumamnya seraya beranjak dari sofa.
Ditempat yang dituju Dea, di sudut ruangan yang sedikit tertutupi pilar besar terlihat Andra tengah mencengkeram lengan seorang wanita yang tak lain adalah Sonya, si mantan terindah yang berhasil menyakiti hatinya.
"Ndra aku tau kamu benci sama aku, tapi ayolah, aku hanya ingin mengucapkan selamat untuk istri mu," rengek Sonya.
"Keluar sekarang atau aku panggil security!" gertak Andra yang tak mau acara syukurannya hancur.
"Apa ini Ndra? Kamu masih perduli kepada ku? Kamu nggak mau aku di seret security, sampai-sampai kamu berikan aku pilihan?" berhenti berontak Sonya menatap lekat wajah Andra, sedikit mendongak Sony memasang senyum mautnya.
Andra menghela napas menghindari tatapan yang dulu pernah menjadi candunya, "Ndra, lihat aku!" ucap Sonya dengan sebelah tangan memegangi pipi Andra.
"Aku tau perpisahan kita hanya karena salah paham, aku juga tau di sini..." Sonya membelai dada Andra, "Dihati mu, masih ada aku, kan? Kamu masih perduli, kan? Kamu masih cin..."
Byurrrrr!!!
"Dea?" lirih Andra, sungguh ia terkejut, bukan hanya Andra, Kenzi yang mengikuti langkah kaki Dea pun juga melongo melihat aksi kakaknya yang nekat.
"Jauh-jauh dari suami gue!" bukan teriakan hanya nada yang penuh penekanan yang Dea gunakan, bahkan tangan kanannya mendorong tubuh Sonya agar wanita itu menjauh dari suaminya.
"Kak! Jangan gitulah! Yang sopan sama tamu!" gertak Kenzi.
"Ken, tolong kamu urus dia, Kakak mu biar sama Abang saja," ucap Andra sembari menuntun Dea menjauh dari tempat yang mulai menjadi pusat perhatian itu.
"Mas?" mengerut kening Dea, ia merasa suaminya memperhatikan wanita lain.
"Nanti Mas jelaskan, sekarang kita ganti gaun mu dulu, itu ada noda jus di sana," ucap Andra yang memang benar adanya, kembali perhatian kecil Andra itu menenangkan hati istrinya, "Oh ku kira dia melindungi wanita itu, ternyata dia melihat noda jus yang mengotori gaun ku," batin Dea dengan terus melangkahkan kaki mengikuti Andra yang setia di sampingnya.
Sementara Kenzi masih berdiri dengan dada berdebar di dekat wanita yang terguyur jus buah naga, "Mari Nona saya antar ke toilet," berusaha tenang Kenzi menawarkan bantuan.
Sonya hanya menatapnya sekilas dan...
"Baik, terimakasih," sahutnya dengan anggukan kepala, keduanya berjalan dengan Kenzi yang memberikan jas nya untuk menutupi wajah Sonya.
"Tapi Tuan, nanti jas mu kotor," ucap Sonya.
"Tak apa, lebih baik jas ku kotor dari pada kau yang menanggung malu, cepat masuklah, aku tunggu di sini," ucap Kenzi yang entah mengapa sok dewasa sekali bocah ini.
Kenzi berdiri di depan toilet dari kejauhan ia melihat Santi yang berjalan membawa nampan kosong, mungkin gadis itu baru saja mengisi meja dengan beberapa cemilan.
"Sinta!" teriak Kenzi, tapi gadis itu tak berhenti, "Astaga, siapa namanya tadi? Nita, Susi, Elsa, Atau Ana? Ck!!" berdecih kesal Kenzi mengejar Santi, karena ia tak berhasil mengingat nama gadis itu.
Sementara Kenzi mengejar Santi, Sonya yang baru saja keluar dari toilet sedikit celingukan karena pemuda tampan yang berkata ingin menunggunya malah pergi hilang entah kemana.
__ADS_1
Masih dengan mengenakan jas milik Kenzi Sonya berjalan menuju salah satu kursi yang masih kosong, di sampingnya ada seorang laki-laki yang tengah berdiam diri, mungkin dia sama tak sukanya dengan acara bahagia ini.
"Hai, sendirian aja?" tanya Sonya agar tidak canggung.
"Hem, ya... Anda juga sendiri," bernada datar laki-laki itu berucap.
"Aku..."
"Hey Nona, kucari-cari kau ternyata sudah ada di sini," belum sempat Sonya menjawab, Kenzi sudah lebih dulu datang menyatroni dirinya dengan segala ocehan pemuda tampan itu.
Sonya hanya tersenyum manis, dan itu tampak membuat Kenzi terpana, "Hai Ken? Apa kabar?"
Suara tak asing itu membuat Kenzi buyar konsentrasi, "Kak Gara? Kakak datang juga? Cie udah move on dong," cengengesan Kenzi menyapa Gara.
"Ah lo apaan sih Ken, ikuti alurnya aja, kalo memang udah nggak berjodoh ya mau gimana lagi," obrolan ringan dengan senyum kecut itu terlihat di mata Sonya, bahkan ia dengan mudah mengambil kesimpulan.
"Permisi Tuan Ken ini..."
"Lo balik gih, minumannya kurang satu!" sela Kenzi saat Santi baru tiba di sampingnya.
"Tapi di sana..."
"Iiiiihhh... gini nih kalo pembantu di kasih hati ngeyel mulu adanya!" gerutu Kenzi dengan menari lengan Santi agar menjauh dari Sonya dan Gara.
"Kak, Ken tinggal bentar ya?" ucap Kenzi dengan berjalan menggandeng Santi untuk diajaknya menjauh.
Gara hanya menganggukkan kepala, "Jadi namanya Kenzi?" tanya Sonya yang tidak mau merasa canggung.
"Iya, dia adik dari..."
"Yang punya acara?"
Gara hany mengangguk, "Dan kamu, mantan kekasihnya?" tebakan itu membuat Gara sontak menatap kearah Sonya.
"Biasa aja kali, haha... Aku juga mantan kekasihnya, seperti yang kamu bilang barusan, walau pun acara tunangan sudah ditata sekalipun, kalau belum jodoh ya nggak bakal bersatu, dahlah ikhlas aja!" imbuh Sonya.
"Tapi mantan kamu yang nggak tau diri, harusnya dia nggak boleh menikah dengan Dea!" ngotot Gara berucap, seketika emosinya meluap.
Sonya mengangkat alisnya tinggi, seolah ia mencium aroma rahasia yang terpendam, "Memangnya kenapa? Atau jangan-jangan hubungan kalian sudah terlalu jauh?" tebaknya.
"Kamu pikir Dea wanita macam apa? Dia itu gadis baik-baik yang pandai menjaga diri!" Gara membela Dea dengan ucapannya.
"Oh jadi hanya kecemburuan di pecundang yang gagal toh," sahut Sonya dengan senyum merendahkan.
"Bukan lagi kecemburuan tapi ketidak ikhlas an! Dea yang baik bak princess sempurna harus menikah dengan laki-laki cacat macam mantan kekasih mu, siapa yang rela?" Sonya semakin penasaran dengan cerita yang dibuat Gara.
"Tidak sempurna kata mu? Hey buka mata mu, harusnya Dea mu itu bersyukur, Andra adalah CEO utama perusahaan besar milik keluarganya, kau bilang tidak sempurna?" sengaja Sonya memuji fisik Andra.
"Percuma CEO utama atau apalah itu tapi kalau tidak bisa mempunyai keturunan, buat apa?" cetus Gara.
"Apa maksudmu?"
"Mantan kekasih mu itu, mengidap penyakit, ia mengalami disfungsi ereksi, bagaimana bisa mereka mengadakan syukuran sebesar ini," ceplos Gara.
"Apa? Disfungsi ereksi?" terkejut bukan main Sonya, ia jadi ikut berpikir bagaimana bisa Dea hamil jika suaminya mengidap penyakit yang tidak mendukung untuk menanam bibit?
Belum sampai Gara menyahuti, ia lebih dulu di panggil oleh om Sena, dan tanpa pamit pergi meninggalkan Sonya yang masih penasaran.
"Jadi, ada celah buat misahin mereka? Hamil yang pura-pura atau itu anak siapa? Ok kita lihat saja...
__ADS_1