Kemelut Cinta Deandra

Kemelut Cinta Deandra
KCD-02 [Suster Bohay]


__ADS_3

Sudah seminggu penuh Andra menempati suite room rumah sakit Jakarta pusat ini, luka fisik sudah pulih, bahkan ia sudah berjalan-jalan bersama Desta ke lorong-lorong rumah sakit.


Kali ini waktunya dokter psikolog menyambangi ruangan Andra, "Selamat pagi pak Andra?" senyum ramah terpancar di wajah tampan dokter berkulit putih itu.


"Pagi Dok," sahut Andra kaku, masih tersenyum Fajar menanggapi sahutan kaku dari pasien arogan-nya itu.


"Fajar Handoko, panggil saja Fajar," bak seorang sahabat dokter muda itu mengulurkan tangannya.


"Hah, iya," sahut Andra menganggukkan kepala. Seolah cuek dengan keadaannya, Andra tidak begitu merespon psikolog yang duduk di hadapannya.


Mereka duduk di kursi samping jendela kaca, hamparan taman bunga rumah sakit terlihat indah, bahkan jalan raya yang macet pun terlihat dari sana.


"Pak Andra harus ikhlas, tidak boleh mendendam..."


"Anak TK juga tau pasal itu Dok!" datar Andra menyahuti, sedikit menghela napas Fajar menghadapi si arogan nan tampan ini.


^^^Di ruang obat...^^^


Seorang suster tengah menata obat, terlihat gestur tubuhnya seolah gelisah dan tidak tenang, "Suster Maya kenapa?" tanya seorang suster lain yang baru saja masuk.


"Aku kebelet kencing nih, tolong gantiin aku buat nganter obat ini ke ruang sana ya De! Nanti di sana ada dokter Fajar!" tanpa menunggu jawaban, suster bernama Maya itu sudah berlari meninggalkan nampan obat yang sudah tertata rapi.


Gadis berpakaian suster itu mau tak mau harus mengantarkan obat itu, perlahan langkah kaki itu mengayun menuju ruangan suite room, seperti tak asing pintu masuk itu, kala gadis berseragam suster itu berdiri didepan pintu yang masih tertutup.


"Bukannya ini ruangan..."


Ceklek!!!


Tiba-tiba pintu terbuka dari dalam, "Ada apa ya Sus?" tanya pria tampan yang baru saja membuka pintu.


"Maaf saya mengantarkan obat yang dokter Fajar minta," ucap suster cantik itu.


Fajar dan Andra terpaksa harus terdiam kala mendengar perbincangan didepan pintu masuk, "Siapa Des? Bilang aku masih sibuk!" cetus Andra.


"Tapi ini suster yang mau mengantarkan obat pesanan dokter Fajar," sahut Desta tanpa menyingkir dari ambang pintu.


"Oh itu asisten saya, suruh masuk saja, masuk May!" teriak Fajar.


Tak lama kemudian seorang gadis dengan tampilan suster seksi lengkap dengan rambutnya yang di cepol ke atas muncul dari balik pintu.


"Lho? Kamu siapa? Bukannya hari ini jadwal Maya?" tanya Fajar dengan raut wajah yang bingung.


Berbeda dengan Fajar yang bingung, Andra seolah menatap terus gadis cantik berpakaian ala suster itu.


"Maaf Dok, tadi suster Maya sedang ke toilet, dan saya yang menggantikannya," sahut suster cantik itu dengan terus melangkah, seolah terpaku Andra terus menatap suster cantik itu.


"Letakkan saja nampan mu di sana! Nama kamu siapa? Kamu suster baru di sini?" tanya Fajar.

__ADS_1


"Saya Dea, Dok, iya baru lima hari saya bekerja di sini," senyum ramah tak lepas dari wajah cantik itu.


"Ya sudah, kembalilah! Terimakasih sudah mengantarkan obatnya," ucap Fajar dengan senyum juga.


Suster bernama Dea itu mengangguk, kemudian berbalik dan berjalan meninggalkan ruang pasien elite itu.


^^^Malam hari...^^^


Tama dan Sania baru saja tiba di dalam suite room dimana putra tampannya dirawat, perasaan sedikit lega terpancar sampai ke raut wajah kedua orang tua itu.


"Sayangnya Mommy," Sania memeluk Andra yang masih duduk di atas ranjang pasiennya.


"Mom! Andra udah gede!" begitulah Andra, dia tak suka diperlakukan seperti anak kecil walaupun mommy Sania hanya mencurahkan kasih sayangnya.


"Tapi kamu tetap anak Mommy! Oh iya, gimana? Udah enakan, kan? Dokter Fajar bilang tinggal konsultasi seminggu sekali saja, jadi besok kamu bisa pulang," antusias Sania dalam menyampaikan berita gembira itu.


Andra hanya mengangguk, tak ada sahutan suara darinya, "Oh iya tadi Mommy ngabarin Sonya loh, katanya dia..."


"Stop Mom! Andra nggak mau dengar soal dia lagi!" terkejut kedua orang tua Andra mendengar si putra tampannya itu bersuara dengan nada tinggi.


"Why? Baby? Em... Are you ok?" kembali Sania bersuara lembut juga pelan, ia membelai kepala sang putra.


"Ada apa Ndra? Kau bertengkar dengan Sonya mu itu?" tanya Tama yang masih berdiri di sisi Sania.


"No, Dad! Kita sudah berakhir, so... jangan sebut nama itu lagi," pelan suara Andra, namun terlihat jelas ada luka di dalam dadanya.


Jangankan satu bulan kemarin, sebelum kecelakaan terjadi saja Andra dengan semangat mengatur acara tunangan dengan begitu mewahnya sampai menghabiskan dana 1M, dan itu baru tunangan dan itupun juga harus gagal.


"Lalu? Persiapan yang menghabiskan 1M mu itu? Mau kau apa kan?" tanya Tama.


"Terserah Daddy saja, Andra pusing!" cetus Andra dengan meringkuk dibalik selimutnya.


"Ya sudah, kembali ke rencana Daddy, biar uang 1M mu tidak melayang sia-sia, malam ini juga Daddy mau melamar kan anak gadis teman Daddy untuk mu!" cetus Tama.


Segera Andra kembali bangkit dari posisi meringkuk nya, "Ayolah Dad! Kondisi Andra sedang seperti ini! Memangnya gadis mana yang mau menikah dengan laki-laki cacat?!" keluh Andra dengan posisi duduk menghadap sang ayah.


"Itu biar jadi urusan Daddy!" cetus Tama.


"Ck! Terserah Daddy saja lah!" berdecih Andra kembali menutupi tubuhnya dengan selimut rumah sakit.


Hari berganti dengan begitu cepatnya, bahkan malam kelam kini susah disinari mentari menjadi pagi yang cerah.


Masih dengan hati yang kesal, Andra mengklaim kedua orang tuanya egois, dan tak memikirkan kondisinya, bukannya hanya akan membuat dirinya sendiri malu jika ia belum sembuh dari disfungsi ereksi nya dan sudah harus menikah, bagaimana ia akan memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang suami.


Duduk di dekat jendela, Andra melamun, bahkan kedatangan suster tetap membuatnya bergeming.


"Permisi Tuan, waktunya minum obat," suara itu membuat Andra menoleh, dan ya, suster cantik bernama Dea itu yang berdiri di sampingnya.

__ADS_1


"Ada apa dengannya? Beberapa hari yang lalu, dia masih marah-marah," batin Dea dengan meletakkan nampan di atas meja.


"Biarkan saja Sus, biar nanti saya yang urus," suara seorang gadis membuat Dea mengangguk seraya tersenyum sebelum meninggalkan ruangan itu.


"Baiklah saya permisi," tak surut senyuman manis nan ramah itu dari mata Andra, juga aroma vanila yang sempat menusuk rongga hidungnya.


"Sayang, kenapa tidak kasih kabar kalau kamu kecelakaan? Juga kenapa tidak kasih kabar kalau kamu sudah diangkat menggantikan Om Tama? Aku sudah nggak..."


"DIAM!!!" teriak Andra setelah sekian banyak suara yang tak mau ia dengar itu nyerocos panjang lebar.


Tersentak gadis cantik yang tak lain adalah Sonya, si mantan pacar CEO tampan itu, "Andra? Kau membentak ku?" mulai berkaca-kaca kedua mata gadis cantik itu.


"Desta! Desta!" teriak Andra, tak sedikitpun ia bergeming dari tempatnya.


"Kemana perginya?" gumam Andra hingga tak lama kemudian, Desta masuk, langkah kakinya mendekati Andra.


"Maaf Bos! Saya tadi ke toilet sebentar..."


"Suruh wanita murahan ini keluar, aku tidak sudi melihat wajahnya!" lirikan mata yang hanya sekilas itu sudah menunjukkan bahwa Andra begitu membenci Sonya.


"Cih, menjijikkan!" cetusnya sembari membuang pandangan kearah luar jendela.


Mengangguk patuh, Desta segera menggiring Sonya untuk keluar dari ruangan itu.


Walau dengan segala bentuk penolakan, Desta tetap menyeret mantan kekasih bosnya itu keluar.


"Desta?" panggil Andra kala si sekretaris tampan sudah berdiri kembali di sampingnya, "Iya Bos," sahutnya.


"Kapan kita pulang?"


"Tinggal menunggu Bos besar dan nyonya besar saja, Bos,"


"Aku mau jalan-jalan," tatapan mata Andra terarah kepada gadis yang tengah mendorong kursi roda di taman rumah sakit yang terlihat dari jendela kamar Andra.


"Mau jalan-jalan atau..." Desta tentu tau kemana arah pandangan si bosnya.


"Kau tau yang ku pikirkan?" senyum tipis menghiasi wajah Andra.


"Ya saya tau, anda pasti tertarik dengan suster bohay dibawah sana," cetus Desta.


"Bukan kah itu bagus, berarti maslaah disfungsi yang ku derita ini sembuh dong?" celetuk Andra.


"Apanya yang sembuh?" suara lain membuat kedua lelaki itu menoleh, ya di sana berdiri dokter Fajar dengan perlengkapan medisnya.


"Hehe... Dokter bikin kaget saja," Andra tersipu, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Perasaan itu tetap ada tapi alangkah baiknya jika bisa berhubungan langsung dengan yang kamu sukai, maka masalah psikologis mu akan berangsur membaik," Andra kali ini mendengarkan dengan serius apa yang dokter Fajar sampaikan.

__ADS_1


__ADS_2