Kemelut Cinta Deandra

Kemelut Cinta Deandra
KCD-18 [Gara-gara Mie Ayam]


__ADS_3

Masih di tengah keramaian hingar bingar acara syukuran, Sonya enggan meninggalkan tempatnya duduk, walau dari kejauhan ia melihat sepasang suami istri yang tentu saja sudah membuatnya iri.


Ada banyak terkaan-terkaan yang menumpuk di dalam otaknya, juga pastinya secara bersamaan ia menata rapi rencana yang ia pikir akan membuahkan hasil.


^^^Di dapur...^^^


Jika diluar sana ramai sekali dengan para tamu undangan, juga canda tawa bahagia, berbeda dengan kondisi dapur yang saat ini sangat lah sepi.


"Saya sudah bilang Tuan, di sini tidak ada lagi stok makanan atau minuman semua sudah diangkut keluar," jelas Santi yang berdiri di belakang Kenzi.


"Ya udah sekarang lo bikin buat gue, dan ini biar gue kasih ke kak Gara dan gadis itu!" ucap Kenzi dengan mengambil nampan yang ada di tangan Santi, dan segera berbalik hendak meninggalkan dapur.


"Tapi Tuan..." segera Kenzi berbalik ia kembali menatap Santi, "Apa lagi?!" sedikit gertakan dan tatapan tajam itu kini menelisik wajah si anak pembantu itu.


"Em... tidak," lirih Santi menggeleng pelan,


segera gadis itu melakukan tugas yang diberikan kepada dirinya.


Melihat Santi segera disibukkan dengan gelas dan beberapa bahan minuman, Kenzi bukannya segera pergi malah menelisik tubuh gadis itu dari kaki hingga ujung kepala, bahkan ia membeku seolah terpana saat wajah Santi sesekali terlihat dari samping.


"Lo ngapain ngeliatin Santi?" Dea tiba-tiba berdiri di samping Kenzi. Bukan kaget Kenzi malah nyeletuk...


"It's perfect," Dea mengerut kening dengan kembali bertanya, "Apanya yang perfect?"


"Hah?" tersadar kali ini Kenzi terkejut melihat wajah kakaknya yang sudah miring serius menatap dirinya, "Apanya yang perfect?" dengan mengangkat kedua alisnya, Dea mengulangi pertanyaannya.


"Ekhem, itu anu besar eh minuman, buah..."


"Buah apa?" melotot Dea dibuatnya, "Buah dada, eh..."


Plak!!!


Satu tamparan membuat Kenzi terdiam setelah latahnya, "Jelalatan ya mata lo?"


"Aduh..." meringis Kenzi, panas rasa pipinya karena tamparan kakaknya, apa lagi kedua tangannya tak dapat mengelus pipi yang terasa panas karena masih memegangi nampan yang berisi minuman juga cemilan.

__ADS_1


"Ada apa Sayang?" Andra yang menyusul Dea melihat ekspresi Kenzi yang seolah kesakitan.


"Nggak papa kok Mas, ayo kita keluar!" ucap Dea dengan merangkul tangan suaminya, dan segera keduanya berjalan meninggalkan dapur, namun baru lima langkah Dea berjalan ia menoleh ke arah Kenzi dengan menunjuk kedua matanya kemudian menunjuk kearah mata Kenzi, seolah ia berkata 'Gue pantau lo!'


Tertelan dengan susah ludah Kenzi, ia pun segera meninggalkan dapur, membiarkan Santi sendiri di sana.


"Kamu kenapa si Yank?" tanya Andra yang kini sudah duduk bersama dengan istri cantiknya.


"Aku kesel sama Kenzi Mas, bisa-bisanya dia mau godain Santi," gerutu Dea, pada akhirnya ia mengeluarkan uneg-uneg yang ada.


"Santi? Astaga, anak muda memang ya," sahut Andra dengan menahan tawa.


"Anak muda Mas bilang? Aku nggak suka ya Mas kalo dia begitu! Apa lagi matanya udah kek jelalatan banget!" gerutu Dea lagi.


"Ya ampun Yank, jangan gitulah, awas jaga bicaranya kamu lagi hamil loh,"


"Maksud Mas anak kita bakal mirip begitu?" Andra hanya mengendikkan bahunya, tak berani ia mengiyakan pertanyaan sang istri, "Dih amit-amit jabang bayi deh!" ucap Dea dengan mengetuk keningnya kemudian mengetuk meja yang ada di depannya. Tertawa Andra melihat tingkah istrinya, segera ia menarik tubuh Dea yang mulai berisi itu kedalam dekapannya.


"Dah, lupakan kekesalan mu itu, kita nikmati acara syukuran untuk buah hati kita ini," penuh kasih sayang Andra mengecup pucuk kepala istrinya juga tangannya mengelus lembut perut Dea yang mulai membulat seperti bola.


Segera ia pasang senyum manis kala netra coklatnya menatap wajah tampan putra bungsu pemilik Zora Group itu.


"Ken! Kau mengejutkan ku!" cetusnya dengan menepuk pelan paha Kenzi yang masih berdiri di sampingnya.


"Apa kau terkejut?" goda Kenzi dengan meletakkan minuman yang dibawanya ke atas meja yang ada di samping Sonya, dan itu hanya mendapatkan balasan senyum manis yang sungguh membuat hati meleleh.


"Ken! Boleh minta tolong!" sedikit berlari Andra mendekati Kenzi yang baru saja menemui Sonya lagi.


"Iya? Ada apa Bang?" tanya Kenzi santai, "Kakak mu, pengen mie ayam tapi ini sudah terlalu larut untuk mencari pembelinya," cecar Andra, benar saja jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam, mana ada tukang mie ayam yang masih buka, jika pun masih ada itu mungkin hanya keberuntungan saja.


Terdiam sejenak Kenzi, ekor matanya melirik kearah sang kakak yang berdiri tak jauh darinya, namun jangan tanya tatapan penuh intimidasi itu terus saja tertuju kepada dirinya.


"Tapi Bang..." belum sempat terucap lanjutkan untaian kata, lirikan Dea sudah lebih dulu melubangi kepala Kenzi, jika saja tatapan mata itu mengandung sinar laser.


"Ck! Ganggu aja!" gumam Kenzi walau hanya gedumelan kecil saja Andra dapat mendengarnya, "Nih, beli 1 di bungkus bawa pulang, sisanya buat kamu!" ucap Andra dengan memberikan selembar uang ratusan ribu.

__ADS_1


Masih menekuk ekspresinya Kenzi tetap menerima uang dari abang iparnya itu, tatapan matanya menatap kearah Dea yang masih terus mengawasinya, kemudian...


"Oy! Sinta!" teriak Kenzi dengan melambaikan tangan kepada seorang gadis yang baru saja melintas tak jauh dari hadapannya.


"Namanya Santi Ken," cetus Dea yang kini sudah memeluk lengan kiri suaminya.


"Ck!" berdecak kesal Kenzi meninggalkan sepasang suami istri itu, bahkan ia melupakan Sonya yang sedari tadi hanya menjadi penonton bisu di sana.


"Mas, aku capek, kita duduk di sana yuk!" ajak Dea manja, sengaja ia sedikit mengeraskan suaranya, tau lah tujuannya apa, ya tujuannya biar Sonya mendengarkan ke uwuwan mereka lah, entah mengapa dongkol sekali Dea setiap melihat Sonya.


"Sayang..." bisik Andra dengan mengelus kepala istrinya, kini keduanya sudah duduk di sofa, "Hem?" sahut Dea yang masih asik dengan menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.


"Adem banget tau nggak kalo liat kamu manja-manjaan begini," tangan besar itu masih membelai-belai rambut sang istri.


"Em... Dea juga nyaman begini," sahut Dea dengan mengeratkan pelukannya di pinggang Andra.


"Ekhem... Mojok terooosss!" sepasang muda-mudi menghampiri Andra dan Dea, "Apaan sih, ganggu aja!" cetus Andra cuek, "Heh tuan CEO yang terhormat! Ini tu masih acara, masih banyak tamu, jangan main mesra-mesraan dong di depan umum," cetus Dewi yang dengan nyamannya menggandeng lengan Desta.


Seperti biasa ke empatnya berbincang juga bercanda dengan seru bahkan Dea juga menceritakan kalau dirinya sempat cemburu dengan kehadiran Dewi yang dia kira adalah masa lalu dari Andra.


Masih duduk di tempat awalnya, Sonya terus memandang kearah sang mantan yang masih asik dengan istri juga teman dan bawahannya.


"Tsk! Gara-gara mie ayam, rencana gue buat deketin tuan muda keluarga Zora gagal!" decihnya dengan berdiri kemudian pergi dari acara pesta yang belum sepenuhnya selesai itu.


Keluar dari hingar-bingar pesta syukuran, di atas motor yang terus melaju pelan kedua muda-mudi itu terus menatap pinggiran jalan mencari penjual mie ayam yang masih buka malam itu, ya siapa lagi kalau bukan Kenzi dan Santi.


"Tsk! Gara-gara mie ayam nih, gue harus jalan-jalan sama lo!" keluh Kenzi dengan nada yang menjengkelkan.


"Lah kalau nggak mau sama saya, kenapa tadi Tuan ngajakin saya?" ceplos aja pertanyaan itu terlontar, bahkan terlihat cuek wajah ayu itu dari kaca spion yang sekilas Kenzi lirik.


"Lah lo mau aja gue ajak-ajak! Dasar murahan!" cetus Kenzi tanpa pikir panjang.


"Bukan murahan Tuan, anda itu adik dari nyonya Dea, jadi saya menjaga hati nyonya Dea!" masih bernada datar Santi berucap.


"Oh jadi bukan kemauan lo buat ikut cowok ganteng di depan lo ini?" percaya diri sekali Kenzi berucap, bahkan Santi sampai mengerutkan dahinya ia tak mengerti dengan manusia super PD di depannya ini, hanya menggeleng kecil Santi kembali fokus dengan jalanan demi mencari mie ayam keinginan sang nyonya...

__ADS_1


__ADS_2