
"Oh berati itu siapa-siapa, atau mungkin itu pacar mu?" terdiam Dea saat tebakan suaminya pas dan tepat sasaran, kedua mata yang membulat juga bibir yang menganga membuat Andra sedikit berprasangka buruk.
"Ah mungkin tebakan ku benar, memangnya apa yang ku harapkan? Bukankah dia tau aku ini laki-laki cacat? Juga pernikahan ini kan ajang perjodohan dari orang tua, mungkin saja benar dia punya kekasih," batin Andra kala melihat ekspresi sang istri yang sepertinya serba salah.
Andra mencubit dagu Dea, "Hey awas nanti ada lalat masuk!" tetap senyum manis yang Andra tunjukkan.
"Tenang saja aku hanya bercanda, toh kalau memang benar, kau sudah menjadi istri ku," bisik Andra di samping telinga Dea.
Meremang Dea dibuatnya, sampai-sampai ia memejamkan kedua matanya, "Hey sudah bermesraan nya! Ayo kita makan dulu, papa mu sudah lama menunggu!" Kaira menyelamatkan suasana canggung Dea.
Malam hari pun tiba, Dea kini sudah diboyong ke kediaman Andra, rumah besar bak mansion kerajaan ini hanya dihuni oleh Andra sendiri bersama dengan beberapa pelayan dan juga bodyguardnya.
Dea Zoraya baru kali ini menapakkan kaki di rumah besar ini, mata bulatnya tak berhenti menyapukan pandangan, banyak barang antik dimana-mana, kebanyakan barang-barang yang di pajang adalah barang-barang yang mungkin mempunyai nilai sejarah, ya... mungkin anak SMP atau SD bisa menyebutnya seperti museum.
"Kau suka mengkoleksi barang-barang tua?" tanya Dea dengan mata yang terus menatap patung-patung juga miniatur-miniatur candi, senjata dan lain sebagainya.
"Tidak juga," sahut Andra yang berjalan mengikuti langkah kaki Dea.
"Lalu?" masih penasaran Dea terus bertanya.
"Dulu setiap kali sekolah mengadakan study tour, aku iseng saja membeli mereka, dan yah begitulah, mereka terlampau banyak, dari pada terbuang aku menata mereka saja," jelas Andra.
"Kau tidak mau memberikannya kepada anak-anak? Mungkin mereka suka dengan pedang miniatur ini?" cetus Dea dengan meraih sebilah pedang yang masih rapi dengan sarungnya.
"Itu terlalu berbahaya untuk anak-anak," Andra mengambil alih kemudian diletakkan kembali pedang itu pada tempatnya.
Beralih Dea meraih karambit yang teronggok di dekat miniatur candi, "Ini juga, kenapa kau tidak memberikannya kepada anak-anak seni pencak silat saja? Pasti mereka mau,"
"Aku membelinya untuk ku simpan, bukan untuk ku bagi-bagikan," lagi dan lagi Andra meraih karambit itu dari tangan Dea.
"Kau mengkoleksi nya?"
"Tidak, hanya suka membelinya saja, dan sayang untuk membuang," cetus Andra.
"Itu namanya mengkoleksi,"
"Terserah kau saja, kau mau minum? Susu, jus, atau..."
"Air putih saja, ini sudah malam," sela Dea.
"Em... baiklah," Andra mengangguk ringan kemudian ia berteriak kepada salah satu pelayan di rumahnya, "Mbok!..."
__ADS_1
Belum sampai ada yang menyahut Dea memegang lengan Andra hingga membuat suami tampannya itu menoleh, "Hanya air putih saja, kau tunjukkan tempatnya dan aku akan mengambilnya," cetus Dea.
"Tidak kau terlalu lelah untuk hari ini, stagen yang kau pakai pagi tadi, aku tau itu pasti terasa sesak," ucap Andra dengan menuntun Dea agar terus berjalan menuju sebuah ruangan, dan ya ruangan itu adalah kamar pengantin yang tanpa sepengetahuan Andra sudah di hias sedemikian rupa, "Kau menghiasnya?" tanya Dea.
"Hah? Tidak, sungguh aku pun tidak tau!" cetus Andra dengan menelfon sekretaris juga tangan kanannya, siapa lagi kalau bukan Desta.
Melihat Dea yang sepertinya tidak suka dengan taburan bunga mawar, segera Andra bertindak.
"Dia memang suka merendah atau bagaimana sih? Jelas-jelas dia bisa berlaku romantis, masalah kebersihan ok sih pasti ada pelayan, tapi soal tata ruang nggak mungkin orang lain yang menata dong," batin Dea dengan memperhatikan punggung Andra yang tengah sibuk menelfon seseorang.
Terdengar Andra menyuruh bawahannya untuk membersihkan kamar pengantin itu.
"Mas," panggil Dea dengan menepuk pundak Andra, tersentak Andra, ia menoleh dan menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Dia memanggilku mas?" batin Andra tak percaya, ada rasa aneh didalam dadanya.
"Tidak usah dibersihkan, Dea suka kok aroma mawar," cetus Dea dengan senyum yang selalu tampak manis dimata Andra.
"Oh, Ok," sahut Andra dengan jari yang segera memutuskan sambungan telepon.
Di luar kamar terlihat Desta menghela napasnya, "Dasar bos bucin!" umpatnya setelah ia berlari dari lantai satu menuju lantai dua dimana kamar si bos terletak, dan ia harus kembali lagi karena satu penolakan dari nyonya mudanya.
Seperti biasa Dea membersihkan diri sebelum tidur, ia sudah cantik dengan busana tipisnya yang berwarna putih gading, dengan dada yang berdebar ia memutuskan untuk mendekati sang suami yang masih duduk di balkon kamarnya.
"Iya sudah malam tidurlah!" sela Andra dengan menoleh kearah istri cantiknya yang masih berdiri dibelakangnya.
Melihat Dea masih diam ditempat Andra segera berdiri dan mendekatinya, "Kita duduk di sana!" Andra menggiring Dea agar duduk ditepi ranjang.
Berdebar hati Dea, "Katanya dia mengalami disfungsi ereksi, kan? Tenang Dea, tenang, malam ini tidak terjadi apa-apa, ok!" batin Dea.
Duduk berdampingan di atas ranjang super King membuat pikiran Dea melayang kemana-mana.
"Nggak-nggak! Gue nggak boleh mikir yang seperti itu!" batin Dea dengan memejamkan mata juga menundukkan kepala.
Terdengar Andra menghela napas, Dea menoleh mendengarnya, "Tampan sih, udah sah juga, ibadah Dea ibadah, nggak dosa menerima tapi dosa untuk menolak, ok Dea relax jangan panik, santai saja," batin Dea dengan memandangi wajah tampan suaminya dari samping.
Andra membelai kepala Dea, "Kamu tau kan, bagaimana kondisi ku?" suara pelan itu membuat Dea trenyuh, ternyata suaminya menahan malu dengan kelainan yang dideritanya.
"Mas tenang aja, Dea bakal bantuin Mas sampe Mas sembuh," kali ini senyum Dea tulus, untuk pertama kalinya mereka berdua saling memeluk, kehangatan hubungan keduanya mungkin akan terjalin mulai dari malam ini.
...-----...
__ADS_1
Drrrttttzzz...
...Drrrrtttzzz......
^^^Drrrttttzzzz...^^^
Terganggu tidur panjang Dea karena dering ponsel yang terus saja berbunyi, terbuka mata sipit Dea, terkejut saat ia melihat sang suami sudah tidak ada di sampingnya.
Juga ia melihat nama Gara yang terlihat dilayar ponselnya, "Ada apa lagi sih?" gumam Dea sebelum ia menggeser tombol hijau.
"Halo?"
📞"De! Gara De, dia jatuh dari lantai dua kampus!" terdengar nada panik dari sambungan telepon yang tak lain adalah suara Jennie teman kampus Dea.
"Heh, yang bener! Emangnya ini jam berapa sih?" Dea dengan rasa takutnya bertanya, gemetar tubuh gadis itu.
📞"Mending lo sekarang ke sini deh, ntar gur share lock! Ini udah jam sembilan De!"
"Ok, Tunggu!" ucap Dea sebelum ia memutuskan panggilan.
Baru saja Dea meletakkan ponsel keatas nakas dan membuka selimut yang masih menutup sebagian tubuhnya, tiba-tiba pintu kamar terbuka dan Andra masuk kedalam kamar, dengan membawa satu nampan yang berisi susu lengkap dengan sandwich di atas piringnya.
"Pagi Sayang," senyum cerah ceria Andra membuat Dea urung dengan niatnya yang akan menemui Gara.
"Hey, kok malah melamun?" tanya Andra yang kini sudah duduk di samping Dea.
"Kok... Mas yang siapin sarapan sih? Kan harusnya Dea bikin sarapan," Dea berucap dengan terbata, sungguh saat ini ia merasa malu dengan suami nya yang ternyata tidak hanya tampan, tapi juga rajin.
Dibalik ketidak sempurnaan Andra, Dea malah menemui hal-hal lain yang membuat Dea semakin menganggumi suaminya.
"Aku meminang mu untuk menjadi istriku, bukan pembantu!" cetus Andra dengan mencubit hidung Dea.
Tersipu Dea dibuatnya, setelah sarapan selesai dengan semangat dan hati yang terasa bahagia Dea berangkat ke kampus, sengaja ia tidak mengambil cuti setelah menikah.
Andra mengantarkan istri kecilnya itu ke kampus sebelum ia berangkat ke kantor, setelah berpamitan dengan suaminya, Dea segera keluar dari mobil, langkah kaki jenjang itu menuju area kampus namun baru saja sepuluh langkah Dea menjauh dari mobil seorang pemuda tiba-tiba memeluk Dea dari belakang.
"Bos? Kau tak apa?" tanya Desta memastikan, saat melihat istri bosnya dipeluk oleh laki-laki lain.
"Aku sudah paham, ayo jalan!" titahnya.
"Kau sudah sebaik ini dengannya, bahkan rumah besar mu kau atas namakan untuknya, bukankah ini seperti kata pepatah, air susu dibalas dengan air tuba?" lagi-lagi Desta berucap.
__ADS_1
"Biarkan itu menjadi urusanku!...