Kemelut Cinta Deandra

Kemelut Cinta Deandra
KCD-03 [Dijodohkan]


__ADS_3

Pulang dari kerja part time nya di rumah sakit, Dea berganti pakaian seperti biasa, ia pulang dari kampus, gadis itu memang diam-diam bekerja di rumah sakit, mengambil kerja part time yang gajinya lumayan.


Terkejut Dea kala ia memasuki pintu rumahnya, terlihat keluarganya berkumpul, sepertinya ada tamu, tapi kenapa ada banyak bingkisan?


Kotak-kotak hadiah, yang ada di dalam pikiran gadis itu, tapi ulang tahun Kenzi sang adik masih belum saat nya sedang ulangtahun dirinya sudah lewat beberapa bulan yang lalu, lalu acara apa ini?


"Mah, Pah?" sopan gadis itu bersalaman kepada kedua orang tuanya juga mencium punggung tangan, bahkan tak hanya kedua orang tuanya saja, Dea menjabat tangan semua tamu yang ada.


"Nah ini Dea Zoraya, puti sulung kami," cetus Zain dengan bangganya.


"Oh, sudah besar ya? Jadi perjodohan yang kita bicarakan dulu itu, bagai mana pak Zain? Masih ingat, kan?" tanya Tama yang duduk berseberangan dengan Zain dan juga Kiara.


"Oh tentu saja masih ingat, tapi bukan kah anak mu masih berada di luar negeri?" tanya Zain menyambut dengan senyum hangat.


"Sudah kembali, hanya malam ini dia masih sibuk dengan pekerjaan barunya, pak Zain tentu paham lah gimana sibuknya menjadi CEO baru di perusahaan besar," jelas Tama dengan tawa yang menghiasi setiap kata.


"Oh, nak Andra sudah menjadi CEO Brista Group sekarang?" tanya Zain antusias.


"Ya masih belajar, tetap saya juga yang mendampinginya," sahut Tama setelah menyeruput teh hangat dari cangkir yang tersedia.


"Tak apalah pak Tama, itu sudah ada masa depan cerah untuk anda beristirahat di dunia persaingan, lah kalau saya, masih harus nunggu Kenzi lulus dulu," Zain menimpali dengan candaannya.


"Memangnya Kenzi wajib menggantikan Papa dikantor?" cetus remaja tampan yang masih seumuran anak SMA.


"Memangnya siapa lagi? Kakak mu harus menikah dan ikut suaminya, anak Papa tinggal kamu Boy!" Zain menjelaskan dengan bahasanya.


"Ck!" hanya berdecih anak muda itu tanpa mau menimpali lagi.


Begitu akrab dan hangat persahabatan kedua orang tua itu hingga rencana perjodohan mereka berjalan lancar.


Namun di samping itu Dea terdiam di atas kasur empuknya, termenung gadis itu, padahal malam ini jam dinding sudah menunjukkan pukul 01.00 WIB.


"Dea? Kamu belum tidur sayang?" tanya Kaira yang mengecek kamar putri sulungnya.


"Eh, Mamah, hehe... belum Mah, belum ngantuk," sepandai-pandainya seorang anak menutupi perasaannya, seorang ibu lebih pandai membaca raut wajah anak gadisnya.


"Ada apa? Cerita dong sama Mama," Kaira duduk di samping Dea, dielus nya kepala Dea.


"Mah Dea kan masih kuliah, masa iya harus menikah," cemberut gadis itu bercerita.


"Memangnya kalau kuliah nggak boleh menikah? Perasaan yang kuliah hamil aja banyak," cetus Kaira.

__ADS_1


"Iya, tapi Mah, Dea..."


"Kenapa? Kamu punya pacar?" terdiam Dea saat pertanyaan itu terlontar.


"Jawab Mama Dea! Laki-laki seperti apa pilihan mu itu sehingga kamu mau menolak pilihan Mama sama Papa?" mengerut kedua alis mama Kaira seolah amarah itu membuncah, mendengar anak gadisnya berpacaran seperti ia mendapat tusukan seribu duri di dalam hati.


Menggeleng kepala gadis cantik itu, ia memilih untuk memendam hubungannya dari pada menyakiti perasaan sang mama tercinta.


"Sekarang tidurlah, besok setelah kelas, Mama atur jadwal kencan mu!" itulah kata terakhir sebelum Kaira pergi meninggalkan kamar anak gadisnya.


Siang hari Dea Zoraya anak dari CEO Zora Group baru saja melangkahkan kakinya keluar dari area kampus, niat hati gadis itu ingin melipir dan menghindari kencan yang telah diatur oleh kedua orang tuanya namun...


"Mari Nona muda, mobil Tuan Andra sudah siap," bermodalkan foto kiriman dari kedua orang tua Dea, pengawal Andra Bristama sudah menemukan calon istri sang Tuan.


"Hah?" terbengong Dea tak kunjung melangkahkan kakinya menuju mobil.


"Mari Nona muda, Tuan Muda sudah menunggu ditempat," sekali lagi pengawal itu berucap, mau tak mau Dea masuk kedalam mobil mewah itu, patuh bagai kerbau yang di cocok hidungnya Dea sedikitpun tak berontak.


Jika Dea tengah dikawal untuk perjalanan menuju cafe tempat kencan, Andra malah sebaliknya, CEO tampan itu diam-diam melipir, ia berjalan mengendap-endap menuju toilet, sesampainya di dalam toilet...


Terlihat Andra menelfon seseorang.


...Tuuuutttt......


Tuuuuuttt...


...Tuuuuttt......


Bunyi dengung sambungan telepon itu masih dengan setia Andra mendengarkannya.


📞"Hallo Bos?" terdengar suara Desta dari balik sambungan telfon.


"Lama banget sih, kemana aja?!" ketus Andra berucap.


📞"Maaf Bos, barusan makan siang sama ayank,"


"Aku share lock, kamu cepat kesini bawa barang yang aku siapkan di atas meja kerja ku!" titahnya, lalu secara sepihak Andra mengakhiri panggilan itu.


Dari parkiran cafe, Dea berjalan masuk, gadis itu hanya diberitahu untuk duduk di meja nomor 12.


Pengawalnya hanya menunggu diluar, karena memang begitu rencana para orang tua, biarkan pertemuan kedua muda-mudi itu berjalan apa adanya walau memang sudah direncanakan.

__ADS_1


"Meja satu dua meja satu dua, satu, dua, satu dua, satu..." berhenti sejenak Dea melihat dua meja kosong.


"Tadi, 12 apa 21 ya?" gumamnya.


"Maaf mba permisi, jangan ditengah jalan," ucap seorang waiters.


"Oh iya maaf," Dea segera berjalan menuju meja dengan nomor 21 diatasnya.


Duduk gadis itu berdebar rasa hatinya, ingin sekali ia pergi dari kehidupan ini, pikirannya melayang, laki-laki seperti apa yang akan dijodohkan dengannya? Jangan-jangan laki-laki tua yang memang kaya raya, atau jangan-jangan, pria tampan Casanova yang banyak dikelilingi wanita. Merenung Dea, bahkan ia tak memesan minuman atau pun makanan.


Sampai-sampai...


"Hai... Suster Dea ya?" sapa seorang laki-laki dengan topi dan juga kacamata hitam yang hampir sempurna menutupi wajahnya.


Mendongak gadis itu menatap pria tampan yang tak asing berdiri dihadapannya.


"Iya, siapa ya?" dengan penuh tanda tanya juga hati yang berdebar gadis itu bertanya.


"Apa jangan-jangan dia orangnya? Masa sih?" batin Dea dengan melihat penampilan laki-laki itu dari atas hingga bawah.


"Saya Andra, pasien yang beberapa hari yang lalu kau rawat," terdiam sejenak Dea setelah mendengar penuturan itu.


"Hah, syukurlah hanya namanya yang sama ternyata dia pasian waktu itu," batinnya dengan senyum ramah juga kepala yang mengangguk, terlihat akrab keduanya ngobrol di meja bernomor 21 itu.


Malam hari di dalam kediaman Tama, kedua orang tua Andra Bristama itu terlihat bahagia, terdengar keduanya tengah mengobrol dengan seseorang didalam sambungan telepon.


"Ok jadi lusa langsung saja, jika memang sudah cocok..." terdiam sejenak sepertinya Tama mendengarkan ucapan dari seberang.


"Iya pak Zain, selamat istirahat juga," setelahnya sambung telepon itu terputus.


"Lancar Dad?" tanya Sania yang antusias menunggu di samping Tama.


"Lancar Mom, katanya anak kita cocok sama nak Dea, mereka ngobrol banyak katanya tadi," jelas Tama.


"Ada apa ini? Kok kelihatannya kaya seneng banget sih?" tiba-tiba Andra datang, ia baru saja pulang dari kantor.


"Aaaaa anak Mommy," Sania dengan hangat memeluk putra tampannya.


"Mommy, Andra udah gede," sedikit berontak Andra menolak peluk hangat sang ibunda.


"Makasih ya Ndra, kamu memang anak yang hebat, kamu berhasil menggantikan posisi Daddy, dan pernikahanmu akan dilakukan lusa, thanks Boy, kamu anak Daddy yang hebat! Selamat istirahat sayang," ucap Tama sembari menepuk pelan pundak Andra, sementara kedua orang tua itu berjalan menuju kamar untuk beristirahat, Andra masih terdiam ditempat, bingung melanda otak kecilnya...

__ADS_1


__ADS_2