
Lagi dan lagi remuk redam tubuh polos Dea, terasa sakit dan ngilu di bagian-bagian tertentu, bekas aliran air mata masih membekas, bahkan mata sembab masih terlihat di wajah ayu itu.
Untuk yang kedua kalinya Andra berhasil menjebol gawang pertahanan istri kecilnya, bukan Dea yang selalu menolak tapi Andra yang tak mampu melanjutkan.
Tak mau bermalas-malasan pagi ini Dea sudah sibuk dengan hidangan-hidangan yang siap ia tata di atas meja makannya, mengetahui suaminya marah karena kedekatan dirinya dengan laki-laki lain, Dea tak mau ikut-ikutan marah, ia cukup dewasa untuk memahami perasaan sang suami apa lagi dengan gangguan psikisnya.
Tak... Tak... Tak...
Menoleh Dea kala langkah berat itu mulai terdengar, ya... Andra sudah rapi dengan jas hitam yang sengaja Dea siapkan setiap paginya.
Nyelonong melewati meja makan, sedikitpun Andra tak melihat atau pun melirik keberadaan istrinya.
Panik Dea segera ia mengejar suaminya yang sepertinya masih memendam rasa dongkol di dalam hatinya.
"Mas tunggu!" teriak Dea dengan memegang pundak Andra, berhenti Andra, namun tak sedikitpun ia melihat wanita ber tanktop dan celemek itu.
"Mas, sarapan dulu yuk!" lembut Dea berucap, kini ia beralih berdiri didepan Andra, membenarkan dasi yang miring juga kerah kemeja yang sedikit kurang rapi.
"Mas, kita bicara baik-baik yuk, jangan ambekan kaya anak remaja gitu lah," masih dengan hati-hati Dea berucap, ia tau tempramen suaminya.
Kali ini Andra menatap kearahnya, perlahan Dea menarik tangan Andra untuk diajaknya duduk di kursi yang tersedia.
"Mas duduk dulu, Dea ambilkan sarapannya ya?" setelah suaminya duduk Dea bergegas menuju meja makan, namun Andra menarik lengan istri kecilnya dan...
Brugh...
Dea terjatuh dipangkuan Andra, dipeluknya erat tubuh ramping itu, Andra membenamkan wajahnya di dada istrinya, terdiam sejenak keduanya, namun kemudian Dea mendengar isak tangis dari suaminya, "Mas?" panggilnya dengan mengusap kepala suaminya.
Mulai Dea membahas tentang sikap Andra yang semalam marah dan kasar seperti saat mereka di Bali.
Seperti anak kecil yang bertemu dengan pawangnya, Andra mulai mengungkapkan kalau dirinya tak suka melihat Dea bersama laki-laki lain.
"Jadi Mas cemburu dengan Dokter Fajar?" tanya Dea dengan menangkup wajah suaminya.
"Hem..." hanya itu yang Andra ucap, "Ya awalnya Dokter Fajar nggak tau kalo Dea udah nikah, dia kasih buket bunga itu karena taunya dia Dea lagi putus cinta dan berniat untuk menghibur Dea," polos Dea bercerita.
"Modus Yank!" cetus Andra.
"Hah?"
__ADS_1
"Iya Modus, dia itu suka sama kamu hanya saja dia profesional dalam pekerjaannya," Dea mengerutkan kedua alisnya.
"Astaga Mas, enggak lah Mas, dia itu baik, dia nggak tau kalo Dea udah nikah, dia taunya..."
"Terus! Terus! Terus aja belain cowok lain di depan suami mu!" sela Andra dengan tatapan tak sukanya.
"Em... Maaf, bukan itu inti pembicaraan kita pagi ini," ucap Dea dengan berusaha tenang dan menutupi rasa takutnya.
Hembusan napas kasar yang Dea dapat dari suaminya, "Mas," Dea membelai pipi Andra, diarahkan tatapan suaminya ke arah wajah cantiknya.
"Mas dengerin Dea dulu deh! Kondisi Mas apa nggak sebaiknya kita periksakan dulu, dua kali kita berhasil melakukannya, tapi malam-malam yang lain kita Zonk, nggak pernah berhasil," ucap Dea.
"Maksud mu, kau mulai mempermasalahkan penyakit ku?" salah paham Andra, ia mengira sang istri tak lagi dapat menerima kekurangannya.
"Bukan begitu Mas!" kali ini nada tinggi yang Dea lontarkan.
"Kau berani membentak suamimu?" kerutan alis Andra membuat Dea kembali mengontrol emosinya.
"Bukan Mas, maaf Dea hanya sedikit terbawa emosi karena Mas salah paham terus dari tadi!" cetus Dea.
"Salah paham?" semakin mengerut saja alis Andra.
"Hem... Begini, kita ah maksudku aku, apa aku kurang menarik dimata mu? Apa aku kurang menggairahkan? Apa aku gagal menggoda Mas?" pertanyaan beruntun itu Dea lontarkan sehingga membuat Andra mengerti.
"Tidak Sayang," halus ucapan Andra, ia meraup tubuh Dea dan dibawanya kedalam peluk hangatnya.
"Tidak, bukan begitu, kamu cantik, kamu baik, Mas suka semua yang ada pada mu, Mas juga nggak ngerti kenapa bisa begini," cetus Andra, mendengar pengakuan suaminya, Dea segera melepas peluk hangat itu perlahan.
"Mas, gimana kalo kita melakukan cek up," usulan itu Dea lontarkan, ia kira ia mendapat lampu hijau untuk berpendapat, tapi ternyata Dea salah, setelah mendengar kata cek up raut wajah Andra berubah drastis.
"Mas nggak mau ya? Dea pikir kalo kita cek keadaan Mas, kita bisa tau yang salah dimana nya dan kita bisa perbaiki," sangat hati-hati Dea berucap.
Terdiam sejenak Andra, namun segera ia menjawab usulan dari istrinya, "Boleh, Mas setuju, tapi Mas nggak mau ke dokter Fajar!" cetus Andra.
"Astga, masih aja begitu, ok deh terserah Mas aja!" cetus Dea yang sudah pusing dengan suaminya yang sangat cemburu dengan dokter Fajar.
"Ya sudah kita sarapan dulu, baru habis ini kita cek up!" cetus Dea yang segera berdiri dari pangkuan suaminya.
Andra setuju, mereka segera sarapan, bahkan setelah sarapan selesai Andra dengan segera menghubungi Desta untuk segera meng-handle meeting hari ini, juga sekalian meminta informasi tentang dokter psikologis yang bagus.
__ADS_1
Sudah mendapatkan dokter rekomendasi dari Desta, Andra dan Dea segera meluncur menuju klinik dokter yang Desta rekomendasikan.
"Selamat pagi pak Andra," baru saja masuk dan duduk, suara ramah itu menyapa Andra dan Dea.
"Pagi juga Dokter..." terdiam sejenak Andra, ia membaca name tag yang terletak di dada kanan si dokter.
"Dokter Sena," senyum ramah dokter itu kembangkan kala Andra menyebutkan namanya.
"Iya, pak Andra, apa keluhan anda?" pertanyaan demi pertanyaan mulai terlontar, dengan santai dan juga rasa nyaman Andra menyampaikan segala keluh kesahnya.
Bahkan semua kegiatan yang ada di kantor juga kesibukannya yang selalu mengejar tender Andra tak lupa menceritakan.
Sampai akhirnya dokter Sena menyimpulkan bahwa Andra terlalu kelelahan dan kurang konsentrasi dan juga kurang fokus dalam membangun kemistri bersama istrinya.
Pamit Andra dan Dea setelah keduanya selesai sesi curhat, keduanya kini keluar dari ruangan dokter Sena namun baru saja Dea membuka pintu, mereka berdua dihidangkan dengan penampilan wajah tampan Gara.
"Dea? Lo sakit?" masih perduli Gara bertanya kepada mantan kekasihnya itu.
"Dea baik-baik saja! Maaf kita mau pulang!" Andra merangkul pundak Dea, dan dibawanya Dea untuk segera pergi dari tempat itu.
Gara menatap dua punggung yang kian menjauh itu, hingga...
"Hayooo liat apaan?" terkejut Andra kala ia mendapati sosok Sena yang sudah berdiri dibelakangnya.
"Anjir! Kaget gue! Om apaan sih, bikin Gara kaget aja!" cetus Gara.
"Hehehe... iseng aja, lagian anak muda kaya kamu ngapain liatin pasangan suami istri?" sahut Sena.
"Nggak papa kok, heran aja pasien Om ada yang muda juga ya? Itu yang melakukan sesi curhat yang laki apa yang cewe?" tanya Gara, tentu saja dengan modul yang di sembunyikannya.
"Oh, itu rahasia dong!" cetus Sena dengan berjalan masuk ke dalam ruangannya.
"Idih, sama keponakan sendiri juga, lagian Gara kan bakal jadi ahli psikologis juga, nggak papa dong sedikit berbagi, biar Gara bisa menangani kasus-kasus begini," kilahnya yang memang masuk akal melihat jurusan yang Gara ambil.
"Ok deh demi keponakan, itu yang laki mengalami disfungsi ereksi..."
"Hah? Yang bener?" terkejut Gara mendengarnya.
"Terus itu gimana? Bisa sembuh nggak?" tanyanya lagi.
__ADS_1
"Tergantung pasien kalo soal kesembuhan sih, aku sendiri tidak bisa memastikan," sahut Sena.
Gara terdiam, entah apa yang tengah memenuhi otak kecilnya, yang jelas Gara tidak bisa mengabaikan begitu saja berita besar ini...