
Didalam mobil yang tengah melaju dijalan raya, Kaira bersama dengan beberapa teman sosialita nya tengah bersenda gurau didalam mobil VANS berwarna putih.
Namun ketika mobil yang berisi ibu-ibu sosialita itu melewati sebuah kantin yang yang dekat dengan rumah sakit, tak sengaja kedua netra Kaira menangkap sosok yang tak asing baginya.
"Andra? Sama siapa dia?" gumamnya lirih, namun sesaat kemudian ia kembali disibukkan dengan pergibahan bersama teman-temannya.
^^^Di kantin...^^^
Teriakan Sonya membuat beberapa orang yang ada di kantin rumah sakit itu melihat kearahnya. Namun Andra tak perduli ia terus saja berjalan meninggalkan tempat makan siang itu, dan masuk kedalam rumah sakit, tak mau ketinggalan Sonya segera mengejarnya.
Andra terus saja berjalan dengan segala gedumelan unek-unek yang ia keluarkan, bahkan umpatan-umpatan ia cetus dengan suara lirih demi melegakan hatinya.
"Pak Andra? Mau cek up?" tak sengaja Andra bertemu dengan Fajar yang kebetulan baru datang.
"Eh dokter Fajar, iya dok," keduanya kini masuk kedalam ruang psikologis, tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang terus mengintai dibalik tembok rumah sakit.
"Buat apa Andra masuk ke dalam ruangan itu? Apa dia sakit?" batin Sonya yang masih menatap pintu dimana Andra menghilang.
Mentari kini telah bergulir ke ufuk barat, pertanda pergantian hari telah tiba, hingga senja mulai melanda.
Dea sudah berganti pakaian, baru saja ia mendapat pesan dari suaminya,
📥[Sayang, maaf aku nanti pulang telat, kamu makan malam duluan saja, jangan menunggu ku.]
Begitulah isi pesan yang segera Dea balas dengan dua huruf, "Ok!"
Tak ada guratan kemarahan ataupun kekecewaan, Dea paham bagaimana kesibukan suaminya. Baru saja Dea mengirim pesan singkat kepada suaminya, sebuah mobil avanza hitam berhenti didepannya.
Kaca mobil perlahan turun dan menampakkan wajah tampan seorang dokter...
"Suster Dea?" sapa seorang laki-laki yang berada di dalam mobil.
"Iya Dokter Fajar," senyum ramah tetap Dea suguhkan.
"Menunggu seseorang?" tanya Fajar yang masih stay didalam mobil.
"Tidak, saya menunggu taksi, kebetulan su..."
"Mari saya antar pulang!" tawaran itu ingin sekali Dea tolak namun ia melihat dari kejauhan motor Gara menuju ketempat dimana ia berdiri.
"Baik, terimakasih Dok," segera Dea masuk kedalam mobil dokter ahli psikologi itu.
Karena sebelumnya Fajar pernah mengantarkan Dea pulang, dokter tampan itu memberhentikan suster cantik itu di depan kediaman keluarga Zora.
"Terimakasih Dok," ucap Dea sebelum ia keluar dari dalam mobil, tersenyum Fajar, ia menahan lengan Dea saat Dea akan segera membuka pintu mobil.
"Nggak disuruh mampir nih?" godanya, terdiam sejenak Dea sedikit bingung.
"Maaf Dok..."
Melihat ketidak nyamanan Dea, Fajar mengangguk, "Saya hanya bercanda suster Dea, jangan dianggap serius, hehe..." ucapnya dengan tawa ringan.
__ADS_1
Dari dalam rumah seorang wanita yang sudah berusia hampir setengah abad itu mengamati mobil yang berhenti di depan gerbang rumahnya, mengerut kedua alis ibu dua anak itu saat mendapati putri sulungnya turun dari mobil yang kemudian melaju pergi.
"Siapa Mah? Kak Dea?" terkejut Kaira saat suara putra bungsunya menyapa tepat di samping telinganya.
"Astaga Ken! Bisa tidak jangan bikin Mama jantungan!"sedikit bernada tinggi Kaira berucap.
"Dih apaan sih, masa gitu doang Ken dimarahin," segera pemuda yang masih duduk di bangku SMA itu ngeloyor pergi setelah dimarahi Mama Kaira.
Kaira hanya menggeleng pelan kepalanya menanggapi sikap anak bungsunya yang memang bandel.
"Mah?" kembali terkejut Kaira saat putri sulungnya kini sudah berdiri di sampingnya, namun dengan segera Kaira mengendalikan detak jantungnya.
"Kamu pulang?" Dea mengangguk sedang Kaira celingukan melihat siapa yang akan muncul dibelakang Dea.
"Sendiri?" lagi-lagi Dea mengangguk, "Kalian bertengkar?" kali ini Dea menggeleng dan bersuara, "Tidak! Mama apaan sih? Jangan jadi emak-emak sinetron deh!" cetus Dea dengan berjalan menuju sofa yang teronggok di ruang tengah, anak sulung Kaira dan Zain itu menghempaskan pantatnya pada permukaan sofa lembut nan empuk itu.
Seolah lelah Dea memejamkan mata seraya menarik napas panjang kemudian menghembuskan nya.
Kaira segera duduk di samping Dea, "Sayang jujur deh sama Mama, kalian pasti bertengkar, kan?"
"Enggak Mah, Astaga," Dea duduk dengan menatap mama Kaira-nya.
"Lalu mana suamimu? Kenapa kesini hanya sendiri?" Kaira masih mengorek informasi, mungkin ia tengah menggabungkan puzzle yang ia dapat siang tadi.
"Mas Andra masih lembur, bentar lagi juga dia bakal jemput, tadi Dea udah bilang kalo Dea main ke sini kok," cetus Dea.
Tok... Tok... Tok...
Baru saja keduanya membicarakan Andra, pintu utama rumah besar itu diketuk oleh seseorang dari luar.
"Mbok! Bukakan pintu!" teriak Kaira kepada pelayan yang ada didalam rumah besar itu.
"Nggak perlu nyuruh mbok, ini sekalian Ken bukain!" cetus Ken dengan berjalan menuju pintu utama kediaman Zora.
"Lo mau kemana udah wangi aja?" tanya Dea yang melihat sang adik sudah rapi dan wangi.
"Biasalah, anak muda, nongki dong," sahut Kenzi berteriak dengan membuka pintu utama.
"Siapa Ken?" teriak Kaira dari dalam ruang tengah.
"Eh abang, nyariin kak Dea ya?" bukan menyahuti ibunya Kenzi malah berbasa-basi dengan kakak iparnya.
"Iya Ken, kakak mu ada?"
"Ada tuh, lagi manja-manjaan sama Mama, sana masuk aja, Ken mau jalan dulu," cetus pemuda nakal itu yang langsung ngeloyor keluar dari rumah besarnya.
Andra berjalan masuk kemudian mendekati Kaira, "Mah, sehat Mah?" tanya Andra dengan menjabat tangan Kaira kemudian diciumnya punggung tangan orang tua itu.
"Hem, sehat," cetus Kaira singkat.
"Ih Mama kenapa sih?" tanya Dea bingung.
__ADS_1
"Kapan kalian kasih cucu buat Mama, Mama nggak mau ya kalo sampe Mama di katain nenek-nenek tua," untaian kata itu tercetus begitu saja, dan sangat mengejutkan sepasang suami istri itu.
"Em..." Dea hendak berucap namun segera Kaira menyela, "Kamu belum hamil kan De?"
Dea tersentak, bingung ia harus bagaimana, alasan apa yang akan Dea berikan.
"Awas lo, biasanya laki-laki kalo nggak dikasih anak bakal cari wanita lain,"
"Astaga Mama! Jangan gitulah ngomongnya!" cetus Dea.
"Mama ngomong apa adanya De, Laki-laki itu begitu, coba saja kalo sampe lima bulan kedepan kamu belum hamil, mertua mu pasti sudah ribut mencarikan istri muda untuk suami mu," terkejut Dea dengan kata-kata pedas yang Mama Kaira ucap.
"Nanti kita usahakan Mah, berhubung ini sudah malam, Andra ajak Dea pulang dulu ya Mah," pamit Andra, mereka segera pulang setelah berpamitan.
^^^Setibanya di rumah... ^^^
Beres-beres dan bersih-bersih Dea dan Andra lakukan masing-masing, masih dengan diam tanpa suara, kemudian keduanya kini sudah duduk di atas ranjang, dimana tempat itu sudah menjadi tempat curhat ternyaman bagi keduanya berbagi cerita.
"Mas..." panggil Dea yang bersandar dipundak Andra, "Hem?" Andra membelai pucuk kepala istri kecilnya.
"Maaf in kata-kata mama barusan ya?" tak enak hati Dea meminta maaf kepada suaminya.
"Nggak papa Sayang, justru Mas yang minta maaf karena kita belum bisa memiliki momongan," ucap Andra.
"Eh tapi tadi dokter Fajar bilang kalo sering dikasih rangsangan pasti bakal cepat sembuh, iya kan?" tanya Dea.
"Rangsangan?" keduanya kini saling tatap satu sama lain, "Gimana kalo kita coba?" tawaran itu terucap dari bibir Dea.
"Nggak!" tolak Andra karena ia mengingat Dea yang begitu dekat dengan teman laki-lakinya. Segera CEO tampan itu menarik selimut dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tebal.
Dea yang dicuekin Andra lama kelamaan pun ikut merasa ngantuk dan tertidur.
Pagi hari...
Masih pagi buta mata pun masih enggan untuk terbuka, namun dering ponsel Andra terus saja berdering, segera ia menggeser tombol hijaunya.
"Halo Dad?" suara khas bangun tidur terucap dari mulut Andra.
📞"Daddy diluar, bukakan pintu sekarang!" cetus Tama yang ternyata sudah berdiri didepan pintu.
"Apa?! Ok, ok Andra segera keluar. Setelah mempersilahkan Taman dan Sania masuk, ke empatnya duduk melingkar di ruang tengah.
"Kalian semalam di sidang bu Kaira?" tanya Sania.
"Iya, dia minta cucu," cetus Andra.
"Memang susah, lalu kondisimu bagaimana?" tanya Tama.
"Sudah lumayan," singkat Andra mengucapkan.
"Kalo sudah sembuh, bagaimana kalo kalian bulan madu?" saran Sania membuat Dea dan Andra saling tatap dalam diam.
__ADS_1
"Bukan bulan madunya, pasal bayinya bagaimana? Mau dapat bayi merah dari mana kita?" kali ini Andra geram dengan keputusan ibundanya.
"Bagaimana kalo kita adopsi saja?...