Kenangan & Trauma

Kenangan & Trauma
Bab 11 : Ketakutan


__ADS_3

Hari ini merupakan hari kedua sekolah Enzi memulai pelajaran lagi setelah libur semester kemarin, hari ini keadaan sungguh sangat panas, yang membuat beberapa siswa siswi kelas Enzi yang sedang berolahraga di lapangan pun sangat kelelahan. Ada beberapa siswa yang sedang duduk di bawah pohon dan ada beberapa siswa yang duduk di pinggir lapangan.


"Baiklah anak anak sekarang kalian boleh ke kantin," ujar olahraga tersebut yang bernama pak Agam.


"Kenapa cepat banget pak, bukannya masih ada satu jam lagi?" tanya salah satu siswa.


"Sebentar lagi guru ada rapat. Jadi kalian bisa istirahat sekarang."


Para murid bersorak kegirangan mendengarkan itu, berarti tandanya beberapa jam kedepan guru tidak ada yang masuk karena ada rapat.


"Zi, kita ganti baju dulu apa ke kantin dulu?" tanya Venya .


"Kita ganti baju dulu aja biar nyaman kita makannya." Venya hanya mengangguk tanda setuju.


Setelah mereka mengganti baju olahraga, mereka pergi ke kantin dan memesan makanan, dikantin cukup ramai dikarenakan tidak ada guru dikelas karena guru akan memulai rapat.


Sibuk dengan makanannya Enzi dan Venya tidak menyadari bahwa beberapa orang telah duduk disamping mereka.


"Lapar banget kayaknya lo berdua sampai kita duduk pun enggak kalian sapa," ujar Aldo dengan terkekeh dan tentunya membuat Enzi serta Venya kaget.


"Sejak kapan kalian sudah ada disini?" tanya Venya.


"Sudah dari zaman purba!" ujar Aldo dengan suara sedikit tinggi.


"Jangan teriak teriak bego, lo duduk disamping gue lama lama tuli telinga gue karena teriakan lo," ucap Aldi sambil mengusap telinga.


"Ya sudah jangan duduk didekat gue, jauh jauh aja lo sana." Usir Aldo terhadap kembaran nya.


"Gue yang dulu duduk disini jadi, lo yang pindah bukan gue," ujar Aldi sambil menolak badan Aldo


"Enggak mana ada, duluan gue yang duduk disini."

__ADS_1


"Gue."


"Gue."


"Gue."


"Gue."


Sedangkan Kaivan, Reihan, Arkan, Enzi, dan juga Venya hanya menghela nafas mendengarkan pertengkaran kembaran ini, hingga Arkan mengusap kedua wajah mereka.


"Diam bego, berisik banget lo berdua teman teman yang lain keganggu karena lo berdua," ujar Arkan dengan gregetan.


"Salahin aja si Aldi yang minta ribut duluan."


"Kenapa lo salahin gue sih."


"Iya emang karena lo," ucap Aldo tidak mau disalahkan.


Ucapan Aldi tertahan di tenggorokan nya saat Kaivan berbicara.


Sedangkan Enzi yang menggeleng kepala melihat tingkah laku dari kakak kelas nya.


"Enzi." Panggil Kaivan.


"Iya?" jawab Enzi sambil menatap Kaivan.


"Lo sudah pikir jawaban dari pertanyaan gue yang semalam itu." Dan Enzi langsung menghentikan memakan makanannya.


"Kasih gue waktu lagi kak, gue enggak mau gegabah," ujar Enzi.


"Jawaban apa nih, kenapa kita enggak dikasih tau," tanya Aldo sambil menatap keduanya.

__ADS_1


"Kepo banget lo kayak dora," ucap Reihan sambil menepuk pundak Aldo dengan keras.


"Sakit bego!" Ujar Aldo sambil mengusap pundaknya yang perih.


"Mampus." Setelah mengatakan itu Venya tertawa terbahak-bahak dan membuat Aldo kesal setengah mati.


Setelah memakan makanannya Enzi dan Venya izin untuk masuk ke kelas, walaupun ditahan karena alasan guru masih rapat, Enzi tetap ingin masuk. Enzi tidak nyaman dengan tatapan yang Kaivan berikan kepadanya dan Enzi tidak mau gegabah menjawab pertanyaan tersebut, Enzi takut salah pilih.


Sesampainya mereka dikelas, Enzi langsung diserbu bermacam pertanyaan dari Venya.


"Jawaban apa sih Enzi, gue penasaran banget."


"Kenapa lo pengen tahu banget sih." Heran Enzi.


"Hehehe, lo tau sendirikan gue bagaimana orang nya, gue kepo banget kasih tahu ya ya," ujar Venya dengan mata memelas.


"Iya iya, jadi sebenarnya Kak Kaivan nembak gue beberapa malam yang lalu." Jelas Enzi.


Sedangkan Venya hanya mengangguk dan membentuk mulut nya seperti huruf o tapi sedetik kemudian Venya terkejut.


"Apa!" dan itu membuat siswa yang berada dikelas menatap mereka.


"Sorry ya ges, silahkan dilanjutkan kegiatannya," ujar Venya cengengesan dan Venya langsung merapatkan tubuh nya dengan Enzi.


"Lo Ditembak sama kak Kaivan?" tanya Venya memastikan dan Enzi mengangguk.


"Dan lo jawab apa?"


"Gue belum jawab, gue minta waktu sama kak Kaivan buat mikirin hal ini, gue enggak mau salah pilih dan membuat hati gue terluka lagi,gue takut nanti hati gue bukannya terobati tapi malah tambah terluka," ujar Enzi dan Venya hanya mengangguk dan mengelus bahu sahabat nya.


"Gue tau perasaan lo, kalau lo emang enggak suka jangan dipaksain, jangan merasa enggak enak karena nolak cinta dia, ikutin kata hati lo dan jangan lupa juga gunakan akal lo supaya lo enggak menyesal dikemudian hari." Venya memberikan nasihat untuk sahabat nya dan Enzi mengangguk mendengarkan nasihat dari sahabatnya.

__ADS_1


"Ternyata lo bijak juga ya," ujar Enzi dengan terkekeh dan itu membuat Venya sangat kesal.


"sialan." Dan Enzi tertawa keras mendengarkan umpatan dari mulut Venya.


__ADS_2