
Aira dan Enzi sedang menikmati makanan buatan mereka sambil menonton film di televisi yang berada di depan mereka. Malam ini mereka tinggal berdua dikarenakan Kenzi yang akan menginap di rumah temannya karena ada beberapa hal yang harus diurus untuk mendaftar kuliah, dan Elina juga menginap dirumah temannya karena juga memiliki tugas kuliah yang harus diselesaikan bersama sama.
Malam ini begitu dingin karena diluar sedang hujan deras, dan membuat Enzi selalu memeluk bundanya karena dia merasa hangat saat memeluk bundanya.
Saat sedang asyik menonton tiba tiba mereka mendengar nada dering yang berasal dari handphone Enzi dan saat Enzi melihat siapa yang meneleponnya, dia pun mengurungkan niatnya untuk mengangkatnya, Enzi membuat pengaturan di handphonenya dengan nada senyap dan membuat Aira heran karena Enzi tidak mengangkatnya.
"Siapa dek?" tanya Aira.
"Bukan siapa siapa Bun." Aira heran melihat respon Enzi yang biasa biasa saja.
"Bukan siapa siapa Bunda, cuma nomor iseng aja," ujar Enzi yang melihat pandangan Aira terhadapnya.
"Kamu yakin?" Dan Enzi hanya mengangguk saja bahwa yang dia katakan benar walaupun sebenarnya salah dan Aira hanya bersikap biasa saat melihat Enzi mengangguk.
"Bunda." Panggil Enzi.
"Iya, kenapa dek?"
"Malam ini Enzi tidur sama Bunda ya, Enzi nggak berani tidur sendiri karena lagi hujan deras kayak gini."
"Kamu sudah besar dek, masa sama hujan takut." Ejek Aira kepada putri bungsunya itu dan Enzi menghela nafas mendengarkan ejekan dari Aira dan Enzi pun berkata.
"Enzi bukan takut sama hujannya Bun, tapi Enzi takut nanti tiba tiba ada petir, boleh ya Bun," mohon Enzi dengan menyatukan kedua tangannya dan Aira hanya terkekeh melihat tingkah laku anak bungsunya. Tingkah laku putri bungsunya itu selalu membuat nya tertawa atau pun terhibur karena sangat menggemaskan dimatanya.
"Iya boleh sayang," ujar Aira dengan mengelus rambut Enzi dan Enzi tersenyum dengan tanggapan bundanya.
"Ya sudah kamu ke kamar bunda terus kita tidur sekarang."
"Masih jam setengah 9 Bun, masih awal banget buat tidur." Cemberut enzi.
"Besok bunda mau ajak kamu ke butik, katanya pengen nemenin bunda kerja," ujar Aira dan Enzi hanya mengangguk, Enzi yang mendengar itupun langsung bangun karena memang dia sudah berjanji kepada Bundanya untuk membantu bundanya di butik saat libur tiba.
__ADS_1
"Ya sudah Enzi duluan ya mau sikat gigi dulu," ujar Enzi serta pergi ke kamar Aira.
"Bentar lagi bunda nyusul!" Enzi hanya mengangguk mendengarkan teriakan bundanya.
Sesampainya Enzi di kamar, dia langsung menyikat gigi dan segera menaiki kasur bundanya. Sebelum itu dia memeriksa handphone nya dan dia heran sangat banyak panggilan masuk. Enzi menghela nafas melihat siapa yang meneleponnya.
"Ngapain coba kak Kaivan selalu telpon gue, kagak kerjaan aja ini orang," kesal Enzi.
"Nggak peduli lagi gue sama dia, siapa suruh nyakitin hati gue, nikmatin tu karma karena sudah menyakiti hati seorang anak dari Bunda Aira, kan gini jadinya." Dumel Enzi.
Sedangkan dibawah Aira sudah siap siap ingin masuk ke kamarnya tapi suara bel menghentikan langkahnya.
"Siapa malam malam kesini," ucap Aira dengan heran karena suasana yang sudah malam ditambah dengan hujan yang cukup deras.
Aira langsung menuju ke arah pintu dan dia melihat seseorang yang dia kenal datang dengan basah kuyup.
"Ya Allah Kaivan kamu ngapain disini nak?" tanya Aira dengan terkejut, bagaimana tidak terkejut dia melihat mantan kekasih putri nya datang dengan keadaan basah kuyup dan Kaivan hanya memakai baju kaos dan celana panjang tanpa memakai jaket atau apapun yang dapat mencegah tubuh nya terkena hujan.
Aira sudah mengetahui bahwa Kaivan dan putrinya putus dan dia juga tahu permasalahannya, tapi bukan berarti dia tidak mempunyai hati, dia tidak langsung mengusir nya karena perbuatan Kaivan kepada putri nya.
"Kamu masuk dulu ya, Tante panggil Enzi dulu."
"Nggak usah Tan, saya tunggu di luar saja," tolak Kaivan dengan lembut disertakan bibir yang sudah pucat dan menggigil.
"Tapi diluar dingin nak," ujar Aira memberi pengertian.
"Nggak papa Tante," ujar Kaivan dengan tersenyum dan Aira hanya menghela nafas mendengarkan jawaban dari Kaivan dan dia langsung buru buru untuk memanggil Enzi.
Cukup lama Kaivan menunggu sambil memeluk dirinya karena cuaca yang sangat dingin ditambah dia juga basah kuyup dan akhirnya Enzi berdiri di depannya.
"Ngapain lo kesini?" tanya Enzi dengan malas dan Kaivan hanya bisa melihat Enzi dengan mata sendu nya. Dan dapat Kaivan lihat tidak ada tanda sayang lagi di mata Enzi. Kaivan menghela nafas dan kemudian berkata.
__ADS_1
"Zi, gue mau minta maaf atas kesalahan gue, gue tau gue salah."
"Berapa kali harus gue bilang kak, gue sudah maafin lo dan berhenti buat ganggu gue." Sedangkan Aira hanya mendengar ucapan mereka berdua tanpa mau mengganggunya, biarkan putrinya menyelesaikan permasalah.
"Gue rasa lo belum maafin gue Zi, gue tau gue salah, gue mohon maaf sama lo, gue benar benar cinta sama lo Zi, dan ini bukti cinta gue sama lo. Gue bahkan rela kehujanan demi mendapatkan minta maaf dari lo Zi," ujar Kaivan dengan panjang lebar dan Enzi hanya malas mendengarkan ucapan Kaivan.
"Yang suruh lo hujan hujanan siapa, gue nggak nyuruh lo, lo aja yang nggak berhenti mengemis permintaan maaf dari gue dan sudah berapa kali gue bilang, gue udah maafin lo tapi gue nggak mau kembali sama lo kak, norak lo kak." Setelah mengucapkan itu Enzi pergi ke kamarnya dengan cepat dan Kaivan tidak bisa menghentikan langkah Enzi dan Aira hanya menatap sendu ke arah Kaivan.
"Nak, sebaiknya kamu pulang dulu ya kayaknya suasana hati Enzi sedang tidak baik baik saja, kalau suasananya sudah membaik kamu kesini lagi atau enggak kamu bisa jumpa di sekolah," ujar Aira
"Iya Tante, Kaivan balik dulu ya," ujar Kaivan dengan tersenyum.
"Kaivan sebaiknya kamu balik pakai mobil Tante saja ya, supaya tidak basah lagi takutnya nanti kamu sakit."
"Nggak papa Tan, Kaivan pakai motor sendiri saja kalau begitu Kaivan pamit ya Tan." Kaivan pun pergi dari sana sebelum pergi dia melihat ke arah rumah Enzi dan berharap Enzi akan menghentikannya untuk pulang tapi harapannya pupus karena Enzi tidak keluar dan Kaivan hanya bisa menghela nafas saja.
Kaivan pun pergi dari kediaman Enzi dan Aira hanya menatap kepergian Kaivan dengan kasihan.
Aira pun mengejar putrinya yang sudah memasuki kamarnya. Dan dapat dia lihat putri sedang duduk disamping ranjang sambil termenung.
"Sayang." Enzi mendongak melihat siapa yang memanggilnya.
"Nak, tidak seharusnya kamu seperti itu, kasihan Kaivan. Kenapa kamu belum maafin Kaivan?" tanya Aira dan Enzi hanya menghela nafas mendengarkan pertanyaan dari Aira.
"Enzi sudah maafin kak Kaivan Bun, tapi dia nya berpikir aku belum maafin dia. Padahal aku sudah maafin dia jauh hari," ujar Enzi dan Aira paham dengan situasi sekarang.
"Kamu tau nggak kenapa Kaivan sampai berpikir kamu belum maafin dia?" Enzi menggeleng mendengarkan pertanyaan yang keluar dari mulut bundanya.
"Itu karena sikap kamu yang cuek, kamu seakan akan menghindar dari pandangan dia, dan itu yang membuat dia berpikir bahwa kamu belum memaafkan dia," sambung Aira memberi penjelasan kepada putri nya.
"Enzi salah ya bun?" Aira menggeleng dan berkata.
__ADS_1
"Kamu nggak salah nak, tapi akan lebih baiknya kalau kamu nggak usah cuek kamu biasa aja di hadapan dia, kalau kamu sudah memaafkan dia bilang dengan baik baik tanpa ada nada yang kurang enak didengar, paham?"
"Paham Bun." Aira tersenyum mendengarkan jawaban Enzi. Karena sudah larut mereka pun membaringkan tubuh mereka di kasur.