
Sekarang Enzi dan Venya sedang duduk dikantin dan sedang berbicara perihal Kaivan yang datang ke rumah Enzi saat hujan sedang turun dengan cukup keras.
"Dia ngapain ke rumah lo?" tanya Venya penasarannya.
"Dia cuma mau minta maaf."
"Emangnya lo sudah lo maafin?" Enzi mengangguk dan berkata.
"Gue sudah maafin dia, tapi dia saja yang masih ngemis permintaan maaf dari gue padahal gue nggak dendam sama dia gue cuma sakit hati aja." Venya hanya mengangguk.
Dan ada satu hal yang membuat Venya heran dengan situasi sekarang.
"Zi." Panggil Venya.
"Iya?"
"Selama beberapa hari ini kak Kaivan nggak kelihatan, emang dia kemana?" Enzi hanya mengangkat bahu nya tanda dia tidak tahu.
"Setelah kejadian malam itu gue nggak pernah liat kak Kaivan sampai hari ini dan dia juga nggak pernah telpon gue lagi," ujar Enzi.
"Apa dia udah nyerah ya buat dapetin lo lagi."
"Bisa jadi, tapi gue bersyukur kalau dia sudah nyerah karena gue enggak mau menggantungkan perasaan orang." Cukup lama mereka berbicara tentang Kaivan dan akhirnya bel masuk pun berbunyi dan mereka pun masuk ke kelas untuk mengikuti pelajaran.
__ADS_1
Setelah beberapa jam kemudian bel tanda pulang pun berbunyi.
"Zi, lo pulang sama siapa?" tanya Venya yang melihat Enzi sedang memasukkan buku ke dalam tas nya.
"Kayaknya sama bang Kenzi, katanya bang Kenzi hari ini pulang siang jadi dia jemput gue," ujar Enzi.
"Ayo kita ke halte, gue juga nunggu jemputan."
"Ayo."
Mereka berdua menuju halte dan menunggu jemputan mereka masing-masing sambil berbicara beberapa hal, tidak lama kemudian mereka kedatangan beberapa orang yang seharusnya tidak datang.
"Enzi…," panggil salah satu dari mereka dan Enzi hanya menatap malas ke arah mereka.
"Kita mau ngomong sesuatu tentang Kaivan." Ya itu adalah teman temannya Kaivan.
"Mau ngomong soal apa, soal dia yang berhasil dapat hadiah dari taruhannya?" Mereka hanya menggeleng mendengarkan perkataan Enzi.
"Bukan Zi," jawab Arkan dengan lesu.
"Terus?" tanya Enzi dengan bingung sekaligus penasaran.
"Kaivan lagi sakit Zi." Enzi menatap heran ke arah mereka, kenapa mereka memberitahukan hal tersebut kepadanya.
__ADS_1
"Terus, sahabat gue harus ngapain, orang sakit ya kalian bawa kerumah sakit ngapain kasih tahu sahabat gue, kalian kira sahabat gue dokter apa," ucap Venya dengan kesal.
"Bukan itu, Kaivan sakit dan dia ngigo dan selalu panggil nama lo, kata dokter dia harus dipertemukan dengan orang yang selalu dia sebut dan kita mohon sama lo Zi, tolong lihat Kaivan sebentar saja," ucap Reihan dengan penuh harap dan di angguki oleh yang lain nya.
"Maaf kak, gue nggak bisa," ujar Enzi.
"Kenapa Zi?, kenapa lo nggak bisa?" tanya Arkan dengan lesu, dia benar benar pusing memikirkan keadaan teman nya yang sangat memprihatikan, mereka tau mereka salah.
"Karena gue nggak mau lagi buat deketan dengan kak Kaivan kak." Enzi memang sudah memaafkan Kaivan tapi Enzi tidak mau lagi deketan dengan Kaivan, Enzi memang tidak akan bersikap cuek lagi dengan Kaivan seperti nasihat bundanya tapi bukan berarti dia akan selalu berada disamping Kaivan.
"Kita mohon Zi, sekali ini saja."
"Maaf, gue nggak bisa kak," ujar Enzi.
"Zi gue mohon sama lo, kita nggak akan minta lo buat balikan sama Kaivan. Kita hanya minta lo buat jengukin Kaivan, kita mohon Zi." Arkan benar benar berharap semoga Enzi mau bertemu dengan Kaivan karena cuma ini satu satunya cara agar Kaivan sembuh.
"Maaf gue ngg-." Ucapan Enzi terpotong dengan teriakan Aldo yang sedari tadi diam, dan teman teman nya yang mendengarkan teriakan itu syok.
"Lo nggak punya hati jadi cewek Zi!, nggak punya otak memang lo!, dasar cewek murahan lo!, teman gue lagi sakit bodoh!, dan kita cuma nyuruh lo buat jenguk dia doang nggak lebih bangsat!" Ucap Aldo yang sudah kesal dengan sikap Enzi, Aldo sedari tadi diam karena menahan kekesalan nya kepada Enzi dan Enzi hanya terkekeh mendengar perkataan Aldo, teman teman Aldo sudah melotot mendengarkan perkataan Aldo, Aldo yang tersadar apa yang sudah diucapkannya pun mengucapkan permintaan maaf.
"M-maaf Zi, gue nggak sengaja gue nggak bermaksud ngomong seperti itu," ujar Aldo dengan menyesal.
"Ternyata kalian nggak sadar diri ya, lebih nggak punya hati gue apa kalian, kalian buat perasaan gue hancur, kalian yang sudah membuat gue sakit hati sedalam dalam nya dan enaknya lo bilang gue nggak punya hati," ujar Enzi dengan terkekeh dengan air mata yang sudah turun di pipinya dan Venya hanya bisa menenangkan sahabatnya saja tanpa mau menyela perkataan Enzi.
__ADS_1
"Zi kita mohon jangan seperti ini, gue mohon kasih kita kesempatan buat perbaiki semua dan gue mohon tolong jenguk Kaivan sekali saja." Mohon Aldi dengan menyatukan kedua tangannya di depan dada nya.