
Sekarang Enzi dan Venya sedang berada dirumah Enzi untuk memilih baju untuk acara prom night di sekolahnya nanti malam. Yang dimana acara prom night dilakukan untuk merayakan kelulusan kelas 3 dan kelas 1 dan 2 boleh mengikutinya juga.
Walaupun begitu kelas 1 dan 2 hanya boleh menonton saja dan memeriahkan acaranya saja karena acara yang diadakan harus berkesan bagi anak kelas 3.
"Kita pakai dress warna apa ya Zi?, warna putih atau hitam atau warna abu abu," tanya Venya yang masih bingung dengan warna baju yang akan dipakai nanti malam.
"Menurut gue warna abu abu saja, karena warna hitam sudah dipakai oleh anak kelas 3 dari IPS dan warna putih sudah dipakai oleh anak kelas 3 dari IPA." Dan Venya hanya mengangguk mendengarkan perkataan Enzi, kenapa Enzi mengetahui hal tersebut, karena tadi sebelum Venya datang Enzi sudah bertanya kepada Kenzi, anak kelas 3 memakai baju warna apa, biar mereka tidak sama dengan kelas 3. Karena acara nanti malam milik anak kelas 3 bukan milik anak kelas 1 ataupun 2.
"Kemudian lo mau pakai heels atau sepatu?" tanya Venya lagi
"Gue pakai sepatu aja, karena lo tau sendiri kan gue nggak nyaman dengan heels."
"Ya udah, gue pakai sepatu juga buat nyaman dan aman."
"Mau pakai warna apa?" tanya Enzi.
"Bagaimana kalau warna putih, bagus kayaknya kalau dipadukan dengan dress warna abu abu," ucap Venya memberikan saran.
__ADS_1
"Boleh, kayaknya memang cocok kalau dua warna itu dipadukan."
Malam pun tiba, Enzi dan Venya pun berangkat ke acara prom night yang akan diselenggarakan sebentar lagi, mereka berangkat menggunakan mobil Venya dan untuk Kenzi, dia sudah berangkat terlebih dahulu karena harus menjemput pacarnya.
Setibanya mereka di sana, mereka terus bergabung dengan teman teman sekelasnya dan berbicara hal hal seperti biasa.
Sedangkan di sisi lain Kaivan dan teman temannya juga melihat Enzi dan Venya yang sangat cantik, terutama Enzi. Kaivan sedari tadi tidak melepaskan pandangannya dari Enzi, malam ini Enzi sungguh sangat cantik dengan dress yang membalut tubuh indahnya ditambah dengan make up tipis yang sangat cocok dengan wajah manisnya itu.
Kaivan benar benar tidak bisa melepaskan pandangannya itu, dia tersenyum sendiri melihat Enzi yang berbicara di seberang sana sambil tersenyum, mengingat hal itu Kaivan hanya bisa menghela nafas, dia tidak bisa lagi melihat senyuman yang indah serta nyaman itu secara dekat, karena Enzi selalu menghindar dari nya.
Saat acara dimulai pun pandangan Kaivan tidak lepas dari Enzi, sedangkan teman temannya hanya menatap Kaivan tanpa mau mengganggunya, mereka pikir biarkan saja temannya ini melepaskan rindu dengan mantan kekasih nya itu.
"Lo mau kemana?" tanya Aldi.
"Gue mau ke toilet bentar." Dan Aldi pun hanya mengangguk saja dan Kaivan pun pergi mengikuti Enzi dari belakang, ternyata Enzi ingin pergi ke toilet.
Dan Kaivan menunggu di pintu masuk dan keluar, kali ini dia benar benar tidak akan melepaskan Enzi, dia harus meluruskan masalah ini, bagaimanapun caranya.
__ADS_1
Betapa terkejutnya Enzi saat melihat Kaivan sudah berada di pintu, Enzi berpikir sedang apa dia disini bukankah toilet laki laki berada disebelah sana mengapa dia berada disini.
Enzi tidak memperdulikannya dan Enzi langsung melewati Kaivan. Dan tiba tiba tangannya dicekal oleh Kaivan.
"Ngapain tarik tarik sih kak," ujar Enzi sambil berusaha melepaskan tangannya dari tangan Kaivan.
"Gue nggak akan lepasin lo sebelum lo dengerin penjelasan gue."
"Penjelasan apa sih kak?" ujar Enzi dengan geram.
"Penjelasan tentang hubungan kita Zi, lo harus dengerin penjelasan gue dulu." Enzi berusaha melepaskan tangannya dan akhirnya pun tangan nya bisa dilepaskan.
"Hubungan apa lagi kak, kita sudah nggak ada hubungan apa apa, hubungan kita sudah selesai beberapa minggu yang lalu dan lo nggak usah jelasin apa apa, semuanya sudah jelas kak," ujar Enzi.
Kaivan yang mendengar itupun hanya menunduk tanda tidak berani menatap mata Enzi dan akhirnya dia pun berani menatap mata Enzi dan berkata.
"Gue minta maaf Zi, gue benar benar minta maaf."
__ADS_1
"Gue sudah maafin lo kak, berapa kali harus gue bilang, gue maafin lo dan berhenti buat menaruh harapan di gue karena harapan gue sudah lo putuskan oleh diri Lo sendiri." Setelah mengatakan itu Enzi pun pergi dari sana sedangkan Kaivan hanya menatap sendu dengan kepergian Enzi.
"Walaupun lo sudah maafin gue, gue masih merasa bersalah Zi," ujar Kaivan dengan lirih.