
Sesampainya mereka di rumah Kaivan, Arkan membuka pintu untuk mereka masuk dan Enzi mengedarkan pandangannya melihat rumah Kaivan, rumah Kaivan sungguh sangat luas lebih luas dibandingkan dengan rumahnya.
"Kaivan ada dikamar, ayo gue anterin," ujar Arkan kepada Enzi dan Enzi hanya mengangguk serta mengikuti Arkan dari belakang diikuti oleh yang lain nya.
Mereka menaiki tangga untuk menuju ke kamar Kaivan yang berada dilantai dua, sesampainya mereka disana bertepatan dengan seorang laki-laki yang keluar dari kamar Kaivan, dan dia yang masih terlihat muda.
"Om Reno," panggil Reihan.
"Kalian kapan sampainya?" tanya orang tersebut yang bernama Reno Alexander atau Ayah dari Kaivan yang merupakan pengusaha kaya raya.
"Baru saja tadi om." Dan reno hanya mengangguk.
"Gimana keadaan Kaivan om?" tanya Aldi dan Reno hanya menggeleng.
"Dia masih nggak mau makan sedikitpun, om takut sakitnya tambah parah," ujar Reno dengan lesu melihat keadaan putra yang seperti tidak ada kehidupan didalam dirinya, dia tidak tahu harus melakukan apalagi, Reno belum melihat Kaivan dengan keadaan sekacau ini, bahkan dulu waktu istrinya meninggal Kaivan tidak separah ini.
Enzi hanya mendengarkan percakapan antara teman teman Kaivan dengan ayah Kaivan, apakah dia keterlaluan?, apakah dia yang menyebabkan Kaivan sakit?, sibuk memikirkan itu tiba tiba Arkan memperkenalkan dirinya kepada Reno.
"Oh iya om, ini Enzi yang waktu itu Arkan ceritakan ke Om." Enzi tersenyum ke arah Reno sambil membungkukkan badannya.
"Halo om, saya Enzi." Reno mendekat ke arah Enzi.
"Jadi kamu yang namanya Enzi."
"Iya om," ujar Enzi dengan lembut.
"Kamu mau ya tolong om sebentar, tolong suruh Kaivan buat makan, om tahu anak om salah tapi kali ini saja tolong buat Kaivan mau makan dan minum obatnya," ujar reno dengan memohon, Reno sudah tahu permasalahan anaknya diceritakan oleh teman temannya, Awalnya dia ingin marah kepada anaknya karena memperlakukan seorang penemu seperti itu, tapi melihat penyesalan anaknya dia menjadi tidak tega untuk memarahinya.
Enzi pun mengangguk, "Enzi masuk dulu ya."
__ADS_1
Melihat mereka mengangguk kemudian dia pun membukakan pintu kamar Kaivan, dan yang lainya menunggu diluar. Dan dapat dilihat Kaivan sedang bersandar di tempat tidurnya sambil melihat ke arah luar jendela dengan pandangan kosong seperti tidak punya kehidupan, sebenarnya hati Enzi berasa bersalah melihat keadaan Kaivan seperti ini gara gara dirinya.
"Gue minta maaf Zi, gue sayang sama lo." Enzi hanya menghela nafas mendengarkan lirihan itu.
"Kak…," panggil Enzi.
Kaivan yang terkejut dengan suara itu pun langsung melihat ke arah dimana suara itu berasal, dan Kaivan terkekeh dengan sendu dan membuat Enzi bingung.
"Saking sayangnya gue sama lo Zi, sampai sampai gue terbayang wajah dan suara lo." Enzi yang mendengar itu pun langsung menuju ke arah Kaivan dan duduk di pinggir kasur.
"Ini gue Kak," ujar Enzi sambil memegang tangan Kaivan, dia sedih melihat keadaan Kaivan yang seperti ini, bibir yang pucat serta kering, mata yang membengkak dan ada lingkar hitam disekitar mata nya dan dapat Enzi pastikan bahwa berat badan Kaivan turun drastis karena dia melihat Kaivan jauh lebih kurus dari biasanya.
Mendengar itupun Kaivan langsung duduk dengan tegap dan memegang pipi Enzi
"Ini beneran lo Zi?" tanya Kaivan dan Enzi mengangguk.
"Iya kak ini gue." Kaivan langsung memeluk Enzi dan terisak di dalam pelukan itu.
"Iya Kak, sudah berapa kali gue bilang gue sudah maafin lo." Kaivan melepaskan pelukannya dan berkata.
"Zi, gue mohon kasih gue kesempatan satu kali lagi, gue janji gue nggak akan nyakitin lo lagi, gue janji,"ujar Kaivan dengan cepat dan menyodorkan kelingkingnya ke arah Enzi dan Enzi pun mengaitkan kelingkingnya dengan kelingking Kaivan, dia pikir tidak salahnya memberi Kaivan kesempatan satu kali lagi.
"Iya kak, gue akan kasih lo kesempatan lagi dan apabila lo masih nyakitin gue, gue mohon maaf kesempatan lo akan habis." Kaivan mengangguk dengan cepat mendengar perkataan Enzi.
"Ya sudah sekarang lo makan dan minum obat."
"Gue nggak mau zi," ujar Kaivan dengan menutupi mulutnya.
"Kenapa?" tanya Enzi.
__ADS_1
"Mulut gue pahit dan mual."
Enzi meletakkan makanan itu dan menatap Kaivan dengan dalam dan itu membuat Kaivan salah tingkah.
"K-kenapa?" tanyanya.
"Berhenti menyiksa diri lo sendiri kak, lo bahkan nyakitin perasaan teman teman lo dan bokap lo." Kaivan bingung dengan perkataan Enzi.
"Teman teman lo rela berlutut di depan gue demi lo, mereka mohon mohon supaya gue mau ketemu lo, ditambah tadi bokap lo juga mohon mohon supaya gue mau melihat lo, banyak orang yang sayang sama lo jadi jangan egois dengan perasaan lo sendiri." Kaivan hanya menunduk mendengarkan perkataan dari Enzi, dirinya memang salah tidak seharusnya dia seperti ini.
"Maaf," lirih Kaivan dengan menunduk.
"Bukan sama gue kak, lo harus minta maaf sama teman teman lo dan bokap lo," ujar Enzi dan Kaivan hanya mengangguk.
"Ya sudah sekarang lo makan, biar lo kuat buat turun kebawah dan minta maaf sama teman teman lo serta bokap lo." Kaivan pun menuruti perintah dari enzi, Kaivan tidak mau Enzi marah dengan nya lagi dan membuat enzi menjauh darinya dan dia senang akhirnya dia dan Enzi bisa bersama lagi.
Tapi beberapa suap kemudian Kaivan sudah menutup mulutnya.
"Mual?" tanya Enzi dan Kaivan hanya mengangguk dan kemudian Enzi memegang tangan Kaivan untuk menuntunnya ke kamar mandi.
Kaivan memuntahkan semua makanan yang tadi dia makan
"Sudah kak, kalau nggak ada yang bisa dimuntahkan lagi jangan dipaksa. Kasian perut lo," ujar Enzi sambil mengurut tengkuk Kaivan. Dan Kaivan rasanya ingin menangis rasanya, mulutnya yang pahit ditambah mual yang tidak mau berhenti.
"Sudah ya, kita pergi ke tempat tidur, supaya lo bisa istirahat kak." Kaivan mengangguk mendengarkan ucapan Enzi.
Enzi kemudian membaringkan Kaivan agar beristirahat tapi kemudian tiba tiba Kaivan menangis.
"Kenapa nangis kak?"
__ADS_1
"Kepala gue sakit banget Zi, rasanya semuanya berputar." Kaivan sudah terisak sambil menutup matanya dan Enzi berinisiatif memberi pijatan untuk Kaivan dan Enzi juga bersenandung dengan suara lembut nya dan itu berhasil membuat Kaivan tertidur.
Kemudian Enzi menarik selimut untuk menutupi badan Kaivan dan kemudian Enzi turun untuk menemui sahabat serta ayahnya Kaivan.