Kenangan & Trauma

Kenangan & Trauma
Bab 13 : Kenyamanan II


__ADS_3

Saat ini Enzi dan Venya sedang duduk dikantin, sekarang sudah waktunya istirahat dan seperti biasanya Kaivan dan teman temannya selalu menghampiri Enzi dan Venya waktu istirahat tiba.


Dengan Kaivan dan Enzi yang menjadi tokoh utamanya serta yang lainnya menjadi figuran dalam kisah cinta mereka. Dan Kaivan selalu memperhatikan setiap gerak gerik Enzi, sedangkan teman temannya yang lain sibuk berceloteh tanpa memperdulikan si tokoh utamanya.


Seperti sekarang Venya, Arkan, Reihan serta Aldi sedang mendengarkan curhatan Aldo yang tiada habisnya, Aldo dari tadi pagi selalu menceritakan kekesalan kepada pacarnya yang berselingkuh di belakang nya.


"Emangnya gue kurang apa sih, gue kaya, gue ganteng juga iya, gue anak sholeh juga iya, sikap gue juga baik tuh enggak pun sikap gue kaya setan," ujar Aldo menyampaikan keluh kesahnya sedangkan Aldi hanya menghela nafas mendengarkan keluh kesah kembarannya, soalnya sudah dari kemarin dia mendengarkan tangisan Aldo yang tiada habisnya. Bahkan orang tuanya juga sudah memenangkan Aldo tapi Aldo tidak berhenti menangis dan hari ini mata Aldo sangat bengkak seperti habis diserang lebah.


Tiba tiba tangisan Aldo semakin kencang yang membuat mereka terkejut bahkan Enzi sampai tersedak dan Kaivan langsung memberinya air.


"Diam bego, malu maluin aja lo liat tu Enzi sampai tersedak gara gara lo," ujar Aldi dan Aldo langsung memberhentikan tangisan dan melihat kearah Enzi yang mukanya sudah memerah dan sedang diberi minum oleh Kaivan dan Venya membantu mengelus punggung Enzi.


"Masih sakit?" tanya Kaivan.


"Udah mendingan kak," ujar Enzi sambil meletakkan minuman nya di atas meja.


Kaivan mengambil tisu dan mengelap keringat diwajah Enzi dan membuat Enzi terdiam bagaikan patung.


"Lo kesakitan banget ya, sampai keluar keringat seperti ini." Enzi tidak bergeming sedikitpun dan membuat Kaivan serta yang lainnya heran dengan sikap Enzi.


"Zi." Panggil Venya.


"Enzi!" panggil Venya dengan kencang.

__ADS_1


"I-iya kenapa?"


"Lo yang kenapa dari tadi panggil enggak jawab, kesambet lo?" ujar Venya.


"Enggak gue enggak papa kok, kita ke kelas sekarang ayo." Enzi langsung menarik tangan Venya tanpa berpamitan dengan Kaivan dan yang lainnya.


"Pada kenapa sih?" ujar Aldo Melihat Enzi pergi dengan terburu buru sedangkan Kaivan menyeringai melihat tingkah Enzi tadi dan Arkan menyadari itu.


"Kai." Panggil Arkan.


"Eum."


"Lo yakin mau lanjutin?" tanya Arkan dan dengan tegas Kaivan menjawab.


"Lo mau lanjutin dengan cewek sebaik dia?, Dan cewek itu adeknya kakak kelas kita, kalau ketahuan lo pasti di pukul habis habisan sama Abangnya, dan kalau lupa abangnya Enzi adalah selalu juara di bidang taekwondo." Arkan menjelaskan kekhawatirannya kepada sahabatnya.


"Tenang aja, dia enggak bakalan tau hanya 5 bulan aja kan, gue punya cara lain." Sedangkan teman temannya hanya pasrah mendengarkan jawaban Kaivan.


Sedangkan disisi lain, Enzi sedang menormalkan jantungnya yang berdetak dengan cepat saat Kaivan mengelap wajahnya tadi.


Venya bingung melihat tingkah Enzi yang seperti orang mabuk asmara.


"Lo kenapa sih zi, dari tadi gue tanya Lo main narik narik tangan gue aja."

__ADS_1


"Enggak gue enggak papa kok."


"Lo yakin?"


"Iya."


Venya hanya mengangguk mendengarkan jawaban dari Enzi dan tiba tiba dia teringat sesuatu


"Gimana hubungan lo dengan kak Kaivan?" tanya Venya.


"Lo sudah jawab pertanyaan dia blm?" sambung Venya.


"Belum."


"Kenapa?, padahal kelihatan nya lo dan kak Kaivan sama sama nyaman kalau gue liat."


"Kelihatan ya?" tanya Enzi dan Venya mengangguk dengan cepat.


"Gue sebenarnya memang nyaman sama dia, tapi bukan berarti gue langsung menerima dia jadi pacar gue, gue enggak mau karena kenyamanan ini buat gue sakit hati pada akhirnya. Gue harus memantapkan hati gue, apakah gue bisa menerima dia atau tidak." Enzi menjelaskan kekhawatirannya kepada Venya.


"Gue dukung lo, apapun nanti pilihan lo gue akan selalu ada di sisi lo."


"Makasih Ven."

__ADS_1


"Sama sama."


__ADS_2