
"Astaghfirullah ya Allah panas banget otak gue liat rumus kek gituan." Keluh Venya kepada Enzi yang berada disampingnya, mereka sekarang sedang menuju ke kantin untuk jajan. Dan sudah empat hari mereka melaksanakan ujian untuk semester ini.
"Menurut gue enak kok soalnya," ujar Enzi tenang. Sedangkan Venya melirik Enzi dengan sinis.
"Karena lo pinter Enzi sayang ku cintaku, coba kalau otak lo kayak gue, pasti nggak sanggup deh lo liat soal sama rumus kek begituan." Enzi malas mendengarkan keluh kesahnya Venya yang tidak habis dari tadi.
"Itu karena lo nggak belajar tadi malam, coba saja lo belajar pasti bisa, cuma lo nya aja yang malas."
"Gue nggak suka pelajaran matematika, makanya gue nggak belajar."
Setelah mereka berdua sampai di kantin, mereka langsung memesan dan duduk di salah satu meja yang berada di pojok kantin.
Tidak lama kemudian terdengar teriakan histeris dari para siswi.
"Ya ampun kak Kaivan ganteng banget sih!"
"Kak Reihan anak anak kita sedang menunggu di rumah!"
"Kak aldo meleleh aku!"
"Kak Aldi ganteng banget sih!"
"Kak Arkan jadi cowok gue ayo!"
Dan ada teriakan teriakan yang lainnya yang tidak di hiraukan oleh mereka kecuali Aldo, Aldo sibuk tebar pesona dengan cewek cewek yang tadi memujinya. Kalau tidak ditarik oleh Aldi dipastikan Aldo akan sampai besok menggoda cewek cewek tersebut.
Mereka berlima menuju ke sebuah meja.
"Halo cil…," sapa Aldo
Enzi dan Venya yang sedang fokus makan pun mengalihkan pandangannya ke arah Aldo.
"Halo juga kak," balas Enzi.
__ADS_1
"Kita duduk disini ya," ucap Kaivan.
"Eh ngapain duduk disini kak?" tanya Enzi penasaran.
"Lo nggak lihat, semua meja udah penuh dan disini doang yang masih ada kursi buat kita duduk," ujar Kaivan sambil duduk disamping Enzi. Enzi mengedarkan pandangannya dan benar saja tidak ada tempat duduk lagi dan dia hanya menghela nafas melihat itu, sebenarnya dia canggung karena harus duduk dengan kakak kelasnya dengan berdampingan seperti ini, tapi apa boleh buat ya sudahlah Enzi tidak menghiraukan lagi, dia langsung menyantap makanan lagi.
"Do, lo yang pesan sana." Perintah Kaivan.
"Kenapa selalu gue sih, sekali kali lo suruh si Aldi atau enggak lo suruh Reihan, kalau nggak Arkan juga ada disamping lo, kenapa harus gue tiap hari." kesal Aldo.
"Karena muka lo cocok jadi babu," ujar Aldi dengan santai tanpa melihat kearah Aldo yang sudah menatap kesal kearah nya.
"Mohon maaf nih ya, muka kita berdua sama kalau muka gue cocok jadi babu muka lo juga cocok dong."
"Beda sifat, beda aura, beda kepintaran, beda tinggi, beda berat badan. Itu yang buat kita beda dan lo lebih cocok jadi babu."
Sedangkan Kaivan, Reihan, dan Arkan hanya malas melihat pertengkaran yang tiap hari selalu ada diantara mereka kalau tidak dipisahkan maka sampai besok pun tidak akan selesai pertengkaran ini.
"Kalau lebih buat lo aja," sambung Kaivan lagi dan Aldo langsung mengambil uang tersebut, dia langsung berlari menuju ke tempat makanan untuk membeli makanan. Mereka hanya menggeleng kepala melihat tingkah Aldo, dasar mata duitan, padahal orang tuanya adalah orang kaya.
"Bocil." Panggil Kaivan kepada Enzi tapi Enzi tidak mendengarkan atau bahkan tidak menggubrisnya.
"Cil."
"Cil."
Enzi menatap malas kearah kakak kelasnya.
"Apaan sih kak, nama gue itu Enzi bukan bocil," geram Enzi.
"Muka sama badan lo cocok buat gue panggil bocil ya gak?" tanya Kaivan kepada teman temannya dan teman temannya hanya mengangguk.
"Nggak, muka gue cantik dan untuk badan gue belum tumbuh tinggi aja, nanti pasti gue akan tumbuh tinggi liat aja," ujar Enzi dengan sewot sedangkan mereka hanya terkekeh mendengarkan penuturan Enzi sedangkan Venya hanya menonton saja sambil menikmati cemilannya, Enzi belum menceritakan apa apa kepadanya tentang kedekatannya dengan kapten tim sepak bola di sekolah mereka.
__ADS_1
"Kok lo sewot banget sih cil," ujar Aldo dengan makanan yang berada di kedua tangannya.
"Suka suka gue lah." Enzi pun melanjutkan memakan makanan nya lagi dan tiba tiba dia di colek oleh Venya.
"Sejak kapan lo akrab sama mereka?" Bisik Venya di telinga Enzi.
"Gue juga nggak tau," balas Enzi.
"Kalian bisik bisik apaan, kenapa nggak ajak ajak kita," tanya Arkan kepo.
"Nggak ada, kepo banget sih jadi cowok,"ucap Venya sambil memandang sinis ke arah Arkan.
Kaivan tidak memperdulikan orang lain, matanya hanya tertuju ke arah Enzi. Enzi yang merasa dirinya diperhatikan pun menoleh pandangan nya dan pandangan mereka berdua bertemu.
Mendadak pipi Enzi memerah, Kaivan terkekeh melihat Enzi salting.
"Enzi," panggil Kaivan, dan teman teman Kaivan dan juga Venya mengalihkan arah pandangan Mereka kepada Enzi serta Kaivan.
"Lo tau nggak apa bedanya lo sama telat sekolah," tanya Kaivan.
"Nggak tau, emang apa?" Enzi berbalik tanya kepada Kaivan.
"Kalau telat sekolah itu kesiangan, kalau lo kesayangan." Pipi Enzi memanas mendengarkan gombalan dari Kaivan.
"L-lo apa apaan sih kak," ujar enzi sambil tertunduk, Kaivan tidak berhenti dia langsung menggombal Enzi lagi.
"Dan lo juga tau nggak beda lo sama matahari?" Enzi hanya menggeleng.
"Kalau matahari mengandung vitamin D, kalau lo mengandung anak anak kita nanti." Tidak, Enzi tidak bisa seperti ini, dia sungguh sangat malu sedangkan Aldo berteriak dengan hebohnya.
"Guys!, raja gombal sudah comeback mari beri tepuk tangan yang meriah," ujar Aldo sambil memukul meja diikuti oleh Aldi, Reihan, dan Arkan dan mereka menjadi pusat perhatian dan itu membuat Enzi malu.
"Bunda!Enzi malu banget." batin Enzi sambil menunduk.
__ADS_1